Pesona Sang Primadona

Pesona Sang Primadona
PSP 26: Api unggun


__ADS_3

Helikopter mengudara beberapa menit. Dona tidak tahu helikopter berada pada ketinggian berapa, tapi setahu Dona tingginya lumayan untuk bisa melihat sekeliling. Bagi Dona, naik helikopter rasanya sungguh berbeda dengan naik pesawat besar yang biasa dia rasakan di kehidupannya yang terdahulu. Ketinggian yang tidak terlalu tinggi membuat Dona lebih deg-degan, rasanya hampir sama dengan duduk di pinggir gedung tinggi sambil terus bergerak. Perbedaan lain adalah suara yang keras yang lebih kerasa serta tentu saja hawa panas karena helikopter tentu saja tidak dilengkapi dengan AC.


Dona memegang erat tangan Gilang, sesekali pandangannya tertuju keluar jendela. Hamparan hutan pinus tampak begitu luas. Dari atas udara, Dona dapat melihat dengan jelas setiap celah pohon. Dona dapat melihat beberapa orang yang tengah berjalan di jalan setapak.


'Pantas saja, Gilang bisa dengan mudah menemukanku. Ternyata dari atas sini, semuanya tampak begitu jelas.'


Dona kembali melihat perkebunan warga dan hamparan kebun teh yang begitu luas. Dona pun menyadari bahwa ia tak kunjung mendapati kebun teh itu karena memang jalan yang dilaluinya berbeda dengan jalur ke arah kebun teh itu.


"Masih takut?" Gilang mengusap kepala Dona.


"Eng-nggak kok." Balas Dona gugup.


Tak lama helikopter pun mendarat dengan mulus. Semua siswa yang lain berkerumun menantikan kehadiran Dona. Sebelumnya, Gilang sudah menghubungi Aditya dan yang lainnya untuk mengatakan bahwa Dona sudah ditemukan. Saat Dona keluar dari helikopter, Ayu sontak berlarian ke arah Dona dengan mata yang berair dan langsung memeluk Dona.


"Don, Kamu... Kamuu... Gak apa-apa kan?" Ayu begitu terisak, bahkan suaranya sampai sesenggukan.


"Aku gak apa-apa." Balas Dona mengusap punggung Ayu.


"Aku khawatir banget sama kamu..." Sambung Ayu.


"Iya aku tahu. Makasih ya. Sekarang udahan dulu nangisnya...."


"Ayo, aku obati dulu luka kamu." Gilang menyela ucapan Dona dan segera menarik tangan Dona menuju tendanya.


Beberapa siswa yang berkerumun terlihat bernafas lega karena Dona sudah ditemukan. Sementara guru pembimbing mereka pun begitu nampak kelegaan di wajahnya.


Gilang membuat Dona duduk tepat dihadapan tendanya. Billy, Raka dan Aditya pun ikut pergi ke tenda.


"Dit, dimana kotak P3K?" Gilang tampak sibuk mencari sesuatu di dalam tasnya.


"Ada di tasnya Raka." Jawab Aditya.


Raka dengan cepat mengambil kotak P3K, lalu memberikannya pada Gilang. Dengan cekatan Gilang mulai mengobati kaki Dona yang terluka. Dona meringis kesakitan saat Gilang mengolesi obat merah pada luka lecet yang terdapat di kakinya.


"Udah Gilang, aku bisa sendiri." Ucap Dona.


"Gak apa-apa. Aku bisa kok." Balas Gilang.


Aditya dan yang lainnya hanya bisa berdiri menatap Dona yang tengah diobati oleh Gilang. Sementara itu dari arah yang berjauhan, Ratu dan anggota gengnya tampak semakin kesal. Terutama Ratu, dia berharap, Dona bisa lebih parah dari sekarang.


"Bos mau kemana?" Tanya Siska saat Ratu mulai melangkah.


"Akting." Jawab Ratu lalu berjalan meninggalkan anggotanya yang penuh tanya.


Ratu berjalan ke arah orang-orang yang tengah mengerumuni Dona. Dengan cepat raut wajahnya berubah menjadi sendu. Dia menerobos orang-orang yang tengah berdiri demi menemui Dona.


"Hei, lo gak apa-apa kan? Ya ampuuun, gue sampai khawatir banget sama kondisi lo. Maafin gue ya, gara-gara gue ngajak Ayu kemarin balik lagi ke tenda buat nyari hape gue, lo malah nyasar sendirian. Sekali lagi, maaf ya Don." Ratu memasang wajah penuh bersalahnya.


