Pesona Sang Primadona

Pesona Sang Primadona
PSP 15: Makam


__ADS_3

Dona tiba di rumah agak terlambat karena perkelahian tadi. Bu Nir dan Pak Edi yang tengah sibuk melayani pembeli tak menyadari bahwa puteri mereka sudah pulang dari sekolah. Dona melihat ke arah toko kelontong yang baru dibuka itu ramai pembeli. Ia merasa begitu senang, namun dilain sisi hatinya juga merasa khawatir. Khawatir jika kedua orang tuanya kini lebih sibuk bekerja. Dona takut orang tuanya yang kini akan berubah seperti orang tuanya di kehidupannya yang terdahulu. Dimana kedua orang tuanya lebih sibuk bekerja dan lebih mementingkan pekerjaan daripada anak mereka sendiri.


Dona masuk ke dalam rumah dan segera mengganti pakaiannya. Pipinya masih sedikit memerah karena tamparan Siska tadi. Setelah berganti pakaian, Dona bergegas pergi ke dapur. Baru saja keluar kamar, Bu Nir sudah menyiapkan makanan untuk puteri kesayangannya itu.


"Ayo Nak, cepat makan. Kamu pasti lapar." Ucap Bu Nir.


Dona duduk di depan meja makan dengan makanan yang sudah tersaji rapi. Bu Nir menyiapkan oseng daging dan sayur asam untuk Dona.


"Kenapa Ibu repot-repot gini? Dona bisa ambil sendiri kok Bu."


"Kamu pasti capek pulang sekolah, jadi Ibu siapin semuanya. Oh ya maaf ya tadi Ibu sama Bapak gak sempat nyapa kamu. Soalnya lagi banyak pembeli Nak. Itu aja Bapak masih layani pembeli." Ujar Bu Nir seraya menyodorkan piring yang sudah terisi nasi pada Dona.


"Makasih Bu." Dona tersenyum bahagia. "Sudah sana, Ibu bantuin Bapak aja. Nanti Dona yang beresin sendiri semua ini."


"Ya sudah. Makan yang banyak ya biar badan kamu lebih berisi." Bu Nir berdiri lalu berjalan ke depan rumah yang memang langsung terhubung dengan toko kelontong.


Dona makan dengan lahap. Tanpa terasa air matanya mengalir begitu saja. Ia merasa terharu dengan perlakuan yang diberikan Bu Nir dan juga Pak Edi kepadanya. Sebagai orang tua, kedua orang itu benar-benar sangat perhatian. Sangat berbanding terbalik dengan kedua orang tuanya di kehidupannya yang terdahulu. Jangankan untuk memberikan perhatian kecil seperti menemani makan. Ulang tahun Dona pun selalu dilewatinya bersama para pembantu di rumahnya. Meski begitu Dona tetap berniat untuk mengunjungi makam kedua orangtuanya.


Setelah selesai makan, Dona kembali ke kamarnya dan mulai mencari informasi tentang dimana keberadaan makam dirinya dan juga kedua orang tuanya.


"Apa ini aneh? Aku disini, duduk di kamar memainkan ponselku dan mencari keberadaan makam ku sendiri? Sepertinya aku sudah gila." Dona bicara pada dirinya sendiri.


Beberapa saat mencari informasi tentang keberadaan makam orang tuanya, Dona pun mendapatkannya. Ia berencana untuk mengunjunginya dihari libur.


***********


Beberapa hari kemudian, tepatnya di hari minggu pagi...


Dona berpamitan kepada kedua orang tuanya dengan alasan mau pergi ke toko buku. Pak Edi tak bisa mengantar Dona karena memang sangat sibuk di toko mereka.


"Seharusnya Bapak belikan kamu motor dulu, biar kamu bisa enak kemana-kemana sendiri." Pak Edi duduk bersama Dona di depan toko menunggu ojol yang Dona pesan untuk menjemputnya.


"Sudahlah Pak, yang terpenting sekarang kita punya usaha dulu. Nanti kalau untungnya sudah terkumpul kan bisa beli. Lagipula Dona juga gak bisa bawa motor Pak, jadi belum perlu punya motor."


"Loh, kok gak bisa bawa motor. Bukannya dulu kamu udah bisa bawa motor Bapak. Malah saking malasnya jalan, cuma buat beli martabak didepan sana kamu pinjem motor Bapak." Pak Edi terlihat bingung.

__ADS_1


"Eeemmm, mungkin karena koma kemarin jadi aku lupa." Dona berbohong.


Tak lama ojol yang dipesan Dona datang, dia pun pergi setelah menyalami Pak Edi.


Tempat pemakaman yang akan dituju oleh Dona jaraknya lumayan jauh dari rumahnya. Butuh satu jam bagi Dona untuk sampai kesana.


Tiba di tempat pemakaman, Dona berdiri di depan gerbang dengan tangan yang menggenggam buket bunga mawar dan juga mawar tabur satu kantong plastik. Dona melangkah masuk, dan mulai mencari makam yang diketahuinya melalui browsing di internet.


