
Malam semakin larut, Aditya akhirnya mengantar Dona pulang ke rumah tepat pukul 10 malam setelah keduanya selesai makan malam dan menonton di bioskop. Dona memang mengajak Aditya untuk ke bioskop dari pada langsung pulang ke rumah.
"Kamu sih, pakai acara nonton dulu. Kan sekarang pulangnya telat." Aditya membantu Dona melepaskan helm yang dikenakannya.
"Gak apa-apa kali." Balas Dona mengibaskan rambutnya.
"Emang gak takut di marahin Bapak kamu?"
"Gak. Tadi udah aku kabarin lewat sms." Balas Dona singkat. "Yuk, masuk dulu." Ajak Dona.
"Lain kali aja ya Don. Udah malem juga, gak enak sama tetangga."
Toko kelontong orang tua Dona pun sudah tutup. Pak Edi dan Bu Nir memilih tutup lebih awal karena ingin beristirahat. Suasana kompleks perumahan Dona pun sudah sepi.
"Udah sana masuk."
Dona tersenyum, lalu berjalan hendak masuk ke dalam halaman rumahnya. Tapi, Aditya menarik tangan Dona hingga membuat Dona menghentikan langkahnya.
"Ada apa?" Tanya Dona.
"Langsung istirahat ya. Tidur yang nyenyak, dan semoga mimpi indah." Setelah mengucapkan kata itu, Aditya refleks mencium punggung tangan Dona lembut. "Selamat malam Tuan Puteri."
Dona terbahak, dan menarik tangannya.
"Terima kasih pengawal, karena sudah sudi mengantar saya pulang."
"Sudah menjadi tugas hamba untuk menjaga yang mulia paduka ratu." Aditya ikut tertawa karena Dona menertawakannya.
"Udah ah, aku masuk ya. Kamu hati-hati di jalan."
"Oke."
Baru saja Dona mengunci gerbang rumahnya, serta Aditya yang sudah menghidupkan mesin mobilnya, dikejutkan dengan sebuah mobil yang mengebut dan tiba-tiba langsung berhenti di samping Aditya. Dona pun mengurungkan niatnya masuk ke dalam rumah.
Pintu mobil berwarna hitam itu terbuka, menampilkan sosok Gilang masih dengan pakaian yang ia kenakan saat makan malam dengan Dona. Perbedaannya hanyalah, Gilang tak lagi mengenakan jas. Ia langsung turun dari dalam mobil dan berjalan ke arah Aditya hingga secara tiba-tiba, ia melayangkan pukulannya ke arah wajah Aditya yang tengah bersiap pergi.
Aditya tersungkur bersama motornya dan hampir saja masuk ke dalam parit. Dona berteriak dan kembali membuka gerbang rumahnya lalu berjalan ke arah Aditya hendak membantunya untuk berdiri, tapi dihalangi Gilang yang menarik pergelangan tangannya.
"Kamu apa-apaan sih?" Teriak Dona lagi.
"Kamu yang apa-apaan." Bentak Gilang.
Aditya berusaha bangun serta memperbaiki posisi motornya.
"Teman apaan lo. Berani-beraninya lo nyentuh cewek gue sampai nyium tangan dia segala." Teriak Gilang.
Aditya belum menjawab karena ia masih menyela sudut bibirnya yang berdarah akibat dari pukulan Gilang.
"Lepasin." Teriak Dona. "Kita udah putus, aku bukan pacar kamu lagi. Lagian kamu gak ada hak buat marahin Adit cuma karena dia nyium tangan aku."
"Gak ada hak gimana? Aku ini masih pacar kamu."
"Kamu lupa? Atau pura-pura lupa? Aku udah putusin kamu di depan orang tua kamu yang sombong itu."
"Don, dengerin aku dulu." Gilang kembali memegang tangan Dona, kali ini ia memegangnya begitu erat agar tak mudah di lepaskan oleh Dona.
"Lepasin gak? Kalau gak aku teriak nih." Ancam Dona.
"Dengerin penjelasan aku dulu."
"Gak ada yang perlu dijelaskan lagi. Kita udah putus. Jadi mulai sekarang, kamu gak usah ganggu aku lagi. Ikutin apa yang dikatakan orang tua kamu." Dona berusaha melepaskan pegangan tangan Gilang padanya.
"Gak, aku gak kau putus." Gilang semakin erat memegang tangan Dona hingga membuatnya meringis kesakitan.
Aditya pun maju dan menarik tangan Dona hingga terlepas dari genggaman Gilang. Raut wajah Gilang memerah, sorot matanya menunjukkan kemarahan. Ia berusaha melayangkan pukulannya pada Aditya, namun kali ini Aditya berhasil menangkisnya.