"Cih, Ratu drama...." Cibir Billy.


Raka dan Aditya menatap Ratu dengan tajam. Keduanya berpikir bahwa bisa jadi Ratu lah yang menyebabkan Dona bisa sampai tersesat di hutan.


"Gak apa-apa kok. Semuanya salahku, aku yang salah ambil jalan." Balas Dona.


"Gimana ceritanya kamu bisa salah ambil jalan?" Tanya Raka yang ikut duduk di samping Gilang yang sudah selesai mengobati kaki Dona.


"Aku cuma ikutin jalur aja. Aku ikutin tanda panah yang ke arah kanan, eeehh malah masuk ke kebun warga. Gak taunya ada gukguk galak banget ngejar aku. Ya aku lari dong, dan parahnya malah semakin masuk ke dalam hutan dan nyasar."


"Arah kanan?" Aditya tampak berpikir.


"Iya. Panahnya mengarah ke kanan." Ucap Dona lagi.


"Loh, bukannya panahnya ke kiri ya?" Celetuk Ayu.

__ADS_1


Semua orang nampak berpikir dan tiba-tiba serentak menatap ke arah Ratu.


"Kenapa kalian semua liatin gue?" Ratu terlihat gugup.


"Lo kan yang udah rubah arah panahnya?" Tuduh Billy menunjuk Ratu.


"Heh, jangan sembarangan nuduh ya. Lo semua kan pada tau kalau Dona jalannya duluan sendiri. Nah gue, sama Ayu balik ke tenda karena nyari hape gue. Gimana caranya gue bisa putar tanda panahnya, sementara gue ada di tenda bareng Ayu." Teriak Ratu.


Guru pembimbing yang tak jauh berdiri dari kerumunan mereka mendekat. Dan mencoba menengahi mereka.


"Ada apa ini? Kenapa kalian malah ribut-ribut?"


"Ini Pak, si sok pintar ini sembarangan nuduh saya yang buat Dona celaka." Ratu menunjuk Billy.


"Eh emang lo yang nyelakain Dona. Secara lo sama geng busuk lo itu punya dendam kesumat sama Dona." Teriak Billy.


"Jangan sembarangan nuduh deh lo! Mana buktinya gue yang celakain Dona." Balas Ratu tak kalah berteriak.


"Sudah diaammmm....." Kali ini Dona yang berteriak. "Mmmm maaf Pak. Karena saya semuanya jadi ribut. Jangan dipermasalahkan lagi Pak, yang penting saya selamat dan bisa berkumpul lagi disini. Jangan menyalahkan siapapun apalagi tanpa bukti. Bisa jadi saya sendiri yang salah lihat tanda penunjuk jalan hingga membuat saya kesasar." Ucap Dona.


Guru pembimbing mereka mengangguk.


"Baiklah, kalau begitu silahkan balik ke tenda kalian masing-masing karena hari sudah semakin gelap. Nanti kita berkumpul di depan api unggun."


Semua orang bubar dan kembali ke tenda masing-masing. Sementara Aditya, dan ketiga cowok lainnya masih diam di depan tenda Dona. Tenda keempat cowok itu memang tidak jauh dari tenda Dona. Hanya berjarak dua meter saja.


********


Tak terasa, hari pun sudah menjadi gelap. Hijaunya pemandangan tadi siang kini berubah jadi kegelapan yang penuh kesunyian.


Malam yang dingin nan sejuk, Dona memilih duduk di pinggir dekat pohon agar tidak terlalu terasa panas, sementara Ayu terlihat sibuk mengobrol dengan Bayu.


'Sepertinya mereka tengah PDKT.' pikir Dona dengan bibir yang melengkung.


"Kenapa duduk sendirian disini?"


"Kalau terlalu dekat dengan api unggun, takutnya panas." Jawab Dona.


Keduanya lalu mengobrol panjang, sementara Raka dan Aditya dengan siswa lainnya tengah sibuk menyiapkan api unggun. Dona sempat tertidur di bahu Gilang. Saat bangun Dona melihat api unggunnya belum menyala juga. Langit semakin gelap, bulan tertutupi oleh awan dan rintik hujan mulai turun sedikit demi sedikit, lalu Dona dan Gilang meneduh di tenda Dona. Hujan mulai deras dan Dona merasa sedih, karena acara yang ia tunggu tidak bisa dilaksanakan. Kayu-kayu yang mulai basah, dengan cepat dipindahkan oleh panitia agar bisa digunakan kembali.


