
Sejak kejadian memilukan itu, Dona sedikit berubah menjadi pribadi yang lebih tertutup. Ia tak lagi sering keluar rumah. Bahkan diajak keluar untuk jalan-jalan atau sekedar makan siang saja oleh Aditya, Dona menolak dan memilih untuk pulang ke rumah.
Meski hubungan tetap berjalan seperti biasa dengan Aditya, namun Dona seperti menjaga jarak. Gilang yang terus berusaha menghubunginya selalu tak dihiraukan. Pesan singkat yang dikirimkan Gilang membuat Dona kepikiran.
Gilang selalu menanyakan apakah ada tanda dirinya hamil atau tidak. Dan yang ada didalam pikiran Dona hanyalah, semoga ia tak hamil.
Namun, satu bulan telah berlalu sejak peristiwa pilu yang membuat Dona kehilangan mahkotanya itu dan Dona tak kunjung juga mendapatkan tamu bulanannya. Dona menjadi begitu takut, ia jadi lebih sering mengurung diri di dalam kamar. Berulang kali ia coba mengecek kalender dimana ia selalu menandai tanggal dia mendapatkan tamu bulanan.
"Bagaimana ini? Apa aku memang hamil?" Tanya Dona pada dirinya sendiri yang tengah berdiri dihadapan cermin.
Dona melihat bentuk tubuhnya yang memang agak lebih berisi dibanding sebelumnya. Padahal nafsu makan Dona tengah berkurang. Dan beberapa hari ini, Dona merasa bagian dadanya lebih berat dan sensitif.
'Apa aku memang hamil?'
Dona memegangi perutnya yang rata. Perasaan khawatir semakin bergelayut di hatinya.
'Bagaimana sekarang?'
Saat tengah berpikir, ponsel Dona berdering. Sebuah nomor yang memang sengaja tak disimpan oleh Dona memanggil. Nomor ponsel milik Gilang. Meski enggan, Dona mau tidak mau menjawab panggilan telepon dari Gilang itu.
"Kamu dimana?" Tanya Gilang tanpa basa-basi.
"Di rumah." Jawab Dona singkat.
"Ayo kita ke rumah sakit."
"Ngapain?"
"Ya cek kehamilan kamu."
"Aku gak hamil." Pekik Dona.
"Ooh, aku pikir kamu hamil. Soalnya hari ini sudah tepat 1 bulan setelah perbuatan kita itu."
"Itu perbuatan jahat kamu, bukan aku." Teriak Dona kesal.
"Iya-iya, perbuatan aku. Tapi kamu nikmatin juga kan?"
Dona mengumpat kesal, ia hendak memutus panggilan telepon.
"Eittsss jangan marah begitu. Jangan dulu tutup teleponnya."
"Apalagi?" Lagi-lagi Dona berteriak.
"Apa kau sudah datang bulan?"
"Untuk apa kau bertanya masalah pribadi seperti itu?"
"Ya, aku hanya ingin memastikan bahwa kau sedang mengandung anakku atau tidak."
"Sudah aku katakan, aku tidak hamil."
"Siapa tahu. Oh ya, kalau kau berubah pikiran untuk mau ke rumah sakit. Hubungi aku, aku bisa mengantarmu ke rumah sakit yang bisa memeriksa kondisimu. Lagipula, jika kau pergi ke sembarangan rumah sakit, seseorang bisa melihatmu dan mulai bergosip tentangmu. Jangan lupa, sebelumnya kau sudah digosipkan hamil hanya karena membeli tespack. Siapa yang tahu akan ada orang yang melihatmu masuk ke dokter kandungan saat kau berkunjung ke rumah sakit."
"Diaaaaam."
Dona langsung memutuskan panggilan. Ia memikirkan apa yang diucapkan Gilang.
'Bagaimana jika aku memang hamil?'
'Apa yang harus aku lakukan?'
