
Malam pun tiba, Dona akhirnya masih harus dirawat inap karena tubuhnya yang masih lemas. Bu Nir senantiasa menemani Dona, sementara Pak Edi harus pulang ke rumah dulu untuk mengambil pakaian serta beberapa benda yang diperlukan Dona.
Pak Edi pun kembali ke rumah sakit pukul 9 malam. Koridor rumah sakit sudah sepi. Lampu temaram di sepanjang lorong yang memanjang dari ruang induk menuju bangsal-bangsal, kelihatan begitu menyeramkan. Kadang Pak Edi dapat merasakan angin semilir berhembus menyebarkan bau bunga kenanga. Pak Edi juga dapat merasakan ada sesuatu yang melintas. Seperti kilat. Sangat cepat, sehingga bola matanya tak menangkap jelas apakah yang melintas itu.
Padahal tak ada apa-apa di situ. Selain, mungkin angin semilir yang membawa harum kenanga. Di situ udara bebas berkesiur. Di taman dekat parkiran motor, memang ada rumpun-rumpun bunga kenanga. Jadi wajar saja baunya menyergap selintas-dua, membuat cuping hidung Pak Edi bergerak simultan. Sementara sesuatu yang melintas itu, paling tidak hanya halusinasi dirinya semata.
Pak Edi pun tiba di ruang rawat inap Dona. Dirinya mendapati Dona yang tengah terlelap, sementara sang isteri terduduk di samping Dona dengan membaca ayat-ayat suci.
Pak Edi mengucap salam, lalu disambut Bu Nir dengan tersenyum.
"Sudah lama tidur?" Tanya Pak Edi memandang wajah Dona yang masih tampak pucat.
"Iya Pak. Sudah setengah jam." Balas Bu Nir. "Bapak ada bawa makanan? Roti atau buah gitu?"
"Bapak cuma bawa roti, pakaian dan selimut juga alat ibadah nih." Balas Pak Edi.
"Siniin rotinya Pak. Ibu laper."
"Mau Bapak belikan nasi campur?"
"Boleh. Tapi Bapak berani gak? Diluar udah sepi loh Pak. Serem." Bu Nir menggerakkan pundaknya.
"Haish serem dari mana? Dulu juga waktu Bapak pergi ngapel ke rumah Ibu harus lewatin dua kuburan. Bapak gak ada takut-takutnya tuh." Pak Edi terlihat menyombongkan diri, membuat Bu Nir tersenyum. "Ya sudah, tunggu sebentar ya. Bapak keluar dulu."
Pak Edi kembali keluar dari ruangan Dona. Ketakutan tiba-tiba menyeruak, karena suasana rumah sakit yang sudah sepi. Nyatanya hal seperti ini selalu menjadi bahan pembicaraan orang-orang, baik pasien maupun pembesuk atau penunggu pasien. Kalau sudah malam benar-benar larut, tak ada lagi yang berani keluar masuk kamar pasien. Apalagi sang penunggu pasien. Bila benar-benar butuh sesuatu, paling tidak dia menghubungi perawat melalui intercom.
Pak Edi menghembuskan nafas kasar dan berjalan tenang melewati lorong rumah sakit. Tak jauh dari areal rumah sakit, terdapat warung yang menjual aneka macam makanan berat. Mulai dari nasi goreng, nasi campur dan yang lainnya. Pak Edi memilih untuk membeli nasi campur untuk sang isteri tercinta. Tak lama setelah itu, Pak Edi kembali ke ruangan Dona dan kali ini mendapati Bu Nir tengah melamun.
"Hei, melamun!" Pak Edi mengejutkan Bu Nir dengan sentuhan tangannya yang dingin.
Bu Nir tersentak. Ini merupakan kali pertama bagi dirinya untuk menginap di rumah sakit, membuat nyali Bu Nir sedikit ciut. Rasa was-was menyergap. Sebab, Bu Nir mendengar selentingan dari beberapa orang bahwa rumah sakit ini sangat menyeramkan. Memang di siang hari tak ada yang perlu ditakutkan. Tapi di malam hari yang sepi, selalu saja ada hal-hal aneh terjadi.
"Bapak menakuti saja!" seru Bu Nir.
__ADS_1
"Memangnya Bapak hantu?" Pak Edi membuat Bu Nir semakin ciut.
"Bukan begitu, habis Bapak gak ucap salam dulu."
"Tidak ucap salam bagaimana? Padahal Bapak sudah mengucap salam berulang kali. Tapi karena Ibu melamun, jadi Bapak masuk aja. Memangnya lagi lamunin apa toh Bu?"
