
Raka pulang dari rumah sakit dengan perasaan yang lega, setelah mendengarkan tangis kebahagiaan dari Ririn. Wanita itu sangat bahagia dan bersyukur atas kehamilannya. Meskipun Raka tidak bisa merayakan kebahagiaan bersama istrinya, tapi setidaknya ia masih bisa melihat keadaan istri dan anaknya dari jauh.
Setelah mengetahui ia hamil, Ririn meminta kepada Alex untuk berhenti bekerja. Ririn benar-benar ingin menjauh dari kehidupannya yang dulu. Ia tak ingin Raka mengetahui kehamilannya, takut suaminya itu akan merebut paksa anaknya. Sungguh begitu yang ia pikirkan.
Setelah usia kandungan berjalan empat bulan, Ririn memulai kehidupannya barunya. Ia berhenti bekerja dan memilih membuka usaha sendiri dengan berbekal harta warisan dari papa kandungannya yang masih tersisa.
Ririn menjalani masa-masa sulit di awal kehamilannya sendirian. Terkadang terbesit dalam benaknya untuk kembali kepada Raka. Dalam hatinya kadang kala sangat merindukan ayah dari anak yang di kandungnya itu. Tapi jika mengingat kenyataan bahwa Raka tidak pernah mencintainya dan hanya menikahi nya hanya untuk sebuah tujuan membuat Ririn enggan kembali. Di tambah lagi sekarang suaminya itu tidak pernah datang menemuinya lagi.
Mungkin dia benar-benar sudah melupakan ku.
Ririn menghela napasnya, mengusap lembut perutnya yang sudah mulai membuncit. Mengingat ada kehidupan lain yang sedang di bawanya membuat Ririn melupakan kesedihannya.
__ADS_1
Ririn tersenyum melihat seseorang yang baru saja masuk ke dalam cafe yang baru satu bulan di bukanya.
"Deny maaf, aku selalu merepotkan mu." Ririn merasa tidak enak kepada bekas asisten papa nya. Tapi, matanya berbinar menerima bungkusan yang di bawa pria itu.
"Tidak apa-apa, nona. Itu memang sudah tugas saya." jawab Deny seperti biasa.
"Jangan panggil aku nona. Kau sudah tidak bekerja pada ku lagi. Panggil nama saja." Deny hanya mengangguk mendengar perkataan Ririn.
Ini bukan yang pertama kalinya Ririn meminta bantuan Deny. Sejak awal kehamilan dan keinginan mengidam nya, Ririn selalu menyuruh Deny setiap kali ia menginginkan makanan yang di belikan oleh Raka.
Dalam sekejap makan itu sudah habis di lahapnya.
__ADS_1
"Terima kasih. Kau selalu bisa mendapatkan makanan yang sesuai dengan keinginan ku." ucap Ririn.
"Sama-sama, nona. Jika anda membutuhkan sesuatu, jangan sungkan untuk menghubungi saya." Deny berdiri dari duduknya.
Ririn memutar bola matanya. "Hah, kau masih saja begitu formal pada ku."
"Saya permisi mau kembali ke kantor." Ririn mengangguk dan melambaikan tangan kepada Deny yang menuju pintu keluar.
Setelah selesai dengan tugasnya. Deny keluar dari cafe dan segera masuk ke dalam mobilnya. Ia kemudian mengambil ponsel dan mengirim beberapa pesan kepada seseorang sebelum ia melajukan mobilnya.
Sementara itu, di dalam cafe. Ririn kembali ke tempatnya bekerja. Duduk di meja kasir. Saat ini sudah memasuki waktu makan siang, cafe mulai ramai dengan kedatangan mahasiswa-mahasiswa yang ingin makan siang dengan menu-menu ringan. Ya, Ririn membuka cafe yang berlokasi tak jauh sebuah universitas. Mahasiswa adalah sasaran yang menjadi pelanggannya. Ririn juga menyediakan Wi fi gratis untuk mahasiswa yang ingin mengerjakan tugas ataupun hanya sekedar main game online.
__ADS_1