
Waktu berjalan dengan cepat. Dona begitu giat mengejar ketertinggalannya dalam pelajaran hingga saat ujian akhir semester, dia dapat membuktikan bahwa dirinya mampu bersaing dengan teman lainnya. Saat pembagian raport, Dona mendapatkan gelar juara kelasnya. Banyak dari guru Dona yang tak menyangka perubahan signifikan yang terjadi padanya. Dona menjadi siswa yang berprestasi dan juga menjadi idola baru di sekolah.
"Selamat ya Don. Aku benar-benar takjub sama perubahan kamu." Ucap Ayu.
"Biasa aja kali Yu. Aku dari dulu emang udah kayak gini." Balas Dona.
Keduanya tengah duduk di taman sekolah sambil memegangi raport mereka. Dina yang berhasil meraih juara 1 sedangkan sahabatnya, Ayu, hanya mendapat rangking ke sepuluh.
"Aku pengen deh kayak kamu."
"Kalau gitu, kamu harus lebih rajin belajar. Jangan mikirin Billy mulu."
"Aaahh apaan sih." Wajah Ayu memerah, apalagi saat melihat Billy berjalan mendekat ke arah mereka berdua.
"Selamat ya Don. Kamu juga Yu. Kalian berdua hebat juga ya." Billy duduk di depan Ayu.
"Hebat apanya? Cuma masuk 10 besar." Balas Ayu.
"Kamu masih mending. Nah aku, rangking ke 29 dari 31 siswa. Hahahaha...."
Dona dan Ayu saling pandang, lalu tertawa bersama.
"Oh ya, ini sebenarnya kita diminta ngumpul disini ada pengumuman apa ya?" Tanya Dona.
"Kurang tau juga. Kayaknya sih pemberitahuan masalah libur semester." Jawab Billy.
Saat ketiganya asyik mengobrol, Raka dan Gilang bergabung bersama mereka dengan membawa raport masing-masing di tangan mereka.
"Biar gue tebak. Lo pasti dapat rangking terbawah kan?" Ucap Billy kepada Gilang.
"Ngaco lo. Biar badboy begini, prestasi boleh diadu." Balas Gilang.
"Alaaahh paling juga rangking 30 dari 30 siswa. Hahaha. Kalau Raka mah, gak usah ditanya lagi. Nah, lo? Hah, bisa nyentuh angka 20 aja, gue udah gak percaya."
"Taruhan. Lo yakin banget sama ucapan lo?" Gilang menantang Billy.
"Siapa takut. Ya udah kita taruhan aja. Kalau lo bisa masuk 10 besar, gue bakal...."
"Lo bakal nyerah untuk dapetin hati Dona."
"Setuju." Raka menimpali ucapan Gilang.
"Waahh apaan sih. Gak bisa gitu dong."
"Berarti lo takut. Artinya lo ngakuin kalau gue jauh lebih smart dibanding lo."
"Alah mana mungkin. Ya udah, deal. Kalau lo bisa nyentuh angka 5 besar, gue nyerah deketin Dona. Tapi kalau lo cuma masuk 10 besar, lo yang mundur buat deketin Dona."
"Waaah apa-apaan nih. Tadi 10, sekarang jadi 5." Protes Gilang.
"Hahaha suka-suka gue."
__ADS_1
Dona dan Ayu saling pandang, sementara Raka hanya tertawa melihat tingkah Gilang dan Billy yang tak pernah akur.
"Oke. Nih silahkan lo lihat raport gue." Gilang menghempaskan raportnya di paha Billy.
Billy menunjukkan senyum liciknya lalu perlahan membuka raport milik Gilang. Terpampang dengan jelas, saat kelas sepuluh, Gilang hanya mampu meraih peringkat 10 di dua semester. Senyum Billy semakin mengembang, ia yakin bahwa dirinya yang akan menang. Sampai saat akhirnya ia membalik satu halaman dan mendapatkan hasil yang membuatnya membeku.
"Kamu kenapa Bill?" Tanya Dona yang melihat Billy tiba-tiba mematung.
Raka lalu mengambil raport Gilang yang dipegang Billy. Peringkat yang didapat Gilang tertulis dengan jelas angka 5.
"Buahahahahaha.... Hebat lo Lang. Siapa sangka badboy kayak lo bisa masuk 5 besar juga. Hahaha lo berhasil menyingkirkan 1 pesaing. Sisa kita bertiga aja. Oh ya Bill, mending lo pacarin Ayu aja deh. Kalian berdua kayaknya cocok." Ucap Raka.
Wajah Ayu memerah, sementara Billy langsung ikut tertawa.
