
Di hari minggu pagi, Dona tengah menemani Bu Nir pergi ke pasar untuk berbelanja.
"Bu, tumben banget ngajak aku ke pasar. Biasanya juga sama Bapak." ucap Dona yang tengah fokus mengendarai motor maticnya melaju ke pasar.
"Ya, sekali-kali kamu harus ikut Ibu dong. Toko itu juga nantinya diwariskan ke kamu. Jadi kamu perlu lihat dimana Ibu ngambil barang, atau sekedar ke pasar buat beli sayur asem buat suami kamu nantinya. Apalagi sekarang kamu kan lagi libur. Lebih baik ikut Ibu, nyapa ikan-ikan sama ayam yang ada di pasar " balas Bu Nir.
"Ikan segala disapa..." ucap Dona cekikikan. "Lagian nih Bu, kalau aku nikah. Paling yang masak juga Adit. Dia kan jago masak, jadi aku gak perlu pusing-pusing mikirin menu masakan apalagi harus sampai ribet-ribet ke pasar."
"Biar bagaimanapun kamu itu perempuan, dan kamu lah yang jadi Ibu rumah tangga yang memang tugasnya untuk memasak, beres-beres rumah dan....."
Ciiittt......!!
Ucapan Bu Nir terhenti, karena Dona tiba-tiba berhenti karena lampu merah. Seorang anak kecil kemudian mendekati Dona dan memberikannya setangkai mawar dan sebuah kertas.
"Berapa Dek?" tanya Dona.
"Gak dijual Kak, ini khusus buat Kakak." ucap bocah perempuan yang mengenakan kaos bergambar kartun robot kucing itu.
Bocah itu kemudian segera berlari meninggalkan Dona yang tampak bingung. Ia lalu membaca isi kertas yang diberikan bocah tersebut.
'LIHAT PAPAN REKLAME'
Dahi Dona mengernyit, ia kemudian melihat ke arah papan reklame besar yang ada di seberang jalan di hadapannya.
Terdapat sebuah tulisan, 'I Love You Dona.... Will you marry me?'
"Orang iseng pasti nih, atau itu bukan ditujukan buat aku melainkan orang lain yang kebetulan aja namanya sama denganku." ucap Dona.
"Kenapa Nak?" tanya Bu Nir.
"Noh Bu, lihat papan reklame di depan sana, ada namaku." jawab Dona.
"Waaah siapa yang lamar kamu itu?"
"Gak tahu Bu. Salah orang kali." Balas Dona.
"Salah orang gimana coba. Noh lihat baik-baik, di pojokan ada foto kamu."
Dona kembali memicingkan matanya dan memang benar terlihat bahwa ada foto dirinya di pojok kiri bawah. Tak lama setelah itu, sebuah mobil remote kontrol berhenti di depan motor Dona yang memang berhenti tepat di depan zebra cross.
Diatas mobil remote control itu, terdapat sebuah boneka yang memegang tulisan 'FOLLOW ME'.
"Apaan sih ini?" Dona semakin bingung.
"Udah ikut aja." Ucap Bu Nir.
Orang-orang yang ikut berhenti di lampu merah hanya bisa menatap Dona tanpa berkomentar apapun.
"Ya udah ayo kita ikutin mobil mainan itu, siapa tau ada door prize buat kamu." bujuk Bu Nir.
"Door prize apaan sih Bu? Orang aku gak ngelakuin apa-apa. Salah orang kali Bu." Lagi-lagi Dona menganggap semua itu hanya prank saja.
"Udah, kesana aja. Siapa tau rezeki kamu. Kalaupun salah orang, kenapa disana bisa ada foto kamu?" tanya Bu Nir lagi.
"Iya sih, tapi kan....."
"Udah buruan, kita gak tau ada apa disana. Toh gak disuruh ke kuburan kan, ngapain takut." ucap Bu Nir lagi-lagi berusaha membujuk Dona.
"Tau darimana kita gak diajak ke kuburan? Gimana kalau mobil itu beneran menuntun kita ke kuburan?"
"Aduuuuhh, kamu itu kebanyakan bicara. Udah ayo ikut saja." Titah Bu Nir.