Dona kembali merebahkan dirinya di kasur. Pandangannya menerawang ke langit-langit kamar. Situasi seperti ini, benar-benar tak pernah ia inginkan. Ingin berteriak, menangis dan mengumpat, toh semuanya percuma karena semuanya tak akan kembali seperti sedia kala. Peristiwa itu sudah terjadi.
"Andai saja ada caraku untuk memutar waktu. Aku pasti tidak akan mendatangi seminar itu." Ucap Dona.
Ia kembali mengingat momen dimana dirinya menghadiri acara itu. Mulai dari berangkat, hingga mengikuti acara seminar dan akhirnya hendak pulang ke rumah.
'Lalu? Bagaimana bisa aku berada di kamar itu bersama Gilang?' tanya Dona dalam hari.
Ingatannya kembali berfokus pada Gilang yang menyapanya seusai acara seminar selesai. Dimana Gilang juga memberikannya bingkisan.
Mata Dona membulat sempurna. Ia menyadari satu hal.
'Apa itu semua karena aku meminum teh hijau itu?'
Dona ingat betul, sebelum ia meminum teh hijau itu, dirinya dalam kondisi bugar dan baik-baik saja. Tapi, setelah meminumnya, Dona malah pusing dan lemas. Setelah itu ia tak lagi mengingat apapun sampai ia terbangun dan menyadari tubuhnya tengah di jamah oleh Gilang.
'Apa semuanya memang sudah di rencanakan Gilang?'
"Kenapa aku bodoh sekali. Tidak menyadari ada yang janggal dari undangan seminar yang diberikan padaku."
Dari sekian banyak mahasiswa fakultas psikologi, baik yang senior maupun junior. Hanya Dona saja yang mendapat undangan seminar itu.
"Kenapa juga aku tidak mengetahui bahwa hotel itu merupakan milik dari HR Group?"
Dona berteriak histeris dan meremas rambutnya dengan kasar. Ia berteriak sekencang-kencangnya karena mengetahui kedua orang tuanya sedang tak di rumah. Dona mengumpat dan melampiaskan kekesalannya dengan melempar semua barang yang ada diatas meja riasnya.
Semua alat makeup nya hancur berantakan. Nafas Dona memburu, sorot matanya memerah. Ia tak dapat lagi menahan emosinya. Sampai sebuah panggilan kembali masuk ke ponselnya.
Dona melirik ponselnya yang tergeletak diatas kasur. Layar ponselnya menampilkan nama Aditya. Hati Dona teriris, air matanya sontak jatuh begitu saja. Dengan perasaan yang kacau, ia menjawab panggilan telepon Aditya.
"Pagi sayang. Aku jemput ya hari ini ke kampus."
Dona tak menjawab, yang terdengar hanya isakannya saja.
"Halo....."
Lagi-lagi, Dona tak menjawab. Suara tangisannya semakin jelas terdengar oleh Aditya. Membuat pria itu menjadi cemas.
"Sayang, kau kenapa?"
Dona semakin terisak.
__ADS_1
"Sayang, tunggu aku disana. Sepuluh menit lagi aku tiba."
"Maafkan aku Dit." Isak Dona lalu memutus sambungan telepon.
Dona merebahkan tubuhnya di kasur dan memeluk guling nya. Bayangan wajah Aditya yang ceria berubah menjadi murung dalam bayangan Dona. Ia tak sanggup untuk memberi tahu kenyataannya pada Aditya. Namun, jika ia tidak jujur, itu tidak baik untuk hubungannya dan Aditya.
'Bagaimana caraku untuk menjelaskannya?' pikir Dona.
Sesaat Dona merenung, lalu mengambil ponsel dan menelepon seseorang.
'Aku harus memastikan semuanya sekarang.'
"Halo...."
