Pesona Sang Primadona

Pesona Sang Primadona
PSP 58: Kebenaran Terungkap


__ADS_3

Kabar pernikahan Dona dan Gilang mulai tersebar. Bahkan Raka yang berada di luar negeri begitu kaget mendengar kabar bahwa Dona akan menikah. Terlebih karena Dona bukannya menikah dengan Aditya, melainkan Gilang. Sebisa mungkin Raka mencoba untuk menghubungi Aditya, namun entah mengapa Aditya begitu sulit untuk dihubungi.


Sementara bagi Dona, kabar pernikahan itu menjadikan kehidupannya kacau. Mulai dari ia yang harus ekstra menyiapkan mentalnya saat ke kampus, hingga hubungan dengan orang tuanya pun berubah. Terutama dengan Pak Edi. Jika biasanya Pak Edi selalu tersenyum ramah dan periang, kali ini ia sangat berubah.


Sejak malam dimana Gilang datang melamarnya, Dona tak pernah lagi melihat senyum dari lelaki yang selalu menyayanginya sepenuh hati itu. Jangankan untuk tersenyum kepadanya, menyapa Dona saja Pak Edi enggan. Pak Edi benar-benar kecewa pada Dona.


Hari ini, Dona menemani Ayu membawa baby Kenzo ke tempat baby spa. Ayu memang mengajak Dona karena ingin berbicara berdua dengannya.


Ayu dan Dona duduk santai di sofa yang tersedia di dalam ruangan spa. Sementara baby Kenzo sedang menerima treatment ditemani pengasuhnya.


"Aku minta kamu kesini, karena aku memang mau bicara sama kamu." Ucap Ayu.


"Tentang pernikahan kan?" Balas Dona seraya memijit pelipisnya.


"Iya. Aku mau nanya tentang itu sama kamu." Ayu terlihat kesal. "Sebenarnya kamu kenapa sih? Kok bisa gitu bersikap plin plan. Sekali kamu pacaran sama Gilang, setelah itu pindah hati ke Aditya dan udah lamaran. Sekarang malah mau nikah sama Gilang. Kamu tuh...."


"Yu, kamu gak tahu masalah aku gimana."


"Ya kalau gitu, cerita Dooon. Ceritaaaa...." Ayu melipat tangannya dan duduk bersandar dengan tatapan mata yang tajam memandangi Dona.


"Aku hamil."


"Apaaaa? Hamil? Kok bisa?" Ayu menggelengkan kepalanya. "Waktu aku hamil dulu, kamu marah-marah dan bilang aku gak bisa jaga diri. Sekarang lihat, kamu sendiri malah mengulang kesalahan yang aku perbuat dulu."


"Beda Yu, kasusnya gak sama."


"Bedanya dimana? Aku hamil, kamu juga hamil. Intinya kita berdua emang gak bisa jaga diri kan?"


"Kamu salah Yu. Yang terjadi sama kamu karena kamu dan Billy sama-sama saling cinta. Sementara aku dipaksa Yu.... Dipaksa...."


"Maksud kamu, kamu di....." Ayu menghentikan ucapannya.


"Iya." Dona menyeka air matanya yang mulai menetes.


"Kalau gitu, kenapa gak lapor polisi Don?"


"Lapor polisi kamu bilang?"


"Iya. Harusnya kamu lapor polisi. Itu kan udah tindak pidana perkos**n. Dia bisa dihukum dan kamu gak harus nikah sama dia."


"Coba sekali aja kamu mikirin gimana rasanya berada di posisi aku." Dona terlihat kesal. "Kamu tahu sendiri kan Gilang itu siapa dan berasal dari keluarga yang bagaimana. Kalau aku laporin dia tanpa bukti, aku bisa dituntut karena pencemaran nama baik. Dia bisa lolos, sementara aku yang akan menuai hujatan. Oke, sekarang kita berandai-andai aja. Aku bisa melakukan visum dan sudah pasti hasilnya aku memang mengalami hal itu. Tapi, hal itu gak cukup diajukan sebagai bukti. Kamu tahu hukum sekarang ini kenyataannya bisa dibeli dengan uang. Aku gak punya saksi, gak punya video sebagai alat bukti. Mau minta pihak hotel jadi saksi, mana mau mereka. Secara hotel itu nyatanya milik dia. Andai aku gak hamil, aku gak akan mau nikah sama dia." Dona mulai terisak.


