Pesona Sang Primadona

Pesona Sang Primadona
PSP 35: Lulus SMA


__ADS_3

Jam di dinding sekolah telah menunjukkan pukul 17.00. Waktu yang menunjukkan kalau Dona sudah terlambat pulang. Sangat terlambat, dan ia yakin orang tuanya pasti menunggu kehadiran dirinya dengan harap-harap cemas. Ingin rasanya segera berlari di tengah guyuran hujan yang begitu deras, mengajak Ayu mengambil sepeda motornya dan lekas kembali pulang dengan hujan-hujanan.


Dona dan yang lainnya memang terjebak di sekolah hingga sore hari. Hujan turun begitu deras disertai angin yang lumayan kencang. Dona yang awalnya ingin mengajak Ayu menerobos hujan mengurungkan niatnya kala suara petir terdengar begitu menggelegar. Lantaran cuaca yang begitu buruk membuat Dona dan yang lainnya terpaksa betah bertahan di sekolah. Begitu juga dengan Gilang yang memang akhir-akhir ini lebih memilih menggunakan motor daripada mobil.


"Coba aja kamu bawa mobil. Kita semua kan bisa pulang." Dona tampak kecewa.


Gilang yang bergabung bersama Dona dan Ayu beserta Billy hanya bisa meminta maaf. Ia pun telah berusaha menelepon sopir dari rumahnya agar bisa menjemputnya bersama dengan yang lainnya, namun karena cuaca yang memang begitu buruk membuat jaringan telepon menjadi terganggu.


"Maaf." Gilang menunduk.


"Aduh Don, kamu kenapa malah nyalahin Gilang sih? Toh kalaupun dia bawa mobil, tetap aja sulit berkendara di cuaca begini. Terus nih ya, cuma kalian berdua yang bisa pulang. Sedangkan aku sama Billy gak bisa. Masa iya mau ninggalin motor di sekolah terus pulangnya pakai mobil Gilang." Ucap Ayu yang tengah bergenggaman tangan dengan Billy.


Dona akhirnya memilih diam, dan fokus melihat rintik hujan yang jatuh membasahi bumi. Dona hanya bisa berharap agar hujan segera reda, supaya ia bisa segera pulang dan bertemu muka dengan kedua orangtuanya. Pekerjaan sekolah yang menumpuk dan akan segera menjalani ujian akhir semester ini membuat Dona terpaksa betah bertahan di sekolah demi mendapat pelajaran tambahan.


Hujan pun berhenti setelah dua jam mengguyurkan air membasahi bumi dengan begitu deras. Dona pulang diantar oleh Gilang, dan tiba di rumah pukul setengah tujuh petang. Kedua orang tuanya langsung menyambut Dona penuh kekhawatiran.


"Nak Gilang, ayo mampir dulu." Ajak Bu Nir.


"Maaf, lain kali aja ya Bu, Pak. Saya harus segera pulang. Takutnya orang tua saya khawatir kalau terlalu lama pulang ke rumah." Tolak Gilang halus. "Don, aku permisi dulu ya. Sampai ketemu besok pagi."


Gilang pun kembali melajukan motornya meninggalkan rumah Dona.


**************

__ADS_1


Malam pun datang, Dona merenung sejenak. Merenungi apa yang telah ia lakukan hari ini. Mencoba melakukan introspeksi diri dan tidak menyalahkan orang lain. Dalam perenungan itu Dona merasakan begitu cepat waktu berlalu. Rasanya, baru tadi pagi ia terbangun dari mimpi. Kini cepat sekali matahari terbenam dan malam pun datang menghampiri.


Begitu cepat waktu berlalu. Dia datang dan pergi begitu cepat sekali. Dona mengingat awal kehidupannya yang terlahir kembali menjadi Sabrina Dona Amelia. Mengingat juga masa lalu tentang kehidupannya terdahulu. Dona termenung menatap keluar jendela kamarnya, mendengar suara rintik hujan yang belum juga kunjung reda.


'Mengapa aku harus masih mengingat masa lalu? Toh gak ada gunanya. Karena tak ada satu manusia pun yang berhasil kembali kepada masa lalunya. Masa lalu akan terus menjauh, sangat jauh, dan tak akan pernah kembali lagi.'


Dona menghela nafas panjang. Kali ini ia berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, berusaha menikmati hidupnya, berusaha menerima setiap cinta yang diberikan orang terdekatnya, dan juga berusaha menerima apa yang Tuhan takdir kan padanya.


Dona lihat, jam dinding bergerak dari detik ke menit, dari menit ke jam, dari jam ke hari, dan dari hari ke minggu. Waktu terus berputar selama 24 jam non stop, tiada henti dari senin sampai dengan minggu. Begitulah seterusnya waktu berjalan dan pergi meninggalkan semuanya, dan waktu tak akan pernah kembali lagi.


Dona dan para sahabatnya telah menyelesaikan ujian akhir mereka dan mendapatkan predikat lulus. Tentu ada perasaan bahagia. Akhirnya setelah 3 tahun menimba ilmu dengan segala tantangan yang ada, dinyatakan lulus SMA. Sungguh perjuangan yang menguras banyak waktu dan pikiran. Terlebih ketika menghadapi pelajaran yang sulit ketika ujian. Apalagi bagi Dona yang pada kenyataannya harus mengulang kembali masa SMA nya. Meski begitu, cerita tentang menjadi anak SMA tak pernah membosankan. Malah membuat Dona begitu bahagia, apalagi ia dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya.


