Pesona Sang Primadona

Pesona Sang Primadona
PSP 33: Bersama Aditya


__ADS_3

Berboncengan dengan Aditya terasa begitu berbeda bagi Dona. Jika biasanya Gilang memboncengnya dengan sedikit ugal-ugalan dengan alasan agar Dona memeluknya, begitu berbeda dengan yang dilakukan Aditya.


Aditya mengendarai motornya dengan tenang, hati-hati dan nyaman. Ia seolah ingin membuktikan bahwa ia begitu serius menjaga keselamatan Dona. Mengingat naik motor bukan perkara yang memiliki tingkat keamanan tinggi, untuk itulah Aditya sadar bahwa hati-hati sangat penting saat mengendarai sepeda motor bersama Dona. Sejujurnya Aditya selama ini begitu gugup saat membonceng Dona karena begitu dekat dengannya, namun ia akan berusaha fokus saat mengendarai motornya.


'Ada apa sebenarnya dengan hatiku. Aku mencintai Gilang, namun tak bisa ku pungkiri bahwa aku merasa nyaman berada di dekat Aditya.'


"Kenapa bengong?" Tanya Aditya.


"Hmmm gak apa-apa." Balas Dona.


Keduanya kembali terdiam, suasananya menjadi begitu romantis karena tiba-tiba saja mendung. Gerimis mulai turun. Hujan dan gerimis memang selalu berhasil menciptakan suasana romantis bagi siapa saja. Mengendarai motor bersama kekasih atau orang spesial saat hujan gerimis juga akan memberi kesan romantis yang sepertinya tak bisa diungkapkan hanya dengan kata-kata.


Jalanan yang basah dan udara yang cukup dingin akan menciptakan suasana berdua yang manis bagi Aditya dan Dona. Hujan semakin deras hingga membuat Aditya mengajak Dona untuk menepi dan berteduh.


"Hujannya makin gede. Kita neduh dulu ya." Ajak Aditya.


"Oke." Balas Dona.


Keduanya menepi di sebuah emperan toko yang memang tengah tutup.


"Dingin gak? Nih pakai jaket aku aja." Aditya melepaskan jaketnya dan diberikan pada Dona.


"Tapi kamu..."


"Udah, aku gak apa-apa."


Dona mengenakan jaket Aditya yang tampak kebesaran ditubuhnya. Aditya pun tersenyum melihat Dona yang mengenakan jaketnya.


"Kenapa? Jelek ya?" Tanya Dona.


"Hehe, gak kok. Lucu aja, karena jaketnya kegedean sama kamu."


Dona tersenyum dan merapikan ujung lengan jaket Aditya yang ia kenakan.


"Maaf ya karena kamu harus kehujanan, karena aku cuma punya motor bukan mobil. Tapi, meski gak naik mobil mewah seperti Gilang dan Raka, dengan naik motor sama aku, kamu akan merasa bahwa dengan kesederhanaan bisa bikin kamu merasa nyaman. Kamu akan tahu artinya bagaimana berjuang bersama meraih yang terbaik, bersama aku kamu akan lebih menghargai sebuah pencapaian dan kamu juga sadar bahwa segala sesuatu yang menyenangkan tak harus datang dari sebuah kemewahan." Ucap Aditya.


"Dit, aku gak pernah mempermasalahkan tentang mewah atau gak nya. Karena bagi aku, ketika aku punya pasangan, aku akan menerima pasangan dengan tulus tanpa melihat apa yang ada dalam dirinya, cinta yang romantis, manis dan mengesankan meski sangat sederhana akan selalu bisa dirasakan. Karena pada dasarnya, segala yang romantis terkadang justru datang dari segala kesederhanaan dan penerimaan yang baik. Segala sesuatu yang romantis juga hubungan yang manis tidak harus berawal dari hal-hal yang mewah. Naik motor berdua bersama pasangan, tidak jarang justru membuat hubungan semakin mengesankan. Ini juga bisa menjadi sebuah kenangan yang tak terlupakan." Dona tersenyum pada Aditya. "Kamu bahkan lihat sendiri kan, selama ini baik Gilang maupun Raka malah lebih suka naik motor gak pakai mobil lagi."


"Kamu benar." Balas Aditya singkat.

__ADS_1


Hujan mulai reda, namun gerimis kecil masih berjatuhan. Aditya berjalan ke arah jalan dan mendongak menatap awan yang memang tampak masih mendung.


"Kita jalan aja ya. Mumpung gerimis nya gak terlalu besar. Takutnya ujan yang lebih besar datang lagi, dan kamu malah bakal terjebak disini bareng aku."


"Ya udah ayo..." Balas Dona lalu mendekati Aditya yang sudah naik terlebih dahulu ke atas motornya.


Motor Aditya kembali berjalan, menerobos gerimis yang tidak terlalu besar namun tetap saja membuat pakaian keduanya tampak basah.


Tak sengaja keduanya saling bertatap mata lewat kaca spion. Jantung Aditya berdegup begitu kencang dan tak dapat dipungkiri hal ini memang membuat perasaan Dona sedikit gugup. Tatapan mata Aditya begitu tajam, membuat Dona semakin gugup lalu memalingkan wajahnya. Namun, setelah itu keduanya saling melempar senyum malu-malu satu sama lain. Hal itu menjadi momen yang sangat istimewa dan terbayang-bayang bagi Aditya.


