
Dona, Ayu dan Ratu mulai bersiap untuk berjalan menuju tempat yang ditentukan. Dengan membawa tas ransel berisi bekal air minum dan cemilan, Dona pun berjalan terlebih dahulu disusul Ayu dan Ratu paling belakang. Baru saja ketiganya berjalan beberapa meter, Ratu berteriak.
"Tunggu bentar." Teriak Ratu.
"Kenapa?" Tanya Dona.
"Hape gue ketinggalan di tenda. Ayu, temenin gue balik yuk." Ratu menarik tangan Dona agar ikut bersamanya.
"Tapi Dona...."
"Biarin aja dia jalan duluan, bentar doang kok. Entar kita nyusul." Ratu menarik paksa Ayu untuk kembali ke tendanya.
Dona yang malas menunggu memilih berjalan lebih dulu. Setelah berjalan lima menit, Dona menemukan dua cabang jalan disana. Dia melihat ditengah ada papan penunjuk jalan yang menunjukkan panah arah jalan mengunakan pilox’s ke arah kanan. Awalnya Dona masih menunggu Ayu dan Ratu. Namun, karena keduanya tak kunjung muncul, Dona pun memutuskan untuk kembali berjalan sesuai dengan arah panah.
Setelah Dona sudah tak terlihat lagi, dari balik semak-semak Siska, Devi dan Tasya keluar dan membalikkan arah panah itu ke arah kiri sambil tertawa puas.
"Rasain loh. Nikmatin tuh bermalam di tengah hutan." Ucap Siska.
Ketiganya lalu berjalan ke arah yang benar, lalu Siska mengambil ponselnya dan menelepon Ratu. Ratu yang sedari tadi beralasan kehilangan ponselnya dan terus mencari di tenda, mendengar suara ponselnya berdering dari balik tumpukan selimut yang ada didalam tendanya.
"Nah itu hape kamu." Ucap Ayu.
"Syukurlah ada yang menelepon." Ucap Ratu dengan wajah yang terus berpura-pura panik karena kehilangan ponsel. "Halo. Aaahh makasih ya Sis, kalau aja lo gak nelpon, gue gak akan tahu dimana letak hape gue."
"Iya-iya. Semuanya beres Bos." Balas Siska.
"Iya, ini gue udah mau jalan kok. Tunggu aja disana."
Diseberang telepon, Siska tertawa karena obrolan mereka yang tak nyambung. Semuanya memang sudah menjadi rencana mereka.
"Ayo, kita jalan." Ucap Dona setelah menutup telepon dari Siska.
Ayu dan Ratu kemudian berjalan, perjalanan mereka hanya memakan waktu hingga satu jam. Namun, saat tiba di tempat tujuan, Ayu tak melihat keberadaan Dona. Gilang dan tiga cowok lainnya mendekati Ayu dan menanyakan tentang Dona.
"Loh Yu, Dona nya mana?" Tanya Raka.
"Emang dia gak ada disini?" Ayu balik bertanya.
Perasaan Gilang sudah tak enak, dia mulai mengambil ponsel dan berusaha menghubungi Dona. Namun, ponsel Dona tak aktif. Sementara itu, Dona yang sudah berjalan selama satu jam lebih, tak kunjung tiba di tempat tujuan yang sudah ditentukan.
"Apa masih jauh? Bukannya Aditya bilang jaraknya paling lama cuma memakan waktu satu jam? Sedangkan aku sudah berjalan satu jam lebih. Apa aku tersesat?" Dona bertanya pada dirinya sendiri.
Cukup lama Dona berjalan melewati hutan pinus hingga berujung ke perkebunan warga. Dona semakin heran kenapa malah tembus ke perkebunan warga. Saat melewati sebuah saung, Dona menemukan binatang m yaitu 'anjing' penjaga saung dari pemilik kebun
“Gukk..guk..gukk..guk..guk.” Suara anjing menggonggong bertanda ada manusia yang datang yaitu Dona.
Dona pun kaget mendengar suara anjing tersebut. Kemudian berlari ke semak-semak melalui jalan yang tajam dan Dona terjatuh dan tersangkut diantara pohon yang besar. Setelah bersusah payah berlarian, Dona pun bisa bebas dari kejaran anjing tersebut.
“Aahh, selamat aku! Dasar gukguk, galak banget." Sambil berlari-lari dan kemudian dia malah semakin tersesat tak tentu arah.