"Lo gak usah ikut campur. Ini urusan gue sama cewek gue." Ucap Gilang kesal.
"Gue gak akan ikut campur kalau lo gak nyakitin dia. Tapi kalau sampai dia tersakiti, maka gue akan maju."
"Bacot lo!" Gilang kembali hendak memukul Aditya.
Dona kembali berteriak, kali ini teriakannya memancing warga sekitar untuk keluar rumah. Begitu juga dengan orang tuanya yang langsung keluar rumah dan mendekat ke arah Gilang dan Aditya yang tengah berkelahi. Beberapa orang mulai melerai keduanya. Dua orang memegangi Gilang dan dua orang lainnya memegangi Aditya.
"Ada apa ini?" Tanya Pak Edi tegas.
Dona belum pernah melihat wajah Pak Edi yang begitu serius dan tegas. Pak Edi mendekati keduanya yang berdiri berhadapan. Sementara Bu Nir berdiri disamping Dona dan memegangi lengan puterinya itu. Beberapa warga ikut berkumpul di depan rumah Pak Edi. Pak Edi kemudian meminta warga bubar, ia mengatakan akan menyelesaikan masalah kedua orang yang tengah berkelahi.
"Oohh pada lagi rebutan cintanya Dona toh...."
"Aduh, anak muda jaman sekarang. Segala cewek direbutin..."
"Ada-ada saja...."
Beberapa ucapan dari para warga yang berjalan kembali ke rumah mereka. Sementara Aditya dan Gilang diminta oleh Pak Edi masuk ke dalam rumah. Dona dan Bu Nir mengekor dibelakang.
__ADS_1
Gilang dan Aditya duduk berdampingan di ruang tamu. Bak tengah di sidang Pak Edi duduk di hadapan keduanya. Sementara Dona dan Bu Nir memilih berdiri di pintu arah masuk ke ruang keluarga. Gilang dan Aditya menunduk, wajah keduanya sama-sama lebam. Pak Edi menghela napas panjang kemudian mulai berbicara.
"Bapak tidak tahu apa masalah kalian hingga terjadi perkelahian seperti tadi. Tapi, jika itu disebabkan oleh Dona, Bapak benar-benar kecewa dengan sikap kalian. Yang Bapak tahu, kalian itu bersahabat. Tapi kenapa malah bisa seperti tadi."
"Ini semua karena Aditya Pak, dia....."
"Kenapa malah nyalahin gue, kan lo....."
"Cukup. Bapak tidak mau tau. Bapak mau sekarang juga kalian berdua harus berdamai."
Aditya dan Gilang saling menatap, namun tak satu pun dari keduanya yang menjulurkan tangan lebih dulu. Pandangan keduanya menyiratkan permusuhan.
"Meminta maaf itu tidak akan merendahkan harga diri seseorang. Dan yang memaafkan itu adalah seseorang yang berhati lapang." Celetuk Bu Nir. "Ibu sih, paling suka kalau punya calon menantu yang berhati besar, tidak malu untuk meminta maaf dan selalu memaafkan."
Aditya dan Gilang langsung mengulurkan tangan bersama-sama.
"Maafin gue..."
Keduanya bahkan berbicara secara bersamaan. Dona yang melihat pun cekikikan. Bu Nir menyenggol lengan puterinya itu agar tak tertawa. Setelah semuanya dianggap sudah selesai oleh Pak Edi, Pak Edi pun meminta Aditya dan Gilang untuk pulang ke rumah masing-masing.
"Maaf Pak, sebelumnya saya boleh minta izin untuk bicara dengan Dona, 5 menit saja." Pinta Gilang.
Pak Edi menatap Dona yang masih berdiri disamping Bu Nir.
"Baik. Ingat hanya 5 menit. Ini sudah hampir jam 11 malam. Dan untuk Aditya, pulanglah lebih dulu. Bapak bukan bermaksud untuk mengusir kamu. Bapak hanya...."
"Gak apa-apa Pak, saya ngerti. Kalau begitu, saya permisi dulu Pak." Aditya menyela ucapan Pak Edi, setelah itu ia menyalami Pak Edi dan Bu Nir lalu pamit pulang.
Sesuai kesepakatan, Gilang hanya diberikan waktu 5 menit untuk berbicara dengan Dona. Ia dan Dona duduk berhadapan di ruang tamu. Sementara Pak Edi dan Bu Nir hanya memantau dari ruang keluarga.
