
Seharian sibuk dengan urusan Ayu, Dona pun pulang ke rumah tepat pukul 6 petang diantar oleh Aditya. Keduanya duduk di teras rumah sambil menikmati camilan yang dibuat oleh Bu Nir. Sekedar mengobrol masalah kuliah dan masalah yang tengah dihadapi Ayu dan Billy.
"Aku harap keduanya bisa segera menyelesaikan masalah mereka." Ucap Dona.
"Hmmmm iya. Aku pesimis kalau mereka akan segera menikah." Balas Aditya.
"Kok gitu? Kenapa emangnya?"
"Setahu aku orang tuanya Billy lagi di luar negeri. Maklum bisnis." Balas Aditya.
"Pantas aja, kamu, Billy, Gilang dan Raka digandrungi banyak cewek. Karena selain tampan, kalian juga tajir melintir." Dona tersenyum ke arah Aditya.
"Kalau boleh bilang sih, ketiga orang lainnya emang terlahir dari anak orang kaya. Kalau aku sendiri biasa aja."
"Apanya yang biasa aja? Kakek kamu kan pemilik rumah sakit terbesar dan termewah di kota ini."
"Itu kan kakek, bukan aku."
"Ya sama aja. Kamu kan pewaris tunggalnya."
"Hmmmm...."
Dona tertawa menatap ekspresi wajah Aditya.
Aditya memang tak pernah ingin orang mengenalnya karena ia yang merupakan cucu dari seorang konglomerat dan dokter termasyhur di kota. Papanya yang merupakan anak tunggal dari sang Kakek, telah meninggal dunia bersamaan dengan sang Mama karena kecelakaan. Aditya kecil pun diasuh oleh sang Kakek sejak kecil hingga dewasa.
"Aku penasaran, seperti apa Kakek mu itu. Apakah dia sama tampannya denganmu?" Setelah mengucapkan itu Dona langsung menutup mulutnya.
"Waahh, berarti selama ini kau mengagumi ketampanan ku ya?" Aditya mendekatkan wajahnya ke arah Dona, membuat gadis yang mengenakan dress warna biru itu gugup.
"Apaan sih? Mundur, jaga jarak." Dona mendorong kepala Aditya agar menjauh darinya.
'Aduh jantung, kenapa kamu berdebar kencang gini sih?'
Dona memegang dadanya yang terasa begitu berdebar.
"Kamu kenapa? Deg-degan ya karena dekat aku?" Goda Aditya.
"Iiihhh pede banget."
Aditya tertawa renyah, dan tepat saat itu sebuah mobil berhenti di depan rumah Dona. Dona yang sudah mengenali siapa pemilik mobil itu lantas berdiri. Sosok Gilang keluar dari dalam mobil dengan berpakaian rapi. Seperti hendak menghadiri suatu acara.
"Hai sayang." Sapa Gilang mendekat ke arah Dona dan Aditya.
"Hai...." Balas Dona.
"Ganti baju sekarang juga ya. Ikut aku ketemu Opa."
"Se-sekarang?"
"Iya sekarang. Masa tahun depan."
"Tapi...."
"Tenang, entar aku izin ke Bapak sama Ibu."
Dona menatap ke arah Aditya dan tersenyum lalu berlari masuk ke dalam rumah. Kini tinggal Gilang dan Aditya yang duduk di teras rumah.
"Gue lihat lo makin hari makin nempel aja sama cewek gue? Apa lo gak ada niat buat cari pacar, biar gak terus nempel sama pacar orang." Gilang menatap Aditya tajam.
"Gue sama Dona sahabat baik. Sebelum lo jadi pacarnya dia juga, kita udah sahabatan. Jadi lo gak usah khawatir atau mikir yang aneh-aneh. Gue akuin, gue emang sayang dan cinta sama Dona. Tapi, dia cinta sama lo. So, gue gak mungkin maksain perasaan dia buat cinta juga sama gue. Dengan menjadi sahabat dan selalu ada disisi dia aja gue udah seneng. Tenang aja bro, gue bukan tipe cowok yang suka nikung apalagi maksain perasaan." Balas Aditya tak kalah tajam menatap Gilang.
Saat keduanya saling menatap, Pak Edi berjalan ke arah mereka.
__ADS_1
"Loh, kok di luar aja? Kenapa tidak masuk?" Tanya Pak Edi.
"Malam Pak." Sapa Gilang dibalas anggukan Pak Edi. "Emmm gini Pak, saya mau izin untuk bawa Dona ketemu sama Opa saya sekarang juga. Gak lama kok Pak. Paling telat jam 10 sudah nyampe rumah lagi." Lanjut Gilang.
