Pesona Sang Primadona

Pesona Sang Primadona
PSP 41: Berbohong Pada Aditya


__ADS_3

Dinginnya malam mulai menusuk tubuh Dona yang duduk di jok belakang motor Aditya. Tangannya semakin erat memeluk pinggang Aditya. Wajah Opa Herbowo terus saja terbayang dipikiran Dona. Gerimis tiba-tiba turun, membuat cuaca semakin terasa begitu dingin hingga menusuk ke tulang. Motor Aditya menepi tepat di depan sebuah restoran ala korea.


"Kenapa berhenti disini?" Tanya Dona.


"Gerimis Don. Kamu gak ngerasa dingin apa. Nih rambut kamu juga udah mulai basah. Lagian kamu belum makan juga kan? Masuk yuk, neduh sekalian makan malam juga." Jawab Aditya seraya menarik tangan Dona masuk ke dalam restoran setelah melepas helmnya.


"Aku gak laper."


"Gak laper gimana coba? Orang kamu belum makan dari tadi."


'Tahu dari mana dia aku belum makan?'


"Gak usah banyak mikir. Kamu kan sibuk sama Ayu dari pagi, pasti kamu lupa makan. Lagian dari wajah kamu, kelihatan kok kalau kamu lagi kelaparan."


Dona akhirnya bisa tersenyum setelah mendengar ucapan Aditya.


"Kamu emang paling tahu ya tentang aku."


Aditya tersenyum lalu menggeser kursi untuk mempersilahkan Dona untuk duduk. Keduanya duduk berhadapan. Eksterior dan interior restoran itu sangat khas dengan dinding yang berwarna-warni. Ada pula kursi kecil warna-warni yang membuat suasana jadi lebih hidup.


Aditya mulai melihat menu yang ada diatas meja. Tak lama pelayan pun datang.


"Sudah menentukan pilihannya Mas?" Tanya pelayan sopan.


"Kimchi, kimbap, tteokbokki, jjajangmyeon, ramyeon, dan bulgogi."


Dona sontak melotot memandangi Aditya.


"Banyak banget Dit."


Aditya hanya tersenyum.


"Minumnya?" Tanya pelayan lagi.


"Air mineral 2 botol dan jus mangga juga 2."


Pelayan mengangguk lalu pergi meninggalkan meja Dona dan Aditya.


"Ngapain pesan sebanyak itu?" Dona menepuk tangan Aditya.


"Ya buat dimakan, masa dibuang."


"Bukan gitu Dit, emang kamu bisa habisin?"


"Gak, kan ada kamu. Bukannya kamu paling suka makanan korea?" Tanya Aditya santai.


"Tau dari mana?"

__ADS_1


"Tahu aja. Aku kan udah bilang, aku paling tahu gimana kamu."


"Ya udah, iyain aja." Dona melipat tangan di dada seraya bersandar di kursinya.


Tidak begitu lama pesanan Aditya pun datang. Meja dihadapan keduanya mulai penuh dengan makanan. Dona yang melihat ada begitu banyak makanan dihadapannya hanya bisa memutar bola mata malas.


'Apa bisa habis?' pikir Dona.


"Kenapa bengong? Ayo dimakan. Aku yakin, semuanya bakal habis gak tersisa. Kamu pasti ketagihan." Ucap Aditya.


Makanan pertama yang pertama yang dicoba Dona adalah kimchi. Makanan yang merupakan sayuran yang difermentasi dengan bumbu khas menghasilkan rasa yang pedas dan asam di lidah Dona. Dona yang memang menyukai makanan pedas, begitu takjub dengan rasa kimchi yang baru di kunyahnya.


"Gimana? Enak kan?"


Dona hanya mengangguk, lalu mencoba menu berikutnya yaitu kimbap. Makanan yang bentuknya mirip dengan sushi. Sementara Aditya mencoba tteokbokki, dengan sesekali ia menyuapi Dona. Dona yang tadinya tidak yakin makanan dihadapannya terlalu banyak, malah akhirnya berpikir terlalu sedikit.


"Aku gak suka jjajangmyeon, tampilannya menyeramkan. Kamu aja ya. Aku pilih ramyeon aja." Ucap Dona diselingi cekikikan.


Aditya tertawa seraya mengambil mangkok berisi jjajangmyeon. Menu yang terbuat dari mie yang dicampurkan dengan saus kedelai hitam dan ada potongan daging dan sayur.


"Meskipun penampilannya agak menyeramkan karena warnanya, tapi rasanya sangat memanjakan lidah, lho. Bener gak mau coba?" Tanya Aditya.


"Gak." Dona menggeleng keras, membuat Aditya tertawa.


Menu terakhir yang mereka makan adalah bulgogi, berupa daging sapi yang diiris tipis dengan bumbu berupa kecap asin, gula, dan rempah-rempah lainnya.


"Aneh ya, kita makan dagingnya terakhir." Ucap Aditya.


Makanan diatas meja keduanya akhirnya tandas, menyisakan mangkok dan piring saja. Dona memegang perutnya yang terasa begitu penuh.


"Tanggung jawab Dit. Diet aku gagal karena kamu."


