
Malam semakin larut, hujan tak kunjung surut. Dona dan Aditya masih terjebak di dalam restoran. Guyuran hujan yang begitu deras tak memungkin Aditya untuk mengendarai motornya guna mengantar Dona pulang. Pengunjung restoran pun mulai sepi, menyisakan beberapa orang yang masih menikmati makanan mereka, termasuk Dona dan Aditya yang masih duduk sembari menunggu hujan reda.
Dona melihat jam dipergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Aditya tampak sibuk mengutak-atik ponselnya.
"Maaf ya." Ucap Aditya.
"Kenapa minta maaf?" Tanya Dona.
"Gara-gara pakai motor, kamu jadi telat pulang gini. Mau nerobos hujan, gak mungkin juga."
"Gak apa-apa kok. Santai aja."
Aditya masih sibuk dengan ponselnya. Berusaha menelepon sang kakek agar bisa mengirimkan supir untuk menjemputnya. Namun, tak ada jawaban dari sang kakek. Aditya pun sudah mencoba memesan taksi online, tapi tak ada satu pun yang merespon. Mungkin karena hujan yang begitu deras.
"Sekarang gimana?" Tanya Aditya. "Aku sudah coba hubungi kakek buat minta sopir jemput kita, aku juga sudah coba pesan taksi online. Tapi...."
"Sudahlah, kita cuma bisa nunggu aja. Lagian aku udah sms Bapak, ngasih tau kalau kita kehujanan."
Aditya pun bisa bernapas lega. Setengah jam berikutnya hujan mulai reda, menyisakan gerimis kecil yang masih jatuh ke bumi. Tak menyia-nyiakan kesempatan, Aditya segera mengajak Dona keluar dari restoran. Aditya memasangkan jaket dan helmnya pada Dona.
"Kamu aja yang pakai."
"Nanti kamu kedinginan."
"Aku pakai jaket aja, kamu pakai helmnya." Dona berusaha melepaskan helm yang dikenakan Aditya padanya.
"Gak, kamu aja. Biar kepala kamu terlindungi dari gerimis yang bisa aja buat kamu demam nantinya."
"Terus kamu gimana?"
"Udah, gak usah banyak tanya. Naik aja, mumpung ujan nya udah gak deras."
Dona pun duduk di jok belakang motor Aditya. Tanpa aba-aba, Dona langsung melingkarkan tangannya pada pinggang Aditya. Berharap pelukan yang ia berikan bisa menghangatkan tubuh Aditya yang pastinya kedinginan karena hanya mengenakan kaos oblong berwarna putih di cuaca yang begitu dingin.
Keduanya tiba di rumah Dona tepat pukul 12 malam. Aditya begitu takut jika Dona dimarahi oleh kedua orang tuanya. Baru saja hendak mengetuk pintu, Bu Nir sudah lebih dulu membuka pintu dan tampak berdiri bersama Pak Edi.
"Kalian tidak apa-apa kan? Aduuh Ibu sama Bapak khawatir sekali. Hujannya deras ditambah angin yang juga cukup kencang." Ucap Bu Nir memegang tangan Dona yang masih terasa dingin.
Dona masih mengenakan jaket dan helm Aditya. Sementara kaos yang dikenakan Aditya, bagian depannya sudah terlihat basah kuyup.
"Pak, Bu, maaf ya. Dona jadi terlambat pulang." Ucap Aditya menunduk.
"Aduuhh kamu sampai basah begini karena harus anterin Dona pulang." Balas Bu Nir.
Dona bergegas membuka jaket dan helm, lalu memberikannya pada Aditya. Tiba-tiba hujan kembali turun dengan begitu deras. Aditya yang baru saja hendak pamit pulang, terpaku menatap derasnya air hujan yang jatuh dari atap rumah Dona ke lantai halaman depan.
'Duh, gimana nih? Mana udah malam banget lagi.' pikir Aditya.
"Nak Aditya lebih baik ikut masuk ke dalam rumah. Ganti pakaian dengan baju Bapak saja. Dan, lebih baik menginap dulu disini." Ucap Pak Edi.
"Ha...!" Dona dan Aditya kaget berbarengan.
__ADS_1
"Ti-tidak usah Pak. Saya pulang saja."
