Pesona Sang Primadona

Pesona Sang Primadona
PSP 45: Tentang Perasaan


__ADS_3

Apa yang ada di dalam pikiran Dona tentang sosok pria tua bernama Herbowo nyatanya salah. Dona yang sejak dari kehidupannya yang terdahulu menganggap, bahwa pria yang bernama Herbowo itu adalah orang jahat hingga menyebabkan dirinya sampai meninggal dunia, faktanya adalah orang yang sebenarnya ingin menyelamatkan dirinya dari kejahatan yang dilakukan oleh kedua orang tuanya.


Fakta yang paling menyakitkan yang diketahui Dona selanjutnya adalah, kedua orang tuanya di kehidupannya yang terdahulu bukan merupakan orang tua kandungnya. Dona merupakan anak angkat yang diambil dari sebuah panti asuhan.


Semua fakta itu pada akhirnya diketahui Dona karena ia menemui Opa Herbowo secara langsung setelah makan siang bersama Gilang. Awalnya Dona tidak serta merta percaya begitu saja, ia masih berpikir bahwa Opa Herbowo berbohong padanya. Namun, kala Opa Herbowo memperlihatkan bukti berupa foto-foto masa muda Opa Herbowo bersama kedua orang tua angkat Dona di masa lalu. Selain itu, Opa Herbowo juga menunjukkan bukti-bukti lain berupa surat hutang piutang Pak Wijaya, sang Papa angkat Dona terhadap mafia.


Dona menunduk ia benar-benar tak habis pikir bahwa kenyataannya adalah benar-benar berbanding terbalik dengan apa yang dipercayainya.


"Oh ya yang buat Opa itu heran, Dona yang dulu itu kan anak dari panti asuhan. Lalu bagaimana bisa dia itu merupakan tante kamu?" Tanya Opa Herbowo.


Dona terdiam, tak pernah terbayangkan dipikirannya bahwa Opa Herbowo akan menanyakan hal tersebut.


'Aku harus jawab apa?'


"Pak Wijaya dan istrinya juga tidak punya sanak saudara. Jadi, kamu ini....."


"Tante Dona dan Ibu saya bersahabat baik. Jadi sudah seperti saudara sendiri. Itulah kenapa Ibu saya menamai saya Dona karena Ibu saya selalu mengingat tante Dona." Dona berusaha berbohong sebisanya.


Opa Herbowo menatap Dona dengan lekat. Pria tua itu terlihat tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Dona. Ia merasa bahwa Dona tengah menyembunyikan sesuatu.


"Oh ya, Opa tahu tidak alamat dari panti asuhan dimana tante Dona diadopsi?"


"Kalau itu Opa kurang tahu. Tapi seingat Opa panti itu berada di kawasan kota S, hanya saja dari yang dikatakan Pak Wijaya di masa lalu, panti itu sudah berpindah tempat karena tempat berdirinya bangunan panti merupakan tanah sengketa. Setelah itu Opa tidak tahu apa-apa lagi."


Dona menghela napas panjang.


'Sudahlah. Mungkin ini alasan Tuhan memberikanku kehidupan kedua. Agar aku bisa merasakan bagaimana rasanya memiliki orang tua kandung yang menyayangiku sepenuhnya.'


"Kamu gak apa-apa?" Tanya Gilang yang setia duduk di samping Dona mendengar pembicaraan gadis yang dicintainya itu bersama sang Opa.


Dona hanya tersenyum. Setelah itu ia pamit pulang dan diantar oleh Gilang dengan diikuti oleh pengawal yang membawa motor Dona di belakang mobil yang di kendarai Gilang.


Sepanjang perjalanan, Dona hanya bisa termenung. Merenungi semua yang telah terjadi padanya. Mengingat setiap kejadian di masa lalunya sejak ia kecil hingga peristiwa kecelakaan itu terjadi. Fakta bahwa dirinya bukan anak kandung Pak Wijaya membuatnya menyadari bahwa pantas saja kedua orang tua itu tidak menyayanginya sejak kecil. Kehidupannya memang terjamin oleh kemewahan, tapi pada kenyataannya kemewahan itu didapatkan dengan cara berhutang.


Ingatan Dona kembali pada perhiasan yang dijualnya untuk kehidupannya di masa kini. Perhiasan yang diberikan sang Oma, orang tua dari Pak Wijaya. Wanita tua yang selalu bersikap lembut pada Dona sejak kecil. Wanita tua yang selalu ada dikala Dona merasa sedih.


'Oma sudah pasti tahu bahwa aku ini bukan anak kandung mereka.'


Dona tiba di rumah, ia langsung menghambur di pelukan Bu Nir. Sementara Pak Edi hanya bisa menatap Dona penuh keheranan. Setelah memeluk Bu Nir, Dona beralih memeluk Pak Edi. Ia memeluk Pak Edi begitu erat seolah tak ingin melepaskannya.


"Kenapa Nak?" Tanya Bu Nir mengelus kepala Dona.


"Gak apa-apa. Dona cuma mau meluk aja." Balas Dona tersenyum.


