
Kata-kata Tuan Bagaskara didalam video tersebut masih terekam jelas di ingatan Raka. Dia masih tidak percaya jika Tuan Bagaskara yang membunuh ibunya dan juga menculik istrinya. Sahabat baik ayahnya jugalah yang selama ini membuat masalah di perusahaannya.
Apa maksudnya dia melakukan ini ? Apa karena aku menolak Emily ? Tidak. Dia bahkan melakukan ini juga pada ibu.
Raka memejamkan matanya, bersandar di kursi. Otaknya terlalu lelah memikirkan kenyataan ini. Mengapa Tuan Bagaskara melakukan ini. Untuk apa ? Apa alasannya ?.
Sentuhan lembut di bahu menyadarkan Raka dari tidurnya. Yang pertama dilihatnya saat membuka mata adalah senyuman manis Ririn.
"Sudah malam. Waktunya makan malam." terdengar suara lembut Ririn beserta usapan halus di bahunya.
Sekarang Raka baru menyadari bahwa ternyata dia tertidur di ruang kerja sehingga malam.
Raka memeluk pinggang ramping Ririn. "Biarkan seperti sebentar." ucap Raka sendu.
Mendengar suara sendu Raka, Ririn tahu bahwa kini Raka sedang sedih dan ada masalah. Biarpun penampilan Raka selalu fresh, tegas dan dingin, tapi, sebenarnya Raka itu sangat rapuh.
Raka tidak pernah memperlihatkan sisi lemahnya kepada siapapun, kecuali Ririn. Karena sejak awal pertemuan mereka, Ririn telah melihat Raka sedang menangis sedih dan rapuh dimasa-masa keterpurukannya.
Ririn tak ingin bertanya apapun saat ini. Dia hanya mengusap lembut punggung Raka untuk menenangkan.
Awalnya Ririn ingin memberitahukan tentang ancaman dari Tuan Bagaskara pada malam itu. Tapi, melihat keadaan Raka seperti ini Ririn mengurungkan niatnya karena tidak ingin menambah beban pikiran Raka.
Raka melepaskan pelukannya. Raka mengangkat kepalanya untuk melihat wajah Ririn. Beberapa saat Raka menatap dalam-dalam mata Ririn. Menunggu Ririn akan jujur dan menceritakan tentang apa yang terjadi padanya saat penculikan itu.
Melihat Raka yang hanya diam, Ririn kembali berkata "Ayo, kita makan. Aku sudah lapar." ucap Ririn manja sambil mengusap usap perutnya yang rata.
Raka tersenyum melihat tingkah Ririn yang seperti anak kecil. Raka ikut mengusap perut Ririn. "Apa disini sudah ada isinya ?" tanya Raka.
"Belum. Kan belum makan." Jawab Ririn spontan.
__ADS_1
Raka tergelak mendengar jawaban polos Ririn. Ternyata istrinya itu tidak mengerti maksud pertanyaan Raka yang menanyakan tentang isi rahim yang ada diperutnya.
"Ayo, kita makan. Biar lambung mu terisi. Setelah itu kita lanjutkan mengisi rahim mu biar ada seorang bayi di sini." terang Raka sambil mencium perut Ririn.
Wajah Ririn jadi merona mendengar perkataan Raka. Ririn bahagia mendengar Raka juga berharap akan kehadiran seorang cahaya mata dari pernikahan ini.
Ririn yang memang menyukai anak-anak sudah sejak lama menginginkan seorang bayi. Dia selalu berharap agar bisa hamil dan menjadi seorang ibu. Namun Ririn tidak pernah mengatakan keinginannya itu kepada Raka. Karena dulu Ririn belum yakin dengan pernikahannya bersama Raka.
Kehadiran Ririn saat ini dapat membuat Raka melupakan sejenak masalah yang sedang dihadapinya sekarang.
***
Pagi harinya Ririn bangun tidur dan tidak mendapati Raka di sebelahnya. Dilihatnya jam masih terlalu pagi untuk pergi bekerja.
Setelah selesai mandi dan berpakaian, Ririn turun menuju ke ruang makan untuk sarapan. Di sana juga dia tidak menemukan Raka.
"Tuan sudah berangkat ke luar negeri tadi pagi nona." jawab Bi Ani.
Ririn terkejut mendengar perkataan Bi Ani. Mengapa Raka pergi keluar negeri tidak memberitahukan kepadanya. Padahal tadi malam mereka bicara banyak sebelum tidur. Tapi Raka sedikitpun tidak mengatakan prihal akan pergi ke luar negeri.
"Tuan ada urusan mendadak dan tidak ingin mengganggu tidur nona." lanjut Bi Ani menjelaskan, seperti tahu apa yang sedang dipikirkan oleh istri majikannya.
"Oh" Ririn hanya ber_oh ria menanggapi perkataan Bi Ani.
***
Setelah hampir empat belas jam di dalam pesawat akhirnya Raka menjejakkan kakinya di Belanda.
"Tuan, Tuan Bagaskara sekarang sedang berada di kantornya." Arya memberitahukan.
__ADS_1
"Kita akan menemuinya sekarang." Raka sudah tidak sabar ingin bertemu dan meminta penjelasan tentang apa yang telah dilakukan oleh Tuan Bagaskara.
Raka memang tidak memberitahukan kedatangannya kepada Tuan Bagaskara. Bahkan ini juga tidak ada dalam rencananya. Setelah tadi malam Raka mendapatkan laporan dari Arya bahwa telah terjadi masalah di perusahaan Wiratama Grup seperti sebelum-sebelumnya.
Raka dapat menebak bahwa ini pastinya ulah dari Tuan Bagaskara.
Akhirnya kini Raka berhadapan langsung dengan laki-laki paruh baya yang pernah dihormatinya. Tuan Bagaskara tampak tenang duduk di kursi kebesarannya. Sedikitpun tidak terlihat raut wajah cemas apalagi rasa bersalah di wajah tuanya itu.
Tuan Bagaskara memang benar-benar pandai bersandiwara. Melihat wajah teduhnya itu dan ketenangan sikapnya, orang-orang mungkin tidak akan menyangka jika dia adalah tokoh utama di balik layar sebuah pembunuhan.
Rasanya Raka juga tidak percaya jika laki-laki yang menjadi sahabat ayahnya itu merupakan musuh yang telah menjahati keluarganya, seandainya Raka tidak melihat dan mendengar sendiri pengakuan dari Tuan Bagaskara.
Dan sekarang disinilah Raka untuk mendapatkan jawaban mengapa Tuan Bagaskara melakukan ini pada Ibu, Ayah dan juga dirinya.
"Selamat datang Raka. Sebuah kehormatan untuk saya karena telah sudi menyempatkan waktu mu untuk datang ke perusahaan saya."
Tuan Bagaskara menyambut Raka dan Arya dengan hangat serta senyuman bahagianya.
.
.
.
.
.
Bersambung. . .
__ADS_1