"Bagaimana kamu bisa pulang, lihat saja hujannya sangat deras. Belum lagi angin yang mulai kencang." Ucap Pak Edi.
Angin memang mulai berhembus cukup kencang, dibarengi hujan yang sangat deras diiringi deru gemuruh yang saling bersahutan.
"Saya pinjam jas hujan aja Pak." Balas Aditya.
"Nak Aditya menginap saja. Sepertinya akan ada badai. Bahaya jika harus pulang di cuaca seperti ini. Apalagi Nak Aditya pakai motor." Kali ini Bu Nir yang memaksa Aditya untuk menginap.
Setelah beberapa saat berdebat, Aditya akhirnya setuju untuk menginap di rumah Dona. Meski sebenarnya merasa begitu tidak enak hati pada Dona. Namun hujan yang disertai badai, membuat Aditya mau tidak mau menerima tawaran Pak Edi.
Semua orang masuk ke dalam rumah. Pak Edi memberikan sebuah kemeja lengan panjang dengan warna abu-abu pada Aditya. Setelah itu, Bu Nir bergegas memasukkan pakaian Aditya yang basah ke dalam mesin cuci lalu mengeringkannya. Pak Edi mempersilahkan Aditya untuk beristirahat di kamar tamu.
Kamar yang tidak begitu besar namun bersih dan rapi. Aditya lalu naik ke tempat tidur setelahnya berusaha menelepon sang kakek. Namun, tetap saja nomor sang kakek belum bisa dihubungi. Ia pun memutuskan untuk tidur, agar esok pagi ia segera pulang.
Sementara Dona di dalam kamarnya belum juga bisa tidur meski waktu sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Dona masih memikirkan apa saja yang baru dialaminya malam ini. Mulai dari bertemu dengan Opa Herbowo, hingga terlambat pulang ke rumah karena kehujanan. Dan yang lebih tak bisa ia percaya adalah, Aditya yang menginap di rumahnya.
"Mata, ayolah bekerja sama. Besok aku harus ke kampus. Bagaimana ceritanya jika aku ke kampus dengan mata yang mengantuk." Gerutu Dona.
Dona menatap langit-langit kamarnya, lalu mengambil ponselnya yang terdengar bergetar. Terdapat sebuah pesan singkat yang dikirimkan Gilang.
[Sayang, apa aku melakukan kesalahan hingga tidak dihiraukan? Berulang kali aku berusaha menelepon mu karena mengkhawatirkan kondisi kamu. Tapi, kamu menolak panggilan dariku dan bahkan tidak mau membalas pesanku. Tolong jangan diami aku seperti ini. Aku terluka.]
Sementara satu pesan lainnya berasal dari Aditya yang waktu pengirimannya sudah beberapa menit yang lalu.
[Jangan mikir macem-macem. Tidurlah, besok harus ke kampus. Jangan mimpiin aku ya, entar kamu malah gak bangun-bangun karena terpesona oleh ketampanan ku.]
*****************
Pagi yang begitu cerah menyambut. Setelah semalam hujan badai yang melanda dengan begitu deras hanya menyisakan beberapa genangan kecil air di halaman rumah Dona. Dengan masih mengenakan pakaian tidur berupa celana pendek dan singlet berwarna cream, Dona keluar dari kamarnya dengan mengucek mata.
Rambutnya yang mulai sedikit memanjang masih berantakan. Ia duduk selonjoran di lantai ruang tamu lalu meminum air yang tersedia diatas meja. Dona lalu mencomot buah apel yang juga ada diatas meja.
"Waahh Ibu tumben sekali pagi-pagi sudah siapin buah di ruang tamu." Teriak Dona. "Pagi Pak.." sapa Dona pada pria yang tengah serius membaca koran dihadapannya.
Pria yang duduk membaca koran itu nyatanya adalah Aditya, ia benar-benar tak menyadari kedatangan Dona hingga Dona berteriak. Aditya berusaha menahan tawa melihat tingkah Dona yang mengira dirinya adalah Pak Edi.
"Pak, semalam aku mimpi aneh." Ucap Dona lalu kembali mengigit apel merah ditangannya.
"Mimpi apa?" Tanya Aditya seraya melipat kotan yang dibacanya lalu menatap Dona dengan perasaan kikuk.
