Pesona Sang Primadona

Pesona Sang Primadona
PSP 11: Bertemu Geng Beauty


__ADS_3

Tina di ruang BK, Dona langsung duduk di kursi berdampingan dengan Aditya.


"Kamu ngapain ikut duduk? Guru BK nya mana? Katanya mau konseling? Udah gitu kenapa cuma aku sendiri aja yang di konseling? Siswa yang terlambat bareng aku tadi, gak di konseling juga?" Cecar Dona.


Orang yang ditanya malah memandang Dona dengan senyuman.


"Woy... Kamu dengar aku gak?" Tanya Dona lagi sambil mengibaskan tangannya di depan wajah Aditya yang terlihat melamun.


"Eh itu. Anu... Sebenarnya gak ada konseling apa-apa kok." Jawab Aditya.


"Lah, terus, ngapain kamu nyuruh aku kesini? Astagaa buang-buang waktu aja." Ucap Dona seraya berdiri namun dengan cepat Aditya meraih tangannya.


Dona menatap tangan Aditya yang memegang lengannya dan dengan cepat Aditya melepasnya.


"Maaf." Ucap Aditya. "Sebenarnya, aku cuma mau data kamu aja. Ini perintah guru BK kok. Beliau sekarang lagi di ruang kepala sekolah. Kamu kan baru masuk nih setelah 3 bulan koma, itu info yang aku tahu dari guru BK ya. Jadi guru BK mau konseling tentang itu sih sebenarnya." Lanjut Aditya.


"Aneh." Balas Dona.


"Tunggu aja, bentar lagi guru BK datang kok."


"Hmmm..." Balas Dona lagi.


Tak lama setelah itu, guru BK yang dimaksudkan pun datang. Aditya akhirnya pergi setelah guru BK datang. Dona dan guru BK mulai membahas persoalan tentang dirinya yang baru masuk sekolah lagi setelah 3 bulan koma.


"Apa kamu tidak mau cuti saja dulu, tahun ajaran berikutnya baru masuk lagi. Pelajaran kamu sudah tertinggal jauh. Satu bulan lagi akan ada ujian akhir semester dan..."


"Maaf Pak." Potong Dona. "Berikan saya kesempatan untuk membuktikan bahwa saya bisa berhasil dalam ujian akhir semester ini. Saya akan belajar dengan giat Pak. Jika saya gagal dalam satu mata pelajaran saja, saya akan mundur dan akan mengulang tahun depan." Ucap Dona bersungguh-sungguh.


Setelah mendengar ucapan Dona, guru BK pun setuju. Dona pun keluar dari ruang BK dan hendak kembali ke kelasnya. Namun langkahnya harus terhenti karena keempat pria populer di sekolahnya itu menghalanginya.


"Kalau kamu kesulitan belajar, aku bisa bantu." Ucap Raka.


"Kalau ada siswa yang gangguin kamu tinggal bilang sama aku." Ucap Aditya.


"Aku bisa jagain kamu lebih baik." Sambung Billy.


"Minggir." Gilang menyenggol Billy dan mendekati Dona. "Aku bisa melakukan semua yang mereka katakan. Jika kau dalam kesulitan aku bisa membantumu." Lanjutnya.


Dona menggeleng dan menghela nafas panjang.


"Kalian beneran bisa bantu aku?" Tanya Dona.


"Bisa." Jawab keempat pria itu kompak.


"Kalau begitu, tolong minggir aku mau lewat." Ucap Dona lalu berjalan meninggalkan keempat pria itu.


Siswa yang lain mulai memperhatikan Dona. Mereka berpikir Dona memang terlihat berbeda saat ini. Tak heran keempat pria populer di sekolah terlihat berebutan mendapat perhatian Dona. Di lain sisi, para siswi yang lain merasa iri pada Dona karena secara tiba-tiba bisa membuat para siswa populer itu menyukainya.


***************


Hari-hari berikutnya, Dona pun di cap sebagai sang gadis primadona di SMA Pelita Harapan. Ia berjalan masuk ke dalam gerbang sekolah dengan aura nya yang membuat semakin banyak siswa terpesona. Dona yang kini diperebutkan oleh 4 siswa unggulan di sekolah menjadi perbincangan para siswa-siswi lainnya. Saat berjalan ke arah kelas, Aditya tiba-tiba berdiri disamping Dona dan mengajaknya mengobrol. Meski tak mendapat respon apapun, Aditya terus saja berbicara hingga akhirnya keduanya berpisah karena Aditya di panggil oleh seorang guru.