"Don, aku gak mau putus dari kamu."
"Tapi aku mau putus...."
"Don, please. Kasih aku kesempatan buat memperjuangkan cinta kita. Aku akan berusaha untuk membuat orang tua aku setuju akan hubungan kita."
"Gak akan bisa Lang. Mau berjuang sekeras apapun, aku yakin orang tua kamu gak akan pernah nerima hubungan kita. Aku yang berasal dari keluarga sederhana seperti ini, gak akan pernah pantas dimata orang tua kamu untuk menjadi pasangan dari anak mereka."
"Tapi Don...."
"Please Lang, aku capek. Aku mau istirahat, udah ngantuk juga. Kamu pulang aja."
"Oke, aku pulang. Tapi, aku gak akan nyerah buat perjuangin hubungan kita."
"Terserah kamu aja."
Setelah Gilang pulang, Dona masuk ke dalam kamar dan membasuh wajah, dan kakinya lalu berganti pakaian. Ia lalu memadamkan lampu kamarnya dan berusaha untuk tidur dengan memejamkan matanya. Hanya saja pikirannya masih terngiang akan kejadian yang baru saja terjadi. Dimulai dari kampus, dimana ia bersikap aneh karena melihat Aditya dan mahasiswi lain.
Malam harinya ia malah bertemu dengan orang tua Gilang yang menghinanya hingga barusan kedua lelaki yang sama-sama memiliki perasaan padanya itu malah berkelahi tepat di depan rumahnya.
"Huuuh...." Dona menghembuskan nafas panjang.
Ia hanya berharap agar hari esok lebih baik dan tak ada lagi masalah yang akan dihadapinya. Dona pun akhirnya bisa terlelap.
***************
Pagi hari minggu menyambut. Setelah semalam Dona tidur terlalu larut malam, ia pun bangun terlambat. Bu Nir bahkan tak membangunkan puterinya itu.
Tepat pukul 8 pagi, Dona bangun dan keluar kamar masih mengenakan piyama berwarna hitamnya. Ia mendapati Bu Nir tengah mencuci piring di dapur.
"Ibu kok gak bangunin aku sih?" Dona menuang air ke dalam gelas lalu duduk dan meminumnya.
"Ibu kasihan sama kamu karena tumben tidurnya larut malam. Biasanya jam 10 kamu sudah lelap." Balas Bu Nir yang masih sibuk menggosok piring. "Oh ya Don, sebenarnya semalam itu kamu habis dari mana sama Gilang? Kenapa tiba-tiba ada Aditya juga didepan rumah, malah berkelahi sama Gilang."
"Panjang ceritanya Bu."
"Ya dipersingkat toh Don."
Bu Nir selesai mencuci piring lalu melepas celemek yang ia gunakan dan duduk disamping Dona yang tengah mengunyah apel.
"Ayo ceritain. Ibu penasaran."
Dona masih mengunyah apelnya lalu kembali minum apel.
"Gini Bu, semalam itu Gilang bawa aku makan malam dan ketemu sama orang tuanya."
"Wah, seserius itu Gilang sama kamu?"
"Mungkin emang niatnya mau nunjukin kalau dia mau serius Bu, dengan mempertemukan aku sama orang tuanya. Tapi Ibu tahu gak apa tanggapan orang tuanya?"
"Apa Don? Apa orang tuanya suka sama kamu terus setuju?" Tanya Bu Nir penuh semangat.
"Salah."
"Lah, terus?"
__ADS_1
"Orang tuanya menghina aku Bu."
"Maksudnya?"
"Mereka bilang aku gak cocok jadi pacar Gilang karena status aku yang bukan orang kaya."
Bu Nir terlihat emosi, ia menggulung lengan dasternya yang agak panjang.
"Berani sekali mereka menghina anak Ibu yang cantik ini. Memangnya sekaya apa sih orang tua Nak Gilang itu?"
Dona tertawa melihat tingkah sang Ibu.
"Ibu tahu HR Group gak?"
"HR Group?"
"Iya, atau Ibu tahu yang namanya Pak Herbowo gak? Orang terkaya di kota ini?"
"Ooohh Pak Herbowo. Tentu tau, siapa yang tidak tahu pebisnis ulung itu. Dia itu tokoh publik yang sangat terkenal karena kekayaan dan kehebatannya dalam berbisnis."
"Nah, dia itu Kakeknya Gilang."
Bu Nir yang tengah meminum air sontak menyemburkan air dari dalam mulutnya.
"Ah Dona, bercandanya jangan kelewatan gini sama Ibu."
