Pesona Sang Primadona

Pesona Sang Primadona
PSP 65: Gagal Lagi


__ADS_3

Pagi harinya, Aditya lebih dulu bangun dibandingkan Dona. Ia melihat Dona tak ada disisinya. Aditya sontak bangun dan mendapati Dona dalam posisi meringkuk, tertidur diatas sofa dengan televisi yang masih menyala.


Aditya tersenyum, lalu mendekati Dona. Malam pertama yang seharusnya dilewati dengan indah, nyatanya ia ketiduran karena kelelahan. Saat Aditya memegang pipi Dona, Aditya kaget karena terasa hangat. Aditya langsung memegang kening Dona, ternyata Dona demam.


Dengan sigap Aditya langsung memindahkan tubuh sang isteri ke atas tempat tidur. Akibat kelelahan dan kemalaman mandi Dona terkena demam.


"Kepalaku sakit sekali." Ucap Dona saat tersadar Aditya sudah membawanya ke atas tempat tidur.


"Istirahatlah, kau demam dan flu berat. Itu hidungmu memerah dan suaramu berubah." Balas Aditya seraya memasangkan selimut pada tubuh Dona.


Aditya segera menelepon pelayanan hotel untuk membawakannya obat demam dan flu untuk Dona. Setelah itu Dona pun minum obat dan segera istirahat.


Malam harinya, demam Dona sudah mulai reda. Tugas kuliah yang menumpuk membuat Aditya pamit pada Dona untuk menemui teman kelasnya di restoran yang berada di kawasan hotel tempat mereka menginap. Dona mengangguk, kemudian membiarkan suaminya itu keluar sejenak.


Ternyata, Aditya pergi tanpa membawa kunci kamar, sementara Dona sendiri berpikir sebaliknya. Ia mengira bahwa Aditya telah membawa kunci kamar mereka.


Saat kembali ke kamar, nyatanya Aditya harus mengetuk kamar mereka selama berjam-jam, dan Dona sendiri sudah tertidur pulas karena kepalanya masih pusing hingga dirinya tak mendengar apa-apa.


Keesokan paginya, Dona malah mendapati suaminya itu tidur di lobby dan Dona benar-benar meminta maaf padanya.


"Maafin aku Dit. Aku benar-benar gak tahu kalau kamu gak bawa kunci kamar."


Aditya hanya bisa tersenyum dan mengusap pucuk kepala isterinya itu.


"Apa kau sudah baikan sayang?" Tanya Aditya.


"Aku udah baikan. Kita bisa pulang sekarang." Balas Dona.


Aditya tersenyum nakal dan mengerlingkan matanya dengan genit ke arah Dona. Ia lalu menarik Dona dan berjalan dengan cepat ke dalam kamar mereka.


Tiba di dalam kamar, Aditya langsung mendorong tubuh Dona ke atas tempat tidur. Ia sontak menindih tubuh Dona.


"Mau ngapain sih?" Tanya Dona risih.


"Aku tahu ini masih pagi sayang. Tapi, sudah 2 malam semenjak pernikahan. Kita belum pernah sama sekali melakukan itu." Ucap Aditya seraya mencium telinga Dona.


"Jangan sekarang...." Ucap Dona merasa geli.


"Kenapa lagi? Apa karena ini masih pagi? Gal masalah kan? Toh kamu juga sudah tidak demam. Waktu kita cuma pagi ini di hotel. Besok kita sudah harus kuliah lagi untuk ujian akhir. Aku tak sanggup menunggu sampai malam." Aditya mulai mencumbu Dona dengan beringas.


"Tapi Dit.... Emmmhhh..." Dona mulai mendesah saat bibir Aditya mulai menyasar leher jenjangnya.


"Nikmati saja sayang." Bisik Aditya.


"Tidak bisa sekarang."


Mendengar ucapan Dona, mood Aditya langsung hilang. Ia terlihat ngambek.


"Selalu saja ada alasan. Malam pertama terlewati karena kau ingin mandi, dan aku malah ketiduran karena kelamaan nunggu kamu. Semalam kau malah mengunciku di luar. Dan sekarang apalagi? Apa kau tidak mencintaiku?"


Dona langsung berinisiatif memeluk suaminya yang terlihat cemberut itu.


"Maafkan aku suamiku sayang. Tapi, waktu memang belum berpihak pada kita saat ini. Aku benar-benar tidak bisa."


"Apa alasannya?"


"Aku datang bulan." Bisik Dona.