Aditya kembali tertawa, ia merasa begitu senang melihat Dona yang sudah tidak terlihat gelisah lagi. Tengah asyik mengobrol, ponsel Dona berdering dan menampilkan nama Gilang di layarnya. Wajah Dona yang tadinya cerah, kini kembali muram. Melihat nama Gilang dilayar ponsel, membuatnya kembali teringat pada Opa Herbowo. Aditya yang menyadari perubahan wajah Dona langsung memegang sebelah tangan Dona yang berada diatas meja.


"Ada apa?" Tanya Aditya.


Dona hanya menggeleng, ia membiarkan ponselnya terus bergetar.


"Siapa? Kenapa gak diangkat?"


"Gilang." Jawab Dona singkat.


Dona malah menonaktifkan ponselnya lalu memasukkannya ke dalam tasnya. Kemudian ia mengambil air mineral diatas meja lalu meminumnya hingga menyisakan tinggal setengah botol. Aditya terus saja memandang Dona. Dona menghela nafas panjang lalu kembali duduk bersandar di kursinya.


"Sekarang jelasin sama aku. Ada apa sebenarnya sama kamu?" Tanya Aditya.


"Hemmmm." Dona menatap Aditya bingung. "A-aku gak apa-apa."

__ADS_1


"Gak apa-apa gimana nya. Sejak ketemu sama Opa nya Gilang kamu langsung berubah. Dari rumah baik-baik aja. Pas ketemu Opa Herbowo kamu benar-benar seperti orang ketakutan. Kamu sampai pura-pura gak enak badan segala. Apanya yang gak apa-apa coba."


Dona kembali menghela nafas panjang. Ia mencoba mencari alasan untuk menjawab pertanyaan Aditya. Ia tahu bahwa Aditya tidak akan diam sampai Dona memberikan jawaban.


"Don, kalau kamu punya masalah, kamu bisa cerita sama aku."


Dona memperbaiki posisi duduknya lalu menatap Aditya tajam.


"Kamu ingat apa yang dikatakan Ola Herbowo terakhir kali sebelum aku ngajak kamu pulang?"


Aditya tampak berpikir dan mengingat apa yang dikatakan Opa Herbowo terakhir kali.


"Hmmmm kalau gak salah sih, dia bilang di masa lalu pernah kenal wanita dengan nama Dona juga."


"Nah itu masalahnya. Kamu ingat gak makam yang sering aku kunjungin bareng sama kamu kalau mau ke makam orang tua kamu?"


"Ingat." Jawab Aditya singkat. "Aahh, makam yang namanya Dona juga kan?" Tanya Aditya setelah menyadari hal itu.


Dona mengangguk. "Dona yang dimaksud Opa Herbowo itu, ya Dona yang makamnya sering aku kunjungi itu."


Aditya tampak tak percaya dengan apa yang diucapkan Dona.


"Kamu serius?"


Dona hanya mengangguk.


"Dunia emang sempit ya. Mmmmm terus, gimana ceritanya Opa Herbowo kenal sama Tante kamu itu?"


Dona memang pernah bercerita bahwa makam dirinya di kehidupan yang terdahulu adalah saudara dari orang tua Dona.


"Opa Herbowo pernah mau nikahin Tante aku. Jarak usia mereka yang terpaut dua puluh tahun lebih, membuat Tante aku gak mau. Apalagi sebenarnya pernikahan itu dibuat untuk melunasi hutang dari ayah Tante aku." Dona berusaha untuk membohongi Aditya dan berharap Aditya akan percaya. "Tante kabur dari rumah dan di kejar oleh anak buah Opa Herbowo hingga Tante mengalami kecelakaan tragis yang membuatnya meninggal dunia." Lanjut Dona.


Aditya tampak berpikir, ia berusaha mencerna setiap ucapan Dona.


"Aku gak percaya bahwa Opa Herbowo bisa melakukan hal itu."


"Jadi maksud kamu aku bohong gitu?" Dona mulai kesal.


"Bukan gitu maksud aku Don."


"Terus...."


"Dari yang aku tahu sejak kecil, Opa Herbowo itu orang yang baik dan dermawan. Tak pernah ada kasus apapun tentang dirinya yang diberitakan media. Dia malah sering diberitakan karena sering melakukan kegiatan sosial untuk membantu orang yang sedang membutuhkan. Jadi...."


"Dit, kadang apa yang terlihat di dunia maya itu tidak seperti kenyataannya. Opa Herbowo bisa saja terlihat baik dan sempurna di depan kamera media. Tapi, siapa yang tahu bagaimana sifat aslinya. Dan kenyataannya, buat aku dia itu pria tua yang hidung belang."


Aditya terdiam, dia tak lagi mau membalas ucapan Dona. Dia tak mau berdebat hanya karena terdengar seperti membela sosok Opa Herbowo yang memang tidak dikenalnya secara langsung, melainkan hanya melalui media. Namun, satu hal yang diketahui Aditya adalah, Opa Herbowo memang dikenal sebagai sosok pengusaha yang sangat baik, dermawan dan penuh kasih sayang. Bahkan sampai hari tuanya, ia tak menikah lagi sejak ditinggalkan sang isteri yang meninggal dunia akibat kanker rahim yang di derita.

__ADS_1


'Aku tak tahu mana yang salah dan mana yang benar. Aku cuma bisa berharap bahwa kau akan menemukan kebenarannya Don.' ucap Aditya dalam hati.


Bersambung....


__ADS_2