"Siapa yang bercanda Bu, Dona serius." Ucap Dona seraya mengolesi selai cokelat ke rotinya.
"Jadi Gilang itu cucu konglomerat."
"He'em. Cucu satu-satunya lagi." Balas Dona.
"Waah kalau begitu, kamu harus mampu menaklukkan hati kedua orang tuanya biar kamu jadi mantu mereka."
"Huh Ibu, tadi aja marah-marah anaknya dihina. Eeh sekarang malah..."
"Demi memperbaiki keturunan kamu Don."
"Mata duitan." Cibir Dona.
Bu Nir tertawa lalu menatap Dona yang tengah mengunyah roti.
"Memangnya kamu bisa kenyang dengan sarapan roti?" Tanya Bu Nir.
Dona hanya mengangguk. Bu Nir sebenarnya heran dengan perubahan yang terjadi pada puterinya sejak siuman dari koma yang dialaminya selama 3 bulan. Jika dulu Dona yang dikenal Bu Nir selalu suka sarapan dengan nasi goreng buatannya atau dengan lontong sayur, tapi Dona yang kali ini berbeda. Dona yang sekarang lebih suka sarapan dengan roti, buah ataupun salad. Sesekali Dona juga mau menikmati nasi goreng yang dibuat Bu Nir.
"Terus kalau Aditya bagaimana dengan keluarganya?" Tanya Bu Nir lagi.
"Mmmmm kalau Aditya sih sudah gak punya orang tua Bu. Papa dan Mama nya sudah lama meninggal. Dia cuma punya Kakek."
"Kasihan sekali. Tapi jujur saja, sebenarnya sejak awal Ibu sih lebih srek lihat kamu sama Aditya." Ucap Bu Nir. "Ya, tapi balik lagi sama kamu. Kan kamu yang menjalani bukan Ibu. Sudah ya, Ibu mau kedepan dulu bantuin Bapak kamu. Habis ini langsung mandi ya. Bantuin Ibu di toko. Ini hari minggu, biasanya banyak yang datang."
"Siap Bu." Balas Dona.
**********
Pukul 10 pagi, Dona sudah selesai dengan aktifitas paginya. Sarapan, mandi dan berganti pakaian. Dona keluar kamar dan mulai membantu kedua orang tuanya di toko yang mulai ramai didatangi pembeli. Sesekali Dona juga sibuk dengan ponselnya, membalas pesan yang dikirimkan Aditya.
Saat banyak pembeli datang, sebuah mobil pickup berhenti di depan rumah Dona dengan membawa banyak bunga mawar. Semua orang yang tengah berbelanja terlihat bingung saat dua orang pengemudi pickup menurunkan buket bunga mawar berukuran besar kedepan toko Pak Edi.
"Maaf Pak, ada apa ya ini?" Tanya Pak Edi.
"Ini benar rumah atas nama Sabrina Dona Amelia?"
"Iya benar." Jawab Pak Edi yang disusul Dona berdiri dibelakangnya karena mendengar namanya disebut.
"Saya Dona. Ini ada apa sebenarnya Pak?" Tanya Dona.
"Ini ada paket untuk Mbak Dona."
Seorang kurir, memberikan sebuah kartu pada Dona. Di dalam kartu itu tertulis ucapan minta maaf yang dikirimkan Gilang. Bu Nir ikut maju ke depan teras toko.
"Dari siapa Don?" Bu Nir melirik kartu ucapan yang dipegang Dona.
"Oh Nak Gilang. Pak, tolong bilangin ya sama Nak Gilang. Lain kali jangan kirim bunga. Kirimnya bunga bank aja."
"Iihh Ibu ngomong apa sih?" Dona menyenggol lengan Bu Nir.
"Lah emang bener kan Ibu-ibu. Ngapain kirim bunga. Lebih baik kirim uang kek, makanan kek, baju-baju, atau skincare...." Ucap Bu Nir pada Ibu-ibu yang tengah berbelanja yang juga ikut melihat kurir menurunkan bunga dari atas mobil pickup.
"Bener tuh Bu." Jawab mereka kompak.
Setelah semua buket bunga diturunkan, dua orang kurir itu pun pergi meninggalkan rumah Dona. Dona bingung melihat begitu banyak buket bunga di depan tokonya. Ia pun menawarkan orang-orang yang tengah berbelanja untuk membawa pulang buket bunga itu.
Para pembeli dengan senang hati mengambil bunga itu dan membawa pulang ke rumah mereka masing-masing.
__ADS_1
"Ada-ada saja kelakuan orang kaya." Ucap Bu Nir.
Bersambung....