__ADS_1


"Apa?" Aditya tampak terkejut. Ia langsung menjatuhkan dirinya ke atas ranjang. "Ya Tuhan, cobaan macam apakah ini."


Dona tertawa lalu ikut berbaring dengan menaruh kepalanya di dada Aditya.


"Sabar ya suamiku. Paling lambat 1 minggu aja kok."


"Seminggu.... Aahh lama sekali." Aditya tampak semakin kesal dan cemberut.


"Setidaknya kita bisa fokus pada ujian akhir dulu sayang. Kita bisa melakukan bulan madu bulan depan. Gimana?"


"Ide bagus. Awas saja kalau sampai saat itu kau masih beralasan juga."


Dona hanya bisa tertawa geli melihat ekspresi yang ditunjukkan suaminya itu.


"Bersabarlah lebih lama lagi sayang. Aku mencintaimu."


"Aku lebih mencintaimu." Balas Aditya.


Keduanya pun pulang ke rumah. Awalnya mereka lebih dulu mampir ke rumah Dona untuk mengambil beberapa perlengkapan Dona seperti beberapa pakaian favoritnya, laptop dan buku-buku kuliahnya untuk digunakan belajar untuk menghadapi ujian.


Satu minggu ini Dona dan Aditya akan disibukkan dengan agenda ujian akhir semester mereka. Jadi keduanya benar-benar fokus dengan diri masing-masing.


***************


Satu minggu berlalu, ujian telah selesai dan hari keberangkatan untuk bulan madu Dona dan Aditya pun tiba. Keduanya terlihat sangat antusias karena untuk pertama kalinya mereka akan pergi berlibur berdua.


Sebelum ke bandara, keduanya lebih dulu mampir ke rumah Dona untuk berpamitan pada Bu Nir dan Pak Edi.


"Dona, jaga diri baik-baik ya Nak. Jangan jauh-jauh dari suami kamu." ucap Bu Nir.


"Maklum saja Dit. Ibu khawatir pada Dona, karena ini adalah untuk pertama kalinya dia naik pesawat." Ucap Pak Edi.


"Ibu sama Bapak tenang saja. Saya janji akan jadi suami siaga yang selalu jaga dia 24 jam."


"Bapak percaya sama kamu." Balas Pak Edi.


"Don, ingat untuk selalu ikuti apa kata suami kamu. Jangan lupa gosok gigi sebelum tidur, makan tepat waktu, sering-sering telepon Ibu. Dan satu hal yang paling penting, jangan lupa bawain Ibu oleh-oleh ya." ucap Bu Nir mengelus pipi Dona.


"Ya ampun Bu, kita cuma pergi liburan kok. Lagian juga masih di dalam negeri bukan ke Luar Negeri. Paling lama juga seminggu udah balik lagi." jawab Dona.


"Lebih lama juga gak apa-apa. Ibu sama Bapak mau saat kalian balik nanti bawa berita baik."


"Maksud Ibu?"


"Ibu kamu mau timang cucu." Balas Pak Edi.


Dona menghela nafas panjang. Ia dan Aditya sebelumnya sudah membahas tentang masalah memiliki anak. Keduanya sepakat untuk menundanya sampai Dona lulus kuliah. Tapi hal itu tak mereka sampaikan kepada kedua keluarga.


"Kheemm... Bisa kita berangkat sekarang." ucap Aditya yang menyadari perubahan raut wajah isterinya itu.


Dona dan Aditya lalu bersalaman dengan Pak Edi dan Bu Nir lalu berjalan menuju mobil.


Mobil yang dikendarai seorang supir itu pun bergerak maju meninggalkan rumah Dona menuju bandara.


Zaman sekarang, sebagian orang mungkin sudah pernah naik pesawat. Namun ada juga orang yang belum berkesempatan naik pesawat, dan sosok Dona adalah salah satunya. Meski di kehidupan sebelumnya, Dona sudah sering lalu lalang dengan pesawat. Namun, tubuh Dona kali ini merasakan sensasi yang berbeda. Ia merasa begitu takut, seluruh tubuhnya tiba-tiba merinding.


'Jiwaku memang Dona Putri Wijaya. Namun pemilik tubuh ini adalah Sabrina Dona Amelia, mungkin tubuh ini merespon dengan sendiri rasa ketakutannya.' pikir Dona.

__ADS_1


Hari ini untuk kali pertama sejak dua puluh satu tahun usia Dona, dia datang ke Bandara bersama seseorang yang sudah menjadi suaminya dan naik pesawat tujuan ke sebuah pulau indah untuk honeymoon.