Ayu mendekat dan mengelus pundak Dona.


"Maafin aku."


"Yu, aku gak punya pilihan lain. Aku gak mungkin gugurin kandungan aku. Dan aku juga gak mungkin menikah sama Aditya walau dia nerima keadaan aku yang seperti ini."


"Kenapa? Kamu berhak bahagia Don. Menikahlah dengan Aditya. Toh dia gak mempermasalahkan hal itu."


"Apa kamu yakin dia sama sekali gak akan mempermasalahkannya?" Tanya Dona serius. "Oke lah, anggap saja dia mau menerima. Tapi Gilang? Dia gak akan tinggal diam Yu. Dia akan melakukan apapun untuk merusak semuanya. Dia bahkan sampai melakukan hal rendahan ini demi misahin aku dengan Aditya. Bagaimana jadinya nanti jika aku malah menikah dengan Aditya? Aku bisa pastikan bahwa Gilang akan membuat masalah yang akan membuat Aditya dan keluarganya dipandang rendah oleh masyarakat karena mau menikahi wanita yang sedang hamil anak orang lain."


Ayu menghela nafas panjang. Ia menyadari apa yang dikatakan Dona ada benarnya. Sangat sulit bagi Dona untuk terlepas dari Gilang. Dan cara satu-satunya hanya menggugurkan kandungannya.


"Gugurin saja Don."


"Kamu gila ya?"


" Dengerin aku dulu. Sekarang usia kandungan kamu berapa?" Tanya Ayu.


"Dokter bilang, jalan 5 minggu."


"Berarti masih ada kesempatan."


"Maksud kamu?" Tanya Dona bingung.


"Aku pernah baca undang-undang mengenai aborsi saat pertama kali aku tahu kalau lagi hamil. Katanya, aborsi itu boleh dilakukan karena kehamilannya akibat perkos**n yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban perkos**n dan harus sebelum kehamilan berumur 6 minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir."


"Tapi gimana caranya membuktikan kalau aku memang di perkaos? Kan aku udah jelasin sama kamu. Sangat sulit untuk membuktikan semuanya."


"Itulah gunanya kamu harus minta bantuan Aditya."


"Maksud kamu?"


"Aditya juga tajir, dia pasti bisa melakukan apapun. Udah deh, dengerin aja saran aku. Oh ya terus, kamu periksa kandungannya dimana?"


"Di klinik Dokter yang di daerah X itu."


"Maksud kamu Dokter P?"


"Iya."


"Ya ampuuun, Dokter itu kan koleganya Gilang."


"Kamu tahu dari mana?"


"Billy dulu sering ngajak aku kesana karena di saranin sama Gilang."


"Terus apa hubungannya denganku?"


"Ya ampun Don. Tumben banget kamu lelet, biasanya juga kamu paling pinter. Gini yah, bisa jadi Gilang itu minta si Dokter memanipulasi hasil tes kehamilan kamu. Secara Dokter itu tuh klop banget sama Gilang."


"Kamu yakin?"


"Enggak yakin sih, karena Dokter kan punya kode etik sendiri. Tapi, gak ada salahnya kan curiga. Kamu diperkaos aja, nyatanya karena Gilang sudah merencanakan semuanya. Bisa jadi kehamilan kamu ini palsu karena dia benar-benar mau kamu jadi milik dia aja."


"Tapi, kalau emang palsu dan nyatanya aku gak hamil. Kenapa sampai sekarang aku belum datang bulan?"


"Eeeeee untuk hal itu..... Aku gak tahu. Tapi apa salahnya kamu coba tes di Dokter spesialis kandungan yang lain."


Dona terlihat berpikir.


"Udah deh, coba aja. Sekarang hubungi Aditya biar bisa nemenin kamu. Atau sekalian periksa nya di rumah sakit milik Kakek Aditya aja." Usul Ayu.

__ADS_1


Baby Kenzo akhirnya selesai di spa. Ayu pun membawa pulang bayi nya itu dan berpesan pada Dona untuk melakukan apa yang ia sarankan. Masih berdiri di depan tempat spa, Dona berusaha menghubungi Aditya. Hingga dua kali ia memanggil, tak ada jawaban dari Aditya.


"Sepertinya dia sudah tak ingin berhubungan lagi denganku." Ucap Dona lalu mulai mengetikkan pesan yang akan dikirimkannya pada Aditya.


