
"Menurut Philip Kotler, pengertian kepribadian adalah ciri bawaan dari psikologi manusia atau human psychological traits yang berbeda dan menghasilkan tanggapan yang relatif konsisten dan bisa bertahan lama dalam rangsangan lingkungan tertentu. Biasanya kepribadian digambarkan dalam karakteristik perilaku seperti kepercayaan diri, sosialisasi, dominasi, mempertahan diri, beradaptasi, otonomi, dan sifat yang agresif.
Itulah sebabnya kepribadian berkaitan dengan konsep diri yang merupakan inti dari kepribadian individu. Inti ini sangat berperan penting dalam mengarahkan dan menentukan perkembangan kepribadian dan perilaku positif seseorang. Dasar dari pemikiran konsep diri adalah apa yang dimiliki seseorang dapat memberi kontribusi dan jadi cerminan identitas mereka. Sehingga 'kami adalah apa yang menjadi milik kami'." Ucap Dosen yang tengah mengajar di kelas Dona.
Dona terlihat serius mencatat point-point yang dijelaskan sang Dosen.
"Itulah sebabnya untuk memahami tingkah laku konsumen, sebagai pemasar kita perlu memahami hubungan antara konsep diri konsumen dan kepemilikannya. Kepribadian ini kemudian berkaitan dengan adanya bentuk perbedaan karakteristik yang paling dalam dari diri seseorang atau disebut inner psychological manusia. Perbedaan fisik tersebut bisa menunjukan ciri- ciri unik yang dimiliki masing-masing individu sebagai makhluk sosial.
Bentuk perbedaan karakteristik tersebut bisa mempengaruhi respons seseorang pada lingkungannya atau stimulusnya secara konsisten. Jadi kepribadian menjadi salah satu kajian psikologi yang kemudian lahir karena pemikiran, kajian, dan temuan- temuan yang dilakukan para ahli, dimana objek kajiannya adalah human behavior. Akhirnya pembahasan perilaku manusia berhubungan dengan ada, mengapa, dan bagaimana perilaku individu tersebut." Lanjut sang Dosen. "Ada yang bisa menyimpulkan?"
Dona mengangkat tangan tinggi, lalu Dosen menunjuk dirinya.
"Kesimpulannya, kepribadian manusia dapat menunjukan sifat dalam diri atau kejiwaan yakni kualitas sifat pembawaan kemampuan yang dapat mempengaruhi individu dan perangai khususnya untuk membedakan satu individu dengan individu lainnya." Ujar Dona.
"Tepat sekali." Balas sang Dosen.
Perkuliahan berlanjut dengan pemberian tugas essay yang harus diselesaikan sekarang juga. Saat tengah serius mengerjakan tugasnya, tiba-tiba di depan ruang kelas Dona terdengar suara keributan.
"Ada apa sih?" Terdengar mahasiswa lainnya berbisik-bisik.
Dona memilih untuk fokus mengerjakan tugasnya hingga terdengar suara pintu kelasnya di buka paksa. Sosok yang sangat familiar melihat ke arah Dona penuh amarah.
"Hei kamu, keluar sekarang juga." Teriaknya menunjuk ke arah Dona yang memang duduk paling depan.
Semua mahasiswa yang ada di dalam kelas memandang Dona heran. Semuanya seolah bertanya-tanya, ada masalah apa antara Dona dan wanita paruh baya yang berdiri di pintu dengan tatapan garang itu.
Dosen kelas Dona mendekati wanita yang tak lain adalah Mama dari Gilang itu.
"Mohon maaf Bu, sekarang para mahasiswa sedang mengerjakan tugas. Jika anda mempunyai keperluan, harap menunggu di luar hingga jam perkuliahan usai."
"Berani-beraninya kamu bicara seperti itu sama saya. Kamu gak tahu siapa saya?" Teriak Mama Gilang.
"Saya tidak perduli jika anda ini isteri dari anggota DPR sekalipun. Anda yang telah membuat keributan, jadi...."
"Heh, kamu mau kehilangan pekerjaan kamu?"
Dona mendekati sang Dosen yang tengah berdiri berhadapan dengan Mam Gilang dengan membawa kertas jawabannya.
"Ini Pak, saya sudah selesai. Maaf sudah mengganggu ketenangan kelas. Saya izin keluar." Ucap Don sopan seraya menyerahkan kertas jawabannya.
Mama Gilang lalu keluar, disusul oleh Dona yang mengikutinya dari belakang.
Tepat di depan kelas, Mama Gilang berdiri dengan congkak menatap Dona dengan tatapan penuh amarah. Dona sendiri tidak menyadari apalagi yang telah dilakukannya hingga membuat Mama Gilang emosi.
"Kamu sudah saya peringatkan,...."