Sesaat sebelum masuk ke dalam pesawat usai melakukan pengecekan tiket, data diri, dan menuju gerbang keberangkatan perasaan tubuh Dona semakin merinding. Meski dalam hatinya ia begitu berani dan biasa saja, namun tetap saja tubuhnya merespon berbeda. Dona menggenggam tangan Aditya dengan kuat.


"Tenanglah sayang, semuanya akan baik-baik saja." ucap Aditya.


Sampai waktu keberangkatan tiba, dan semua penumpang dipanggil untuk naik ke pesawat. Dona dan Aditya lantas mencari tempat duduk sesuai yang tertera di tiket.


Dona menjadi sangat fokus memperhatikan setiap instruksi keselamatan dari pramugari. Ia merasa heran pada dirinya sendiri yang merasa ketakutan karena naik pesawat.


'Apa jiwa Dona si pemilik tubuh ini akan kembali hingga aku tak bisa mengontrol ketakutan pada tubuh ini? Jika iya, lalu bagaimana denganku?' pikir Dona.


Pramugari terlihat tengah mempraktekkan demo tentang keselamatan pada saat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Mulai dari cara memasang sabuk pengaman, mematikan telepon genggam, sampai mengenakan pelampung keselamatan dan masker oksigen.


Aditya mengelus kepala Dona lalu menciumnya.


"Sayang, kenapa serius sekali? Sampai aku yang duduk disebelah tak dihiraukan." Goda Aditya.


"Entah kenapa, tiba-tiba aku merasa takut. Takut kalau terjadi apa-apa. Mungkin itulah kenapa aku fokus melihat ke arah pramugari itu Dit."


"Tenang sayang, semuanya akan baik-baik saja. Aku juga kan ada disini bareng kamu. Aku janji akan jagain kamu." Aditya kembali mencium Dona, kali ini di pipinya.


"Bisa gak sih, gak usah pakai cium-cium terus. Gak enak kalau ada yang lihat." Protes Dona.


Aditya hanya tertawa kecil, ia malah mengulang mencium pipi Dona berkali-kali.


Ketakutan Dona pun perlahan-lahan mulai hilang ketika pesawat mulai take off. Bagi banyak orang momen krusial dalam penerbangan pesawat adalah ketika take off dan landing.


Usai take off perasaan Dona kembali tenang. Saat itu Dona begitu menikmati berada di atas ketinggian tiga puluh lima ribu kaki. Melihat pemandangan berupa gumpalan awan. Ia merasa seperti pertama kalinya melihat pemandangan seperti itu.


Setelah beberapa jam berada di udara, muncul lah pemberitahuan bahwa pesawat akan siap landing di Bandara tujuan. Saat itu, penumpang diminta untuk tetap tenang dan kembali menggunakan sabuk pengaman, menegakkan sandaran kursi, melipat meja, dan menaikan penutup jendela karena pesawat akan mendarat.


Dona kembali didera ketakutan. Ia menggenggam tangan Aditya dengan sangat erat. Aditya yang menyadari isterinya ketakutan, mencoba menenangkan Dona dengan mengelus tangannya.


Pendaratan pesawat berjalan dengan baik. Mereka akhirnya tiba di Bandara tujuan. Setelah itu, Aditya dan Dona turun dari pesawat dan masuk ke dalam bandara.


"Syukurlah, akhirnya kita sampai juga ya Dit." Ucap Dona.


"Iya sayang." Balas Aditya.


"Setelah ini kita kemana?" Tanya Dona.


"Jalan aja dulu, nanti di depan sana pasti sudah ada orang yang jemput kita." Jawab Aditya.


Dona lalu mengajak Aditya untuk berfoto di salah satu spot yang menunjukkan bahwa mereka pernah berkunjung ke Bandara tersebut.


Saat berjalan keluar dari bandara, seseorang berpakaian khas daerah tersebut mendekati Aditya dan Dona.


"Selamat datang di Pulau B. Saya Deni, orang suruhan Pak Ilham, mari Tuan dan Nyonya ikut saya ke mobil. Saya akan mengantarkan Tuan ke resort milik Pak Ilham tempat Tuan dan Nyonya akan beristirahat selama berada disini." ucap Deni.


"Terima kasih Deni." jawab Aditya sambil menggandeng Dona.


Keduanya berjalan mengikuti langkah Deni yang lebih dulu berjalan dengan menenteng koper keduanya.


"Kita udah jadi Tuan dan Nyonya." Bisik Aditya ditelinga Dona yang membuat Dona tersenyum.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2