"Hai cantik. Aku sudah tau bahwa kau pasti akan segera meneleponku. Bersiaplah, 5 menit lagi sopirku tiba. Sampai jumpa di rumah sakit." Ucap pria diseberang telepon yang tak lain adalah Gilang.
Dona menghela nafas panjang saat sambungan telepon tertutup.
"Aku bahkan belum mengatakan apapun. Tapi, dia sudah mengetahui apa yang akan aku katakan."
Secepat kilat Dona bersiap, ia berharap sopir Gilang benar-benar datang lebih cepat dibandingkan dengan Aditya. Jika Aditya datang, ia tak tahu harus menjelaskan apa padanya. Dan benar saja, hanya butuh waktu 5 menit, sebuah mobil berhenti tepat di depan gerbang rumah Dona. Dengan cepat Dona masuk ke dalam mobil dan berharap Aditya belum sampai dan malah melihatnya pergi.
Sepuluh menit setelah Dona pergi, Aditya tiba dengan menggunakan motornya. Namun, ia mendapati toko didepan rumah Dona belum terbuka. Bahkan pintu rumah Dona tertutup rapat, dan gerbang pun digembok.
"Dona kemana ya?"
Aditya mengambil ponsel di saku celananya dan berusaha menghubungi Dona, namun tidak berhasil karena nomor Dona sudah tidak aktif.
"Don, kamu sebenarnya kenapa?"
Aditya lalu pergi dan memutuskan menuju kampus dan berharap bahwa Dona sudah pergi ke kampus lebih dulu tanpa menunggu jemputan darinya.
************
Di rumah sakit....
Dona sudah berada di ruangan dokter, duduk berdampingan dengan Gilang yang terus menatapnya.
"Dok, tolong periksa isteri saya. Dia sepertinya hamil karena sudah telat datang bulan." Ucap Gilang.
Dona melihat ke arah Gilang dengan melotot.
"Baik. Sebelumnya sudah berapa lama menikah?" Tanya Dokter itu mulai mengisi data Dona.
"3 bulan." Jawab Gilang.
"Ah, pengantin baru. Masih anget-angetnya."
Gilang memegang tangan Dona dan menciuminya, seolah ingin pamer pada Dokter bahwa mereka memang sepasang suami istri yang baru menikah.
"Bu Dona datang bulan terakhirnya kapan?"
"Tanggal 5 bulan lalu Dok." Jawab Dona.
"Sekarang sudah tanggal 17. Mmmmm baik, kalau begitu Bu Dona coba di tes dulu ya urine nya."
"Saya pipis disini?" Tanya Dona dibalas anggukan Dokter itu seraya tersenyum.
Dona lalu bangkit dan menuju kamar kecil yang memang tersedia di dalam ruangan pemeriksaan. Setelah Dona masuk, Gilang dan Dokter itu terlihat saling memandang dan tersenyum.
Tak lama kemudian, Dona keluar dari kamar kecil dan meletakkan wadah berisi urine di tempat yang sudah di sediakan. Dokter lalu bangun dari duduknya dan terlihat mengambil alat tes kehamilan dari dalam lemari dan mencelupkannya ke dalam urine Dona.
Selang 3 menit kemudian, Dokter membawa hasil tes urine Dona dan memperlihatkannya pada Dona dan Gilang.
"Selamat ya." Ucap Dokter singkat.
Dona termenung.
"Maksud Dokter, isteri saya hamil?" Tanya Gilang memastikan.
"Iya hamil. Dan usia kehamilannya baru memasuki 5 minggu. Untuk perkiraan melahirkan bisa dilihat di buku ini nanti."
Air mata Dona mengalir, Gilang langsung mengusap air mata Dona.
"Jangan menangis sayang. Aku tahu kau juga bahagia. Aku mencintaimu." Ucap Gilang seraya menciumi pucuk kepala Dona.
"Untuk pemeriksaan lebih lanjut. Kembali lagi nanti tanggal ini ya. Biar bisa melakukan USG saat janinnya sudah kelihatan. Karena kalau sekarang janinnya belum kelihatan."