"Hahaha... Siapa yang bisa menyangka bahwa si badboy ini lebih pintar dari gue. Ya sudahlah, gue ngaku kalah. Dona, mulai hari ini gue nyerah buat deketin lo. Selamat berjuang aja buat kalian berdua plus si ketua OSIS."
"Nah gitu dong gentleman." Balas Gilang dengan senyum penuh kemenangan.
"Ayu, siapin mental lo. Karena mulai hari ini, gue bakal deketin lo." Ucap Billy sombong.
"Idiiiihhh songong banget lo pakai acara nyuruh cewek siapin mental segala." Protes Raka.
"Haiiihh sudah dong ributnya. Gak lihat kalian muka nya Ayu udah kayak kepiting rebus." Dona menyenggol Ayu.
Mereka semua tertawa, lalu di depan ruang guru sudah berdiri Aditya dan dua orang guru. Aditya mulai menyampaikan informasi kepada teman-temannya terkhusus untuk kelas sebelas. Liburan akhir semester kali ini, kelas sebelas akan mengadakan camping yang juga sebagai tugas. Bagi kelas sebelas IPA mereka akan melakukan penelitian terhadap tumbuh-tumbuhan, sementara kelas IPS mereka akan meneliti masalah geografi.
"Kayaknya seru juga." Ucap Billy.
'Kesempatan bagus buat nyatain perasaan ke Dona.' batin Gilang.
Dari baris paling depan, Ratu tampak sumringah. Dia mulai membicarakan tentang cara membalaskan dendam pada Dona dengan anggota gengnya. Mereka pun berencana melakukan apapun yang bisa membuat Dona tahu rasa.
"Gue setuju. Pokoknya, bagaimanapun caranya tuh cewek harus dapat pelajaran. Enak aja gara-gara dia kita diskors." Ucap Siska.
"Bila perlu, kita buat dia sampai nangis minta ampun." Sambung Devi.
"Sorry semuanya. Bukannya gue gak mau ikutan. Tapi, apa kalian lupa sama apa yang dikatakan Kepsek? Kalau sampai kita ketahuan bully Dona lagi, kita bakal dikeluarin dari sekolah. Dan gue gak mau hal itu terjadi. Secara kena skors kemarin aja, Bokap Nyokap gue udah marah banget sampai potong uang jajan gue. Jadi kali ini, gue gak ikutan deh." Ujar Tasya.
"Dasar pengecut." Balas Ratu. "Gue juga tahu masalah itu. Gue juga gak gila bakal terang-terangan bully dia. Pokoknya lo tetap harus ikut, kalau gak gue keluarin lo dari geng kita. Masalah rencana buat ngasih dia pelajaran, kita pikirin nanti kalau udah disana." Ancam Ratu.
Tasya hanya bisa diam, dan berharap rencana mereka tidak akan membuat mereka kembali diskors atau bahkan dikeluarkan dari sekolah.
Setelah pengumuman selesai disampaikan, Aditya pun bergabung bersama Dona dan yang lainnya. Raka menjelaskan kepada Aditya tentang Billy yang sudah mundur dari persaingan merebut hati Dona. Aditya tertawa puas.
"Udah deh, ngapain bahas masalah itu sih. Aku pengen nanya sama kamu nih Dit. Kira-kira, untuk camping ini, bisa gak cari tempat yang bisa berkontemplasi, di bawah langit berbintang, dikelilingi pohon pinus, dan di kejauhan ada gemerlap lampu-lampu kota?" Ucap Dona.
"Tentu saja. Tempat seperti itu ada di camp site daerah kota B." Jawab Aditya. "Dan rencananya kita memang bakal camping disana."
"Waaahh, seru dong kalau gitu Don." Ayu menyenggol lengan Dona. "Besok kita siapin semuanya bareng-bareng ya. Siang nya kan langsung berangkat."
"Iya." Balas Dona.
__ADS_1
Keesokan harinya, dengan semangat 45. Mereka berangkat dengan dresscode ala-ala anak pencinta alam. Baju flannel kotak-kotak, kupluk, syal, celana kargo, ada yang bersepatu boot, ada yang bersendal gunung, dan lain-lain.
"Kalian udah kek abang-abang yang nawarin vila di daerah P." Ucap Dona tertawa melihat penampilan Billy dan yang lainnya yang lengkap menggunakan sepatu boots. Gilang membawa perbekalan yang mantab, ada empat ekor ayam buat barbeque-an dan juga air minum berliter-liter. Raka dengan mie rebus, panci, dan printilan lainnya, sementara Aditya membawa tenda dan juga gitar agar bisa bernyanyi di malam harinya. Sementara Ayu dan Dona membawa backpack berisi aneka jenis cemilan, dan tikar untuk piknik, dan masih banyak yang lainnya. Intinya peralatan yang mereka bawa sangat siap untuk camping.