__ADS_1
Dona yang kelelahan karena berlari mengambil air di dalam ranselnya lalu meminumnya dengan cepat. Setelah itu Dona mulai berusaha menghubungi Ayu. Namun, ternyata ponsel tak berfungsi karena sinyal yang tak memadai. Alih-alih panik, Dona berusaha menenangkan dirinya dengan menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nya perlahan.
"Oke. Berarti fix aku ini nyasar. Huh.. huh... Sekarang yang harus aku lakukan adalah berusaha keluar dari hutan ini, dan semoga bisa menemukan penduduk. Seingat ku ada kebun teh sekitar sini." Ucap Dona berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Sebelum berangkat camping, kemarin Dona memang sempat mencari tahu tentang lokasi yang akan mereka tuju. Lokasi camping yang ada di daerah B. Akan ada hutan pinus dan perkebunan warga, ada juga kebun teh yang luas di sebelah hutan.
"Aku harus menemukan seseorang di kebun teh, atau dimana saja. Agar aku bisa minta bantuan dengan mereka.” Lanjut Dona dengan napasnya yang masih terengah-engah.
Akhirnya, Dona pun berjalan berkilo-kilo jauhnya. Dona tak menemukan siapapun, bahkan kebun teh yang dicarinya tak kunjung ditemukan. Yang ada hanya hamparan pohon pinus yang tinggi menjulang.
"Ya Tuhan, berapa lama lagi aku harus jalan." Ucap Dona seraya duduk di sebuah batu untuk mengistirahatkan kakinya sejenak.
Sementara itu di tempat berbeda, siswa-siswa yang lainnya tengah sibuk berfoto dengan latar kebun teh. Posisi mereka tepat berada di sebuah puncak bukit yang menyuguhkan pemandangan yang berbeda. Tepat dibelakang mereka hutan pinus, lalu di sisi kiri depan terhampar perkebunan teh yang luas. Sementara sisi kiri dari jarak yang lumayan jauh terlihat rumah-rumah penduduk yang berbaris rapi.
"Hai, kalian lihat Dona gak?" Tanya Aditya pada kelompok lainnya.
Semua siswa lainnya kompak menggeleng. Aditya dan yang lainnya mulai panik karena tak melihat Dona.
"Ayu, sekarang jelasin. Gimana ceritanya kalian bisa terpisah?" Tanya Raka dengan raut wajah cemas.
"Tadinya kita jalan bareng. Tapi Ratu ngajak aku balik ke tenda karena hapenya ketinggalan. Kami lumayan lama nyari hapenya. Saat aku coba susul Dona, dia udah gak ada. Aku pikir dia udah nyampe sini. Gak taunya dia gak ada. Sekarang gimana dong." Ayu mulai menangis.
Aditya mulai memerintahkan yang lainnya untuk mencari Dona. Aditya juga memberitahu guru pembimbing mereka, dan oencarian pun dimulai. Kelompok yang lain dan teman-teman Dona sudah sampai dibawah dan mereka mencari Dona disana. Akan tetapi mereka tidak menemukan keberadaan Dona di tenda. Akhirnya Ayu semakin panik dan menangis lagi dan salah satu teman perempuan yang lainnya ikut menangis lagi. Ada yang marah dan ada yang melemparkan botol air mineral ke tanah.
“Mana sih Dona? Kenapa seneng banget buat orang panik." Ucap Siska dengan wajah yang dibuat terlihat kesal.
Gilang terlihat menghubungi seseorang via ponselnya. Sementara Aditya terus berkoordinasi dengan teman laki-laki lainnya untuk berpencar mencari Dona.
Billy sejak tadi berusaha menenangkan Ayu yang terus saja menangis. Sementara Raka bersiap-siap mengikuti Aditya untuk mencari Dona.
"Kamu tenang aja. Kita semua akan cari Dona sampai ketemu." Ucap Billy mengusap air mata di pipi Ayu.
"Aku takut Dona kenapa-napa." Ayu sesenggukan.
"Berdoa aja, semoga Dona senantiasa dalam lindungan Tuhan. Sekarang kamu duduk disini, tenangkan dirimu. Kami semua akan mencari Dona. Oke." Ayu mengangguk ke arah Billy.
Billy kemudian bergabung dengan Raka dan Aditya. Ketiganya hendak berjalan menyusuri hutan. Namun, lebih dulu memanggil Gilang yang berdiri bengong seperti tengah menunggu sesuatu di tanah yang lapang.
"Woii Lang. Gak ikut?" Teriak Billy.
