Pesona Sang Primadona

Pesona Sang Primadona
PSP 39: Kehamilan Ayu


__ADS_3

Dona kembai ke rumah bersama dengan Ayu. Keduanya bergegas masuk ke dalam kamar Dona dan dengan cepat Ayu mencoba tes kehamilan yang dibelinya tadi di kamar mandi pribadi Dona. Dona yang menunggu tampak harap-harap cemas. Sejujurnya saja, Dona sangat berharap bahwa Ayu tak hamil. Namun bagaimanapun hasilnya, sebagai sahabat, Dona akan selalu ada untuk Ayu.


Cukup lama Ayu berada di dalam kamar mandi. Dona yang mulai khawatir segera mengetuk pintu kamar mandi.


"Yu, udah belum? Kok lama banget? Kamu lagi pipis atau bertapa?" Gelak Dona berusaha membuat suasana tak begitu tegang.


Tak ada sahutan dari Ayu, justru Dona mendengar suara isakan yang semakin keras. Sontak Dona menempelkan telinganya di pintu kamar mandi. Dan benar saja, ternyata Ayu tengah menangis.


"Yu, ayo keluar dulu. Kita bahas semuanya pelan-pelan. Kamu jangan takut, aku ada buat kamu." Dona berusaha menenangkan Ayu yang terdengar semakin terisak.


Perlahan pintu kamar mandi terbuka. Mata Ayu berair dan memerah. Ayu langsung menunjukkan hasil tes kehamilannya yang menunjukkan 2 garis yang tandanya ia positif hamil. Dona langsung memeluk Ayu yang sontak menangis histeris.


"Huuuu.... Aku harus gimana Don? Gimana dengan Ayah sama Ibu? Aku harus bilang apa ke mereka?" Isakan Ayu semakin keras.


"Hush, jangan keras-keras dong nangisnya. Entar kedengeran Ibu sama Bapak. Kamu tenangin diri dulu, kita cari solusinya sama-sama." Dona menggandeng tangan Ayu, mengarahkannya untuk duduk ditepi dipan.


Sesaat Ayu terdiam, namun saat menatap hasil tes kehamilannya, ia kembali terisak. Suara tangisnya sampai terdengar oleh Bu Nir yang tengah memasak menu makan siang di dapur. Bu Nir yang kaget segera mematikan kompor meninggalkan masakannya diatas kompor bergegas menuju kamar Dona.


"Ada apa ini Nak?" Ucap Bu Nir yang secara tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu.


Ayu yang masih memegang hasil tes kehamilannya dengan cepat menyimpan tes kehamilan itu di bawah selimut.


"Eehh Ibu. Ini Bu, Ayu lagi galau karena putus sama pacarnya." Dona berbohong.


"Aduuuhh Ibu kira ada apa." Bu Nir masuk ke dalam kamar Dona dan duduk disamping Ayu. "Laki-laki itu banyak Nak. Untuk apa kamu tangisin satu orang laki-laki yang belum sah menjadi milik kamu. Lagipula kalau pacar kamu cuma bisa menyakiti ya lebih baik akhiri hubungan kalian. Jangan takut, seperti yang sering orang bilang, putus satu tumbuh seribu."


Dona benar-benar khawatir jika sang Ibu sampai mengetahui apa yang telah terjadi pada Ayu.


"Sudah jangan sedih terus. Lebih baik kalian bantuin Ibu yuk ke dapur. Kita buat kue sama-sama. Daripada duduk gak jelas di kamar meratapi yang tidak-tidak." Ucap Bu Nir seraya mengelus kepala Ayu. "Ayo cepat." Bu Nir melangkah keluar kamar. "Ibu tunggu ya."


Dona dan Ayu dapat bernafas lega setelah Bu Nir pergi. Keduanya kembali saing pandang.


"Sekarang juga kamu hubungin Billy. Ajak dia ketemu di cafe nya Aditya entar sore sehabis dia pulang kuliah. Entar aku temenin." Titah Dona.