Baru beberapa langkah berpisah dari Aditya, giliran Raka yang mendekati Dona. Dia kembali menanyakan pada Dona apa ada pelajaran yang menyulitkan Dona. Tidak sampai disitu saja, tiba di kelas, Billy ikut mendekati Dona dan merapikan tempat duduk Dona saat masuk ke dalam kelas. Dan disaat yang bersamaan, Gilang masuk ke dalam kelas dan menggoda Dona.

__ADS_1


"Kamu makin hari makin cantik aja." Goda Gilang.


Saat bel tanda masuk berbunyi, Raka dan Gilang pun keluar kelas sambil melambaikan tangan ke arah Dona.


************


Di kantin sekolah saat jam istirahat....


"Siapa sangka, keempat cowok-cowok populer di sekolah kita nyatanya kepincut sama satu irang cewek." Ucap salah seorang siswi.


"Aku gak heran sih, soalnya cewek itu dijuluki Primadona. Aku sebagai cewek aja iri sama pesonanya. Dia tuh bisa dibilang sempurna. Wajahnya cantik, terus putih, meski rambutnya pendek tapi justru kelihatan imut." Sambung siswi yang lainnya.


"Cantikan mana sama Ratu?" Tanya salah seorang siswi berkacamata tebal.


"Ah, namanya doang geng Beauty. Padahal gak ada cantik-cantiknya. Menang modis doang sih. Maklumlah berduit."


"Hush, gak usah kenceng-kenceng. Noh orangnya dateng."


Ketiga siswi yang tengah berbincang itu langsung tutup mulut saat empat anggota geng Beauty berjalan ke arah meja yang khusus ditempati oleh mereka. Tak ada siswa lain yang berani duduk di tempat mereka. Ratu, yang menjadi ketua geng berjalan paling depan disusul Siska, Tasya dan Devi. Mereka kompak mengenakan bandana namun dengan warna dan motif yang berbeda.


Mereka lalu duduk dan menjentikkan jari membuat salah seorang siswi berjalan ke arah mereka.


"Cepat pesenin softdrink sama makanan yang biasa." Titah Ratu dibalas anggukan oleh siswi dengan rambut dikepang dua itu.


Tak lama, siswi itu kembali dengan membawa pesanan geng Beauty. Siswi yang bernama Lola itu tak sengaja menjatuhkan sebotol minuman hingga tumpah dan terciprat ke sepatu Ratu. Sontak saja Ratu berteriak.


"Dasar gobl*k. Bawa itu aja gak bisa ya? Sekarang lihat sepatu gue jadi kotor." Teriak Ratu yang berdiri congkak dihadapan Lola yang tertunduk.


"Maaf Kak, aku gak sengaja. Tadi kesenggol karena nampannya berat." Jawab Lola dengan suara bergetar.


Lola semakin tertunduk. Dari meja paling pojok, Dona dan Ayu terdiam menyaksikan adegan itu, sama dengan siswa yang lain.


"Sekarang juga, lo bersihin sepatunya Ratu. Cepat." Teriak Siska.


Lola tak bergeming, ia masih saja berdiri. Selama ini dirinya memang selalu menuruti kata-kata geng Beauty karena dijanjikan akan diajak bergabung bersama geng Beauty.


"Ayo cepet. Lo gak denger apa yang Siska bilang?" Kali ini giliran Devi yang berteriak.


Karena Lola tak kunjung menuruti perintah mereka, Tasya pun menekan tubuh Lola hingga terduduk di kaki Ratu.


Dona yang sudah tak tahan dengan perlakuan itu berdiri dan hendak mendekat.


"Kamu mau kemana? Gak usah macem-macem deh. Jangan ikut campur urusan mereka." Ucap Ayu mencegah Dona.


"Kalau aku yang berada diposisi cewek itu, apa kamu juga akan diam dan masa bodoh seperti ini?" Tanya Dona.


Ayu terdiam dan melepaskan pegangan tangannya pada Dona. Dona pun berjalan mendekat ke arah geng Ratu. Lola yang sudah memegang tisu dengan air mata yang menggenang hampir saja mengusap sepatu Ratu. Namun, dengan cepat Dona menarik tangan Lola agar berdiri.


"Heh, siapa lo berani-beraninya ikut campur urusan kita." Teriak Siska.


Dona tak menjawab, dia malah menatap Lola yang menangis.


"Kenapa kamu diam aja diperlakukan seperti ini? Mereka gak berhak buat ngelakuin ini sama kamu. Kalau kamu mau bersimpuh dan membersihkan kaki seseorang, orang yang pantas untuk kamu bersihkan kakinya hanya Ibu kamu." Ucap Dona penuh penekanan.

