
Jam dinding menunjukkan pukul 9.30, waktunya istirahat. Dona masih duduk di dalam kelas, sementara Ayu sudah beranjak keluar bersama Billy. Dona sebenarnya menunggu kedatangan Gilang, namun setelah beberapa saat menunggu Gilang tak kunjung muncul. Biasanya begitu bel berbunyi, Gilang langsung menghampiri Dona di kelas.
'Apa dia emang gak masuk?'
Dona pun beranjak keluar kelas hendak menghampiri kelas Gilang yang bersebelahan dengannya. Begitu keluar pintu kelas, Dona malah bertemu Aditya yang memang hendak menemuinya.
"Hey...." Sapa Dona.
"Mau ke kantin?" Tanya Aditya. Tanpa menunggu jawaban Dona, Aditya menarik tangan Dona menggandengnya menuju kantin.
Keduanya berjalan melewati kelas Gilang, sekilas Dona menengok tapi tak mendapati Gilang di dalam kelasnya.
'Kemana dia?' tanya Dona dalam hati.
Dona dan Aditya tiba di kantin. Raka, Billy dan Ayu sudah duduk di meja tempat biasanya mereka berkumpul.
"Mau makan apa? Biar aku yang ambilkan." Tawar Aditya.
"Mmmm air putih aja sama bakso deh." Balas Dona.
"Oke. Kamu duduk dulu bareng mereka, entar lagi aku balik."
Dona lalu duduk di bangku panjang yang kosong, berhadapan dengan Raka yang duduk berdampingan dengan pasangan Ayu dan Billy yang tampak begitu kasmaran. Ayu dan Billy tak lagi canggung memperlihatkan kemesraan mereka dihadapan siswa lain. Keduanya tampak saling menyuapi, dan tak memperdulikan tatapan siswa lain yang memperhatikan keduanya.
"Cih, dasar. Aku malah jadi nyamuk dari tadi." Cibir Raka.
Dona tertawa melihat raut wajah Raka yang memang tampak kesal.
"Hahaha makanya punya pacar dong Ka." Ejek Dona.
"Ya udah, yuk pacaran." Ajak Raka menatap Dona serius.
Dona celingak celinguk melihat kanan kiri, dan kembali menatap Raka yang sedari tadi terus menatapnya.
"Kamu ngajak aku?" Tanya Dona menunjuk dirinya sendiri.
"Ya siapa lagi? Kan cuma kamu cewek yang aku taksir dari dulu."
Dona terdiam, ia jadi serba salah.
"Nembak cewek kok gak ada romantis-romantisnya." Cibir Billy.
"Siapa yang nembak siapa?" Tanya Aditya tiba-tiba dengan membawa nampan berisi dua mangkok bakso dan dua botol minuman.
"Sejak kapan lo jadi pelayan?" Tanya Raka.
"Diem lo." Balas Aditya seraya memberikan bakso dan air pada Dona.
"Makasih ya." Ucap Dona.
Aditya lalu duduk persis disebelah Dona.
"Raka nembak kamu?" Tanya Aditya.
"Hehehe gak kok. Gue cuma godain Dona aja." Raka yang menjawab.
"Hmmm...."
Mereka lalu menyantap makanan mereka masing-masing. Dari arah yang tak terlalu jauh, sepasang mata menatap Dona dan Aditya dengan tatapan kesal.
Ayu dan Billy selesai menyantap bakso. Keduanya sibuk mengobrol berdua.
"Oh ya, kalian semua mau lanjut kemana habis ini?" Tanya Raka.
__ADS_1
"Gue sih, rencana mau daftar di Universitas ternama di kota. Tapi, sekarang kemanapun Ayu daftar gue ngikut." Jawab Billy sambil mencolek dagu Ayu.
"Bucin terooos..." Sindir Aditya membuat wajah Ayu memerah. "Kamu mau kemana Don. Kalau aku sih belum tahu." Lanjut Aditya.
"Sama. Aku belum kepikiran juga sampai sekarang. Emmm terus kamu gimana Ka?" Tanya Dona pada Raka.
Raka tersenyum seraya menggaruk kepalanya.