"Maaf Tante." Ucap Dona memotong ucapan Mama Gilang. "Sebelumnya saya mau minta maaf atas sikap saya waktu itu. Jika Tante datang untung membuat perhitungan karena sikap saya, tolong jangan bawa-bawa masalah itu ke kampus. Saya rasa Tante tidak perlu menemui saya lagi, toh hubungan saya dan Gilang sudah berakhir. Tidak ada yang perlu Tante khawatirkan lagi."
"Apa hak kamu memerintah saya? Sudah saya katakan untuk menjauhi Gilang. Apa kamu ini tidak punya malu?"
"Sekali lagi maaf Tante. Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, saya dan anak Tante sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi. Jadi Tante...."
"Dasar pembohong. Jika kalian tidak punya hubungan apa-apa, kenapa sampai Gilang menolak pertunangan yang kami adakan dan mengatakan di depan semua keluarga bahwa dia sudah melamar kamu."
"Me-melamar?"
"Jangan pura-pura bodoh kamu. Sebenarnya pelet apa yang sudah kamu pakai untuk menggoda Gilang sampai dia tergila-gila sama kamu. Bahkan kemarin dia meninggalkan rapat penting perusahaan demi pergi melihat kamu yang pura-pura sakit."
Dona memijit keningnya yang berkedut. Keributan yang dibuat Mama Gilang sudah memancing para mahasiswa lain untuk menjadikan keduanya tontonan. Termasuk juga Geng Beauty yang mengamati dari kejauhan.
"Sekali lagi, ini untuk yang terakhir kalinya saya peringatkan kamu untuk menjauhi Gilang. Jika kamu masih saja menjalin hubungan dengannya, jangan salahkan saya jika kamu tidak bisa berkuliah lagi disini. Bahkan saya pastikan, tidak akan ada kampus manapun yang akan menerima kamu sebagai mahasiswa. Ingat itu."
Mama Gilang lalu pergi meninggalkan Dona yang menjadi tontonan. Geng Beauty berjalan mendekati Dona.
"Kan gue udah bilang, gembel kayak lo sampai kapanpun gak bakal pernah bisa bersanding sama orang kaya seperti Gilang. Jadi kalau mimpi jangan ketinggian, kalau jatuh sakit kan rasanya." Ejek Ratu.
"Dasar gembel." Ucap Siska.
Dona terdiam, ia benar-benar berusaha sekuat mungkin untuk menahan amarahnya dengan mengatur pernapasannya.
'Sabar Dona, sabar....'
Hari ini Dona memang tidak membawa motor berangkat ke kampus karena motor yang biasa ia gunakan tengah mogok dan dibawa Pak Edi ke bengkel. Dona pun memutuskan untuk keluar dari kampus menggunakan ojol tanpa menunggu Aditya yang masih ada mata kuliah satu jam lagi.
Di tengah perjalanan, sebuah mobil menghentikan ojol yang ditumpangi Dona. Pintu mobil terbuka dan Gilang pun keluar dari dalam mobil. Alih-alih menghindar, kali ini Dona benar-benar ingin menyudahi hubungannya dengan Gilang. Setelah membayar ojol, Dona berjalan mendekati Gilang.
"Kamu mau bicara kan?" Tanya Dona.
Gilang mengangguk. Tanpa permisi Dona langsung masuk ke mobil Gilang.
"Pak, tolong antar kami ke taman terdekat." Ucap Dona.
Mobil melaju membelah jalanan hingga akhirnya tiba di sebuah taman yang berjarak hanya satu kilometer dari tempat keduanya bertemu tadi. Belum sempat keduanya mengobrol, hujan tiba-tiba turun dengan derasnya. Gilang dan Dona pun berteduh di sebuah halte yang berada di depan taman.
Suasana hening menyelimuti Dona dan Gilang yang tengah bertatapan dalam derasnya suara hujan.
"Aku mohon, menjauh lah." Ucap Dona.
Gilang tersenyum getir.
"Maaf, tapi untuk hal itu aku gak bisa." balas Gilang.
Dona kembali terdiam, pandangan matanya lurus ke depan. Memandang rintik hujan yang mulai sedikit mereda.
__ADS_1
Suara ponsel Dona berdering, tanda sebuah pesan masuk. Dengan cepat Dona membalas pesan tersebut.
"Don, sudah ku katakan padamu. Kalau aku tidak akan mundur, aku akan berusaha membuat orang tua aku merestui hubungan kita, aku serius mau menikahi kamu dan aku yakin, dari dalam lubuk hatimu yang terdalam, kau masih mencintaiku." Ucap Gilang.
"Percaya diri sekali kamu. Siapa yang bilang aku masih cinta sama kamu?"
"Gak denger ya. Atau perlu aku ulang lagi. Tadi kan udah jelas, kalau aku yang bilang bahwa kamu masih mencintaiku."