Momen yang memang lucu, tapi juga sangat romantis dan manis. Meski begitu, Aditya kembali fokus dan ingat akan keselamatan dirinya dan juga Dona. Dirinya pun fokus menatap kedepan dan menghindari menatap Dona lewat kaca spion.


'Hati, berhentilah gugup. Aditya hanya sahabat, kau sudah jadi milik Gilang.'


Lagi-lagi Dona meyakinkan dirinya sendiri agar tidak sampai menaruh hati pada Aditya. Bagaimanapun, ia telah menerima Gilang sebagai kekasihnya. Dona pun kembali mengingat raut wajah Gilang yang tadi tampak marah di sekolah. Dona menjadi merasa bersalah.


"Dit, aku boleh ngomong jujur gak?" Tanya Dona.


"Tentu saja." Jawab Aditya.


"Aku harap setelah mendengar hal ini kamu gak akan benci sama aku."


"Aku..... Aku udah nerima Gilang."


Deg!


Aditya terdiam, ia tak tahu harus berkata apa. Harapan yang selama ini ia pendam pupus sudah. Cinta yang akan ia ungkapkan tak lagi dapat ia katakan.


"Ka-kalian pacaran?" Tanya Aditya memastikan.


"He'em." Jawab Dona singkat.


Aditya menghela nafas panjang. Mencoba menerima semuanya dengan lapang dada. Namun, tetap saja hatinya seperti tidak rela menerima kenyataan yang baru saja ia dengar. Hingga akhirnya motor Aditya berhenti tepat di depan gerbang rumah Dona.


Dona turun dari atas motor dengan wajah sendu. Ia merasa bersalah dan tak berani menatap wajah Aditya.


"Hei, kenapa nunduk aja." Ucap Aditya memasang wajah dengan bibir yang tersenyum mengembang.


Dona mendongak, memandang wajah Aditya yang selalu tampak begitu teduh saat dipandangnya.

__ADS_1


"Selamat ya. Aku harap kamu akan selalu bahagia sama Gilang. Tapi, aku cuma mau minta satu hal sama kamu. Biarkan aku untuk selalu jadi sahabat kamu."


"Tentu saja. Kamu, Raka, Billy maupun Gilang akan selalu jadi sahabat aku. Gak akan ada yang berubah." Balas Dona tersenyum penuh kelegaan.


"Mungkin aku salah kalau saat ini mengatakan hal ini sama kamu. Jujur aja, aku cinta sama kamu sejak pertama aku lihat kamu saat kamu terlambat datang ke sekolah hari itu. Meski begitu, jangan karena pengakuan aku ini malah buat kamu menjauh dari aku. Aku cuma pengen kamu tahu aja, biar hati aku lega. Dan, aku akan selalu sayang sama kamu. Dan aku bahagia jika kamu bahagia meski itu bukan denganku."


Dona terdiam, matanya nampak berkaca. Entah kenapa hati ya terasa begitu sakit. Meski sebenarnya ia lega karena sudah mengatakan hal yang sejujurnya pada Aditya.


"Ah, kok jadi serius begini. Udah sana masuk. Aku balik ya. Takutnya kehujanan. Daah...."


Tanpa menunggu balasan dari Dona, Aditya langsung menjalankan motornya meninggalkan Dona yang masih berdiri mematung. Air mata Dona mengalir begitu saja, hatinya begitu sakit menatap Aditya yang sudah menjauh.


"Ada apa denganku? Bukankah aku mencintai Gilang? Lalu kenapa aku menangis?"


Air mata Dona terus saja mengalir tanpa bisa ia kendalikan. Secara tiba-tiba, hujan turun dengan begitu derasnya. Bu Nir berteriak memanggil Dona yang masih saja berdiri di depan rumah.


"Donaaaa.... Ayo masuk. Mau ujan-ujanan kamu Nak?" Teriak Bu Nir.


Dona yang tersadar segera masuk ke dalam rumah sambil mengusap air matanya. Dona langsung berlari ke kamarnya dan duduk di depan meja riasnya. Dona menatap pantulan wajahnya di cermin, matanya memerah. Pandangan Dona berpindah pada laci dan langsung mengambil sebuah diary yang terletak di dalam laci.


Perlahan Dona membuka buku diary itu dan langsung terpampang foto Aditya yang mengenakan seragam SMA. Mata Dona kembali berair.


"Apa yang aku rasakan saat ini adalah apa yang dirasakan oleh Dona pemilik tubuh ini?" Dona bertanya pada dirinya sendiri.


Dona kembali membaca buku diary itu. Diary yang memang ditulis oleh Dona yang pemilik tubuh aslinya. Sabrina Dona Amelia yang memang mencintai Aditya sejak dulu, berbeda dengan Dona yang hidup saat ini malah mencintai Gilang.


"Aku harus bagaimana?"


Bersambung.....


Hai semuanya....


Maaf ya, baru bisa up sekarang. Akhir-akhir ini author gak bisa up karena sedang sakit. Mohon doanya ya semua, semoga author lekas diberikan kesembuhan agar bisa beraktifitas seperti sedia kala. Aamiin...


Terima kasih semuanya atas dukungan yang selalu diberikan....


Salam sayang...


La-Rayya ❤️

__ADS_1


__ADS_2