"Aku berencana lanjut di luar. Kebetulan kemarin udah ngikutin seleksi. Tinggal nunggu hasil dan ijazah kelulusan aja."
"Maksudnya kamu mau ke luar negeri gitu?" Tanya Dona lagi dibalas anggukan Raka.
Raut wajah Dona seketika berubah. Billy yang sejak tadi terus fokus pada Ayu mendadak menatap Raka sendu. Sesaat mereka semua terdiam.
"Gue pikir lo bakal tetap bareng kita disini. Secara kita semua tuh udah deket banget. Meski awalnya kita semua sebenarnya musuhan. Karena Dona, kita semua jadi sahabat. Dan sekarang lo mau ke luar negeri. Entah kenapa, gue tiba-tiba jadi melow." Ujar Billy.
"Ah lo bisa aja. Lo kan udah punya Ayu. Lo bisa sibuk pacaran sama Ayu, dan buat Dona kamu masih ada Aditya dan Gilang yang bakal sayang dan ngejaga kamu. Meski kita semua terpisah jarak, kan masih bisa bertemu secara virtual."
"Yah, aku cuma sedih aja karena udah gak bisa duduk bareng sama kamu kayak sekarang bareng yang lainnya." Balas Dona.
"Bener tuh. Biar gimanapun kamu dan ketiga cowok lainnya tuh udah kayak F4. Jadi kalau satunya gak ada, pasti bakal gak seru lagi." Ucap Ayu.
"Aku kan masih bisa pulang saat liburan." Balas Raka.
"Iya... Iya... Udah dong bahas hal ini. Semuanya jadi sedih kan. Pokoknya, kita harus adakan perpisahan saat Raka bakal berangkat." Ucap Aditya.
Semuanya setuju atas ucapan Aditya.
"Ngomong-ngomong, Gilang dimana ya?" Tanya Raka.
"Gue gak lihat dia dari tadi, meski kelas kita berdampingan." Jawab Billy.
"Kamu gak tahu kemana pacar kamu pergi Don?" Tanya Ayu keceplosan.
"Kamu udah pacaran sama Gilang?" Giliran Raka yang bertanya.
"Eng-nggak kok. Ayu asal ngomong." Ucap Dona gugup seraya menatap Ayu tajam.
"Hehehe, i-ya. Aku cuma asal ngomong. Habis Gilang kayaknya naksir berat sama Dona." Ayu tampak gugup.
Bel tanda masuk berdering. Ayu dan Billy berjalan lebih dulu, meninggalkan Dona beserta Raka dan Aditya.
"Kalian jalan aja duluan. Aku mau ke toilet." Ucap Raka.
Dona dan Aditya berjalan berdua meski arah kelas keduanya berbeda, Aditya tetap memilih mengantar Dona sampai depan kelasnya. Tepat di pintu kelas Dona, Aditya menarik tangan Dona yang hampir masuk kelas.
"Ada apa?" Tanya Dona.
"Pulang sekolah nanti bareng aku ya?" Ajak Aditya.
Dona tersenyum dan mengangguk membuat wajah Aditya sumringah.
"Sana gih masuk. Aku ke kelas dulu ya." Aditya mengusap kepala Dona lalu pergi.
Tepat saat Dona masuk ke dalam kelas, tanpa diduga dari arah belakang Gilang menarik tangannya membawanya kembali keluar kelas.
"Gilang!" Dona begitu kaget. "Kamu kemana aja?"
Wajah Gilang terlihat begitu kesal.
"Jadi gini alasan kamu makanya gak mau hubungan kita diketahui orang. Biar kamu bisa bebas jalan sama Aditya atau Raka gitu?" Teriak Gilang.
"Bukan gitu maksud aku. Aku cuma...."
__ADS_1
"Halah. Emang itu alasan kamu kan? Aku kecewa sama kamu Don. Kamu mau nerima cinta aku, tapi kamu dengan begitu bebas membiarkan cowok lain pegang-pegang tangan kamu. Apa kamu gak mikirin gimana perasaan aku sebagai cowok kamu?"
