
Beberapa jam sebelum berangkat ke bandara.....
Dona mengeluarkan beberapa pakaian yang akan ia bawa dari dalam lemari baju, dan juga beberapa keperluan lainnya yang sudah ia persiapkan sebelumnya.
Pulau B adalah tujuan mereka, dan mereka berdua akan menghabiskan waktu selama 5 hari disana. Sekarang, hari sabtu pagi kami akan berangkat dengan pesawat pukul 10.
“Dit, apa kau sudah menyiapkan semuanya?” Dona berteriak dengan cukup kencang sambil memasukan barang-barang bawaannya ke dalam koper.
Saat ini Aditya sedang mandi, dia bangun kesiangan karena semalam sibuk menandatangani berbagai berkas sehingga tidur larut. Aditya memang sedang merintis usaha baru demi masa depannya bersama Dona.
“Belum, tolong bantu aku, ehm… istriku sayang.” Balasnya dengan teriakan keras dari balik pintu kamar mandi.
'Aish, apa saja yang harus aku bawa untuk keperluannya. Hem, mungkin beberapa bajunya saja yang akan aku siapkan. Sisanya biar dia yang melakukannya.'
Dona meraih sebuah koper berwarna silver dari dalam lemari kemudian meletakkannya di atas ranjang. Ia membuka lemari yang menjadi daerah kekuasaan Aditya, karena kedua pintu dari kanan memang hanya berisi baju-baju dan juga perlengkapan miliknya.
'Hem, kali ini kami berangkat untuk liburan, jadi tidak usah membawa pakaian formal.'
“Baiklah, jeans, hoodie, t-shirt, hem apa lagi yang harus aku bawa?” Gumam Dona sembari menurunkan beberapa pakaian dari dalam lemari Aditya.
Dona mengambil celana jeans dan juga sebuah hoodie dengan warna biru gelap yang terlihat sangat lucu.
'Kenapa dia tidak pernah menggunakannya? Pasti akan terlihat sangat keren jika dia menggunakan hoddie ini.'
Dona juga mengeluarkan kaus pendek warna abu-abu dan juga kemeja santai motif kotak lengan panjang berwarna biru toska.
'Oh iya aku lupa aku juga harus membawa baju tidurnya, baju tidur berwarna biru muda dengan garis putih. Entah kenapa aku sangat suka jika dia menggenakan baju tidur setelan seperti ini, benar-benar lucu.'
"Hem tapi tunggu sebentar kenapa warna biru mendominasi seperti ini? Haha, sudahlah. Semua akan terlihat menarik jika dia yang mengenakannya."
'Aish, aku lupa dengan satu hal yang harus dibawa. Yap, pasport-nya.'
Dona berbicara dan bergumam dengan dirinya sendiri.
“Dit, dimana kau menyimpan pasport mu?” Dona kembali berteriak dengan volume tinggi, agar Aditya bisa mendengarnya dengan jelas.
Dona harus memastikan benda penting itu tidak ketinggalan, karena pasti akan sangat merepotkan jika sudah sampai di bandara tanpa membawanya.
“Cari di laci meja kerjaku!” Balas Aditya berteriak dari dalam kamar mandi.
Dona segera melangkahkan kakinya menuju meja kerja Aditya, menarik gagang laci dan mencari benda tersebut di dalamnya. Dona hanya menemukan beberapa kartu ataupun surat-surat penting lainnya yang terlihat berantakan.
'Aaihh, dimana dia meletakkannya?'
Dona membungkukkan badannya agar bisa memeriksanya dengan jelas.
“Apa kau menemukannya?” Aditya menyentuh pundak Dona dari belakang.
Dona dapat merasakan tangan dinginnya karena baru saja selesai mandi. Dona mengeluarkan tangan kanannya yang sedang merogoh laci itu untuk menemukan pasport-nya.
“Aku tidak menemukannya." Dona membalikan badannya menghadap Aditya yang tepat berada dibelakangnya.