Tanpa bicara apapun, Dona langsung keluar dari ruangan Dokter dengan air mata yang berlinang. Gilang menjabat tangan Dokter pria yang ikut tersenyum itu.
"Kerja bagus. Bulan berikutnya, kau tahu sendiri apa yang harus dilakukan." Ucap Gilang sambil menyodorkan sebuah amplop warna cokelat.
"Terima kasih." Balas Dokter itu.
Gilang lalu keluar dari ruangan Dokter dengan membawa buku berwarna pink, yakni buku ibu hamil dan mencari dimana keberadaan Dona.
"Dona kemana sih? Kenapa secepat itu dia menghilang."
Ponsel Gilang berdering, sang sopir memberitahunya bahwa Dona terlihat tengah duduk dan menangis di taman rumah sakit. Gilang pun segera menyusulnya. Ia mendapati Dona tengah menangis dengan kedua telapak tangan menutupi wajahnya.
Gilang lalu duduk disamping Dona dan membiarkannya menangis.
"Menikahlah denganku. Aku akan tanggung jawab dengan apa yang sudah terjadi."
Dona terdiam.
"Jangan bilang kamu ingin menggugurkannya. Aku berhak melarang mu karena ini juga anakku."
Dona tak menjawab apapun, pundaknya terlihat naik turun karena terisak.
"Don, ingatlah. Dengan kamu menggugurkannya, berarti kamu sudah menjadi pembunuh."
"Kamu sengaja kan melakukan semua ini? Kamu kan yang sudah mengundangku ke acara seminar itu, lalu memberikanku minuman yang sudah kau beri obat bius. Dan sekarang aku hamil, semua ini memang sudah kau rencanakan. Iya kan?" Mata Dona memerah.
__ADS_1
"Iya, aku akui. Aku memang sudah merencanakan semuanya, karena aku memang mau kau kembali padaku. Aku juga sebenarnya tidak menjamin kau akan hamil. Tapi kenyataannya kau lihat sendiri kan? Kau sekarang hamil. Itu artinya Tuhan memang mau kita bersatu lewat anak ini." Gilang hendak memegang perut Dona.
Dengan cepat Dona menepis tangan Gilang.
"Jangan bawa-bawa nama Tuhan."
"Don, menikahlah denganku sebelum kandungan mu semakin membesar."
Dona kembali terdiam. Ia memikirkan apa yang akan dikatakannya kepada kedua orang tuanya. Dan yang lebih buruk lagi, apa yang harus ia katakan kepada Aditya.
"Apa kau memikirkan Adit?" Tanya Gilang.
Dona lagi-lagi terdiam.
"Masalah Aditya, biar aku yang tangani. Aku akan mengakui bahwa aku sudah berbuat jahat padamu. Tapi karena kau hamil, jadi aku akan mengatakan padanya bahwa aku akan menikahi mu."
"Tidak." Balas Dona cepat.
"Terus kau mau bagaimana? Apa kau memang mau menggugurkannya?"
'Apakah aku harus menggugurkannya?'
"Aku harus ke kampus." Ucap Dona.
"Jawab dulu pertanyaan ku."
"Aku tidak bisa menjawab mu sekarang. Aku perlu waktu." Teriak Dona.
"Waktu apalagi? Semakin lama kau memutuskan semuanya, perutmu akan semakin membesar."
"Aku mau pergi." Dona berdiri namun Gilang menahan tangannya.
"Ku berikan kau waktu 2 hari untuk memutuskan. Kalau tidak, aku akan memberitahu semuanya pada Aditya dan aku akan ke rumahmu untuk melamar mu pada orang tuamu."
Dona tak menggubris ucapan Gilang dan menghempaskan tangan Gilang lalu berjalan pergi.
"Biarkan sopirku yang mengantarmu." Teriak Gilang.