"Lah, tapi Ibu bukannya mau ke pasar?"
__ADS_1
"Urusan pasar bisa belakangan. Kita harus ikutin mainan itu dulu, siapa tau dapat durian runtuh."
"Kalau dapat durian runtuh sakit dong Bu."
"Udah, udah, jalan cepetan. Noh lampunya udah ijo. Sehijau daun pisang di kebun belakang rumahnya Mpok Siti." celetuk Bu Nir sambil tertawa.
Dona hanya menggeleng-geleng, namun tetap menuruti keinginan sang Ibu, meski sebenarnya ia merasa malas.
Mobil remote control itu menuntun Dona menuju sebuah taman kota yang memang jaraknya sangat dekat dari lampu merah tadi.
Tiba di parkiran taman, Dona disambut iring-iringan orang-orang yang mengenakan baju berwarna serba putih. Dona memarkirkan motornya, kemudian berjalan masuk bersama Bu Nir, dengan terus diikuti orang-orang yang mengenakan pakaian putih itu.
"Ini sebenarnya ada apa ya Bu?" tanya Dona bingung.
"Gak tau." jawab Bu Nir berusaha menahan tawa.
Ada banyak pengunjung yang datang berjalan lalu lalang di taman itu pagi ini. Saat Dona berada di tengah kerumunan orang, tiba-tiba beberapa orang mulai menari dihadapan Dona.
Seorang perempuan memegang tangan Dona dan memintanya duduk disebuah kursi yang memang sudah ada di taman.
Dona duduk dan diberi mahkota, lalu datang seorang anak kecil kembali memberikan Dona buket bunga mawar merah berukuran besar dan balon berbentuk hati.
Sebuah lagu romantis terdengar lantang di putar.
'Aku ingin.....
Mempersunting mu, tuk yang pertama dan terakhir...
Jangan kau tolak dan buatku hancur...
Ku tak akan mengulang tuk meminta....
Satu keyakinan hati ku ini...
Semua orang yang berpakaian serba putih tadi menari dengan pasangan mereka sesuai dengan iringan lagu yang terdengar. Para pengunjung menatap Dona yang semakin terlihat kebingungan.
Dona kemudian menyadari satu hal, bahwa ia sedang duduk sendiri. Dona tampak celingukan melihat kanan kiri, berusaha mencari dimana sosok ibunya.
Ditengah kebingungan, mata Dona menangkap sosok kedua orang tuanya, Pak Edi dan ibunya Bu Nir, berjalan beriringan dengan masing-masing membawa setangkai bunga mawar dan balon hati bertuliskan nama Dona. Kedua orang tuanya mendekati Naura dan memberikan bunga serta balon, seraya mencium pipi Dona.
"Pak, Bu, ini ada apa sih sebenarnya?" tanya Dona. "Aku kan lagi gak ulang tahun."
"Tunggu dan lihatlah sayang." jawab Bu Nir.
Seseorang kembali berjalan ke arah Dona. Kali ini ada sosok Raka yang membuat Dona merasa tidak percaya. Raka juga membawa balon dan bunga mawar merah, kemudian memberikannya kepada Dona lagi. Begitu dengan orang seterusnya, Kakek Aditya.
Dona dibuat semakin bingung karena adanya Kakek Aditya serta orang-orang terdekatnya yang berdiri dibelakangnya yang duduk di kursi.
Lagu romantis tadi akhirnya terhenti, kini yang terdengar musik dansa. Beberapa orang lelaki yang berperawakan sama mengenakan topeng menghampiri Dona. Mereka bergantian menghampiri Dona. Satu persatu lelaki itu memberikannya sebuah memo.
Dona membaca memo itu satu persatu.
'Dona aku mencintaimu.'
'Sejak pertama kali bertemu, aku sudah menyukaimu.'
'Aku tidak bisa berpisah lagi denganmu.'
'Aku mau mendampingi dirimu.'
'Aku mau cintai kekuranganmu.'
'Kamu mau kan menerima kekuranganku.'
__ADS_1
'Mau menerima aku jika nantinya kentut didepan kamu kan?'