Tapi, kemudian ia menyadari bahwa saat ini Aditya tidak memakai baju ketika keluar dari kamar mandi.
“Aaaaaaa…….. Apa yang kau lakukan." Teriak Dona histeris, sembari menutup wajahnya dengan kedua tangan untuk menghindari pemandangan yang disuguhkan di hadapannya.
'Bagaimana mungkin dia keluar dari kamar mandi hanya menggunakan sehelai handuk yang melingkar di pinggangnya. Dasar bodoh, apa dia sengaja melakukan hal itu dihadapan ku agar aku menjadi histeris seperti ini, huh?'
“Ada apa? Kau kenapa, Sayang?” Aditya mencoba menarik kedua tangan yang menutupi wajah Dona.
Tapi kemudian Dona segera menundukkan wajahnya dan menutup mata rapat-rapat.
'Aku tidak boleh melihat pemandangan yang tidak seharusnya aku lihat.'
“Aditya, apa yang kau lakukan. Cepat pakai bajumu! Mengapa keluar dalam keadaan seperti itu?” Dona membalikan badannya membelakangi Aditya agar bisa membuka mata dan bernafas lega.
Tapi bukannya pergi Aditya malah memeluk Dona dari belakang dan menyangga dagunya di bahu Dona. Dona yang benar-benar merasa terkejut hanya bisa diam menerima perlakuannya saat ini. Dona dapat merasakan nafasnya yang terasa menggelitik di lehernya. Membuat Dona merinding selama beberapa saat.
'Aduh, apa ada seseorang yang mati hanya karena sebuah pelukan?'
Dona benar-benar merasa sangat sesak dengan perlakuan Aditya seperti ini. Bukan karena pelukannya yang terlalu kencang. Hanya saja, Dona merasa jika pelukan Aditya ini bisa menghentikan detak jantungnya.
“Aku bahkan sudah melihat seluruh tubuhmu. Dan sekarang kau hanya melihat aku bertelanjang dada saja sudah menutup rapat matamu seperti itu, kenapa huh? Kau gugup?” Aditya berbicara masih dalam posisi yang sama, dan udara yang keluar dari mulutnya terasa hangat masuk ke dalam telinga Dona.
“Aaa… aku…” Dona memang benar-benar gugup dengan perlakuan Aditya seperti ini.
Jantung Dona jadi berdebar tidak karuan. Aditya memang sudah melihat seluruh tubuhnya di malam pertama, tapi saat itu keduanya tidak melakukan apapun hingga detik ini.
“Lalu kenapa sayang. Kenapa kau tiba-tiba diam seperti ini, huh?” Aditya menyingkirkan rambut panjang Dona yang menjulur ke depan, kemudian mengecup lehernya dari samping.
'Demi Tuhan, aku benar-benar tidak dapat bergerak saat ini.'
Kedua kaki Dona terasa lemas, ia bahkan kesulitan untuk mengartikulasikan kata-kata dari mulutnya.
'Bagaimana mungkin dia bisa melakukan ini padaku. Mengapa suamiku tiba-tiba menjadi mesum seperti ini.'
“Sa….sayang.” Dona mendesah.
'Bodoh, Dona, kenapa kau menjadi gugup seperti ini. Setidaknya kayu harus bisa menyembunyikan perasaanmu sendiri.' gumam Dona dalam hati.
“Kurasa kita masih punya banyak waktu untuk bersenang-senang pagi ini. Kau tidak keberatan kan? Ini sudah satu minggu, dan aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi."
Dona tidak dapat berkata-kata ketika bibir Aditya mulai menjelajahi leher dan bahunya yang terbuka, karena saat ini Dona masih menggunakan dress tidur dengan satu tali. Dona hanya bisa terdiam sambil mengingat bibir bawahnya, menahan suara menjijikan yang mungkin akan keluar begitu saja dari mulutnya.