"Tidak perlu. Aku bisa sendiri." Jawab Dona.
Tiba di kampus, Dona selalu termenung. Saat mata kuliah berlangsung, ia lebih banyak diam. Tak seperti biasanya yang selalu antusias, kali ini ia benar-benar tak bersemangat. Bahkan sampai kelas usai pun, ia belum juga beranjak dari dalam kelas. Ia duduk terdiam dengan tatapannya yang kosong.
Aditya yang baru saja keluar kelas melirik ke dalam kelas Dona dan ia terkejut mendapati Dona yang duduk seorang diri. Ia berjalan mendekati Dona dan menepuk pundaknya.
"Sayang...."
Mendengar suara Aditya, Dona refleks menghindar dan langsung berdiri menjauh darinya.
"Kamu kenapa? Kayak lihat hantu aja." Ucap Aditya tersenyum. "Kaget ya? Maaf." Aditya memandang Dona dengan lekat. "Kamu sebenarnya kenapa? Akhir-akhir ini kamu sering menghindar bahkan menghilang. Tadi aku ke rumahmu dan kau tidak ada. Aku ke kampus, kamu juga gak ada. Sekarang, tiba-tiba sudah ada disini dan malah melamun. Apa kamu punya masalah serius?"
Dona menatap Aditya dengan lekat.
"Dit, kita putus aja ya!"
Aditya begitu kaget mendengar ucapan Dona.
"Apa maksud kamu? Kenapa tiba-tiba jadi kayak gini? Apa aku punya salah? Kalau ada yang buat hati kamu kecewa, beritahu aku agar aku berubah. Jangan malah tiba-tiba minta putus tanpa alasan begini."
"Aku gak baik buat kamu Dit."
"Gak baik gimana nya? Kamu bicara yang jelas dong." Aditya mulai kesal.
"Kamu terlalu baik Dit."
"Terlalu baik? Jadi kamu mau aku gak baik. Oke, aku bakal berubah jadi jahat asal kamu suka."
"Bukan gitu!"
"Terus apa?" Teriak Aditya. "Aku gak tahu apa masalah kamu hingga tiba-tiba minta putus gini. Apa salah aku?"
"Bukan kamu yang salah. Tapi aku."
"Aku bisa maafkan."
"Gak bisa Dit. Kesalahan yang aku perbuat gak akan bisa termaafkan."
"Beritahu aku apa itu?"
"Aku gak bisa."
"Kalau gitu, aku gak akan mau putus."
"Artinya kalau aku kasih tau kamu, kamu bakal mau mengakhiri hubungan kita?"
"Gak. Karena aku bakal maafin kamu."
"Gak bisa Dit. Sampai kapanpun kesalahan ini gak akan bisa dimaafkan. Tolong kali ini aja."
"Gak, aku gak mau putus. Aku sayang sama kamu, dan aku tahu kamu pun sayang sama aku. Jadi gak ada alasan buat kita putus."
Dona melangkah pergi, ia malas untuk berdebat.
"Mau kemana?" Aditya menarik tangan Dona.
"Lepaskan. Aku mau pulang." Mata Dona memerah.
Aditya langsung melepaskan tangan Dona dan membiarkannya untuk pergi.
"Aku tahu kamu pasti sedang punya masalah. Apapun itu, aku akan selalu ada buat kamu Don." Ucap Aditya.
Dona hanya bisa menahan air matanya setelah mendengar ucapan Aditya dan melangkah pergi.
'Maafkan aku Dit. Kesalahan yang aku buat ini, gak akan mungkin bisa dimaafkan.'
__ADS_1
Dona keluar dari kampus, bukannya pulang ke rumah, malah memutuskan untuk pergi ke pantai di pinggiran kota. Ia ingin melepas semua sesak di dadanya. Ia hanya bisa berharap, jika keputusan uang diambilnya adalah benar.
Bersambung.....