Ayu hanya bisa mengangguk. Setelah itu keduanya mengikuti perintah Bu Nir untuk menuju ke dapur untuk membuat kue. Awalnya semua berjalan lancar, saat Dona mulai mencampurkan satu persatu bahan kue. Namun, tiba saat Ayu diminta untuk mengocok telur, seketika ia mual. Ia segera berlari menuju kamar mandi yang tak jauh dari dapur untuk muntah.


"Ayu kenapa Nak? Lagu kurang sehat ya?" Tanya Bu Nir.


"Emmm.... Iya kayaknya Bu." Jawab Dona gugup.


"Dari tadi Ibu lihat dia murung terus. Patah hati benar-benar membuatnya jadi tidak bersemangat. Wajahnya juga sedikit pucat."


"Masuk angin kali Bu." Dona berusaha mengalihkan pembicaraan. "Habis ini terus diapain Bu?" Tanya Dona sambil menggantikan Ayu mengocok telur.


"Campur aja sama terigu nya." Balas Bu Nir.


Tak lama Ayu keluar dari kamar mandi dengan wajah yang semakin pucat. Ia benar-benar tak tahan dengan bau amis dari telur.


"Kamu masuk angin Yu?" Tanya Bu Nir. "Ya sudah lebih baik istirahat dulu sana di kamar Dona. Sana Don, temenin Ayu. Bawain dia teh anget sama gosok minyak angin di punggungnya." Titah Bu Nir.

__ADS_1


Ayu dan Dona menurut saja. Ayu berjalan terlebih dulu ke kamar. Setelah itu disusul Dona dengan membawa secangkir teh hangat.


Sementara itu di kantin kampus, Siska tengah mengobrol bersama Ratu dan Devi tentang apa yang dilihatnya di apotik.


"Seriusan loh?" Tanya Devi tak percaya.


"Ngapain gue harus bohong. Gue lihat dengan mata kepala gue sendiri, kalau dua cewek gatel itu habis beli sesuatu di apotik. Gayanya itu tertutup banget. Udah pakai jaket, terus dipakein juga hoodie nya. Plus pakai masker. Nah, karena curiga gue coba tanya tuh sama si apoteker. Eh gak tau nya mereka berdua beli tespack." Cerita Siska.


"Wah, udah gak bener ini." Balas Devi.


"Bisa jadi kan mereka beliin buat saudaranya!" Seru Ratu tiba-tiba.


"Sejak kapan mereka berdua punya saudara. Lagian masa mau beli begituan buat saudara. Gue mah ogah, biarin aja beli sendiri." Siska membalas ucapan Ratu.


"Gue cuma gak mau salah informasi yang bakal nantinya jadi boomerang juga buat kita. Tapi, seperti yang lo bilang barusan. Mereka berdua gak mungkin mau beliin yang begituan buat orang apalagi dengan pakaian mereka yang sangat tertutup seperti itu. Menandakan kalau mereka takut dikenali orang, yang artinya mereka beli benda itu buat mereka sendiri." Ujar Ratu. "Sekarang, yang perlu lo berdua lakukan adalah sebarin gosip ini di kampus, namun jangan sampai ketahuan kalau kita yang buat. Bilang aja keduanya dicurigai hamil, bila perlu buat seolah-olah si Dona aja yang hamil. Biar semua orang, terutama cowok-cowok yang ngejar dia ilfil sama dia."


Ketiganya lalu menyeringai dan mulai menjalankan rencana mereka. Tak butuh waktu lama, seisi kampus mulai heboh dengan berita itu. Dona yang memang kembali di juluki sebagai Primadona di kampusnya benar-benar menyita perhatian. Banyak pria yang memang mencoba mendekatinya. Namun, Aditya yang selalu ada disampingnya ditambah Gilang yang memang adalah kekasihnya selalu ada untuk Dona setiap harinya di kampus. Sampai para mahasiswa kampus bingung, siapakah kekasih dari Dona yang sebenarnya.


"Gak nyangka ya, Primadona kampus kita ternyata bisa begitu."


