Pesona Sang Primadona

Pesona Sang Primadona
PSP 31: Nasehat Pak Edi


__ADS_3

Sinar mentari pagi, kembali menyambut Dona dari mimpi indahnya. Semalam ia menghabiskan waktu mengobrol bersama Gilang untuk pertama kalinya sebagai sepasang kekasih. Untuk pertama kalinya juga dalam hidup yang ia lewati, Dona merasakan debaran-debaran yang membuat bibirnya selalu tersenyum. Hingga pagi hari saat hendak berangkat sekolah, bibir Dona tak bisa berhenti tersenyum.


"Aduh.... Aduhhh.... Bahagianya yang punya pacar sampai-sampai nasinya di anggurin malah di senyumin." Goda Bu Nir saat sarapan bersama Dona dan Pak Edi.


"Ibu apaan sih!" Pipi Dona bersemu merah.


'Sejak kapan Ibu tahu aku pacaran?'


Dona melirik ke arah Pak Edi yang terdiam sambil terus fokus menyantap nasi goreng buatan sang isteri. Dona kemudian mulai menyantap sepiring nasi goreng dihadapannya yang sejak tadi tak dihiraukan. Pikiran Dona memang tengah terganggu oleh kehadiran Gilang.


"Makan dulu, baru mikirin pacar." Sahut Bu Nir lagi.


"Kheemmm.... Khemmm...." Pak Edi berdehem.


"Kenapa Pak? Seret ya? Mau minum?" Bu Nir dengan cekatan menuangkan air ke dalam gelas lalu memberikannya pada Pak Edi.


Pak Edi tak meminum air itu, namun malah melanjutkan makannya hingga nasi goreng yang ada di piringnya habis. Lalu beralih meminum air hingga tandas. Lantas Pak Edi langsung keluar rumah tanpa berkata sepatah katapun. Dona langsung menatap sang Ibu yang juga merasa keheranan dengan tingkah Pak Edi.


"Bapak kenapa Bu?"


"Gak tahu. Mungkin pikirannya lagi mumet. Sudah gih cepetan habisin sarapan kamu. Sudah mau jam 7."


Dona melirik jam yang ada di dinding, kemudian dengan cepat menghabiskan makanannya.


Setelah selesai sarapan, Dona pamit pada Bu Nir dan berjalan keluar rumah untuk menunggu jemputan dari Gilang. Namun, Pak Edi sudah bersiap dengan sepeda motornya dan sudah mengenalan helm. Bu Nir yang ikut berjalan di belakang Dona karena hendak bersiap ke dalam toko, mendekati Pak Edi.


"Mau kemana Pak?" Tanya Bu Nir.


"Bapak mau antar Dona. Pagi ini Ibu saja yang jaga warung dulu."


"Tumben." Bu Nir menatap Dona yang berdiri mematung.


"Ayo Nak, Bapak antar. Sudah mau jam 7 ini. Takutnya kamu telat." Ajak Pak Edi.


'Tapi.....'


Dona berjalan mendekati Pak Edi lalu naik ke atas motor setelah bersalaman dengan Bu Nir. Diatas motor, Dona berusaha menghubungi Gilang.


"Jangan sembarangan main ponsel dijalan. Bahaya. Bisa mengundang kejahatan. Cepat simpan ponselmu." Titah Pak Edi yang langsung dituruti Dona tanpa pikir panjang.


Meski begitu, Dona masih memikirkan Gilang yang pastinya akan menjemputnya di rumah.


"Nak. Bapak boleh ngomong sesuatu?" Tanya Pak Edi.


"Tentu saja Pak." Jawab Dona singkat.


Pak Edi terdengar menghembuskan napasnya perlahan.


"Bapak sudah pernah bilang sama kamu, kalau Bapak tidak melarang kamu untuk pacaran karena Bapak juga pernah muda. Tapi, satu hal yang perlu Bapak tekankan sama kamu. Jaga diri kamu baik-baik, jangan sampai terlalu terperdaya oleh cinta yang ditunjukkan seorang lelaki. Jangan terlalu memberikan kesempatan pada lelaki untuk bebas menyentuh kamu, meski itu hanya sentuhan tangan apalagi sampai berlebihan. Jadilah wanita yang berkelas, jangan sampai termakan bujukan dan rayuan. Bapak bilang begini karena Bapak sayang sama kamu."