Aditya sendiri nyatanya memilih menyibukkan diri di cafe miliknya. Dikarenakan ia sedang tak memiliki jadwal mata kuliah, ia pun berusaha untuk melupakan Dona dengan sibuk berada di cafe atau berkunjung ke rumah sakit milik kakeknya.


Dua hari sejak ia mengetahui kabar Dona hamil, Aditya benar-benar tak bisa tidur. Ia terus terjaga sepanjang malam, memikirkan bagaimana semuanya bisa terjadi kepada dirinya. Kapan peristiwa itu terjadi antara Dona dan Gilang? Apakah Dona mabuk? Ataukah Dona melakukannya karena memang masih mencintai Gilang? Semua pertanyaan-pertanyaan itu terus saja dipikirkan Aditya tanpa mengetahui jawabannya.


Lelah dengan kegiatan di dapur, Aditya memilih istirahat dan menyerahkan kembali urusan memasak pada koki yang memang dipekerjakannya. Aditya masuk ke ruangannya dan berbaring di sofa panjang yang tersedia.


Aditya menutup matanya, berusaha untuk menenangkan hati sekaligus pikirannya. Ponsel yang sejak tadi ditinggalkan diatas meja bergetar. Aditya melirik ponselnya yang menampilkan nama Raka yang ingin melakukan panggilan video.


"Hai." Sapa Raka.


Aditya hanya mengangguk.


"Apa berita yang gue denger itu...."


"Iya bener." Jawab Aditya memotong ucapan Raka.


"Gimana ceritanya?"


"Dona hamil." Jawab Aditya singkat.


"Gimana ceritanya?"


"Entah."


"Lo gak cari tahu?" Aditya menggeleng. "Ya cari tahu dong. Apa lo mikir Dona bisa lakuin hal serendah itu gitu aja? Sedangkan lo sendiri pernah cerita. Nyium dia aja lo susah banget."


"Dia bisa aja...."


"Lo pikir dia bisa aja kayak gitu karena cinta sama Gilang gitu? Gila lo. Masa iya Dona bisa bersikap plin-plan gitu? Dona yang gue kenal gak gitu. Dan lo harusnya nyari tahu, apa masalah yang sebenarnya yang sedang cewek lo hadapi."


Aditya terdiam, ia memikirkan apa yang dikatakan Raka. Saat sambungan video call berakhir, Aditya melihat terdapat sebuah panggilan tak terjawab. Saat melihat nama yang terpampang adalah Dona. Sontak saja Aditya memperbaiki posisi duduknya dan kembali melihat ponselnya yang juga terdapat sebuah pesan dari Dona.


[Bisa kita ketemu?]


'Ada apalagi ini?' pikir Aditya.


Ia menghela nafas panjang, kemudian membalas pesan Dona.


[Temui aku di cafe.] Balasnya.


Setengah jam kemudian, Dona sudah sampai di cafe milik Aditya setelah sebelumnya ia berganti pakaian di rumah. Ia memilih duduk di tempat paling pojok dan meminta pelayan untuk memanggil Aditya. Pelayan yang memang mengetahui hubungan Dona dan sang Bis segera berjalan menuju ruangan Aditya.


"Permisi Pak, pacarnya sudah menunggu diluar." Ucap pelayan wanita dengan name tag Gani itu.


"Berikan dia minuman. Katakan padanya aku akan keluar sebentar lagi." Jawab Aditya.


Gani keluar dari ruangan Aditya dan kembali ke meja Dona.


"Pak Aditya bilang tunggu sebentar lagi." Dona mengangguk.


Tak butuh waktu lama, Gani kembali dengan membawa jus buah dan memberikannya pada Dona. Dona mulai gusar karena Aditya belum juga keluar dari ruangannya.


Sementara di dalam ruangan, Aditya sedang memandang wajahnya di cermin. Ia merasa tak sanggup untuk bertemu Dona, ia sudah bertekad untuk melupakan Dona. Tapi, kenapa Dona malah datang menemuinya?


Ucapan Raka juga kembali diingatnya. Aditya kemudian masuk ke kamar kecil dan membasuh wajahnya, kemudian kembali memandangi cermin.


"Oke, tenanglah. Semuanya memang perlu ditanyakan."


Aditya melangkah keluar ruangan dan mendapati Dona yang tengah duduk sambil mengaduk-aduk jus alpukat yang ada dihadapannya.