Dona yang awalnya serius membaca memo itu seketika tersenyum membaca memo terakhir. Dona tak menyadari bahwa seseorang sudah berlutut dihadapannya dengan memegang sebuah kotak cincin dengan beludru berwarna merah.
Air mata Dona tumpah saat melihat sosok lelaki yang tengah berlutut dihadapannya adalah Pak Edi.
"Aditya...!" seru Naura.
"Aku tahu, aku punya banyak kekurangan. Tali, aku bisa katakan, jika kau menderita, aku sama menderitanya denganmu. Jika kau terluka, aku sama terlukanya denganmu. Kini, aku ingin membuatmu bahagia. Aku ingin selalu berada didekat mu. Tertawa, menangis, dan bahagia bersama. Aku akan selalu mencintaimu sepanjang hidupku. I love you Dona." ucap Aditya panjang lebar.
Kemudian ia membuka kotak kecil berbentuk hati yang dilapisi beludru warna merah menyala. Terdapat sebuah cincin dengan mata berlian besar.
"Di saksikan seluruh keluarga dan sahabat terdekat, Sabrina Dona Amelia, maukah kau menghabiskan seluruh sisa hidupmu menjadi isteri dari seorang Aditya yang tak sempurna ini? Maukah kau menikah denganku?" ucap Aditya.
Air mata Dona mengucur deras, begitu juga dengan Bu Nir. Ia sangat terharu melihat puterinya dilamar seorang lelaki yang amat sangat baik.
"Gimana? Apa aku harus berlutut lebih lama untuk mendapat jawaban 'ya' darimu?" tanya Aditya.
Dona tersenyum seraya mengusap air matanya, lalu mengangguk. "Iya." ucap Dona.
Sorak sorai terdengar riuh setelah Dona menjawab 'iya'.
Raut bahagia nampak dari semua orang. Terutama Raka yang memang tengah kembali untuk liburan. Aditya hampir saja memeluk Dona jika saja Pak Edi tidak menghalanginya.
"Sabar, sabar. Tunggulah sampai kalian halal." ucap Pak Edi.
Semua orang tertawa, kemudian Aditya menyematkan cincin ke jemari Dona menggantikan cincin yang lama, lalu mencium tangan itu lembut.
"Upps maaf Pak, saya kebablasan." ucap Aditya.
Pak Edi lalu memeluk Aditya bergantian dengan Dona.
"Bapak...." ucap Dona malu-malu.
Mereka semua lalu, pergi ke cafe Aditya dimana sudah terdapat makanan yang disediakan bak prasmanan acara pernikahan. Dona yang baru saja bertemu dengan Raka langsung mengambil langkah seribu untuk mengobrol dengan pria yang semakin terlihat matang itu.
"Ka, sejak kapan balik? Kok gak bilang-bilang." Ucap Dona.
"Ya kalau aku bilang-bilang kan gak jadi surprise lagi dong buat kamu."
Dona hanya bisa tersenyum. Keduanya lalu semakin asyik melanjutkan obrolan mereka ditemani Aditya yang akhirnya ikut duduk bersama keduanya setelah berbicara dengan sang Kakek.
"Kita nikahnya minggu depan." Ucap Aditya dengan santai.
"Haa!" Dona tampak sangat terkejut setelah mendengar ucapan dari Aditya.
"Kenapa? Kok kaget gitu. Belum siap?"
"Bukan gitu Dit. Tapi kok gak ada ngomong apa-apa gitu sama aku. Terus gimana dengan orang tua aku dan juga keluarga kamu?"
"Justru aku ngomong gini ke kamu karena mereka semua juga udah OK, dan deal atas pernikahan kita."
Dona melihat ke arah dimana kedua orang tuanya duduk bersama Kakek Aditya yang lalu tersenyum dan melambai ke arah Dona.
"Gimana menurut kamu Ka?" Tanya Dona pada Raka.
"Justru aku bela-belain pulang karena mau hadirin nikahan kalian." Jawab Raka santai.
'Yaah, kok gitu sih.'
Dona hanya bisa terdiam. Entah kenapa memikirkan kata pernikahan jantungnya jadi semakin berdegup kencang.
'Tolong aku Tuhan.'
__ADS_1
Bersambung.....