Pertemuan Kembali

Pertemuan Kembali
Siapa Orang Itu Sebenarnya


__ADS_3

Raka duduk bersandar di sofa sambil asik menikmati pemandangan di layar ponselnya. Matanya terbelalak ketika mendapati ada sesuatu yang berada di belakangnya. Raka dengan cepat menurunkan ponselnya, kemudian langsung menoleh kebelakang.


"Kau !"


David tersenyum kikuk ketika Raka meneriaki dan melotot kan mata ke arahnya. David ketahuan sedang mengintip Raka sedang video call-an dengan Ririn.


Tentu saja Raka tak rela bila ada orang lain memandang istrinya dengan keadaan seksi begitu, apalagi seorang laki-laki. Hanya dia seorang yang berhak melihat tubuh indah milik istrinya itu.


Sebenarnya David tidak sengaja melihatnya. Dia sudah mengetuk pintu sebelum masuk. Tapi Raka tidak mendengarnya karena terlalu fokus dengan layar ponsel di depannya. David yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu melihat Raka sedang tersenyum aneh sambil melihat ponsel. Karena penasaran, David akhirnya berjalan mendekat dan rupanya bosnya itu sedang melakukan panggilan video dengan sang istri.


"Apa yang kau lakukan ? Beraninya kau mengintip istri ku !" Raka langsung menghardik David.


"Aku tidak melakukan apa-apa." Mengangkat tangan sebelah seperti anak kecil yang sedang membela diri ketika di marah orang tuanya.


"Aku tidak melihatnya. Sumpah." Lanjut David lagi.


"Sana pergi." Raka mengusir David beserta dengan gerakan tangannya.


David tidak pergi keluar dari ruangan. Dia berjalan memutari sofa dan duduk di depan Raka dengan wajah tanpa dosa. Raka kembali melihat layar ponselnya, Ririn masih setia berada di seberang sana.


"Ada apa ?" Tanya Ririn karena melihat layar kamera ponsel Raka tertutup beberapa saat tadi.


"Tidak ada. Aku matikan dulu panggilannya, ada pengganggu di sini. Tunggu aku pulang." Ucap Raka lembut. Ririn tersenyum mengangguk. Dia juga tidak sabar menunggu Raka pulang. Kemudian Raka memutuskan panggilannya.


David memutar bola matanya, tidak suka melihat tingkah Raka yang sudah seperti remaja sedang jatuh cinta.


"Ada apa kau memanggilku ?" David mulai bicara setelah Raka memasukkan ponselnya ke dalam saku.


"Kita akan pergi ke penjara untuk menemui orang itu."


"Untuk apa ? Apa sudah dapat sesuatu ?" Tanya David.


Raka mengangguk. "Ana mengakui bahwa dia lah yang sudah menyadap komputer mu."


David terkejut mendengarnya. "Sudah kuduga. Dasar licik." David menggeram mengepalkan tangannya, mengingat betapa bodohnya dia sudah tertipu dengan wajah polos Ririn.


"Hei. Kau mengatai istri ku ?" Raka tak terima David mengatakan Ririn licik.

__ADS_1


"Itukan sebelum dia jadi istri mu." David mencoba menenangkan Raka yang sudah mau marah.


"Dia terpaksa melakukan itu karena mereka mengancam akan membunuh keluarganya." Ujar Raka.


David mengangguk mendengar cerita Raka.


"Sepertinya mereka memang sudah mengincarnya sejak awal karena mereka mengetahui dia lah satu-satu wanita yang pernah dekat dengan ku." Lanjut Raka lagi.


"Jadi saat dia sudah dicurigai mereka menggantinya dengan OB itu dan menyembunyikan identitasnya." David menyimpulkan.


"Iya. Kau benar."


"Jangan-jangan pertemuan mu kembali dengannya itu juga sudah direncanakan oleh mereka." David mulai curiga.


"Tidak, itu murni tidak disengaja." Jawab Raka.


"Apa kau yakin ?" Tanya David.


"Arya sudah menyelidikinya. Beberapa tahun ini dia hidup serabutan dan berpindah-pindah sepertinya dia sengaja menyembunyikan diri." Raka menjeda ucapannya.


"Pada saat melakukan itu dia tidak tahu jika perusahaan ini milik ku." lanjutnya.


"Dia tidak mengenalnya." Raka menghembuskan nafas berat.