Karena turun hujan jadi merek dipersilahkan untuk istirahat. Dona dan Gilang duduk di dalam tenda.seraya menatap hujan. Gilang yang melihat Dona merasa iba dan ia membuatkan mie instan untuk Dona. Setelah memberikan mie instan ia menggeser tempat duduk Dona agar lebih dekat dengan kompor, dan ia duduk disamping Dona. Keduanya pun makan mie instan bersama. Setelah makan mie instan Gilang menyalakan kompor, ia berkata bahwa ini adalah pengganti api unggun yang tidak jadi di nyalakan. Dona pun tersenyum lalu hujan mulai reda.


Hari sudah cukup malam, akhirnya semua kembali ketempat istirahat masing-masing. Dona masih merasa sedih karena hal yang dia tunggu-tunggu dibatalkan. Ayu sudah lebih dulu tertidur, dan saat Dona mulai bersiap untuk tidur, namun tiba-tiba ada yang memanggilnya. Dona menengok dan melihat Gilang sedang berdiri melambaikan tangan seraya memberikan kode agar ia menghampirinya. Dona berhati-hati keluar dari tempat peristirahatan agar Ayu tidak terbangun.


Setelah menghampiri Gilang, Dona langsung ditarik dengan begitu saja hingga Dona hampir terhuyung kedepan. Saat hampir sampai, Dona melihat ada sesuatu yang menyala di lapangan. Setelah sampai Dona langsung terkejut melihat api unggun yang sudah menyala, Dona langsung tersenyum dan refleks memeluk Gilang seraya berterimakasih.


Gilang pun menyanyikan satu lagu untuk Dona. Setelah lagu selasai dinyanyikan tiba-tiba ada tepukan yang gemuruh terdengar, ternyata semua orang sudah bergabung bersama keduanya tanpa Dona sadari. Akhirnya mereka tetap melaksanakan acara api unggun berkat Gilang.


Gilang menghampiri Dona, mereka duduk berdua menyaksikan penampilan-penampilan yang dibawakan oleh teman-teman mereka, ada yang bernyanyi, menyatakan cinta, membaca puisi, melawak, dan masi banyak penampilan lainnya.


"Api unggun itu membawa kedamaian, kehangatan dan kebersamaan. Kita bisa saling mengenal lebih dalam lagi. Adanya kedekatan antar individu menikmati satu kumpulan api di malam hari. Tentunya peristiwa ini akan menjadi sejarah yang luar biasa di dalam hidup kalian. Menemukan sesuatu atau menjadi sesuatu kelak di saat kita semua berusia dewasa." Ucap Aditya saat berbicara di depan semua yang hadir.


Di bawah sinar bulan dan hangat nya api. Dona merasa ada yang berbeda dari api unggun lainnya, wangi tanah setelah disiram hujan membuat Dona ingin berlama-lama disini dan tak ingin waktu berjalan cepat.


'Gilang yang membuat semuanya menjadi lebih berbeda dan menyenangkan.' gumam Dona.


Api unggun yang nyatanya berfungsi untuk menghangatkan badan saat sedang camping di hutan, demikian pula cinta hadir. Cinta hadir untuk memberi kehangatan bagi hati yang sepi. Api unggun juga berguna untuk mengusir binatang buas di hutan, seperti halnya cinta datang, untuk mengusir seluruh kesepian. Mengisi relung hati yang kosong.


Api unggun dibuat dengan menyusun setumpuk kayu-kayu kering atau yang biasa disebut kayu bakar. Dan cinta juga terbentuk karena itu. Karena ada sebuah komitmen dan janji untuk bersama, untuk saling berbagi. Dua orang yang berbeda seumpama kayu yang diambil dari berbagai pohon bertemu, berkenalan dan saling menjajaki.


Ya, itulah cinta! Sekarang, timbul pertanyaan baru lagi. Tidak mungkin api unggun tersebut akan menyala selamanya, tanpa diberi sesuatu lagi. Yah, ibarat cinta yang tidak bisa dibiarkan begitu saja, setelah menemukan kecocokan dengan pasangan. Tetapi sebaliknya, harus saling mengisi dan mengenal lebih dekat. Tahap pacaran, bukan akhir dari segalanya, masih ada lagi tahap-tahap berikutnya yang mesti dijajaki. Suatu saat api itu akan meredup, saat itulah harus menambah kayu bakar dan bahan bakar. Seumpama cinta yang harus selalu diisi. Dengan apa? Yah dengan kebersamaan dan kasih sayang juga saling pengertian.