"Dalam rangka apa ya Nak Gilang? Apa ada acara keluarga?" Ucap Pak Edi balik bertanya.
"Kebetulan, malam ini perayaan pesta ulang tahun Opa saya."
"Ooh begitu...."
Dona sudah berdiri di pintu menatap Pak Edi dan dua pria yang dekat dengannya itu tengah mengobrol.
"Serius amat. Pada lagi ngomongin apa sih? Pasti ngomongin aku ya?" Ucap Dona yang tampak cantik dengan gaun berwarna peach yang dikenakannya.
Aditya dan Gilang terdiam, keduanya tampak terpesona dengan kecantikan Dona.
"Loh, kok pada diem?" Dona menaikkan alisnya ke arah Pak Edi.
"Ini, tadi Gilang minta izin sama Bapak untuk ngajak kamu ke ulang tahun Opa nya." Ucap Pak Edi. "Apa Aditya juga ikut?"
Dona sontak menatap Gilang, raut wajah Gilang langsung berubah. Sebenarnya ia ingin mengatakan bahwa ia hanya mengundang Dona. Tapi karena tak enak hati dengan Pak Edi, ia pun mengatakan bahwa Aditya juga boleh ikut ke acara ulang tahun sang Opa.
"Kalau begitu segera berangkat. Takutnya kalian telat lagi."
Ketiganya lalu pamit kepada Pak Edi dan juga Bu Nir yang ada di dalam toko. Dona dan Gilang berangkat menggunakan mobil, sementara Aditya mengikuti dari belakang dengan motornya.
Pak Edi sebenarnya belum bisa percaya seratus persen pada Gilang jika ingin membawa Dona keluar rumah apalagi malam hari. Tapi, perasaannya menjadi lebih tenang saat mengetahui bahwa Aditya juga akan ikut.
Tiba di kediaman Gilang, sudah ada banyak orang yang datang.
"Kamu kok gak bilang kalau mau ada acara ulang tahun Opa kamu. Tahu gitu kan aku bisa nyiapin kado. Noh, kasian juga si Aditya gak pakai acara ganti baju dulu."
"Opa gak butuh hadiah apa-apa dari kamu, yang penting kamu bisa datang aja udah cukup. Lagian masalah si Aditya, aku kan gak ngundang dia."
Aditya menghampiri keduanya setelah memarkirkan motornya di halaman kediaman Gilang yang begitu luas.
"Ayo masuk." Ajak Gilang seraya menggandeng tangan Dona.
Aditya hanya bisa mengekor dari belakang. Saat masuk ke dalam rumah, Dona merasa seperti kembali ke kehidupannya terdahulu. Interior rumah Gilang mirip dengan rumahnya di kehidupannya yang terdahulu. Rumah yang begitu mewah, dengan lampu kristal yang menggantung di tengah-tengah ruangan. Tamu-tamu undangan rata-rata merupakan kalangan elit dengan segala kemewahan yang mereka kenakan.
"Oh ya, Mama Papa kamu ada kan?" Tanya Dona.
"Gak ada. Mereka lagi di LA."
Dona hanya bisa mengangkat alisnya. Ia heran, kenapa di momen sepenting ulang tahun orang tuanya, Papa dan Mama Gilang malah tidak ada.
"Tunggu disini ya, aku lihat Opa bentar. Semoga lagi gak sibuk sama koleganya." Ucap Gilang lalu pergi meninggalkan Dona berdua bersama Aditya.
"Mau minum gak? Aku ambilin ya." Ucap Aditya disambut anggukan Dona.
Aditya pergi menuju meja jamuan dimana sudah ada banyak makanan dan minuman yang tersedia. Aditya mengambil dua gelas jus jeruk lalu kembali pada Dona.
"Makasih ya." Dona menerima minuman yang diberikan Aditya.
Sebentar saja keduanya mengobrol, tak lama Gilang kembali dan mengajak mereka bertemu Opa nya. Gilang tak hentinya menggenggam erat tangan Dona, keduanya menjadi pusat perhatian para tamu. Tepat saat berada di hadapan Opa Gilang, Dona berdiri mematung. Tubuhnya membeku, rasa takut menjalar di seluruh tubuhnya.
"Opa kenalin, ini pacar Gilang."
"Jadi ini perempuan yang selalu kamu ceritakan ke Opa." Ucap pria tua yang rambutnya sudah memutih itu.
Aditya yang menyadari perubahan pada diri Dona segera mendekati Dona.
"Kamu kenapa?" Tanya Aditya memegang pundak Dona.
__ADS_1
Gilang sontak menoleh ke arah Dona yang berdiri mematung disampingnya. Wajah Dona tiba-tiba terlihat pucat, keringat dingin mengalir dari keningnya. Telapak tangannya pun basah karena berkeringat.