__ADS_1


"Heh, gak usah sok-sok'an ceramah deh lo. Gak usah ikut campur kalau lo gak mau nasib lo kayak dia juga." Ucap Tasya.


"Kalau aku mau ikut campur, terus kenapa?" Balas Dona.


"Sialan, lo nantangin kita-kita." Ucap Siska hendak menjambak rambut Dona.


Namun, dengan cepat Dona meraih tangan Siska dan memutarnya.


"Jangan coba-coba." Ucap Dona.


Siska meringis kesakitan, hingga Dona melepasnya. Setelah itu Dona menggandeng tangan Lola pergi keluar dari kantin dan disusul oleh Ayu.


Ratu tersenyum licik dan memilih untuk duduk.


"Boleh juga cewek itu. Kalian tahu siapa dia?" Tanya Ratu.


"Kalau aku gak salah, namanya Dona dari kelas sebelas IPS satu. Gosip yang beredar di sekolah semua cowok populer di sekolah ini lagi ngejar dia." Jawab Devi.


"Omong kosong. Apa si Gilang juga kepincut?" Balas Ratu.


"Yang aku dengar sih begitu." Jawab Devi.


"Aku gak percaya kalau belum lihat sendiri. Kalau emang benar itu adanya. Kita ada mangsa baru buat dibully." Ucap Ratu.


"Mau dia beneran disukai semua pria populer atau gak. Yang jelas dia harus dikasih pelajaran karena udah berani ganggu kita." Balas Siska emosi.


"Setuju." Jawab Devi dan Tasya kompak.


Dona mengajak Lola duduk di taman disusul Ayu. Dina pun menanyakan kenapa Lola bisa sampai menuruti kemauan geng Beauty. Lola pun menjelaskan pada Dona dan mengatakan, ia melakukan semuanya karena geng Beauty menawari dirinya untuk masuk ke geng mereka dengan syarat harus mengikuti semua perintah mereka selama satu bulan.


"Apa tujuan kamu mau masuk ke geng mereka? Apa karena kamu pengen ikut terkenal dan merasa bangga? Buat apa coba? Kamu tuh harusnya jadi diri kamu sendiri. Bergaul tuh sama orang yang bisa menghargai kamu sebagai sahabat. Bukan malah dijadikan babu." Ucap Dona geram.


Lola tertunduk, ia selama ini sebenarnya menyadari kebodohan yang dilakukannya. Hanya saja karena keinginan untuk bergabung dengan geng yang dimata semua siswa sangat populer itu membuatnya menutup mata akan semua perlakuan buruk geng Beauty padanya. Lola pun menangis dan tiba-tiba memeluk Dona.


"Selama ini aku gak pernah punya teman yang tulus. Mereka berteman sama aku cuma karena aku sering bayarin mereka makan dan yang lainnya." Ujar Lola.


Lola memang terlahir dari keluarga kaya. Namun, dirinya yang susah bergaul membuat orang lain dengan mudah membodohi nya dengan mengatasnamakan pertemanan.


"Apa kalian berdua mau jadi teman aku? Tanya Lola.


"Tentu saja." Balas Dona dan Ayu kompak.


Ketiganya lalu tersenyum dan mulai bertukar nomor ponsel agar bisa lebih dekat. Saat bel tanda masuk pelajaran berbunyi, merekapun berpisah dan masuk ke dalam kelas.


"Aku benar-benar gak nyangka kalau kamu bisa berubah drastis seperti sekarang. Dulu kamu itu pendiam dan penakut. Sekarang kamu tuh udah jadi pemberani dan bahkan jadi primadona sekolah dan paling wownya di rebutin sama semua cowok populer disekolah. Kasih tau dong Don apa rahasianya?" Ucap Ayu saat keduanya berjalan masuk ke dalam kelas.


"Mau tau?"


"Iya. Apa kamu pakai pelet?"


Dona tertawa dan menampik pundak Ayu.


"Kamu gila ya. Intinya, jadi diri sendiri aja. Dan jangan biarkan orang lain sampai merendahkan kamu seperti yang terjadi sama Lola tadi." Ucap Dona seraya duduk di bangkunya.

__ADS_1


Di kehidupannya yang terdahulu, Dona memang tak pernah membiarkan orang lain untuk bisa membully dirinya. Dona yang memang terlahir dari keluarga kaya tak lantas membuatnya sombong. Dan, karena kurangnya kasih sayang dari orang tuanya membuat Dona menjadi pribadi yang jauh lebih kuat menghadapi dunia luar.


Bersambung...


__ADS_2