Keduanya bertatapan tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Dona yang tersadar, lalu menyadari bahwa ia tengah mengenakan pakaian terbuka. Sontak saja Dona berteriak dan berlari menuju kamarnya.
"Aaahhh Bu..... Kenapa ada Aditya di ruang tamuuu...." Teriaknya.
Aditya merasa tak enak hati pada Dona karena sudah melihat Dona dengan pakaian yang terbuka.
'Aduh gimana ini?' pikir Aditya.
Mendengar teriakan Dona, Pak Edi yang tengah membuka toko dan Bu Nir yang tengah menyiapkan pakaian Aditya berlarian menuju ruang tamu.
__ADS_1
"Dona kenapa Nak Adit?" Tanya Pak Edi.
Aditya hanya terdiam, matanya melihat ke arah Bu Nir yang sudah memegang pakaiannya yang sudah dilipat rapi. Aditya lalu berjalan mendekati Bu Nir lalu mengambil pakaiannya.
"Makasih ya Bu. Saya permisi ganti baju dulu." Ucap Aditya sopan.
Aditya bergegas mengganti pakaiannya. Sementara Pak Edi dan Bu Nir saling pandang dan masih bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi hingga Dona sampai berteriak.
"Sana, Ibu periksa Dona. Kenapa dia berteriak, bikin orang kaget saja." Titah Pak Edi.
Setelah berganti pakaian, Aditya pun pamit pada Pak Edi tanpa menunggu Bu Nir keluar dari kamar Dona.
"Gak sarapan dulu Nak Adit?"
"Gak usah Pak, terima kasih. Tadi sudah minum kopi dan makan buah. Saya permisi ya Pak, sampaikan terima kasih saya pada Ibu karena sudah membuat pakaian saya wangi." Ucap Aditya seraya menyalami tangan Pak Edi.
Aditya pun meninggalkan rumah Dona dengan perasaan yang tak menentu, antara senang karena bisa menginap di rumah Dona dan juga diliputi rasa bersalah karena secara tidak sengaja ia tidak sopan karena melihat Dona dengan pakaian yang terbuka.
Sementara di dalam kamar Dona, Bu Nir tak hentinya tertawa mendengar cerita Dona.
"Ibu kok malah ketawa. Aduuh Bu, gimana dong. Aku malu...." Ucap Dona yang sudah selesai mandi.
"Sudahlah, lupakan saja. Lebih baik, sekarang cepat keluar untuk sarapan. Kamu kan harus ke kampus pagi ini."
Bu Nir dan Dona keluar dari kamar menuju ruang makan. Keduanya hanya mendapati Pak Edi yang tengah duduk menikmati kopi buatan Bu Nir.
"Loh Pak, Aditya mana?" Tanya Bu Nir.
"Sudah pamit, tadi titip salam buat Ibu. Katanya terima kasih sudah buat baju dia wangi." Jawab Pak Edi sembari menyeruput kopi.
Dona tampak kesal lalu duduk kemudian mulai mengambil nasi goreng dan mulai makan.
"Ada apa sih?" Tanya Pak Edi.
Bu Nir lalu menceritakan kejadian yang dialami Dona hingga membuatnya berteriak. Pak Edi yang tengah mengunyah nasi goreng sontak menahan tawa. Setelah menelan nasi gorengnya, sontak saja Pak Edi tertawa.
"Bapak sama Ibu sama saja. Bukannya prihatin malah diketawain." Protes Dona.
"Bagaimana Bapak tidak ketawa, habis kamu itu aneh sekali. Apa tidak bisa bedain mana Bapak mana Aditya. Atau jangan-jangan Bapak ini sama gantengnya sama Nak Adit? Hahaha...."
"Siapa coba yang bisa bedain kalau mukanya ketutupan koran." Dona mencebik kesal.
"Kamu juga, masa lupa kalau semalam Nak Adit menginap. Malah main nyelonong keluar kamar dengan rambut berantakan, pakaiannya terbuka lagi." Ejek Bu Nir.
"Aaaahh sudah, jangan dibahas lagi." Pekik Dona.
Pak Edi dan Bu Nir menahan tawa. Sementara Dona sibuk memikirkan bagaimana jadinya jika ia bertemu dengan Aditya nanti.
'Ah, masa bodoh aja. Anggap gak pernah terjadi.' pikir Dona.
Bersambung....
__ADS_1