Dona menghela napas panjang.
"Gak, kamu salah paham. Aku udah gak cinta sama kamu."
"Yakin udaah gak cintaaa?" tanya Gilang dengan nada menggoda.
"Yakin, banget malah."
"Kalau gak cinta, kenapa coba masih pakai cincin yang pernah aku kasih dulu." ucap Gilang sambil melihat ke arah cincin yang melingkar di jari manis Dona.
Dona kelabakan.
"I-ini... i-ni...."
"Ini apa?" potong Gilang.
"Ini karena aku udah terbiasa pakainya, jadi lupa untuk membukanya." teriak Dona lalu berusaha membuka cincin yang dimaksud Gilang.
Dengan cepat Gilang menghalangi tangan Dona. Sontak posisi keduanya jadi begitu dekat.
Dada Dona menjadi bergemuruh, begitupun dengan Gilang. Keduanya berpandangan cukup lama, hingga Dona tersadar dan mengalihkan pandangannya.
Gilang lalu melepaskan pegangan tangannya.
"Maaf." ucap Gilang.
Dona hanya terdiam menunduk.
"Jangan lepasin, anggap itu tanda cinta kita." ucap Gilang.
"Maaf Lang, aku benar-benar gak bisa. Aku mohon sama kamu tinggalin aku. Lupain hubungan yang pernah terjadi antara kita. Dunia kita terlalu berbeda, kalaupun kita bisa bersatu, aku yakin orang tua kamu sampai kapanpun tidak akan pernah menerima aku. Dan aku gak mau menjalin hubungan yang tidak direstui seperti itu."
"Tapi Don...."
"Please Lang, stop. Sudah cukup aku mendapat penghinaan dari Mama kamu. Aku gak bisa lagi."
Gilang tak lagi membalas ucapan Dona, ia memilih diam hingga suasana menjadi hening.
Rintik hujan pun mulai mereda.
"Ayo, aku antar pulang." ucap Gilang seraya berdiri dari duduknya.
Dona mendekat ke arah motor itu dan langsung naik di jok belakang.
"Pakai jas hujan dulu." ucap si pengemudi seraya membuka kaca helm.
Gilang menatap lelaki itu dengan tajam.
'Aditya!' Gilang menjadi geram.
Dia mendekati keduanya.
"Don, ikut aku aja pakai mobil biar gak kehujanan." ucap Gilang menarik tangan Dona agar turun dari motor Aditya.
"Gak, aku mau pulang bareng Adit aja." balas Dona memegang pinggang Aditya.
Raut wajah Gilang berubah, cemburu menguasai hatinya.
"Ayoo, pulang bareng aku aja. Nanti kamu sakit kalau kena hujan."
"Aku bilang gak ya gak." balas Dona berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Gilang.
Gilang berusaha menarik Dona agar turun dari motor Aditya.
"Lepasin." ucap Dona.
Melihat wajah Dona yang mulai kesakitan karena genggaman Gilang yang cukup kuat, membuat Aditya bertindak dengan menepuk lengan Gilang.
"Mending lo lepasin aja tangannya Dona, kasian tuh dia kesakitan." ucap Aditya serius. "kalau lo emang cinta sama dia, seharusnya lo gak memaksakan kehendak lo. Pikirin apa yang buat dia nyaman. Jangan maksa."
Gilang refleks melepaskan pegangannya pada tangan Dona karena tersadar akan raut wajah Dona yang kesakitan.
"Maafin" ucap Gilang pada Dona karena merasa bersalah.
Dona terlihat marah, sambil mengelus-elus pergelangan tangannya yang memerah. Dia lalu melepas cincin yang setia bertengger di jari manisnya dan memberikannya pada Gilang.
"Kita jalan aja Dit." ucap Dona.
"Baik." jawab Aditya seraya memberikan helm pada Dona.
Motor besar itupun dinyalakan.
"Sorry Lang, Dona mau pulangnya sama gue. Gue jalan duluan." ucap Aditya pada Gilang.
Sementara Dona melihat ke arah lain, seolah tak mau menatap Gilang. Gilang hanya bisa mengangguk membalas ucapan Aditya.
__ADS_1
"Tolong jaga Dona, pastikan dia sampai rumah dengan selamat. Hati-hati di jalan." ucap Gilang menepuk pundak Aditya.
"Pasti." balas Aditya lalu motor pun berjalan meninggalkan Gilang yang terlihat sedih.
Sepanjang perjalanan Dona hanya terdiam, dengan posisinya yang memeluk erat Aditya. Dona menyandarkan kepalanya ke punggung Aditya.
"Kamu gak apa-apa?" tanya Aditya.
"Aku gak apa-apa kok Dit." jawab Dona.
"Hmmmm tadi kamu sama Gilang..."
"Udah gak usah ngomongin dia lagi." potong Dona.
