Pertemuan Kembali

Pertemuan Kembali
Siapa Yang Jahat


__ADS_3

"Selamat datang Raka. Sebuah kehormatan untuk saya karena telah sudi menyempatkan waktu mu untuk datang ke perusahaan saya."


Tuan Bagaskara menyambut Raka dan Arya dengan hangat serta senyuman bahagianya. Seolah-olah dia tidak pernah berbuat suatu kejahatan kepada Raka.


Beginilah sikap Tuan Bagaskara selama ini kepadanya. Sangat ramah, sopan dan penuh wibawa. Tuan Bagaskara sangat sempurna dalam bersandiwara.


"Terimakasih" timpal Raka tak kalah hormat kepada Tuan Bagaskara. Padahal dalam hatinya penuh dengan kobaran api kemarahan.


"Apa kabar Raka ? Kapan kamu tiba di sini ?"


Pertanyaan beruntun Tuan Bagaskara menunjukkan rasa kepeduliannya terhadap anak dari sahabat masa mudanya itu.


Tuan Bagaskara masih terlihat sangat tenang. Seperti tidak menyembunyikan suatu apapun. Begitupun dengan Raka yang masih bisa menahan emosinya. Mengikuti sandiwara Tuan Bagaskara.


"Anda bisa melihatnya sendiri bagaimana keadaan ku." jawab Raka


"Ah, iya. Kamu terlihat baik-baik saja. Apa gerangan yang membuat mu datang kemari ?" Tanya Tuan Bagaskara lagi.


"Anda pasti sudah tahu maksud kedatangan ku, bukan ?." Sarkas Raka yang sudah muak melihat kepura-puraan Tuan Bagaskara.


Tidak mungkin Tuan Bagaskara tidak tahu jika Raka sudah menjatuhkan Simon dan menghancurkan perusahaannya.


Tuan Bagaskara diam sejenak, menatap dalam kepada Raka. Tuan Bagaskara sudah menduga, Raka yang terkenal hebat dalam bisnis dan kaya raya sudah pasti memiliki tim keamanan yang hebat pula.


Bukanlah suatu hal yang sulit hanya sekedar untuk mencari penculik istrinya. Tapi, apakah Raka sekarang sudah mengetahui keterlibatannya dalam penculikan itu. Apa mungkin istrinya memberi tahu kepada Raka.

__ADS_1


"Apa yang kamu inginkan ?" Tanya Tuan Bagaskara untuk memastikan sejauh mana Raka mengetahui keterlibatannya.


"Penjelasan" jawab Raka.


"Tentang apa ?" Tanya Tuan Bagaskara lagi.


"Semuanya" tegas Raka.


Tuan Bagaskara terdiam lagi, tak lantas menanggapi perkataan Raka. Seperti ia sedang memikirkan sesuatu.


Melihat Tuan Bagaskara yang hanya diam, Raka melanjutkan perkataannya "Dari alasan pembunuhan ibu ku."


Mendengar perkataan Raka, Tuan Bagaskara masih tetap terlihat tenang. Mengingat bagaimana kehebatan Raka tak mustahil jika pemuda itu sudah mengetahui semuanya. Termasuk kejadian pembunuhan ibunya sepuluh tahun yang lalu.


"Oh, tentang ibu mu. Bukannya sudah jelas pembunuhnya ada seorang perampok yang ingin merampok ibu mu." terang Tuan Bagaskara dengan tenang.


Arya memberi sebuah tab kepada Raka. Kemudian Raka meletakkan tab itu yang menampilkan sebuah video di atas meja di hadapan Tuan Bagaskara.


Video Tuan Bagaskara yang di tampilkan Simon kepada Ririn waktu itu. Video yang didapatkan Raka dari kalung berlian yang dipakai Ririn.


Kalung berlian itu dipesan khusus oleh Raka. Pada kalung itu terdapat kamera tersembunyi yang bisa menangkap suara. Pada kalung itu juga terdapat GPS. Karena itulah mereka dengan cepat dapat menemukan keberadaan Ririn dengan sekejap.


Kini Tuan Bagaskara tidak bisa menyangkal lagi. Tapi itu sedikit pun tidak membuatnya takut apalagi merasa terancam. Selama sepuluh tahun berbuat kejahatan tanpa diketahui oleh Raka merupakan kebanggaan bagi Tuan Bagaskara.


"Apa salah mereka pada anda ? Bukankah ayah saya adalah teman baik anda tapi mengapa anda tega melakukan ini pada padanya ?" Tanya Raka penuh emosi.

__ADS_1


"Apa anda marah karena aku mengabaikan Emily ?" lanjutnya lagi.


Tuan Bagaskara masih terlihat tenang setelah mendengar Raka menyampaikan emosinya. Sekarang Tuan Bagaskara akan mengatakan yang sebenarnya, tidak akan menutupi apapun dari Raka.


"Saya hanya ingin berbagi rasa dengan ayah mu, sahabat saya. Apa itu salah ?" Tuan Bagaskara berbicara dengan santai seperti tanpa beban. Seperti yang apa yang dilakukannya itu bukanlah sebuah kesalahan.


Raka merasa geram mendengar apa yang dikatakan oleh Tuan Bagaskara. Bagaimana bisa Tuan Bagaskara berbicara dengan begitu ringan, setelah menghancurkan hidup sebuah keluarga sampai menghilangkan nyawa orang.


"Jangan konyol. Membunuh dan menculik orang bukanlah suatu lelucon. Tapi itu sebuah kejahatan."


sanggah Raka.


"Kejahatan ? Siapa yang jahat ? Saya ? ha ha ha." Tuan Bagaskara tertawa mendengar Raka mengatakan itu lalu dia berkata lagi "Yang jahat itu kalian. Kau dan ayah mu telah merampas semua milik ku." Tuan Bagaskara mulai bicara dengan suara dingin. Tangannya terkepal mengingat Kendra, sahabatnya.


"Apa maksud anda ?" Tanya Raka yang tidak mengerti.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung. . .


__ADS_2