"Lang, kita pacarannya juga baru kemarin. Dan kamu tahu sendiri, sebelum kita pacaran, baik kamu, Aditya ataupun Raka udah biasa gandeng aku. Tapi aku gak pernah lebih dari itu kan? Kenapa sekarang kamu mempermasalahkan semuanya?"
"Karena aku cowok kamu. Aku berhak ngelarang kamu buat dekat sama cowok lain. Mulai sekarang, aku mau kamu jauhi Aditya maupun Raka. Kalau gak...?"
"Kalau gak apa? Kita putus? Oke." Dona balik mengancam.
"Kamu berani ya sama aku." Gilang memegang dagu Dona membuat Dona meringis.
"Kalian berdua ngapain? Kenapa masih diluar?"
Secara tiba-tiba, seorang guru berkacamata berdiri dibelakang mereka. Gilang refleks menjauh tanpa berkata apa-apa. Sementara Dona menunduk dan masuk ke dalam kelas dengan perasaan yang kesal.
Hari ini jadwal pulang ke rumah lebih cepat dikarenakan hari jumat. Bel tanda pulang berbunyi, Dona segera merapikan buku dan memasukkan ke dalam tasnya.
"Don, aku duluan ya." Ucap Ayu yang sudah menggandeng Billy.
"Oke." Balas Dona mengangguk.
Dona masih kesal dengan sikap yang ditunjukkan Gilang padanya tadi, hingga ia tak menyadari kehadiran Aditya yang sudah berdiri dihadapannya.
"Eh, aku gak ngeh kalau kamu udah disini." Ucap Dona.
"Kamu sih melamun. Yuk pulang."
Dona kemudian berjalan beriringan bersama Aditya menuju parkiran. Keduanya mengobrol sepanjang jalan sambil sesekali tertawa. Tepat saat keduanya tiba di depan motor Aditya, Gilang langsung menghalangi dengan motornya.
"Naik." Titah Gilang pada Dona.
Dona tak menghiraukan ucapan Gilang dan menarik tangan Aditya. Aditya lalu menghidupkan motornya, Dona dengan cepat naik di jok belakang. Wajah Gilang merah padam, ia lalu turun dari atas motor dan memaksa Dona turun dari motor Aditya.
"Turun gak?" Teriak Gilang.
"Nggak." Jawab Dona.
"Lang lepasin Dona. Gue yang bakal nganter dia pulang."
"Ini bukan urusan lo. Gue mau Dona pulang sama gue."
"Aku mau pulang sama Aditya." Ucap Dona.
"Lo dengar sendiri kan. Dona mau pulang sama gue."
Dengan paksa Gilang menarik Dona agar turun dari atas motor Aditya. Kerasnya pegangan tangan Gilang membuat Dona kesakitan.
"Lepasin Lang. Sakiit." Teriak Dona.
Aditya kembali menurunkan standar motornya lalu dengan cepat mendorong Gilang hingga membuatnya tersungkur.
"Gue gak tahu apa masalah lo sama Dona. Kalau emang lo sayang sama Dona, seenggaknya lo gak boleh maksa apalagi sampai berbuat kasar sama dia." Ucap Aditya.
Saat Gilang hendak bangun dan mendorong Aditya, Raka dengan cepat menghalangi Gilang. Aditya lalu kembali naik ke atas motornya dan mengendarainya keluar gerbang sekolah setelah sebelumnya mengangguk ke arah Raka.
"Lo ngapain ikut-ikutan?" Teriak Gilang pada Raka.
"Gue gak ngerti jalan pikiran lo. Lo sayang sama Dona tapi lo maksa dia. Cewek itu gak suka...."
"Bukan urusan lo." Bentak Gilang menyela ucapan Raka lalu pergi.
Raka hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Sementara di jalan, Dona merasa begitu sedih dengan apa yang baru saja terjadi. Perasaannya campur aduk, ada kesal, sedih dan juga kecewa. Tangannya tanpa sengaja memegang pinggang Aditya. Aditya pun mengelus punggung tangan Dona lembut, membuat Dona menjadi lebih tenang.
Bersambung.....
__ADS_1