
Kepergian Raka membuat Dona mengerti akan artinya kehadiran Raka selama ini disampingnya. Raka memang tak seintens Aditya yang hampir setiap hari selalu ada bersama Dona. Tapi Raka, akan selalu ada kala Dona dalam kesusahan. Raka merupakan cowok pertama yang ditemui Dona diantara keempat cowok populer di sekolahnya.
Dimata orang banyak, Raka merupakan pribadi yang cuek, pendiam dan introver. Namun, sejak mengenal Dona, Raka menjadi pribadi yang berbeda. Dihadapan Dona, Raka menjadi pribadi yang begitu humoris. Hal, itulah yang membuat Dona menjadi begitu nyaman bersahabat dengan Raka. Dan kepergian Raka, membuatnya merasa begitu sangat kehilangan.
***********************
Dona, Ayu, Aditya dan Billy akhirnya mendaftar di kampus yang sama. Dona mengambil jurusan Psikologi, Aditya dengan jurusan Kedokteran Gigi, sementara Billy dan Ayu sama-sama mengambil jurusan Ekonomi Akuntansi. Sementara Gilang sendiri, seperti yang sudah dikatakan sebelumnya. Dia tak mengambil kesempatan untuk kuliah, tapi langsung terjun ke dalam bisnis keluarganya.
"Kenapa kamu gak mau kuliah? Bukannya seorang bos perusahaan besar juga harusnya punya pendidikan yang mempuni." Tanya Dona kala ia tengah mengobrol berdua dengan Gilang.
"Sekolah aja aku males-malesan. Apalagi sekarang mau ngulang lagi. Aku males dengan tugas-tugas yang menumpuk. Toh, tanpa kuliah pun masa depan aku udah terjamin dengan pekerjaan yang sudah ada di depan mata." Jawab Gilang.
Sementara untuk Aditya, Dona juga sempat bertanya kenapa ia memilih untuk mengambil fakultas kedokteran gigi.
"Aku pikir kamu bakal ambil jurusan manajemen keuangan atau bahkan tata boga. Kamu kan suka masak." Ucap Dona sedikit meledek.
Dalam pikiran Dona, karena Aditya mempunyai cafe maka Aditya akan mengambil jurusan yang berhubungan dengan bidang penjualan atau keuangan ataupun dengan memasak.
"Hahaha, aku memang suka memasak. Tapi, cafe itu hanya ladang untuk mencari tambahan aja. Sementara sejak dulu aku memang berkeinginan untuk jadi Dokter gigi. Kamu tahu kenapa?" Tanya Aditya yang dibalas gelengan kepala Dona. "Karena waktu kecil aku pernah sakit gigi yang amat sangat tak tertahankan. Papa bawa aku ke Dokter gigi, dan sejak saat itu aku langsung bercita-cita untuk jadi Dokter gigi supaya bisa membantu orang untuk terlepas dari sakit gigi yang menyiksa itu. Meski ada kata-kata yang mengungkapkan lebih baik sakit gigi dari pada sakit hati, wah aku akan lebih sakit hati dari pada sakit gigi." Lanjut Aditya sambil tergelak.
Dona ikut tertawa, ia sendiri mengungkapkan pada Aditya tentang alasan ia mengambil jurusan psikologi.
"Aku ambil psikologi bukan semata-mata untuk karir aku kedepan. Tapi karena untuk memahami diri aku sendiri, aku juga ingin membantu orang lain. Aku ingin membantu orang mengatasi depresi, stres, trauma, atau fobia, meringankan efek perceraian orang tua pada anak, membantu mengatasi kecanduan, membantu meringankan masalah pendidikan seperti disleksia, mempercepat pemulihan dari cedera otak, membantu menghentikan atau mencegah intimidasi di sekolah atau di tempat kerja, memastikan bahwa orang-orang senang di tempat kerja dan berkinerja baik, membantu polisi, pengadilan dan layanan penjara untuk bekerja lebih efektif atau bahkan membantu atlet untuk tampil lebih baik." Jelas Dona panjang lebar.
"Kamu hebat. Ayo, berjuang bersama." Balas Aditya.
**********
Tak terasa sebentar lagi masa-masa ospek akan dimulai. Jika mendengar kata Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus atau yang lebih sering dikenal dengan sebutan ospek, pastinya ada banyak banget hal-hal negatif yang terlintas di pikiran setiap mahasiswa baru, seperti halnya Dona dan teman-temannya. Apalagi seringkali di koran maupun televisi, ada pemberitaan tentang kegiatan ospek yang begitu ekstrem.
Dona pun pernah mengalami hal itu di kehidupannya yang terdahulu. Dimana dia mendapat perlakuan yang tidak mengenakkan dari senior wanita yang menganggapnya 'sok cantik'.