"Tadi, aku denger di kampus kamu ribut sama Mama nya Gilang. Sebenarnya ada apa?"
"Aku juga gak ngerti Dit. Padahal hubungan aku dan Gilang udah berakhir, tapi Mama nya masih saja menggangguku. Bahkan tadi dia mengancam akan mengeluarkan aku dari kampus."
Aditya terdiam, dia sendiri tak tahu bagaimana caranya untuk membantu Dona. Sebuah ide gila terlintas dipikiran Aditya.
"Kita mampir ke cafe dulu ya, buat makan siang." Ajak Aditya.
"Oke." Balas Dona singkat.
Sepeda motor Aditya terparkir rapi di depan cafe miliknya. Setelah melepas mantel hujan, keduanya masuk dan langsung masuk ke dalam ruangan Aditya. Kali ini Aditya mengajak Dona makan di dalam ruangannya karena cafe tengah ramai pengunjung.
"Padahal lagi hujan, pengunjung malah lumayan ramai." Ucap Aditya.
"Kamu ngeluh atau...."
"Ya bersyukurlah Don. Cafe ramai pengunjung, masa iya aku ngeluh. Cuma heran aja, lagi hujan gini malah ramai."
Dona tersenyum lalu duduk di sofa yang tersedia di dalam ruangan Aditya.
"Tunggu bentar." Ucap Aditya lalu keluar ruangannya meninggalkan Dona.
Aditya kembali dengan seorang pelayan yang membawakan makanan untuk mereka.
Setelah selesai makan, Aditya secara tiba-tiba memegang tangan Dona.
"Aku tahu, ini bukan waktu yang tepat untuk mengatakan hal ini. Tapi hanya ini satu-satunya cara untuk buat Mama nya Gilang percaya kalau kamu dan Gilang udah putus."
"Apa?"
"Jadilah kekasihku."
"Hah!"
"Jujur aja, aku emang pengen banget nembak kamu. Tapi kali ini bukan waktu yang tepat." Aditya tersenyum. "Kita hanya perlu berpura-pura."
"Tapi Dit...."
"Don, sampai kapanpun Gilang akan tetap ngejar kamu. Dan otomatis orang tuanya akan selalu mengganggu kamu."
"Dit, aku gak mau main-main soal hubungan. Aku gak mau kamu terluka karena permainan ini. Aku...."
"Kamu mau lepas atau gak dari Gilang? Kalau kamu ragu, ya kamu seharusnya mendukung Gilang untuk mempertahankan hubungan kalian dan menghadapi semua rintangannya bersama."
"Gak gitu."
"Terus....."
"Aku cuma gak mau manfaatin kamu dengan bermain perasaan kayak gini."
Aditya mengusap kepala Dona dan mengacak rambutnya.
"Udah ya, gak usah mikir macem-macem. Aku sayang sama kamu, jadi aku akan lakuin apa aja untuk...."
Dona langsung memeluk Aditya.
"Dit, jujur aja. Aku juga sayang sama kamu, tapi aku gak bisa memberikan hubungan yang lebih dari persahabatan setidaknya untuk saat ini. Aku nyaman sama kamu, tapi aku benar-benar ingin Gilang hilang sepenuhnya dalam hati aku. Setelah itu aku akan bisa menyerahkan hati aku untuk kamu sepenuhnya."
"Aku akan sabar menunggu hingga hari itu datang." Balas Aditya.
************
Dona masuk ke dalam kamar, merebahkan diri di atas kasurnya yang empuk. Bayangan akan wajah Gilang yang terlihat sedih, terlintas dipikirannya. Dona lalu mengambil ponselnya, membuka aplikasi berwarna biru. Berselancar disana guna mencari hiburan atau berita-berita yang sedang update hari ini.
Sebuah notifikasi datang. Permintaan untuk berpacaran dengan akun bernama Aditya. Dona memejamkan matanya sesaat lalu menghembuskan nafas panjang. Setelah itu ia menekan tanda konfirmasi.
'Ini yang terbaik.'
Tak butuh waktu lama, sudah ada banyak like dan komentar yang hinggap di status itu.
[What? Kalian serius?] Komentar akun milik Ayu.
...[Gilang gimana?] Tanya akun milik Billy....
Berselang 5 menit kemudian, sebuah akun dengan nama Raka ikut berkomentar.
^^^[Finally, you did it Aditya. Congrats untuk kalian berdua, semoga lancar sampai pelaminan. For Gilang, don't be mad. Sebelum janur kuning melengkung, Dona berhak menentukan pilihannya.]^^^
Dona berdecak kesal membaca komentar yang di tulis Raka. Dengan santainya Raka menandai namanya dan juga Gilang beserta Aditya.
__ADS_1
'Siap-siap untuk dibully besok.' pikir Dona.
Bersambung.....