__ADS_1
“Sayang…, em….ah… hentikan. Aku….” Dengan sekuat tenaga Dona menghentikan Aditya yang mulai menggila.
Kedua kaki Dona terasa sangat lemas, tapi ia berusaha melangkah untuk maju dan menjauhi tubuhnya. Kedua tangan Aditya masih melingkar di perutnya, tapi Dona segera melepaskannya.
“Hahahahaha....”
Tiba-tiba suara tawa itu membuat Dona sepenuhnya sadar dari situasi yang cukup membuat darahnya mengalir deras. Spontan ia segera berbalik dan menatap Aditya dengan murka.
“Kau ini kenapa wajahmu merah seperti itu? Kau takut? Ya ampun, kau ini sudah besar sayang. Kenapa masih malu-malu. Huh." Lanjut Aditya kemudian kembali terkekeh puas.
'Bagus Lee Aditya, mau bermain-main denganku huh? Ini masih pagi dan kau sudah menguji kesabaran ku. Mau mati rupanya.'
PLETAK….
Sebuah jitakan yang lumayan keras akhirnya mendarat di kepala Aditya.
"Semoga saja bisa menyadarkan mu yang sudah mulai gila, dan juga menghilangkan pikiran kotor yang berkecamuk di otakmu." Ucap Dona.
“Sayang, kenapa kau tiba-tiba galak seperti ini. Kurasa tadi kau benar-benar menikmatinya?”
'Haish, kenapa masih membahas hal itu.'
Dona menjadi malu mendengarnya.
'Dasar kurang ngajar, bagaimana mungkin dia mengatakan hal itu padaku. Bodoh.'
“Berhenti tertawa. Aku tidak mau membantumu membereskan barang-barang bawaan mu. Aku juga tidak mau mencari pasport milikmu. Merepotkan saja. Sudahlah, aku mau mandi." Ujar Dona dengan nada tinggi.
Dona memasang tampang kesal dan berjalan untuk mengambil handuk yang tergantung di belakang pintu kamarnya. Setelah itu, ia segera masuk ke kamar mandi.
Dona menarik nafas dalam-dalam dan membasuh wajahnya berkali-kali untuk menghilangkan bayangan aneh yang berkeliaran di otaknya.
'Bagaimana mungkin aku berfikiran seperti itu? Ya Tuhan, kurasa sentuhannya benar-benar bisa membuatku gila.'
“Fiuh….”
Dona menghembuskan nafas berat dan melihat bayangannya sendiri di cermin. Merapikan rambut panjangnya yang sedikit berantakan.
“Apa ini?”
Dona benar-benar kaget ketika melihat beberapa tanda merah di lehernya.
"Bodoh, apa yang dia lakukan padaku sampai seperti ini? Apa Aditya itu vampir."
'Aish, bagaimana aku bisa keluar dalam keadaan seperti ini?' pikir Dona
Sekarang musim panas. Jika ia menggunakan scarf pasti akan terlihat aneh.
'Dasar bodoh seenaknya saja berbuat seperti ini padaku.''
'Sejak kapan dia mempunyai six pack yang terlihat sangat indah itu? Benar-benar keren.'
Dona tidak pernah melihatnya bertelanjang dada dengan sejelas itu, meski malam pertama Aditya pernah sedikit saja melihatnya. Dan baru saja Dona menyaksikan pemandangan itu di depan wajahnya dengan sangat jelas.
'Awas saja kalau dia berani memperlihatkan tubuh indahnya itu pada gadis lain.'
Sementara di dalam kamar, Aditya masih terkekeh geli sembari memasangkan kancing kemejanya.
'Haha, dia benar-benar lucu, aku hanya menggodanya tapi dia sudah gugup sampai mau pingsan seperti itu.'
Aditya memang hanya berniat menggoda Dona dengan cara memeluknya dari belakang. Tapi ketika melihat bahu Dona yang terbuka, juga leher jenjangnya yang terpampang indah di hadapan Aditya, ia mulai kehilangan akal sehatnya hingga akhirnya menjadi seperti itu.