Meskipun demikian, ospek tetap jadi momen yang menyenangkan dan tidak terlupakan juga bagi Dona, apalagi karena dirinya jadi bisa mengenal kampus dan juga berkenalan dengan teman-teman baru di kampus.
Hari pertama ospek, Dona berangkat dari rumah jam 6 pagi. Kali ini ia mulai berangkat seorang diri mengendarai sepeda motor. Ponselnya berdering saat ia sudah keluar dari gerbang rumah.
"Halo, kamu dimana? Mau aku jemput?" Ternyata Aditya yang menelepon Dona.
"Gak perlu Dit. Aku udah di jalan nih, pake motor sendiri."
"Oh ya udah. Hati-hati ya, sampai ketemu di kampus." Balas Aditya.
Dalam perjalanan, ban sepeda motor Dona bocor. Gara-gara hal itu, Dona pun terlambat dan di ceramahi oleh senior. Dona diminta berdiri di hadapan semua calon mahasiswa baru yang tengah berbaris rapi. Dona di ceramahi habis-habisan oleh seorang senior perempuan. Namun, seorang senior laki-laki bernama Romi bersikap begitu lembut pada Dona. Sejak kedatangan Dona, Romi langsung menyambutnya dengan penuh senyuman.
"Sudahlah Fi. Kan dia sudah bilang kalau ban motornya bocor." Ucap Romi pada senior wanita bernama Alfi itu.
Alfi yang kesal melihat perlakuan Romi pada Dona semakin marah dan melimpahkan kemarahannya pada Dona.
"Kali ini kamu bisa dimaafkan. Tapi ingat, kamu disini buat kuliah bukan jadi model yang sok cantik."
'Lah, apa hubungannya sih?' pikir Dona.
__ADS_1
Alfi membuat sebuah tulisan pada sebuah kertas besar yang lalu digantungkan pada leher Dona. 'Sok Cantik.'
Dona hanya bisa menghela nafas panjang dan tak ingin berkomentar apa-apa. Sementara dari baris paling belakang, Aditya merasa tak enak hati melihat Dona dibentak seperti itu. Begitu juga dengan Ayu dan Billy yang berbaris berdampingan. Keduanya merasa kasihan pada Dona. Setelah itu Dona pun masuk ke dalam barisan dan bergegas mencari kelompok yang telah di berikan padanya.
Ospek akan berlangsung selama 5 hari dengan agenda para mahasiswa baru akan dikenalkan dengan lingkungan kampus, unit kegiatan mahasiswa yang ada di dalamnya, kelas, organisasi, peraturan, letak gedung, cara akses ini dan itu dan juga berkenalan dengan senior.
Saat waktu istirahat tiba, Dona dan yang lainnya berkumpul untuk sekedar melepas penat dengan duduk di rumput taman kampus.
"Aaahh baru hari pertama udah dipermalukan begini. Aisshhh bener-bener sial." Ucap Dona yang selonjoran.
"Aku heran sama Kak Alfi, dia punya masalah apa ya sama kamu. Aku lihat dia itu kayak benci gitu sama kamu." Ucap Ayu yang menyandar di pundak Billy.
"Gue juga heran. Padahal Dona kan cuma telat doang, itupun alasannya karena bannya bocor. Kenapa Kak Alfi marahnya sampai segitunya ya?" Sambung Billy.
"Kamu gak apa-apa?" Tanya Aditya seraya menyodorkan air mineral pada Dona.
Dona mengambil air yang diberikan Aditya lalu meminumnya hingga habis setengah botol.
"Aku gak apa-apa." Balas Dona.
Saat keempatnya tengah asyik mengobrol sambil menikmati camilan, secara tiba-tiba Romi datang mendekati mereka dengan membawa sebuah kantong plastik.
"Hai...." Sapa Romi.
Mereka berempat sontak berdiri.
"Eh, gak perlu berdiri. Duduk aja." Ucap Romi.
"Oh ya, ini buat kamu." Ucap Romi menyodorkan kantong plastik itu pada Dona lalu beranjak pergi tanpa menunggu Dona mengucapkan apapun.
Aditya langsung merebut kantong plastik itu dari tangan Dona dan kembali duduk di rumput. Saat dibuka ternyata kantong plastik itu berisi minuman ringan dan beberapa roti.
"Waaahh makanan!" Seru Billy dan mulai mencomot satu potong roti.
"Awas ada peletnya." Ucap Aditya saat Dona mengambil satu potong roti.
"Apaan sih." Dona tertawa.
"Kayaknya Kak Romi naksir kamu deh Don." Ucap Ayu.