Dona terdiam, ia langsung mengingat kejadian semalam dimana saat Gilang menggenggam tangannya dan secara spontan berusaha menciumnya. Namun, dengan sigap Dona menutup bibir Gilang dengan telapak tangannya.


"Ini terlalu cepat." Ucap Dona malu-malu.

__ADS_1


"Cepat gimana nya? Bukankah kita pernah melakukannya sekali waktu itu. Meski secara tidak sengaja." Protes Gilang.


'Apa Bapak melihat kejadian semalam?' pikir Dona.


Dona terdiam seribu bahasa, mendadak ia merinding melihat punggung Pak Edi. Biasanya Pak Edi selalu tampak humoris, tapi sejak sarapan tadi, ia tampak begitu serius. Sorot matanya saat menatap Dona seperti sebuah tanda peringatan.


"Nak, laki-laki yang baik itu, tidak akan menyentuh wanitanya hingga saatnya tiba nanti. Hingga keduanya halal dimata Tuhan dan hukum negara. Karena apa? Laki-laki itu jika sudah bisa menyentuh, akan ketagihan. Pertama pegangan tangan, kedua cium kening atau pipi. Selanjutnya ini dan selanjutnya itu yang bahkan bisa menyentuh sampai ke perzinahan. Sebagai laki-laki, Bapak sendiri sudah pengalaman dalam hal seperti itu." Pak Edi terdengar tertawa kecil. "Kamu boleh tanya Ibu kamu, apa Bapak pernah melakukan yang aneh-aneh saat pacaran sama Ibu atau tidak."


Lagi-lagi Dona terdiam. Ia berusaha mencerna semua yang dikatakan Pak Edi.


"Intinya, Bapak cuma mau kamu jaga diri saja Nak. Mau bagaimanapun Bapak dan Ibu sebagai orang tua menjagamu, toh kami tidak bisa 24 jam bersama kamu. Seperti saat ini, kamu harus ke sekolah. Ada kalanya kamu bermain bersama teman-temanmu. Dan kalaupun Bapak bisa menyewa pengawal sekalipun untuk mengawasi kamu, kalau kamu tidak bisa menjaga diri kamu sendiri maka kamu bisa kebablasan. Ingat satu hal, ada Tuhan yang selalu mengawasi gerak-gerik kita. Itu saja."


Dona mengeratkan pelukannya dan menyandarkan kepalanya di punggung Pak Edi. Pak Edi tampak tersenyum.


"Menurut Bapak, Gilang itu orangnya gimana?" Tanya Dona tiba-tiba.


"Sejauh yang Bapak lihat, dia anak. Tapi agak petakilan, tengil dan ceplas ceplos. Terlihat dari penampilannya. Berbeda dengan Nak Aditya yang kalem, sopan dan berhati-hati dalam bertutur kata. Kalau bisa dibilang, Gilang itu sama dengan Billy dan Aditya itu sama dengan Raka. Tapi yang selama ini dekat sama kamu kan cuma Gilang sama Aditya. Bapak jarang lihat Nak Raka. Sementara si Billy bukannya sudah pacaran sama Ayu."


"Bapak tahu banyak ya. Sampai Ayu pacaran sama Billy aja Bapak tahu." Dona sedikit terkejut.


"Ya bagaimana tidak tahu. Ayu nya kalau datang ke rumah curhat terus sama kamu tentang Nak Billy. Mana suaranya kedengaran jelas sampai toko depan rumah."


Keduanya tertawa bersama, hingga akhirnya Dona tiba di sekolah. Dona mencium tangan Pak Edi yang terasa kasar.


"Makasih ya Pak buat nasehatnya. Aku janji akan jaga diri baik-baik. Aku gak bakal kecewain Bapak sama Ibu." Ucap Dona bersungguh-sungguh.


"Niatkan semuanya karena kamu memang takut sama Tuhan. Setelah itu baru karena baktimu pada kedua orang tua."


"Siap Pak." Dona memberi hormat pada Pak Edi yang membuat pria itu tertawa.


Kegiatan imtaq di hari jum'at pagi usai. Dona dan Ayu berjalan beriringan menuju kelas. Dari arah belakang, Billy tampak berlarian mengejar Ayu dan Dona.


"Sayang..." Sapa Billy pada Ayu.


"Hei..." Jawab Ayu dengan pipi merona.