'Untung saja aku bisa menghentikannya dan mengendalikan diriku sendiri. Ah, jika tidak. Entah apa yang akan terjadi di pagi yang cerah ini. Ya Tuhan, memikirkannya saja membuatku hampir gila.'
Aditya menghampiri koper berwarna silver yang tergeletak dalam posisi terbuka di atas ranjang. Dona membereskan baju-bajunya ketika Aditya sedang mandi.
"Hem, istri yang baik. Kau mau membantu suamimu ini membereskan barang bawaannya hah?"
Aditya segera meraih koper silver itu dan memeriksa satu-persatu, apa saja yang Dona masukan ke dalam kopernya.
“Kemeja biru, jeans biru, hoddie biru, baju tidur biru. Lah, kenapa warna biru mendominasi koperku?” Gumam Aditya sembari mengacak-ngacak isi koper yang sudah Dona rapikan itu. "Tunggu sebentar. Aku tidak menemukan barang-barang paling pribadi milikku. Mengapa bisa lupa hal terpenting seperti itu?"
'Hem, akhirnya hari ini tiba juga. Hari yang paling ku tunggu bisa berduaan dengan Dona. Jika kami menikmati pantai pastinya panas terik akan lebih baik dari pada hujan. Selain itu, kami juga bisa menikmati sunset pantai yang pastinya saat indah. Aku benar-benar tidak sabar ingin segera sampai kesana.'
"Satu minggu penuh, ehm… honeymoon. Semoga saja akan menjadi hari-hari menyenangkan yang tidak terlupakan. Aku berharap kali ini kami berdua akan melakukan honeymoon seperti pasangan pengantin lainnya. Walaupun sebenarnya aku tidak yakin 100 % kami berdua benar-benar akan melakukannya disana. Mengingat sejak malam pernikahan, selalu saja ada penghalang saat akan melakukannya."
Setelah selesai bersiap, Aditya lalu turun kebawah.
“Aduh, aduh. Cucuku sudah selesai bersiap. Pastikan tidak ada yang tertinggal.” Teriak Kakek Aditya dari arah ruang makan.
Aditya masih melangkahkan kakinya dengan sedikit tergopoh-gopoh menuruni tangga karena kedua tangannya menjinjing kopper besar miliknya dan juga Dona.
Tapi yang terasa lebih berat adalah koper milik Dona. Aditya berpikir, apa saja yang dia bawa sampai seberat ini.
'Dia tidak memasukan meja riasnya ke dalam koper kan? Ya Tuhan, kenapa seorang wanita selalu saja merepotkan dirinya sendiri.'
“Em, Kakek, Dona masih mandi. Dan aku akan memasukan barang-barang ini kedalam mobil” Aditya meletakan kedua koper itu dan berjalan menuju meja dapur, menuangkan segelas penuh air putih dan meneguknya sampai habis.
“Em, cepat bereskan setelah itu kita sarapan bersama” Ujar Kakek sembari meminum air putih, sedangkan dua orang pelayan menyiapkan makanan.
Pelayan 1, meletakan sepiring besar sandwich diatas meja makan sedangkan pelayan ke 2, masih sibuk memanggang daging.
Aditya mengangguk singkat kemudian kembali membawa 2 koper besar itu menuju ke garasi dan meletakkannya di dalam mobil. Setelah itu Aditya kembali menuju ke meja makan dan duduk dengan tenang untuk menikmati sarapan. Aditya mengulurkan tangannya untuk mengambil sebuah sandwich yang terlihat sangat menggiurkan.
__ADS_1
“Kakek, dimana Om Bimo?” Tanya Aditya dengan mulut yang masih penuh. Ia kesulitan untuk mendorong roti dan daging itu kedalam tenggorokannya.