Gilang menggeleng, dan seketika terdengar suara helikopter yang semakin mendekat. Semua siswa refleks mendongak ke atas dan tampak kaget saat helikopter itu seperti tengah bersiap untuk mendarat di tanah lapang tempat Gilang berdiri. Dan benar saja, helikopter berukuran kecil itu perlahan turun. Setelah itu, seseorang turun dan mengarahkan Gilang untuk naik ke atas helikopter.
Gilang berlari ke arah Raka dan yang lainnya.
"Helikopternya kecil. Muat untuk 4 orang saja. Aku akan cari Dona lewat udara, sementara kalian cari dia jalur darat." Ucap Gilang lalu kembali berlari ke arah helikopter.
Tak lama, helikopter pun kembali terbang meninggalkan siswa-siswa yang tampak bengong, mencerna apa yang tengah terjadi dihadapan mereka.
"Cih, mentang-mentang tajir. Segala helikopter disewa." Cibir Billy.
__ADS_1
"Sudah, lebih baik kita cepat jalan." Balas Aditya.
*********
Hari semakin sore, tak ada tanda-tanda bagi Dona untuk menemukan seseorang. Perasaan Dona yang tadinya tenang, mendadak cemas karena waktu sudah menunjukkan pukul lima sore.
"Bagaimana sekarang?" Ucap Dona.
Dengan pakaian yang dikenakannya, Dona sudah memikirkan kemungkinan yang terburuk. Jika ia harus bermalam di hutan pinus dengan pakaian yang tidak tebal, maka bisa dipastikan ia akan kedinginan atau lebih parahnya mati kedinginan.
"Ya Tuhan, bantu aku." Dona masih terus berjalan hingga menemukan tanah lapang yang tidak terlalu besar.
Dona beristirahat sebentar dan duduk menatap langit yang mulai menguning. Kali ini, ia hanya bisa mengharap sebuah keajaiban terjadi padanya. Bahkan Dona berkelakar pada dirinya sendiri.
"Apa aku harus membuat janji seperti film negeri dongeng? Jika yang menolongku adalah seorang perempuan, maka aku akan menjadikannya saudaraku sendiri. Dan jika aku ditolong oleh lelaki, aku bisa menjadikannya kekasih." Ucap Dona berusaha menghibur dirinya sendiri. "Haha... Dasar konyol."
Saat harapan itu sudah hampir sirna, telinga Dona menangkap suara helikopter yang terdengar begitu jelas. Dona yang sejak tadi duduk, langsung berdiri dan mendongak melihat ke atas awan.
Dari atas helikopter, mata Gilang tak lelah untuk melihat setiap sudut hutan. Berharap bisa menemukan sosok perempuan dengan pakaian berwarna merah.
"Tuhan, bantu aku menemukannya." Ucap Gilang dengan teropong yang masih dipegangnya.
Tak lama setelah itu, teropong yang digunakan Gilang menangkap sosok seorang gadis yang tengah berdiri, mendongak ke arah helikopter. Gilang sontak berteriak saat menyadari bahwa gadis itu adalah Dona.
"Itu dia...." Teriak Gilang.
Gilang meminta pada pilot helikopter untuk mendarat, namun karena tanah lapang itu tidak begitu luas jadi tak bisa mendaratkan helikopter disana. Mereka pun terpaksa menggunakan tali yang tersedia untuk menarik Dona naik.
Gilang turun menggunakan tali itu, dan langsung memeluk Dona saat sudah sampai dibawah.
"Kamu gak apa-apa kan? Aku khawatir banget sama kamu. Ya Tuhan terima kasih." Ucap Gilang tanpa sadar mencium kepala Dona secara terus menerus.
"Lang... Bisa lepas gak?" Balas Dona.
Gilang yang tersadar langsung melepaskan pelukannya.
"Maaf." Ucapnya.
Dona tersenyum dan berterima kasih pada Gilang. Gilang melihat kaki Dona yang terluka dan membalutnya menggunakan sapu tangan yang ada di dalam jaketnya. Setelah itu, Gilang mulai memasang tali dan pengait pada tubuh Dona agar bisa ditarik ke atas helikopter.
"Jujur, aku takut ketinggian." Ucap Dona.
"Kalau begitu. Tutup matamu dan peluk aku erat." Titah Gilang.
Tanpa penolakan, Dona langsung melakukan apa yang dikatakan Gilang. Setelah itu, keduanya ditarik bersamaan keatas helikopter.
'Terima kasih Tuhan.'
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, dan beri hadiah juga ya... 🥰