Setelah beberapa saat berjalan, Dona pun akhirnya menemukan makam itu dan berdiri dengan aneh di depan sebuah makam dengan nisan yang bertuliskan namanya di kehidupan yang terdahulu, Dona Putri Wijaya. Disamping pusara yang bertuliskan namanya, Dona memandang pusara yang bertuliskan nama kedua orang tuanya. Ada rasa sesak di dada yang dirasakan Dona.


Tak lama Dona terisak, ia mengingat segala perlakuan orang tuanya di kehidupannya yang lalu. Dona lalu menaburkan bunga di makam orang tuanya dan juga dirinya, ia lalu berjongkok dan berdoa.


"Mah, Pah, bisakah kita bertemu, walau sebentar saja? Ada begitu banyak yang ingin ku ceritakan. Apakah kalian juga hidup kembali seperti aku?" Ucap Dona pada dirinya sendiri. "Mah, Pah, bagaimanapun kalian berdua tetaplah orang tuaku. Tanpa kalian aku tidak akan pernah terlahir ke dunia ini. Aku hanya bisa berharap, semoga kalian berdua mendapatkan tempat terbaik disisi Tuhan."


Dona menatap nisan yang bertuliskan namanya, lalu menaburkan bunga dan tiba-tiba tertawa.


"Apa Tuhan sedang bercanda denganku? Aku malah nyekar ke makam ku sendiri. Aku berdiri dengan tubuh yang sebenarnya bukan milikku. Tubuhku yang sebenarnya berbaring di bawah sana, sementara jiwaku berada pada tubuh gadis yang namanya sama denganku. Entah aku harus bahagia atau bagaimana, aku tidak tahu harus seperti apa. Di lain sisi, aku mengetahui bahwa aku mendapat kehidupan kedua meski dengan identitas yang berbeda. Lalu bagaimana dengan jiwa pemilik tubuh yang aku tempati saat ini?"


Secara kebetulan Aditya juga berada di pemakaman itu dan melihat Dona yang tengah berdiri menatap makam di depannya. Aditya mendekati Dona.


Dona terdiam, tak tahu harus menjawab apa. Apalagi dirinya kini kedapatan berdiri di depan nisan yang bertuliskan nama Dona.


"Dona Puteri Wijaya!" Seru Aditya


"Eemmmm hanya kerabat." Balas Dona lalu bergegas pergi meninggalkan Aditya.


Aditya mengikuti Dona dan berjalan dibelakangnya.


"Kenapa kau mengikutiku?"


"Aku kebetulan bertemu denganmu, jadi wajar saja aku mengikuti mu." Balas Aditya. "Oh ya mau aku antar pulang?"


"Tidak perlu, aku bisa naik ojek."


"Ayolah, kau tidak perlu membayar ongkos jika pulang denganku. Lagipula aku tidak akan macam-macam. Kalau kamu tetap nolak, aku akan ngikutin kemanapun kamu pergi."

__ADS_1


Aditya lalu berjalan mendahului Dona dan berdiri dihadapan Dona. Ia menatap Dona dengan wajah penuh harap. Dona pun akhirnya setuju untuk pulang bersama Aditya.


Dalam perjalanan pulang, Aditya mengajak Dona mampir di sebuah rumah makan untuk mengisi perut karena sudah keroncongan.


"Kenapa berhenti disini?" Tanya Dona.


"Mau makanlah. Masa mau renang."


"Aku tahu, tapi...."


"Sudahlah, ayo masuk. Tenang aja aku yang traktir. Makanan disini enak-enak jangan nolak." Aditya menarik tangan Dona untuk masuk ke dalam rumah makan.


Setelah mengobrol beberapa saat dengan Aditya, Dona menyadari bahwa Aditya orang yang menyenangkan dan bisa menjadi teman yang baik.


"Kamu tadi nyekar ke makam siapa?" Tanya Dona setelah selesai makan.


"Mama, Papa." Jawab Aditya singkat lalu meminum jus jambu yang ada dihadapannya. "Orang tua ku udah lama meninggal, pas aku masih kelas 1 SMP, karena kecelakaan."


"Maaf." Balas Dona.


"Kenapa minta maaf, kamu gak salah apa-apa."


"Takutnya buka luka lama kamu."


"Aku udah terbiasa. Sekarang aku tinggal dengan kakak aku yang udah berkeluarga. Cuma dia doang yang aku punya. Awalnya pengen hidup sendiri dengan ngekos, tapi ya gitu. Kakak aku protektif banget."


"Cowok?"


Aditya menggeleng, "cewek," balasnya.


Selesai makan siang, keduanya lalu pulang ke rumah. Aditya dan Dona sempat bertukar nomor telepon. Hal itu membuat Aditya merasa begitu bahagia. Apalagi ia bisa mengantar Dona ke rumahnya dan bertemu secara langsung dengan orang tua Dona.


"Awal yang sangat bagus. Setidaknya aku selangkah lebih depan dari ketiga orang lainnya." Ucap Aditya saat pulang ke rumahnya.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah juga yaa... 🥰


__ADS_2