'Dona....'


Mata Aditya berbinar menatap wanita yang dicintainya itu. Baru 2 hari ia tak melihat Dona, rasa rindu itu sudah begitu membuncah. Namun, Aditya berusaha menahan gejolak di dalam dadanya. Mengingat bahwa pada kenyataannya Dona sudah memutuskan untuk menikah dengan Gilang.


'Mungkin dia datang untuk meminta maaf.' pikir Aditya lalu berjalan mendekat.


Saat Aditya tiba, Dona sontak mematung. Tubuhnya seperti membeku. Sejujurnya ia sudah malu untuk menampakkan wajahnya dihadapan Aditya. Tapi, demi membuktikan kecurigaan Ayu adalah benar, ia berusaha mencari tahu semuanya dan menyampingkan rasa malunya itu.


Keduanya duduk berhadapan. Tidak ada sapaan sayang atau sekedar saling menyapa. Keduanya duduk dalam diam selama 5 menit. Hingga Dona pun memulai pembicaraannya.


"Aku mau bicara sama kamu." Ucap Dona.


"Aku tahu." Jawab Aditya. "Bicaralah."


"Sebelumnya aku minta maaf, karena...."


"Tak perlu meminta maaf lagi. Semuanya sudah terjadi, jika kau datang untuk meminta maaf, aku sudah memaafkan mu. Tapi aku punya saru pertanyaan yang ingin aku ajukan padamu." Ucap Aditya dengan menatap Dona tajam.


"Katakan." Balas Dona.


"Bagaimana semua ini bisa terjadi?"


"Aku tidak tahu."


"Apa maksudmu tidak tahu? Bukankah kau yang melakukannya dengan Gilang?"


"Bukan seperti itu."


"Lalu?"


Dona meremas kedua jemarinya, ada rasa bersalah yang bergelayut dihatinya. Dan untuk kembali menceritakan hal yang terjadi, membuat hatinya merasa begitu terluka.


"Dit, kamu ingat hati dimana aku pergi seminar ke hotel X?"


Aditya tampak berpikir, setelah mengingatnya Aditya pun mengangguk.


"Hari itulah Gilang melecehkan ku."


Raut wajah Aditya terlihat terkejut.

__ADS_1


"Dit, apa kau tahu hotel itu merupakan milik HR Group?"


Aditya menggeleng. "Itu artinya hotel itu milik Gilang?"


Dona mengangguk.


"Lalu, bagaimana ceritanya kalian bisa sampai begitu?"


"Aku rasa Gilang memberikanku obat bius. Karena saat aku mencoba untuk pulang ke rumah, aku tiba-tiba pingsan setelah meminum teh hijau yang diberikan Gilang."


"Lalu?"


"Aku terbangun dan menyadari telah berasa di dalam kamar hotel, dan setelah itu semuanya terjadi. Aku ingin memberitahumu bahwa aku sudah berusaha berontak. Tapi aku tidak mengerti apa yang terjadi pada diriku. Kepalaku begitu pusing, aku bahkan tidak bisa merasakan jari-jariku. Dunia seperti berputar."


"Itu pengaruh bius." Balas Aditya.


Keduanya kembali terdiam. Aditya terdengar menghela nafas panjang.


"Mau bagaimana pun kejadiannya, semuanya tidak bisa kembali seperti semula. Apalagi kau hamil dan sudah setuju untuk menikah dengan Gilang. Aku harap kamu bahagia dengan keputusan yang kamu buat."


"Dit, temenin aku ke rumah sakit."


"Ha!" Seru Aditya.


Pagi tadi, aku bertemu Ayu, dan dia berpikir bahwa bisa saja kehamilan ini palsu."


"Maksudnya?" Aditya terlihat bersemangat.


"Waktu itu, Gilang membawa ku ke sebuah klinik Dokter P. Ayu bilang, Dokter klinik itu bisa saja memanipulasi hasil tes kehamilanku. Mengingat klinik itu juga bagian dari HR Group."


"Apa?" Aditya meremas rambutnya dengan kasar. "Jika benar itu terjadi, aku akan membuat Gilang membayar semua perbuatannya.


"Maka dari itu, temani aku menemui Dokter di rumah sakit hari ini juga.


"Baiklah, ayo pergi."


Aditya berjalan lebih dulu meninggalkan Dona.