Pukul 5 sore, mereka tiba dia area camping dan langsung mendirikan tenda yang muat untuk dua orang. Billy, Gilang dan Raka bertugas mendirikan tenda yang ada tiga buah untuk mereka, sementara Aditya mulai bergabung dengan siswa yang lainnya untuk mencari kayu bakar untuk membuat api unggun. Sementara Ayu dan Dona bersiap untuk memasak untuk bekal makan malam mereka.
Di sisi lain area camping, Ratu dan gengnya terlihat kesal karena Dona dikelilingi oleh keempat pria yang senantiasa membantunya.
"Awas lo Don." Ucap Ratu.
Malam pun tiba, setelah selesai makan dan acara hiburan dengan bernyanyi, mereka semua ada yang sudah masuk ke tenda masing-masing. Sementara Dona dan Ayu serta keempat laki-laki lainnya memilih berbaring di luar tenda melihat taburan bintang yang begitu banyak dan berjarak seakan begitu dekat. Melihat dan mengalami semua kemewahan alam, membuat Dona merasa tenang, damai, dan bahagia.
****************
Keesokan paginya setelah selesai dengan aktivitas masing-masing, guru yang mendampingi mereka meminta mereka untuk berkelompok dengan beranggotakan 3 orang. Gilang, Raka dan Aditya menjadi satu kelompok, sementara Billy dengan siswa lainnya. Ratu dan gengnya sudah mempunyai rencana untuk mengerjai Dona. Hingga mereka pun membagi kelompok mereka dengan anggota Siska, Tasya dan Devi menjadi satu grup. Tersisa Ratu yang memang memilih bergabung dengan grup Dona.
"Hei, gue gabung sama kalian aja ya. Secara siswa yang lain sungkan buat satu grup sama gue. Sedangkan geng gue yang lainnya udah pas tiga orang. Bolehkan?" Ucap Ratu.
Ayu menggeleng ke arah Dona. Ia takut bahwa Ratu akan melakukan yang macam-macam.
"Lo takut sama gue? Tenang aja, gue gak bakalan aneh-aneh. Secara lo kan tahu sendiri, kalau gue sampai jahil lagi. Gue bakal dikeluarin dari sekolah. Dan tentu saja gue gak mau itu terjadi. Lagian kalian berdua kan dilindungi sama mereka. Jadi untuk apa takut." Ucap Ratu menunjuk ke arah Gilang dan yang lainnya yang memang melihat ke arah mereka.
"Ngapain takut, kamu bukan hantu yang perlu ditakutin. Kalau mau gabung silahkan." Balas Dona.
"Gitu dong." Ratu mencubit dagu Dona kemudian kembali ke tendanya untuk bersiap-siap.
Gilang dan yang lainnya mendekati Dona dan Ayu yang masih bersiap-siap di depan tenda mereka.
"Ngapain tadi si Ratu jahat itu kesini?" Tanya Raka.
"Ngajak saru grup." Balas Dona santai.
"Terus kamu mau?" Tanya Gilang.
"Iya mau bagaimana lagi, aku sama Ayu memang kekurangan satu orang. Terus dia juga bilang aku gak perlu takut satu grup sama dia karena dia gak bakalan berulah apalagi karena kalian ada buat lindungin aku. Lagian kenapa juga aku harus takut sama dia." Jawab Dona.
"Ya udah, kalau gitu kamu hati-hati aja nanti pas jalannya, karena kita semua emang gak mungkin terus bareng. Ikuti petunjuk jalan, jangan sampai dia ngelakuin sesuatu sama kamu." Ucap Gilang seraya mengusap kepala Dona.
"Woy, lo apa-apaan sih. Gak boleh sembarangan sentuh dia gitu dong." Protes Aditya.
"Udah-udah, ribut mulu. Noh giliran grup kalian disuruh jalan." Ayu menunjuk guru yang memanggil grup Aditya.
"Ya udah sampai jumpa di sana nanti ya." Balas Raka.
Ketiganya lalu berjalan meninggalkan area camping menuju lokasi yang sudah ditentukan menyusul grup lainnya yang sudah lebih dulu berjalan. Hingga tiba giliran Dona dan anggota grupnya berjalan di grup paling akhir tepat setelah grup Siska berjalan lebih dulu.
'Tiba saatnya....' ucap Ratu dalam hati.
Bersambung....
Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah juga ya... 🥰
__ADS_1