“Om mu itu sedang asik membaca di ruang tengah. Tapi Kakek sudah meminta pelayan untuk memanggilnya agar segera sarapan. Kau juga segera panggil Dona agar dia segera turun.” Jawab Kakek sembari mengunyah tumpukan roti daging.
“Em, mungkin dia belum selesai bersiap. Jika dia masih belum turun juga, aku akan menghampirinya ke atas." Ujar Aditya kemudian mengulurkan tangan kanannya untuk mengambil segelas air putih yang terletak di depan ku.
Sebelum meneguk air dalam genggamannya, Aditya menoleh kearah Kakek yang kali ini sedang memperhatikannya sembari tersenyum.
'Tapi kenapa senyumnya aneh sekali, seperti ingin mengatakan sesuatu. Ah entahlah.'
“Aditya ada yang ingin Kakek tanyakan padamu.”
Kakek bangun dari kursinya lalu menghampiri Aditya kemudian duduk di kursi yang tepat berada di sampingnya. Aditya meliriknya dengan ekor matanya sedangkan ia masih sibuk meneguk air putih untuk mendorong sandwich yang sedikit sulit masuk ke tenggorokannya.
“Kau belum pernah melakukan itu padanya kan?”
Uhugkh….. hgk…..
Air putih yang sedang mengalir di dalam tenggorokan Aditya tiba-tiba kembali keluar melawan arah.
'Ya Tuhan, selalu saja seperti ini. Kenapa Kakek suka sekali mengatakan yang membuatku jantungan. Untung saja aku tidak mati karena terkejut.'
Aditya masih terus terbatuk-batuk tanpa mengeluarkan suara untuk menjawab pertanyaannya.
'Aish, pertanyaan macam apa itu?'
Kakek terlihat khawatir dengan keadaan Aditya dan langsung bangkit dari dudukannya untuk membantu Aditya menepuk punggung dan menghilangkan rasa sakit karena tersedak.
“Ah… ehm… cukup.” Jawab Aditya sembari menepuk-nepuk dadanya sendiri berusaha mengeluarkan sebuah suara dari mulutnya.
“Ah, Dona sudah menceritakan semuanya pada Kakek. Isteri mu itu memang selalu bersikap seperti anak-anak di depan Kakek. Tapi kurasa saat ini dia sudah sedikit bisa merubah cara berpikirnya. Dan aku yakin kau bisa , ehm… melakukannya dengan baik.”
Perkataan Kakek membuat wajah Aditya memerah seketika.
'Mengapa membicarakan hal seperti itu di meja makan, membuatku tidak nyaman saja.'
“Ehm.., ya..” Hanya kata itu yang dapat keluar dari mulut Aditya, tidak tahu harus menjawab seperti apa. Yang pasti Aditya memang sudah kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaan semacam itu.
“Baiklah, sekarang mungkin dia sudah selesai. Coba kau panggil dia agar segera turun dan sarapan. Pesawat kalian akan berangkat pukul 10 kan. Ini sudah jam 8. kalian bisa terlambat pergi ke bandara” Ujar Kakek kemudian bangkit dari posisinya dan kembali ke tempat duduknya.
Aditya menaruh kembali sandwich yang baru ia gigit di atas piring. Dan segera bangkit dari posisinya kemudian berjalan menuju tangga.
Aditya membuka pintu kamarnya dan menemukan Dona yang sedang berdiri tepat di depan cermin meja rias kesayangannya. Dona itu gadis feminim walaupun dia tidak sering menggunakan make up tapi dia sangat memperhatikan penampilannya agar terlihat sempurna.
'Dan itu lah yang aku tidak suka darinya. Selalu saja membiarkan kecantikannya itu dinikmati oleh semua orang.' ucap Aditya dalam hati.
“Kau masih sibuk? cepat keluar! Ayo kita sarapan.” Aditya berjalan mendekat ke arah Dona kemudian duduk di pinggir ranjang tepat di belakangnya yang sedang berdiri di depan cermin.