***


"****. Siapa orang itu sebenarnya." David meninju dinding tembok di sampingnya. Wajahnya terlihat marah dan kecewa. Begitu juga dengan Raka dan Arya.


Mereka tidak menemukan apa yang mereka cari. Musuhnya sudah selangkah lebih maju didepannya. Kali ini mereka mengetahui seberapa hebat dan kayanya musuh yang mereka hadapi.


Orang yang telah rela mengeluarkan banyak uang hanya untuk mengeluarkan seorang OB dari penjara. Ya, orang itu telah keluar dari penjara karena pihak keluarga telah membayar subsider kurungan miliaran rupiah beberapa bulan yang lalu. Tepatnya sehari setelah hari pernikahan Raka.


"Aku akan mendatangi tempat tinggalnya." Ujar David masih dengan nada kesal.


"Ya, lakukanlah. Aku dan Arya akan pergi ke pelelangan proyek siang ini."


David masuk ke mobilnya. Dia pergi sendiri menuju alamat yang telah didapatnya dari petugas lapas. Sedangkan Raka dan Arya menaiki mobil yang sama menuju kantor untuk mempersiapkan berkas sebelum pergi ke pelelangan proyek setelah jam makan siang nanti.

__ADS_1


Setelah menyiapkan segala keperluan yang akan di bawa, Arya masuk ke ruangan Raka.


"Semuanya sudah siap tuan."


Raka yang tengah duduk bersandar di kursi kebesarannya membuka mata. Dia berdiri merapikan penampilan.


"Kita berangkat sekarang." Raka berjalan mendahului sekretarisnya.


Sudah sampai di sebuah gedung tempat pelelangan proyek. Terlihat banyak utusan dari berbagai perusahaan untuk mengikuti pelelangan. Dari sekian banyak yang hadir, seperti biasa CEO dari Wiratama Grup selalu jadi pusat perhatian.


Selain ketenarannya sebagai sebuah perusahaan besar dan maju, ketampanan CEO-nya juga sangat terkenal di kalangan para sekretaris wanita dan juga putri-putri pemilik perusahaan lainnya. Tapi sayangnya, sekarang CEO Wiratama yang tampan itu sudah menikah membuat mereka hanya sebatas mengaguminya saja, tidak bisa lebih dari itu.


Seperti pada kegiatan-kegiatan pelelangan sebelumnya, Wiratama Grup selalu memenangkan tender proyek besar. Selain selalu mengajukan nilai yang standar dengan jaminan kualitas tinggi, kredibilitas mereka juga tidak perlu diragukan lagi.


"Selamat, Tuan Wiratama." Simon dengan ramah memberikan selamat untuk Raka sebagai pemenang proyek kali ini.


Laki-laki yang yang sudah tidak muda lagi itu turut hadir dalam acara pelelangan hari ini bersama sekretaris wanitanya yang berpenampilan seksi dan lebih mirip seperti wanita penghibur, yang bergelayut manja di lengan bos nya.


"Terima kasih, Tuan Simon." Raka menanggapi seadanya.


"Kebetulan kita bertemu di sini, saya mengundang anda beserta istri untuk hadir di pesta ulang tahun perusahaan saya minggu depan." menyodorkan sebuah undangan berwarna gold kepada Raka.


Raka menerima undangan itu, "Saya usahakan untuk menghadirinya. Saya permisi."


Kedua orang pria itu berlalu meninggalkan Simon dengan sekretarisnya. Mereka jengah melihat lelaki yang tidak sadar dengan usianya dan juga wanita penghibur yang berkedok sebagai sekretaris. Sungguh pasangan yang serasi dan menjijikkan.


"Dasar, bocah sombong. Lihat apa yang akan aku lakukan pada mu nanti." Simon menyeringai melihat kepergian Raka dan Arya.


Sementara itu David pulang ke rumah dengan perasaan marah dan kesal. Dia menghubungi beberapa orang untuk mencari keberadaan laki-laki OB itu beserta keluarganya karena rumah yang dia datangi itu sudah kosong. Ternyata mereka sudah pindah beberapa bulan lalu. Penduduk disekitar rumah itu juga tidak mengetahui keluarga itu pindah ke mana.


"Sepertinya mereka benar-benar di lindungi. Aaahhh." David mengebrak meja di depannya.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung. . .


__ADS_2