"Hmmm Ibu cuma berpikir saja Pak. Kenapa ya anak kita sampai bisa diperlukan seperti ini? Apa dia sudah sering diperlakukan seperti ini?"
"Bapak juga heran Bu. Tidak tahu apa yang sedang dihadapi Dona." Balas Pak Edi. "Sudah-sudah. Lebih baik sekarang makan dulu. Ini Bapak sudah dapat nasi dan lauknya juga. Ibu pasti suka." Lanjut Pak Edi.
Keduanya pun menikmati makan malam mereka. Sejak siang tadi, keduanya memang tak sempat mengisi perut karena panik dengan kondisi Dona.
***********
Malam pun berlalu. Matahari sudah menampakkan sinarnya. Bu Nir dan Pak Edi tengah mengobrol dengan Dona yang juga sudah terjaga. Demam Dona sudah turun sejak semalam. Tapi tubuhnya masih begitu lemas. Dona yang memang tak suka berada di rumah sakit, ingin segera pulang.
"Kapan aku bisa pulang Pak?" Tanya Dona.
Dona mengangguk, meski begitu ia merasa bahwa dirinya baik-baik saja. Hanya saja tubuhnya memang benar-benar masih lemas.
'Kenapa tubuhku jadi sangat lemah begini? Baru juga satu jam basah kuyup bisa langsung demam dan sampai masuk rumah sakit. Padahal di kehidupanku yang terdahulu, aku kuat basah-basahan seharian di laut. Aih...'
Pukul 9 pagi, Dokter masuk ke ruangan Dona dan memeriksa kondisinya. Dokter mengatakan, kemungkinan Dona bisa pulang sore hari jika kondisi fisiknya sudah tidak lemah lagi.
Tepat pukul 2 siang. Aditya, Billy, Gilang dan Raka, datang bersama-sama menjenguk Dona dengan masing-masing membawakan hadiah. Aditya datang dengan membawa parcel buah segar, sementara Billy membawa buket bunga, Gilang membawa boneka berukuran besar, dan Raka membawakan sekotak coklat.
Ruang rawat inap Dona pun menjadi semakin meriah saat 2 orang suruhan Gilang datang dengan membawa balon berwarna pink menghiasi ruangan Dona.
"Norak banget sih lo. Emangnya Dona anak kecil?" Ucap Billy.
"Diem lo. Gue cuma mau Dona merasa nyaman. Dengan adanya balon-balon ini, siapa tau mood Dona bisa kembali baik." Balas Gilang.
Aditya dan Raka hanya bisa menggelengkan kepala mereka melihat perselisihan antara Billy dan Gilang.
__ADS_1
"Terima kasih ya semuanya, sudah datang menjenguk Dona." Ucap Bu Nir dibalas anggukan keempat pria itu.
"Oh ya, kalian udah tau gak siapa yang lakuin semua ini sama aku?" Tanya Dona.
"Siapa lagi kalau bukan Ratu dan gengnya." Jawab Billy.
"Iya. Kemarin aku sudah mendapatkan bukti bahwa mereka pelakunya melalui pengakuan dari Tasya sendiri." Sambung Raka.
"Kamu tenang saja. Mereka sudah di skorsing selama 2 minggu." Lanjut Aditya.
Gilang mendekat ke arah tempat tidur Dona dan refleks memegang kening Dona.
"Kamu udah baikan?" Tanya Gilang.
"Kheem... Kheemmm.... Main nyosor terus. Gak takut dilihat Bapaknya." Protes Billy.
Gilang langsung salah tingkah, karena Pak Edi memang tengah menatapnya tajam. Sementara Dona sendiri, pipinya merah merona. Dia mengingat kejadian di dalam toilet saat Gilang mendapati dirinya yang basah kuyup. Adegan Gilang yang mengganti pakaian basah miliknya dengan seragam Gilang terbayang di kepala Dona. Hal itu membuatnya malu menatap mata Gilang.
Keempat pria itu lalu pamit pulang setelah satu jam berkunjung. Bu Nir pun menggoda Dona.
"Siapa diantara mereka berempat yang merupakan pacar kamu Nak?" Tanya Bu Nir.
"Gak ada." Jawab Dona santai.
"Kalau Ibu jadi kamu, sudah Ibu pacari semuanya. Habis semuanya ganteng." Gelak Bu Nir.
"Cih. Gantengan juga Bapak." Celetuk Pak Edi seraya keluar ruangan Dona.
Dona dan Bu Nir saling menatap lalu tertawa bersama saat Pak Edi sudah tak terlihat.
Bersambung...
Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah juga yaa.... 🥰
__ADS_1