"Cih, sudah go publik banget ya kalian." Cibir Dona.


"Tentu saja dong. Biar kekasihku ini tidak digoda orang lain. Bila perlu aku kasih stempel kepemilikan di keningnya biar semua orang tahu bahwa Ayu ini milik Billy."


"Dasar bucin." Lagi-lagi Dona mencibir.


"Diihh bilang aja sirik." Balas Billy.


"Ayu, pacar kamu kok mulutnya lemes banget kayak cewek-cewek yang suka gosip. Jangan-jangan kamu pacaran dengan sesama jenis ya."


"Sialan." Balas Ayu tertawa.


Ketiganya lalu berjalan masuk ke dalam kelas dan bersiap memulai pelajaran.


Mata pelajaran pagi ini mereka mendapat jam sejarah. Namun karena ada rapat pembahasan ujian sekolah, kelas Dona pun hanya diberikan tugas.


"Aku mau tanya sesuatu sama kamu." Ucap Dona pada Ayu yang tengah sibuk menulis.

__ADS_1


"Apaan?" Tanya Ayu balik.


Dona melihat ke arah belakang dimana Billy duduk dan terlihat juga tengah fokus menulis.


"Pernah dicium Billy gak?" Bisik Dona.


"Haaahh!" Ayu sedikit berteriak, membuat seisi ruang kelas menatapnya.


"Kenapa?" Tanya Billy menepuk pundak Ayu.


"Gak apa-apa." Balas Ayu canggung.


Ayu melotot ke arah Dona yang tampak menahan tawa.


"Kenapa tiba-tiba nanya itu sih?" Bisik Ayu.


"Mau tahu aja." Balas Dona cekikikan.


"Pernah." Jawab Ayu.


"Seriusan? Dimana nya aja?" Dona makin penasaran.


"Disini. Disini. Disini, dan disini." Dona menunjuk kening, pipi, bibir hingga lehernya bergantian.


"What the h*ll..." Dona sangat terkejut dengan jawaban Ayu.


"Kenapa? Gak percaya?" Ayu menyipitkan matanya. "Nih lihat." Ayu memperlihatkan tanda merah di lehernya yang tertutup kerah baju.


Dona membelalakkan matanya, ia tak percaya apa yang dilihatnya. Ayu yang dikenalnya sebagai gadis polos ternyata bisa berbuat sejauh itu bersama kekasihnya.


"Are you serious? Ini beneran Ayu kan?" Dona menggoyang-goyangkan tubuh Ayu.


"Kamu kenapa sih? Ya ini Ayu lah. Siapa lagi."


"Tapi..."


"Tapi kenapa? Karena ini?" Ayu lagi-lagi menunjuk lehernya. "Udahlah Don. Kita sama-sama sudah gede. Dalam pacaran itu hal kayak gini udah biasa kali. Kamu aja yang belum sampai ke tahap sana. Bentar lagi juga kamu tau rasanya dan bakal ketagihan." Ayu cekikikan.


"No. Aku gak akan seperti itu." Bantah Dona. "Yu, kamu harus bisa jaga diri kamu." Kali ini Dona berusaha menasehati Ayu agar tidak terjerumus terlalu jauh. "Jangan sampai kalian berdua melewati batas yang bakal ngerusak masa depan kamu sendiri."


"Sayangku Dona. Tenang aja. Kami berdua gak akan sampai melakukan hal yang ada di otak kamu itu kok. Kita berdua juga masih mau melanjutkan kuliah dan yang lainnya."


'Fyuuhhh...' Dona terdengar bernapas lega.


"Tapi, gak apa-apa kan cuma main kiss doang. Kamu coba aja deh." Goda Ayu.


"Gak." Pekik Dona.


Keduanya kembali fokus menulis. Sesekali Dona melirik ke arah Ayu. Dona hanya benar-benar tak habis pikir. Ayu yang dikenalnya begitu polos ternyata bisa berhubungan sampai sejauh itu bersama Billy.


'Benar kata Bapak, jika kamu tidak bisa menjaga dirimu sendiri maka orang lainpun tidak akan bisa menjaga kamu.'


Dona hanya bisa berharap, bahwa ia tak akan melakukan sesuatu yang melewati batas bersama Gilang.

__ADS_1


'Aku harus bisa jaga diri dengan menahan diri.'


Bersambung....


__ADS_2