Malam pun berlalu pagi pun datang. Mereka semua mulai untuk berkemas-kemas membereskan barang bawaan karena kegiatan selanjutnya yaitu hiking. Dalam hiking itu setiap siswa disuruh jalan satu-satu dengan jarak yang cukup jauh. Ternyata dalam perjalanan itu lagi-lagi Dona terpeleset karena jalanan nya naik turun sekaligus licin. Dona pun duduk dan istirahat dibawa pohon.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian Aditya datang dia menghampiri Dona dan menanyakan keadaannya. Dia pun menemani Dona istirahat.


"Kamu kenapa? Kom malah duduk disini, nggak ngelanjutin perjalanan?" Tanya Aditya.


"Tadi aku terpeleset karena jalanan nya licin, lagian aku juga lelah jadi aku istirahat sebentar disini." Jawab Dona.


"Mana yang sakit? Apa perlu aku obati?" Aditya mulai memegangi kaki Dona.


Dengan cepat Dona menarik kakinya, dan menepis tangan Aditya.


"Memangnya kamu bisa obatin kaki aku?" Tanya Dona.


"Enggak, hehehehehe. Aku gak bawa P3K."


"Hahahaha. Enggak bisa kok pakai mau bantuin aku segala sih..."


"Tapi aku bawa minyak kok, siapa tahu bisa mengobati kakimu yang terpeleset." Aditya menyodorkan minyak gosok pada Dona.


"Aku dah nggak apa-apa kok. Lagian ini udah agak mendingan. Mungkin cuma kelelahan aja kali ya, karena kemarin juga sempat kesasar."


"Makanya lain kali kalau jalan hati-hati dong." Aditya mengacak-acak rambut Dona.


"Iya-iya, makasih udah perhatian dan nemenin aku disini." Balas Dona. "Entar kalo tiba-tiba ada pacar kamu lihat kita disini gimana?" Goda Dona.


"Hahahahaha, apaan sih! Kamu kan tahu sendiri aku belum punya pacar." Aditya terbahak.


"Masa? Yang bener? Aku lihat kamu sering di kerubungin cewek-cewek loh kayak laler."


Selama ini, Dona memang sering melihat Aditya yang selalu dikelilingi gadis-gadis cantik lainnya. Hingga Dona berpikir bahwa sidah pasti Aditya memiliki pacar, meski sedang mendekatinya.


"Iya bener, ngapain aku bohong. Emmm jujur aja sejak pertama lihat kamu, aku kok ngerasa nyaman ya ngobrol sama kamu."


"Mungkin cuma terbawa suasana aja kali. Apalagi disini kan suasananya sejuk, tenang. Jadi nyaman deh ngobrol sama aku." Balas Dona.


"Enggak kok, rasanya itu asyik. Beda dari yang lain. Dan kamu kalau diajak ngobrol selalu nyambung."


"Berarti teman-teman kamu yang selama ini kamu ajak ngobrol nggak nyambung?"


"Ya bukan gitu juga. Masa kamu nggak paham sih?"


"Hahaha iya-iya aku paham kok, ,aku cuma becanda..." Dona kembali terbahak.


Aditya terdiam, berusaha menarik nafasnya dalam-dalam.


"Don, kamu mau nggak jadi....."


"Wah, dicari-cari dari tadi. Ternyata kalian berdua disini." Gilang tiba-tiba datang dan menarik tangan Dona agar terbangun.


Gilang lalu menggandeng tangan Dona membawanya segera menuju ke puncak bukit tempat tujuan mereka.


"Bisa pelan dikit gak? Kaki aku masih sakit."


Tanpa menjawab, Gilang langsung berjongkok dan meminta Dona untuk naik ke atas punggungnya.


"Naiklah, aku akan menggendong mu."


"A-apa?" Dona menjadi gugup.


"Ayo naik, kalau tidak aku akan menggendong mu dari depan."


Tanpa banyak bicara lagi, Dona langsung naik ke punggung Gilang. Dari arah belakang, Aditya mengikuti mereka. Melihat punggung Dona yang berada di dalam gendongan Gilang.


'Kenapa bukan aku yang menggendong mu?' ucap Aditya dalam hati.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2