Hari ini, masih dengan mengenakan seragam SMA yang oenuh dengan coretan tanda tangan para sahabat, Dona, Ayu dan keempat pria populer di sekolah mengadakan acara kelulusan sekaligus perpisahan dengan Raka yang memang esok harinya akan langsung berangkat ke luar negeri. Mereka semua berkumpul di sebuah cafe yang ternyata merupakan milik Aditya.


"Gak nyangka gue, lo ternyata punya cafe sekeren ini. Kenapa gak ngasih tau dari dulu?" Ucap Billy yang tengah merangkul Ayu.


"Kalau gue kasih tau kalian semua terutama lo dari awal, lo pasti udah sering dateng buat makan gratis." Balas Aditya yang membuat mereka semua tertawa.


"Eh ngomong-ngomong lo mau ngapain setelah lulus ini Bill?" Tanya Raka. "Kuliah atau kerja? Atau malah mau nikah?" Tanya Raka pada Billy.


"Gue belum tahu. Kemarin-kemarin niatnya mau kuliah, tapi karena gue makin bucin sama nih cewek, jadinya mau kerja nyari duit biar cepet-cepet nikahin dia." Jawab Billy seraya mencubit hidung Ayu.


"Bucin!" Seru Dona dan Gilang bersamaan.

__ADS_1


"Apa bedanya sama kalian berdua Bambang." Gelak Billy.


"Gue rasa cara terbaik, ya kita menatap kondisi real disekitar kita. Intinya, jangan terlalu memaksakan! Mau kuliah silahkan, mau kerja silahkan, mau nikah juga silahkan. Pokoknya jangan karena paksaan aja. Karena sesuatu yang dipaksakan itu hasilnya gak baik." Balas Aditya.


"Tumben otak lo encer." Raka menoel kepala Aditya membuat Dona tergelak.


Pesanan makanan mereka datang, Aditya sebagai owner cafe itu terjun langsung untuk menyiapkan pesanan para sahabatnya. Mereka berenam duduk melingkar, dengan Dona yang duduk diapit oleh Gilang dan Aditya.


"Gak kerasa ya, begitu cepat waktu berlalu. Rasanya baru kemarin kita menjadi balita. Belajar merangkak dan mulai berdiri. Berdiri sebentar lalu jatuh kembali. Terus berusaha dengan segenap tenaga sehingga mampu berjalan. Berjalan riang gembira karena mampu berdiri dan berjalan. Orang-orang yabg melihat kita pun senang dan tertawa. Orang tua kita pun, mama dan papa akan tersenyum bangga, karena anaknya telah bisa berjalan. Dunia anak yang lucu telah kita tinggalkan. Kita pun membesar dan menjadi remaja yang mulai mencari jati diri. Kini, tanpa terasa kita telah memasuki usia orang dewasa." Ucap Ayu tiba-tiba dengan mata yang berbinar.


"Sebenarnya, kita ini sedang berjalan cepat di dalam dunia yang bulat dan tiada henti berputarnya. Waktu memang begitu cepat berlalu. Di sanalah kita harus senantiasa belajar dan menghargai waktu dengan baik. Penuh kedisiplinan menjaga waktu agar bermanfaat untuk diri sendiri dan juga orang lain. Jangan biarkan waktu berlalu tanpa memberikan manfaat apapun kepada orang lain. Hindarkan sesuatu yang tidak penting, dan berusahalah menepati waktu sesuai jadwalnya. Waktu yang cepat berlalu mengajarkan kepada kita untuk mampu berpikir siapa diri kita yang sebenarnya dan kenapa kita diciptakan oleh-Nya. Kita pun dituntut mampu membagi waktu yang 24 jam untuk bekerja, berkeluarga, belajar, beribadah, dan lain sebagainya. Semua itu harus benar-benar diniatkan untuk mengabdi kepada-Nya. Menyembah sang Kuasa." Sambung Dona.


Setelah terlahir kembali menjadi puteri dari Pak Edi dan Bu Nir, Dona memang menjadi pribadi yang lebih mendekatkan diri pada Tuhan.


"Kok suasananya jadi melow begini. Harusnya kita tuh seneng-seneng. Baru lulus kok malah mau mewek." Protes Gilang.


Gilang mengusap-usap punggung tangan Dona.


"Iya, lagian besok gue udah mau berangkat. Jadi hari ini gue benar-benar mau have fun sama kalian semua, bukannya malah sedih-sedihan." Ucap Raka.


Mereka semua lalu mulai bersenang-senang. Selain makan-makan di cafe Aditya, dengan masih mengenakan seragam SMA yang penuh coretan, mereka juga berkaraoke di tempat karaoke yang dikelola keluarga Billy. Hingga malam harinya setelah mengganti pakaian masing-masing, mereka semua berkumpul di rumah Raka untuk melanjutkan acara perpisahan karena besoknya Raka akan langsung berangkat ke luar negeri.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2