
Raka baru saja keluar dari ruangan untuk menjemput istrinya di bawah setelah mendapat telepon dari supir. Seketika matanya membulat melihat di ujung koridor David dan istrinya keluar dari lift.
"David !"
David dan Ririn terkesiap ketika mendengar suara Raka yang menggema memenuhi koridor. Ririn tersenyum melihat Raka dan berjalan cepat menuju suaminya, sedangkan David masih diam di tempat. David tersenyum melihat ada kilatan api cemburu di mata Raka.
"Aku tadi sedang berada di lobby dan melihatnya masuk, jadi aku membantunya mengantarkan ke ruanganmu." ucap David sambil berjalan mendekat.
"Kau tidak perlu melakukan itu." Raka menatap tajam kearah David kemudian dia menarik tangan istrinya membawa masuk kedalam ruangannya meninggalkan David sendirian.
David menggeleng melihat tingkah temannya yang sangat cemburuan. Ini baru pertama kali dia melihat Raka mencintai seorang wanita dan itu membuat David khawatir, karena wanita yang Raka cinta adalah orang suruhan musuhnya sendiri.
Raka menutup pintu dan langsung mencium bibir Ririn dengan rakus seakan ia ingin menunjukkan emosinya yang sedang marah ketika melihat Ririn bersama David tadi.
Ririn yang sudah terbiasa dengan serangan Raka secara tiba-tiba hanya bisa pasrah menerimanya. Raka menghentikan ciumannya ketika mendengar ketukan dari luar.
"Masuk !" perintahnya. Raka menarik tangan Ririn menuju sofa. Arya masuk bersama seorang wanita dengan membawa makanan. Wanita itu menata makanan di atas meja dihadapan Raka dan Ririn. Setelah selesai wanita itu menunduk hormat kemudian keluar dari ruangan.
"Apa ada lagi yang tuan butuhkan ?" Tanya Arya memastikan sebelum meninggalkan ruangan itu.
Raka hanya mengangkat tangannya, kemudian Arya langsung menuju pintu keluar dan meninggalkan bosnya yang sedang kasmaran dengan sang istri.
Raka menatap Ririn yang tengah asyik menikmati keindahan ruang kerja suaminya. "Mau makan sekarang ?". Ririn mengalihkan pandangannya mendengar pertanyaan dari Raka. Ia mengangguk sambil tersenyum.
Ririn mulai mengambilkan makanan untuk Raka dan meletakkan di hadapannya, kemudian dia mengambil makanan untuk dirinya sendiri dan mulai menyantapnya. Perutnya memang sudah terasa lapar dan segera minta di isi.
Ririn menyadari saat ini Raka sedang menatapnya membuat Ririn jadi salah tingkah. "Mengapa tidak makan ?" Tanya Ririn melihat Raka belum menyentuh makanannya.
"Aku ingin makan itu." ucap Raka sambil menunjuk makanan Ririn dengan matanya. Ririn tersenyum mengerti maksud Raka. Ririn mengambil makanannya kemudian menyuapkan ke mulut Raka.
Hap
Uluh uluh uluh, manisnya. Dia minta disuapi.
Akhirnya selesai acara menyuapi suami makan siang. Sekarang wajah Raka sudah tidak seperti tadi saat pertama Ririn tiba di sini.
__ADS_1
Raka masih betah duduk di sofa sambil memeluk istrinya membuat Ririn sedikit risih dan takut jika tiba-tiba ada yang masuk dan melihat mereka.
"Apa kau tidak melanjutkan pekerjaan mu ?" tanya Ririn mencoba mengalihkan perhatian Raka.
"Aku jadi malas bekerja karena kau ada disini."
Hah, apa maksudnya ? Ririn terkejut mendengar perkataan Raka.
"Sebaiknya aku pulang saja agar tidak menggangu mu."
"Kau tidak suka berada di sini bersama ku ?" Raka melepaskan pelukannya dan menatap wajah Ririn. Nada bicaranya terdengar kesal karena Ririn memilih pulang dari pada bersamanya.
