Pertemuan Kembali

Pertemuan Kembali
Mencari Barang Bukti


__ADS_3

Setelah sampai di rumah, Raka membantu Ririn membersihkan diri dan menggantikan pakaiannya. Raka sangat sakit hati melihat apa yang terjadi kepada Ririn. Kemarahan muncul dalam hatinya ketika teringat saat si tua breng***ek itu ingin menyentuh istrinya.


Raka memeluk tubuh Ririn yang sedang duduk ditempat tidur "Maafkan aku karena terlambat datang untuk menyelamatkan mu. Kau pasti sangat ketakutan saat itu." ucap Raka lirih.


"Terima kasih, sudah menyelamatkan ku." Ririn mencoba tersenyum ketika Raka melepaskan pelukannya dan menatap wajahnya. Lega rasanya dalam hati Raka, melihat Ririn sudah lebih baik.


Ketukan di pintu menyadarkan Raka dari pikirannya. "Masuk !" perintahnya.


Arya masuk bersama seorang dokter perempuan yang berusia sekitar tiga puluhan. "Selamat malam, tuan." Dokter itu menyapa.


Raka mengangguk tanpa membalas sapaan dokter tersebut. "Tolong periksakan istri saya." ucap Raka.


Dokter tersenyum sambil berjalan mendekat. Raka berdiri di samping tempat tidur, memberikan tempat untuk dokter memeriksa Ririn.


"Selamat malam, Nyonya. Silahkan anda berbaring sebentar ?" pinta dokter itu lembut.


Ririn menurut perintah dokter. Dia membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Dokter mengeluarkan alat dari tasnya dan mulai memeriksa keadaan


Ririn.


Raka berdiri di samping tempat tidur terus memperhatikan wajah Ririn. Ada kekhawatiran dalam hatinya jika Ririn sedang tidak baik baik saja.


Dokter tersenyum setelah memeriksa beberapa tanda vital di tubuh Ririn.


"Nyonya hanya kelelahan dan mengalami shock ringan saja. Nyonya harus banyak beristirahat dan jangan tidur terlalu larut malam." terang dokter kepada Ririn.


Kemudian dokter beralih kepada Raka. "Ini resep obat yang harus ditebus di apotik." dokter memberikan sebuah kertas kecil kepada Raka.

__ADS_1


"Tuan, tolong pastikan nyonya beristirahat dengan cukup. Kurangi aktivitas malam agar nyonya bisa tidur lebih awal." ujar dokter kepada Raka dengan tersenyum.


Sebagai seorang dokter dan wanita yang sudah menikah, tentu saja dokter itu tau apa yang terjadi kepada Ririn.


Raka sangat mengerti maksud perkataan dokter tadi. Dia mulai mengingat beberapa hari ini dia memang selalu pulang makan siang di rumah bersama Ririn. Tidak hanya makan siang, Raka juga sekalian memakan istrinya setelah itu. Raka menggerayangi Ririn siang dan malam. Dan itu membuat Ririn menjadi kelelahan.


*


Raka menatap lama wajah Ririn yang sedang tertidur pulas di pelukannya. Rasa sesal masih menyelimuti hati Raka. Seharusnya dia melindungi Ririn dari musuhnya, bukan malah menjadikan Ririn sebagai umpan begini.


Perlahan-lahan Raka menarik tangannya, melepaskan pelukannya dari tubuh Ririn. Sedikitpun Ririn tidak terganggu, dia tidur dengan sangat nyenyak. Mungkin karena pengaruh obat penenang yang diminumnya sebelum tidur. Obat yang diresepkan oleh dokter tadi agar Ririn mendapatkan istirahat dan tidur yang cukup.


Raka mengambil ponselnya kemudian dia keluar dari kamar menuju ruang kerjanya di lantai bawah.


"Sudah dapat sesuatu ?" tanya Raka melalui ponsel.


Raka memeluk Ririn yang sedang tertidur pulas, menghirup dalam-dalam aroma tubuh istrinya untuk mencari ketenangan. Dan benar saja, Raka mendapatkan kantuknya setelah beberapa saat memeluk Ririn.


***


Di sebuah kamar hotel di lantai dua puluh.


David dan Evan sedang memeriksa seluruh isi kamar, mencari sesuatu yang mungkin berguna dalam penyelidikan.


Beberapa orang pria tergeletak tak berdaya dalam kamar tersebut. Yang paling mengenaskan diantara mereka adalah Bos besar mereka yaitu Simon. Dengan keadaan wajah yang memar dan membiru akibat pukulan tangan Raka tadi. Wajahnya juga bersimbah darah yang berasal dari luka di wajahnya.


David menekan tombol remote untuk menyalakan tv yang ada di kamar itu. Tak ada apa- apa di sana selain layar gelap menampilkan tulisan no**t connecting network.

__ADS_1


"Mereka menggunakan jaringan internet." jelas Evan yang tengah memeriksa belakang tv. Dia tidak menemukan flesdisk atau hardisk di sana.


"S**l !" maki David karena tidak mendapatkan barang bukti.


Mereka dengan jelas mendengar suara Simon memerintahkan anak buahnya untuk membuka tv tadi.


David melihat tajam kearah tubuh Simon yang sudah terkapar. Seperti mendapatkan sebuah pikiran, David lalu berjalan menuju Simon dan memeriksa tubuhnya.


"Ini" David menunjukkan sebuah ponsel yang di ambilnya dari saku jas Simon.


"Bisa jadi" ujar Evan yang tengah memeriksa beberapa laci di meja tv.


David menyimpan ponsel Simon kedalam sakunya. Kemudian dia melanjutkan lagi memeriksa tubuh Simon.


Setelah hampir tengah malam David dan Evan beserta anak buahnya pergi meninggalkan hotel tersebut. Entah apa yang terjadi di aula pesta perayaan ulang tahun perusahaan Simon. Mereka tidak perduli.


David baru saja sampai di apartemennya ketika Raka menelponnya.


"Sudah dapat sesuatu ?" tanya Raka diseberang sana.


"Tidak ada jejak sama sekali." jawab David. Ia mendengar Raka mendesis seperti sedang kecewa.


"Aku sudah mengambil ponselnya dan beberapa barang miliknya yang ada di sana." terang David.


"Kita lanjutkan besok saja, Evan akan memeriksanya malam ini juga. Sebaiknya kau istirahat juga. Aku tahu kau masih mengkhawatirkan istri mu." David bicara panjang lebar.


Sebenarnya dia ingin istirahat, tubuhnya sangat lelah sekarang. David sudah tidak sabar ingin mencampakkan tubuhnya dia atas tempat tidur empuk miliknya.

__ADS_1


__ADS_2