"Apanya yang gak nyangka. Apa lo gak lihat, tiap hari dia di kerubungin cowok-cowok kayak laler yang ngeribungin sampah. Si Dona itu kabarnya sejak masih SMA juga udah sok paling cantik. Katanya banyak cowok di sekolahnya naksir sama dia. Kabarnya dia punya 4 pacar sekaligus. Lo bayangin aja, 4 cowok loh. Bisa aja dia digilir. Dan sekarang gak heran juga kalau dia jadi ayam kampus."


Para mahasiswi mulai bergosip tentang Dona. Terutama mereka-mereka yang tak menyukai Dona dan merasa tersaingi karena Dona yang selalu menjadi pusat perhatian para pria di kampus.


"Rasain lo..." Ucap Ratu penuh kemenangan.


Tepat pukul 5 sore, Ayu dan Dona sudah berada di dalam cafe Aditya, menunggu kedatangan Billy. Sudah setengah jam keduanya menunggu, namun Billy tak kunjung muncul juga. Justru Aditya yang datang lebih dulu menghampiri mereka.


"Kalian udah lama?" Tanya Aditya ikut duduk bersama Dona dan Ayu. "Kenapa gak ngasih tahu kalau mau kesini?"


"Eemm ini, Ayu mau ketemu sama Billy. Ada yang mau dibahas." Jawab Dona.


"Kalian bertengkar?" Tanya Aditya lagi kepada Ayu yang memang dilihat matanya tampak sembab.


Ayu hanya bisa menggeleng, ia berusaha menahan air matanya. Dona hanya bisa mengelus punggung Ayu. Dengan gerakan mata, Dona meminta kepada Aditya untuk meninggalkan keduanya. Aditya yang mengerti pun segera pergi menuju dapur. Tak lama kemudian, Billy datang dengan wajah sumringahnya dan langsung duduk di samping Ayu seraya mencium pipi Ayu.


"Sudah lama ya sayang. Maaf ya telat. Habis tadi dosennya lama banget jelasinnya. Oh ya kenapa hari ini gak masuk? Lagi gak enak badan ya? Muka kamu kok pucat?" Cecar Billy.


Suasana cafe yang ramai, membuat Dona berpikir. Tidak mungkin untuk membicarakan semuanya disini. Dona pun menghubungi Aditya menanyakan apakah mereka boleh meminjam ruangan Aditya untuk berbicara serius tentang kondisi Ayu. Meski bingung, Aditya menyetujui permintaan Dona. Mereka berempat pun kini berada di ruangan Aditya.


"Ini sebenarnya ada apa sih? Kenapa harus bicara disini?" Tanya Billy. Belum bicara apa-apa, Ayu sudah terisak. "Kamu juga ngapain nangis? Ada masalah apa? Jelasin dong. Jangan mewek aja. Aku jadi gak ngerti." Billy mulai tampak kesal karena Ayu tak kunjung bicara, ia justru semakin tersedu-sedu.


Sementara Dona dan Aditya hanya bisa berdiri memandangi Ayu dan Billy yang saling berhadapan.


"Ayu, ayo jelasin ada apa?" Billy mulai meninggikan suaranya dan menggoyang tubuh Ayu.


Dona yang kesal mendekati Billy dan langsung menampar Billy.


'Plaakk!'

__ADS_1


Wajah Billy memanas, pipinya memerah. Belum pernah sekalipun ia mendapat perlakuan seperti ini dari seorang wanita. Matanya nyalang menatap Dona, Aditya yang tahu Billy tengah emosi segera mendekat.


"Ini ada apa sebenarnya? Ayo duduk dan bicarakan baik-baik." Ucap Aditya.


"Ini semua karena kamu." Tunjuk Dona pada Billy. "Kamu udah tahu kalau pacar kamu lagi sedih malah kamu bentak-bentak. Gimana aku gak marah. Kamu harus tanggung jawab atas apa yang terjadi sama dia." Teriak Dona lagi. "Kamu juga Yu, kenapa cuma bisa nangis aja. Kasih tahu dong, heran." Dona menarik tas Ayu dan mengambil tespack lalu menyerahkannya pada Billy. "Nih lihat, hasil perbuatan kamu." Teriak Dona lagi.


