
Raka berangkat bekerja setelah mobil yang membawa Ririn sudah melaju melewati gerbang kediamannya.
"Kau sudah mengaturnya dengan baik ?" tanya Raka kepada Arya yang mulai menjalankan mobilnya.
"Sudah, tuan." jawab Arya dengan gugup. Arya berharap agar tidak terjadi apa-apa kepada istri tuannya. Karena jika sampai terjadi sesuatu maka dia lah yang akan menerima hukuman paling berat dari Raka.
"Bagus. Pastikan istri ku tidak menyadari keberadaan mereka." Raka memberi perintah selanjutnya. Matanya tetap memperhatikan layar ponselnya memantau pergerakan Ririn dengan GPS yang terpasang di kalung berliannya.
"Assalammualaikum." Ririn memberi salam setibanya di rumah orang tuanya.
Terdengar suara ibu menyambut salam dari dalam rumah "Walaikumsa..." belum selesai kalimat ibu Ririn langsung berhambur memeluk ibunya dengan kuat seperti sedang menumpahkan perasaan sedihnya kepada sang ibu.
Ibu menepuk punggung Ririn untuk menenangkan putrinya. Meskipun Ririn belum mengatakan apa-apa tapi naluri seorang ibu dapat merasakan jika ada sesuatu yang sedang terjadi kepada Ririn.
Ririn melepaskan pelukannya setelah merasa lebih tenang. "Ayo, masuk." ajak ibu sambil berjalan ke dalam.
"Ibu tinggal sendiri ? dimana ayah sama Dodi ?" tanya Ririn ketika mendapati rumahnya begitu sepi.
__ADS_1
"Iya, Ayah sedang ke sekolah bersama adik mu. Ada rapat wali murid." jawab ibu.
Ibu memperhatikan Ririn yang duduk di hadapannya sedang melamun. "Apa kau baik-baik saja, Rin ?"
"Huh." Ririn terkejut mendengar suara ibu. "Eh. Iya. Aku baik, Bu."
"Ibu tau kau menyembunyikan sesuatu." Ririn terkesiap mendengar kata ibu. Dia memang tidak bisa menyembunyikan apapun dari ibunya.
"Begitulah kehidupan berumah tangga. Pasti ada perselisihan dan salah paham. Kita memang tidak bisa untuk merubah sifat seseorang menjadi seperti yang kita inginkan. Tapi kita bisa menentukan sikap kita untuk menanggapi sifat orang lain." nasehat ibu.
"Kalian sudah dewasa. Pastinya bisa membedakan mana yang baik dan tidak baik. Jangan gegabah mengambil keputusan. Bicarakan dengan baik-baik." Lanjut ibu lagi.
Benar kata ibu, jangan gegabah mengambil keputusan.
Ibu menatap Ririn yang berjalan menjauh. Sebagai orang tua, ibu tidak boleh mencampuri urusan rumah tangga anaknya, selama itu bukan tindakan KDRT atau penganiayaan yang mengancam nyawa. Orang tua harus biarkan anak-anak mereka menyelesaikan masalah rumah tangganya masing-masing. Dengan begitu mereka akan semakin matang dalam menjalani kehidupan.
-----
Di Gedung Wiratama Grup, Raka terlihat sibuk dengan pekerjaannya. Raka harus bergerak cepat untuk membalas Tuan Bagaskara. Perlahan tapi pasti, Raka berhasil mengacaukan beberapa cabang perusahaan R&B Enterprise meskipun belum sampai menyentuh perusahaan utamanya.
__ADS_1
Ditengah kesibukannya Raka terus mengamati keberadaan Ririn secara berkala. Raka telah menempatkan sekitar dua puluh orang untuk mengawasi istrinya selama berada di luar kediamannya. Entah bagaimana caranya, dua puluh orang itu harus menyamar agar tidak terlihat seperti pengawal. Raka tidak ingin Ririn mengetahui jika ada pengawal yang mengikutinya.
Setelah jam makan siang Arya melaporkan bahwa kini sudah berhasil menjatuhkan saham tujuh dari dua belas perusahaan cabang milik Tuan Bagaskara di dalam negeri ini. Raka melakukan itu hanya dalam waktu setengah hari saja.
Tak terasa sekarang sudah masuk waktu sore. Awan hitam terlihat bergelantungan di langit. Raka sudah memerintahkan supir untuk membawa Ririn pulang sebelum malam tiba. Awalnya Raka ingin datang sendiri untuk menjemput Ririn sekaligus menyapa Ayah dan ibu mertuanya. Tapi pekerjaannya saat ini benar-benar ditinggalkan.
Ririn berpamitan kepada orang tuanya untuk kembali ke rumah Raka. Gerimis mulai turun saat mobil yang di tumpanginya bergerak ke jalanan. Beberapa saat kemudian hujan semakin deras. Suasana terlihat agak gelap meskipun belum saatnya matahari terbenam.
Setelah sekitar dua puluh menit melajukan kendaraan, supir mulai memelankan mobilnya. Terlihat banyak kendaraan yang bersusun di depan. Sepertinya jalan sedang macet.
"Ada apa, Pak ?" tanya Ririn kepada supir yang duduk di kursi depan.
"Maaf. Sepertinya ada kecelakaan, nona."
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...