"Bukan begitu. Aku sangat bahagia jika selalu bersama dengan mu di manapun itu." Ririn tersenyum memeluk lengan Raka dan menyandarkan kepalanya di bahu suaminya agar dapat meredakan kekesalan Raka sebelum jadi amarah.
Raka tersenyum senang dengan sikap Ririn yang kini sudah berani merayunya. Raka bangun dari duduknya kemudian menarik tangan Ririn untuk mengikutinya.
Raka membawa Ririn menuju sebuah ruangan lain di dalam ruangannya.
Ada kamar juga di sini. Ririn semakin mengagumi ruangan kerja Raka.
Raka membuka jas dan juga kemejanya. Ririn mulai merasakan sesuatu yang akan terjadi melihat Raka yang membuka pakaiannya. Raka mendekat dan langsung mencium bibir Ririn, menggiring tubuhnya membawa ke ranjang yang ada di sana.
Ririn tidak bisa menolak jika Raka menginginkannya, karena dia juga menyukai apa yang dilakukan oleh Raka kepadanya.
Ririn mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya. Dia mengamati sekitarnya.
Dia mana aku ?
Ririn mengangkat selimut dan mendapati tubuhnya polos tidak memakai pakaian. Dia baru menyadari sekarang sedang berada di ruang kerja Raka.
Ririn bangun dan memunguti pakaiannya di lantai yang sudah tidak berbentuk. Mengingat bagaimana rakusnya Raka merobek gaunnya.
Bagaimana bisa aku memakainya lagi. Huh.
Di rumah dan di kantor sama aja !
__ADS_1
Akhirnya Ririn mengambil kemeja Raka yang tergeletak di lantai kemudian dia memakainya.
Ririn membuka pintu kamar dan mengintip ke luar. Dia melihat Raka sudah rapi berpakaian lengkap duduk di kursi kebesarannya sedang serius bekerja. Setelah melihat tidak ada orang lain di sana, Ririn keluar menuju Raka dengan wajah cemberutnya. Raka tersenyum melihat Ririn yang berjalan kearahnya.
"Sepertinya kau belum puas dengan yang kita lakukan tadi. Kau ingin mengulanginya lagi, hmm ?" Raka mengira Ririn sengaja memakai kemeja miliknya untuk menggoda dirinya.
Apa hanya itu yang ada di otaknya. Pikirannya mesum mulu !!
"Bajuku rusak. Bagaimana aku mau pulang ?" ucap Ririn kesal sambil berjalan mendekat ke meja kerja Raka.
Raka memegang tangan Ririn dan mengarahkan untuk duduk di pangkuannya "Maaf" kata Raka lembut. Dia tersenyum mengusap kepala istrinya.
"Jadi aku pulang pakai apa ? tidak mungkin kan pakai ini." Ririn menunjuk baju kemeja Raka yang sedang ia pakai.
"Aku sudah meminta Arya membawakan pakaian untuk mu." Raka menatap Ririn yang sangat menggoda di depannya. Rasanya Raka ingin sekali mengajak istrinya itu kembali ke dalam kamar, tapi sekarang pekerjaannya sedang sangat banyak dan harus segera diselesaikan.
Arya mengetuk pintu dan langsung masuk kedalam ruangan Raka sebelum mendengar jawaban dari dalam. Memang selalunya seperti itu. Arya lupa kalau sekarang kebiasaan bosnya itu suka aneh apalagi jika sedang bersama istrinya. Arya merasa tidak enak karena melihat pemandangan didepannya, dia langsung menundukkan kepalanya "Maaf tuan."
"Letakkan saja di situ dan keluarlah." Raka memberi perintah. Wajah Ririn sudah memerah karena malu, karena Arya melihat mereka sedang berpelukan.
Arya keluar ruangan setelah meletakkan barang yang ia bawa. Dia terus saja menunduk sampai ia keluar dari ruangan itu.
Raka melepaskan pelukannya "Itu pakaian untuk mu." menunjuk sebuah paper bag yang baru saja diletakkan oleh Arya.
Raka mencium bibir Ririn sekilas sebelum Ririn turun dari pangkuannya. Ririn menggambil paper bag itu kemudian masuk kedalam kamar.
.
.
.
.
Bersambung. . .
__ADS_1