Billy menatap alat yang mirip termometer itu. Terdapat dua garis yang tertera dengan jelas disana.


"I-ini maksudnya apa?" Tanya Billy gugup.


"Masih pura-pura bego kamu?" Bentak Dona. "Ayu hamil, dan kamu sebagai orang yang hamilin Ayu harus tanggung jawab. Jangan sok bodoh kayak gitu." Dona begitu kesal.


Aditya yang terkejut hanya berusaha menenangkan amarah Dona dengan memegang pundaknya. Sementara Billy hanya bisa menatap Ayu nanar. Tangis Ayu semakin pecah, Billy refleks merangkul kekasihnya itu. Lalu mengajaknya duduk di sofa. Aditya pun mengajak Dona untuk duduk di sofa berhadapan dengan Billy dan Ayu.


"Kenapa kamu gak bilang sama aku?" Tanya Billy seraya memegang dagu Ayu. Namun Ayu terus saja menangis.


"Aku gak habis pikir kalau kalian berdua bisa.berbuat sejauh ini." Dona menghela nafas panjang. "Aku percaya banget sama kamu Bil, aku pikir kamu bisa jaga Ayu dengan baik. Tapi nyatanya..." Dona menyandar di sofa. Tangan Aditya sigap merangkul Dona.


"Aku akan tanggung jawab." Ucap Billy lantang. Sontak Ayu menatap Billy penuh harap. "Kamu tenang aja sayang, aku akan tanggung jawab. Malam nanti aku akan beritahu kedua orang tua aku. Dan, aku pastikan besok malam aku akan ke rumah kamu bareng orang tua aku untuk ngelamar kamu." Lanjut Billy.


"Tapi...."


"Tapi apalagi Yu?" Teriak Dona. "Kamu gak mau nikah gitu? Terus gimana anak kamu? Hah?" Lagi-lagi Dona emosi.


"Don, kamu tenang dulu. Biarin Ayu bicara." Ucap Aditya berusaha menenangkan Dona.


"Aku harus bilang apa ke Ayah dan Ibu? Gimana dengan kuliah ku? Mereka pasti marah." Isak Ayu.


Dona menghembuskan nafas kasar.


"Berani berbuat, ya kalian harus berani menanggung konsekuensinya. Jangan mau enaknya aja." Dona semakin kesal.


Aditya mengacak kepala Dona dengan gemas.


"Gini, kalian lebih baik sekarang langsung bicara sama orang tua Ayu dulu. Berani aja, katakan yang sebenarnya. Minta maaf karena udah buat mereka kecewa dengan sikap kalian. Kalau pun mereka marah, hadapi bersama. Karena itu memang kesalahan kalian berdua. Dan buat lo Bill, sebagai cowok, lo harusnya berani dong." Ucap Aditya.


Billy menatap Ayu dengan tatapan yang begitu penuh cinta.


"Kamu tenang aja sayang. Aku akan menanggung semuanya. Sekalipun Ayah kamu bakal hajar aku, aku akan terima. Karena bagaimanapun ini kesalahan aku. Dan untuk kuliah kamu, jika kamu memang masih mau lanjut kuliah, kamu bisa kuliah. Aku yang akan biayain kamu. Aku akan bicara sama orang tua kamu." Ucap Billy mantap.


Ayu langsung memeluk Billy sambil terisak. Dona dan Aditya hanya bisa menyaksikan kedua orang didepan mereka yang akan segera menikah.


"Jaga diri kamu baik-baik. Jangan sampai Gilang berbuat yang melewati batas." Bisik Aditya di telinga Dona.


"Apaan sih." Balas Dona seraya menyandar di dada Aditya.


Hubungan Dona dan Aditya memang sangat begitu dekat. Sekilas jika orang melihat keduanya, orang-orang pasti berpikir bahwa keduanya sepasang kekasih. Tak bisa dipungkiri, Dona sendiri sebenarnya merasa sangat nyaman berada di samping Aditya. Dihatinya memang tumbuh rasa sayang untuk Aditya, tapi rasa itu sepertinya sebatas persahabatan. Cinta yang dimiliki Dona sudah ia berikan pada Gilang.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2