'Semoga kecurigaan Ayu ada benarnya.'


Keduanya lalu pergi menuju rumah sakit milik Kakek Aditya dengan menggunakan motor masing-masing. Jarak yang tidak terlalu jauh, membuat perjalanan mereka hanya membutuhkan waktu 15 menit saja.


Tiba di rumah sakit, Aditya langsung membawa Dona menuju poli kandungan. Dona masuk ke dalam bersama dengan Aditya.


"Dokter, tolong periksa dia. Apakah dia benar-benar hamil atau tidak." Titah Aditya tanpa basa-basi.


Dokter mengangguk dan dengan dibantu seorang perawat, Dona mulai diperiksa. Selain mengecek urine Dona, Dokter juga akan melakukan USG.


Perawat kembali dengan membawa hasil tespack negatif.


"Hasilnya negatif." Ucap Dokter yang membuat Dona dan Aditya tercengang.


Aditya dan Dona saling menatap.


"Tapi Dokter, saya pernah memeriksa disebuah klinik dan mengatakan saya hamil. Bahkan usianya sudah masuk 5 minggu. Mengingat HPHT saya tanggal 5 bulan lalu."


"Kalau begitu, untuk memastikan semuanya kita lakukan USG." Ucap Dokter.


Ada rasa lega sekaligus harapan yang kembali hinggap di hati Aditya. Ia bahkan ikut menemani Dona saat USG. Pandangannya fokus pada layar yang menampilkan hasil USG dan tak ingin melirik ke arah Dona mengingat bagian perut Dona yang terbuka.


"Lihat. Tidak ada apa-apa disini. Ini rahim anda, dan tidak terdapat kantung janin didalamnya. Hasil tes urine juga menunjukkan bahwa anda memang tidak hamil."


Dona bingung, ia lalu bangun dan kembali duduk berhadapan dengan Dokter.


"Maaf sebelumnya Dok. Jika saya tidak hamil, lantas kenapa saya tidak datang bulan?"


Dokter terlihat bingung. Ia sendiri mengenali Aditya sebagai cucu dari pemilik rumah sakit. Sementara Aditya sendiri diketahui belum menikah.


'Lantas siapa suami wanita ini?' pikir Dokter itu.


"Apa anda pernah menggunakan kontrasepsi sebelumnya?" Dona menggeleng.


"Dimana suami anda? Sudah berapa lama menikah?"


Dona terdiam.


"Saya calon suaminya." Balas Aditya.


Raut wajah Dokter itu seketika berubah, ia merasa bersalah telah menanyakan hal itu.


"Kalau begitu, anda harus melakukan cek darah dulu. Kita harus memastikan, apa ada penyakit yang diderita atau gangguan hormonal saja."


Dona pun diminta duduk di ruangan terpisah dan mulai mengambil darah dari lengannya. Setelah beberapa saat menunggu, Dokter pun memberitahu hasilnya.


"Menurut hasil lab, anda menggunakan kontrasepsi berupa suntikan 3 bulan. Hal itulah yang membuat siklus menstruasi anda terhambat."


"Maksudnya saya pernah di suntik KB 3 bulan Dok?"


"Benar."


Dona menatap Aditya bingung.


Setelah semua pemeriksaan selesai dilakukan, Aditya dan Dona kembali ke cafe. Aditya memutuskan untuk membantu Dona mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di hotel itu untuk membuktikan bahwa Gilang bersalah.


Tak lupa Dona juga mengabari hasil dari pemeriksaan yang ia lakukan di rumah sakit kepada Ayu.


Ayu pun merasa lega dan berharap, Dona bisa kembali melanjutkan hubungannya dengan Aditya. Terlepas dari status Dona yang sudah tidak perawan lagi. Ayu berharap bahwa Aditya akan benar-benar menerimanya setulus hati.


Dona menelepon Ayu saat Aditya masuk ke dalam ruangannya.


"Aku harap, kamu dan Adit bisa bersama lagi." ucap Ayu.


"Entahlah. Aku pikir semuanya terlalu rumit. Aku malu, dan merasa sudah gak pantas buat dia. Harusnya dia bisa mendapatkan wanita yang terhormat dan bukan barang bekas seperti aku."

__ADS_1


"Bicara apa kamu?" Ucap Aditya yang tiba-tiba muncul dibelakang Dona.


Bersambung.....


__ADS_2