Pertemuan Kembali

Pertemuan Kembali
Informasi Tentang Wanita Itu


__ADS_3

Malam harinya Arya sudah mendapatkan informasi tentang wanita yang katanya adalah putri dari Tuan Bagaskara.


"Apa kau sudah benar-benar yakin dengan informasi yang kau dapatkan ?" tanya Arya kepada seorang laki-laki di depannya saat ini.


"Benar, Tuan. Saya sangat yakin." jawab laki-laki itu tegas.


Arya terus meneliti kertas-kertas beserta beberapa gambar di tangannya. Padahal sejak tadi malam Arya sudah menerima email mengenai informasi itu. Tapi dia tetap ingin melihat dengan jelas bukti-buktinya dengan print out. Sehingga laki-laki itu terpaksa mengantarkan ke rumah Arya meskipun sekarang sudah menunjukkan pukul satu dini hari.


"Baiklah. Kau boleh pulang. Tetap awasi dan laporkan apa pun yang dilakukannya." perintah Arya


"Baik, tuan. Saya permisi."


Arya terus saja melihat kertas di tangannya tanpa menanggapi perkataan laki-laki itu. Tak dapat dibayangkan olehnya bagaimana reaksi jika tuanya mengetahui hal ini besok pagi. Ah, rasanya Arya ingin saat ini juga memberi tahukan kepada Raka. Sudah dapat dipastikan ia tidak akan bisa tidur sampai besok malam jika ia memberi tahu kepada Raka sekarang.

__ADS_1


Arya menyimpan berkas itu kemudian ia langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Ia harus istirahat dan tidur yang cukup untuk mempersiapkan diri hari esok menghadapi berbagai macam emosi tuanya.


Akhirnya pagi menjelang tiba. Arya sudah siap di belakang kemudi saat Raka masuk kedalam mobilnya. Sebelum Arya membuka suara, Raka sudah lebih dulu memberi perintah kepadanya.


"Lanjutkan rencana kita. Meskipun dia sudah mati. Tapi, anaknya harus menanggung dosa yang dilakukannya. Siapa pun wanita itu. Aku tidak akan membiarkan rohnya tenang di alam sana." ucap Raka dengan penuh ketegasan. Arya menelan ludahnya sebelum ia menjalankan mobil menuju kantor Wiratama Grup.


Setelah memastikan Raka duduk dengan tenang di kursi kerjanya. Arya memberikan sebuah berkas kepada Raka.


"Apa ini ?" tanya Raka.


Raka tidak jadi membuka berkas yang ada di tangannya. Ia benar-benar tidak tertarik untuk mengetahui tentang wanita yang tiba tiba menjadi anak dari musuhnya.


Huh

__ADS_1


Raka membuang kasar napasnya lalu dia mencampakkan begitu saja berkas di tangannya ke atas meja.


"Siapa pun dia aku tidak peduli. Lakukan seperti yang aku perintahkan tadi. Lebih cepat lebih baik." ucap Raka.


"Tapi, tuan. Sebaiknya anda melihat informasi ini terlebih dahulu." Arya memberanikan diri untuk tidak langsung mengiyakan perintah tuanya kali ini.


Raka menatap tajam ke arah Arya. Tidak biasanya Arya membantah perintah darinya selama ini. "Aku akan melihatnya nanti." ucap Raka malas.


Arya tetap tidak beranjak dari tempat berdirinya. Seakan menunjukkan protes kepada tuannya karena tidak mendengarkan ucapannya. Lebih baik Raka memarahinya sekarang dari pada nanti. Menunda informasi ini dari malam ke pagi ini saja sudah pasti Raka akan memarahinya. Apalagi menundanya lebih lama lagi.


"Ada apa lagi ?" tanya Raka dengan nada sedikit emosi karena Arya berani mengabaikan perintahnya.


"Anda benar-benar harus melihatnya sekarang tuan." Arya mengumpulkan seluruh keberanian yang dia punya untuk memerintah dan memaksa Raka kali ini.

__ADS_1


Arya bersusah payah hanya sekedar untuk menarik napasnya karena mendapat tatapan tajam dari Raka yang seolah mampu membunuhnya. Semakin hari semakin bertambah berat saja beban yang harus Arya tanggung karena bekerja dengan Raka yang memang sudah terkenal kejam.


Raka akhirnya mengambil kembali berkas di atas mejanya melihat Arya yang tetap pada pendiriannya. Dengan malas Raka membuka berkas tersebut.


__ADS_2