"Kamu kenapa sayang?" Gilang memegang tangan Dona.
"Kamu sakit Don?" Tanya Aditya.
"Eng-nggak." Balas Dona berusaha menenangkan hatinya.
'Kenapa dunia begitu sempit? Kenapa Opa Gilang harus Pak Herbowo yang itu.'
"Siapa nama kekasihmu ini Lang?" Tanya Opa Gilang yang tak lain adalah Pak Herbowo, pria yang pernah ingin menikahi Dona di kehidupannya yang terdahulu.
"Dona. Sabrina Dona Amelia." Jawab Gilang. "Dan yang ini Aditya Permana, teman Gilang. Dia cucu dari Pak Surya Permana, pemilik dari rumah sakit terbesar dan termegah di kota ini. Opa pasti kenal."
"Tentu saja." Balas Opa Herbowo seraya menjabat tangan Aditya. "Dan yang cantik ini Dona. Kamu memang tidak salah pilih Lang." Lanjutnya seraya menjulurkan tangan untuk bersalaman dengan Dona.
Dona tampak bengong, ia tak menyambut tangan Opa Herbowo. Aditya menyenggol lengan Dona, yang sontak membuat gadis itu tersadar dan menatap tangan Opa Herbowo yang terjulur ke hadapannya. Dona mengulurkan tangannya dan bersalaman, tangannya bergetar saat bersentuhan dengan Opa Herbowo.
"Dona..... Dona.... Sepertinya Opa pernah mengenal seseorang yang bernama Dona. Tapi dimana ya...?"
Dona berusaha tersenyum, meski dalam hatinya ada ketakutan yang begitu besar. Aditya terus saja memperhatikan mimik wajah Dona yang berubah sejak bertemu Opa Herbowo.
"Ah, Opa ingat. Dulu Opa pernah mengenal gadis cantik dengan nama Dona juga. Opa hampir menikahinya tapi...."
Dona memegang kepalanya dan mendadak bersandar di bahu Aditya.
"Dit, kita pulang yuk. Kepala ku pusing." Ucap Dona.
"Kamu kenapa sayang? Gak enak badan? Biar aku antar pulang ya?" Ucap Gilang.
"Gak usah Lang. Aku pulang bareng Adit aja. Lagian ini acara Opa kamu. Gak enak kalau kamu tinggal terus." Balas Dona.
"Tapi..."
"Gak apa-apa Lang. Lo tenang aja, Dona pasti aman sama gue. Biar gue yang antar dia pulang." Aditya memegang pundak Gilang.
"Bukan gitu, lo kan pakai motor. Takutnya Dona..."
"Lang, aku udah biasa naik motor. Lagian cuma pusing dikit doang. Udah ya, aku pulang dulu." Ucap Dona pada Gilang. "O-opa ma-maaf, saya permisi dulu."
Opa Herbowo mengangguk dan tersenyum. Dona dan Aditya pun bergegas keluar dari rumah Gilang. Dona berjalan dengan cepat, ia menarik tangan Aditya seolah ingin mengajak Aditya segera pergi dari rumah Gilang.
"Pacar kamu kelihatannya memang kurang sehat. Opa lihat dia berkeringat dan tangannya juga dingin."
"Gak tau juga Opa. Padahal tadi pas aku jemput ke rumahnya dia baik-baik aja. Bahkan sampai tiba disini dia baik-baik aja. Tapi, setelah ketemu Opa...."
"Apa jangan-jangan dia takut sama Opa?" Ucap Opa Herbowo tertawa. "Apa Opa semenakutkan itu?"
"Ah, Opa ada-ada saja. Dona mungkin memang tiba-tiba gak enak badan. Bisa jadi masuk angin."
"Masuk angin atau... Jangan bilang kamu sudah nyentuh anak orang."
"Opa bicara apa sih."
Opa Herbowo tertawa dan merangkul pundak Gilang, lalu mengajaknya bergabung bersama tamu-tamu penting yang lain.
Sementara itu motor Aditya keluar melewati gerbang kediaman Gilang. Dona memeluk erat pinggang Aditya, ia masih merasa begitu ketakutan setelah melihat Opa Herbowo.
Aditya yang merasakan bahwa tubuh Dona bergetar, memegang erat tangan Dona dan merasakan tangan Dona begitu dingin. Aditya mengusap tangan Dona perlahan-lahan dengan sebelah tangan, sementara tangan lainnya fokus memegang stang motor.
'Ada apa sebenarnya denganmu Don?' tanya Aditya dalam hati.
Bersambung.....
__ADS_1