Aditya memperhatikan gerakan Dona dari pantulan cermin yang menghadapnya. Dona masih sibuk mengatur letak scarf yang melingkar di lehernya.
'Aneh, Mengapa musim panas menggunakan scarf seperti itu.'
“Kau ini korban fashion, atau memang tidak mengerti geografi huh? Ini musim panas. Jika kau menggunakan scarf seperti itu, terlihat sangat aneh” Ujar Aditya dengan nada mencibir.
Aditya bangkit dari posisinya dan menyilangkan kedua tangan di dadanya kemudian memutari tubuh Dona. Dona yang kesal akhirnya berbalik menatapnya dengan tajam. Kemudian menarik scarf-nya hingga terlepas
“Ini semua gara-gara mu Tuan Aditya. Kau yang membuatnya seperti ini.”
Dona menunjuk beberapa tanda merah yang ada di lehernya.
'Haha, aku tidak menyangka akan berbekas seperti itu. Apa ciumanku tadi pagi benar-benar sebuas itu sampai tanpa merah menjalar di lehernya. Apa aku ini vampir?'
“Ahahaha, aku tidak menyangka akan meninggalkan bekas seperti itu” Ujar Aditya sembari terkekeh puas hingga terbungkuk-bungkuk dan memegangi perutnya sendiri.
Dona yang kesal akhirnya meninju pelan lengan Aditya sehingga membuatnya kembali tegak dan segera menghentikan tawanya yang menggema di dalam kamar.
“Kau harus bertanggung jawab.” Dona menggembungkan pipinya dengan kesal dan mengerucutkan bibir mungilnya.
'Ya Tuhan, jika seperti ini, aku malah ingin mencium mu Nyonya Aditya.'
“Maaf, aku kira tidak akan berbekas seperti itu. Sini aku bantu mengenakannya.” Aditya menarik kedua tangan Dona agar mendekat kearahnya kemudian mengambil scarf dalam genggamannya dan melingkarkan di lehernya untuk menutupi tanda merah itu.
Lebih memalukan jika tanda merah itu terlihat jelas, daripada menggunakan scarf di musim panas seperti ini.
“Kemana kalung mu?” Tanya Aditya ketika menyadari benda itu tidak ada di leher indahnya.
Kalung pemberian Kakek Aditya sebagai hadiah pernikahan mereka, Dona bahkan sangat menyukainya dan selalu memakainya setiap hari.
“Aku melepaskannya. Aku takut kalung itu hilang, jadi aku menaruhnya di tempat yang aman. Aku tidak mau mengenakan kalung itu dan akhirnya hilang.” Dona masih menundukkan kepalanya untuk membenarkan posisi scarf yang baru saja aku pakaikan.
'Apa kalung itu benar-benar berharga untukmu, huh? Istriku sayang. Sampai kau tidak ingin jika kalung itu hilang.'
Kalung Nenek Aditya yang diberikan oleh Kakek Aditya, kini menjadi milik Dona sepenuhnya. Sebagai tanda bahwa dia akan menjaga Aditya juga sebagai suaminya.
'Dona, kau benar-benar membuatku semakin mencintaimu. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya jika aku benar-benar memperistrinya, karena aku hanya menyimpan perasaan ini selama bertahun-tahun bahkan kau sempat akan menikah dengan orang lain.'
Dan sekarang, Dona telah menjadi milik Aditya sepenuhnya. Sebuah kenyataan paling indah yang pernah diterima Aditya.
“Sayang...” Aditya menyingkirkan poni Dona dengan tangan kanannya.
Aditya kemudian mengecup dahi indah favoritnya. Beberapa saat ia menahan bibirnya disana, membuat Dona sama sekali tidak bisa berkata-kata. Aditya benar-benar sangat mencintai gadis di hadapannya ini.
'Kurasa aku benar-benar tidak bisa terlepas darinya, karena ikatannya padaku terlalu kuat.'
__ADS_1
Bersambung....