"Ada-ada aja. Baru juga ketemu, masa iya langsung naksir." Dona mengunyah roti yang diambilnya tadi.
Mereka berempat mulai menikmati makanan mereka. Tanpa disangka-sangka geng Beauty datang menghampiri mereka dengan berdiri angkuh menatap Dona dan teman-temannya yang tengah asyik makan roti. Ada Ratu, Siska dan Devi. Sementara Tasya, anggota geng yang lainnya memilih kuliah di luar kota.
"Gak di sekolah, gak di kampus. Ternyata bakat lo jadi penggoda benar-benar mendarah daging ya." Ucap Ratu pada Dona.
"Ngomong apa sih." Dona yang masih mengunyah roti sontak berdiri berhadapan dengan Ratu.
Aditya, Billy dan Ayu ikut berdiri di belakang Dona.
"Baru masuk, lo udah berani-beraninya goda Kak Romi." Ucap Siska berkacak pinggang.
__ADS_1
"Dasar penggoda." Sambung Devi.
"Heran deh sama kalian. Ada begitu banyak kampus di kota dan negara ini. Bahkan sekelas kalian orang kaya bisa aja kan kuliah di luar negeri. Kenapa malah milih kampus ini juga? Gak rela ya aku jadi primadona di kampus ini?" Ledek Dona.
"Eh, atau jangan-jangan kalian belum bisa move on dari cowok-cowok kita. Secara Siska kan naksir sama kamu sayang." Ayu merangkul Billy. " Nah, Ratu malah naksir Gilang yang udah jadi pacarnya Dona. Sementara si Devi naksir sama kamu Dit." Lanjut Ayu.
Sejak berpacaran dengan Billy, Ayu memang menjadi pribadi yang lebih berani.
"Berani lo ya!" Siska hendak mendekati Ayu dan langsung dihadang Billy.
"Mau ngapain?" Billy yang memasang badan melindungi Ayu membuat Siska mundur.
"Lebih baik kalian pergi dari sini. Jangan memulai keributan." Ucap Aditya berdiri sejajar dengan Dona. "Kalau kalian masih punya nyali, ya udah lanjutkan."
Ratu dan gengnya memilih pergi dengan perasaan yang dongkol.
************
Setelah mengikuti kegiatan ospek selama 5 hari, Dona mengakui pandangannya tentang ospek jadi berbeda.
Hari ini, Dona berkumpul di cafe Aditya bersama Ayu dan Billy dan kali ini juga di temani Gilang yang kebetulan punya waktu luang.
“Awalnya aku kira bakal keras dan disiplin banget seperti hari pertama aku dihukum tapi ternyata enggak." Ucap Dona.
Ospek yang dijalani Dona di kehidupannya yang terdahulu benar-benar berbeda dengan yang ia alami kali ini.
"Di fakultas ku, komite disiplinnya aku kira awalnya mereka galak-galak, kerjanya cuma marahin maba dan marah-marah karena first impression itu aku jadi berpikir negatif ke mereka. Tapi setelah rangkaian ospek selesai, ternyata mereka bertugas seperti itu biar mabanya menjadi disiplin dan semuanya serba rapi dan teratur. Marahnya mereka juga karena ada alasannya dan kalau enggak ada yang salah enggak akan dimarahi,“ lanjut Dona.
"Sama. Aku pikir awalnya juga gitu. Eeh gak taunya pas udah dibagi ke fakultas masing-masing, semuanya malah enak-enak aja. Ya kan sayang?" Ucap Ayu.
"He'em." Balas Billy.
"Lo sendiri gimana Dit? Udah ketemu cewek cantik belum?" Tanya Gilang yang duduk disamping Dona.
"Cewek mulu otak lo." Balas Aditya yang sibuk mencatat pesanan mereka semua. "Gue sih biasa-biasa aja. Gak ada yang berkesan atau gimana-gimana." Lanjut Aditya lalu berdiri meninggalkan mereka semua menuju ke dapur cafe.
"Gimana kerjaan kamu?" Tanya Dona pada Gilang.
"Lancar. Satu tahun lagi kalau aku bisa sampai target, aku bakal langsung lamar kamu." Jawab Gilang.
"Apaan sih. Otak kamu tuh ya, nikah mulu. Aku masih mau kuliah."
"Gak ada larangan kan orang yang sudah menikah buat kuliah." Balas Gilang.
"Terserah." Ucap Dona.
Sedikitpun dalam benak Dona belum terpikirkan dengan pernikahan. Meski ia memang mencintai Gilang, tapi untuk menikah Dona belum ada niat untuk kesana.
'Biarkan semua berjalan dengan sendirinya.'
Bersambung.....
__ADS_1