Setelah mengantar Dona sampai rumah, Gilang langsung pamit tanpa menyapa Pak Edi atau Bu Nir lebih dulu. Ia masih memiliki urusan penting lainnya.


************


Dua minggu berikutnya, acara pernikahan Ayu dan Billy dilaksanakan setelah kedua orang tua Billy kembali dari luar negeri. Acara pernikahan keduanya berlangsung sederhana, hanya dihadiri oleh keluarga dan kerabat dekat saja termasuk para sahabat Ayu dan Billy.


Dona, Gilang dan Aditya duduk berdampingan, ketiganya menghadiri proses pernikahan Ayu dan Billy dengan dekorasi berwarna putih itu. Ayu dan Billy sebelumnya memang sudah menikah secara agama. Kali ini keduanya mengulang prosesi pernikahan mereka agar disahkan oleh negara.


Air mata Dona menetes kala melihat Ayu melakukan prosesi sungkeman pada kedua orang tuanya dengan terisak.


"Ssshhh gak usah terharu gitu, yang nikah itu Ayu bukan kita." Bisik Gilang.


Aditya menggelengkan kepalanya seraya memberikan sapu tangan yang diambilnya dari saku celananya kepada Dona.


"Awas make up mu luntur kalau menangis." Goda Aditya.


"Makasih." Ucap Dona.


Gilang menjadi dongkol karena melihat Dona yang memilih tersenyum ke arah Aditya. Sementara Aditya kembali fokus pada layar ponselnya, dimana memperlihatkan wajah Raka yang tengah melakukan panggilan video dengannya sejak tadi.


"Dimana Primadona kita? Aku mau lihat wajahnya yang tengah menangis. Apa hidungnya kembang kempis?" Ucap Raka.


Dona merebut ponsel Aditya lalu mengarahkan ke wajahnya.


"Ngomong apa kamu?" Ucap Dona. "Biar nangis begini hidung aku tetap mancung. Aku tetap cantik."


Raka terdengar tertawa, Gilang sontak mendekatkan kepalanya dengan kepala Dona.

__ADS_1


"Pokoknya lo harus pulang saat nikahan gue sama Dona." Ucap Gilang.


"Lo mau nikah sama Dona? Gue pikir Dona baka nikahnya sama si Adit."


Mendengar ucapan Raka, raut wajah Gilang berubah masam.


"Hahaha, aku belum ada pikiran untuk nikah. Mungkin kamu duluan deh Ka." Balas Dona.


"Kalau aku udah." Sahut Aditya. "Selama itu sama Dona gue kapan aja siap." Sambung Aditya sambil mengarahkan wajahnya ke ponselnya.


"Hahahaha, gue dukung lo Dit. Selama janur kuning belum melengkung, lo masih bisa rebut hati Dona." Ucap Raka.


"Sialan." Umpat Gilang. "Teman macam apa kalian berdua."


"Teman makan teman." Balas Raka diiringi tertawa renyah.


Acara pernikahan Ayu dan Billy akhirnya selesai. Dona berpesan pada Billy untuk selalu menjaga Ayu karena setelah ini Ayu akan mulai tinggal di rumah Billy.


"Bill, yang aku tahu selama ini Ayu itu selalu dimanjakan oleh kedua orang tuanya. Aku gak minta kamu manjain Ayu sebagaimana yang di lakukan kedua orang tuanya. Karena sebagai seorang isteri Ayu memang tidak boleh bersikap manja. Tapi, aku hanya minta kamu untuk jaga dia baik-baik. Sayangi dia, jangan pernah sakiti dia."


"Aduuh Don, kamu tuh udah kayak Mama nya Ayu aja. Malah pesan kamu lebih panjang dibanding apa yang dikatakan mertua aku." Protes Billy. "Kamu tenang aja. Aku akan selalu menyayangi Ayu dan menjaga dia dengan baik."


Ayu memeluk Dona dengan erat. Dengan statusnya yang baru, Ayu tentu tidak bisa bebas seperti biasanya untuk bertemu dengan Dona. Hal itu membuat hatinya sedikit sedih. Bagaimanapun terlepas dari hal itu, ia bahagia karena ketakutannya akan restu dari orang tua Billy akhirnya sirna dengan pernikahan yang sudah terlaksana. Nyatanya orang tua Billy mau menerimanya sebagai menantu mereka.


"Berbahagialah..." Ucap Dona pada Ayu.


"Aku juga akan terus mendoakan kebahagiaan kamu. Semoga kamu mendapatkan pria terbaik yang akan menjadi pasangan hidup kamu nantinya." Balas Ayu.


*****************


Hari demi hari berlalu berganti menjadi minggu ke minggu hinga bulan ke bulan. Tiga bulan sudah berlalu semenjak pernikahan Ayu, ia pun memutuskan untuk cuti kuliah karena fokus pada kehamilannya. Sementara Billy masih terus melanjutkan kuliahnya sembari bekerja dengan menjadi pengusaha.


Kehidupan Dona pun berjalan lancar, begitu juga dengan percintaan dan juga persahabatannya. Hari-harinya selalu dihiasi oleh dua orang lelaki yang sama-sama menyayanginya, Gilang dan Aditya. Dona memang mencintai Gilang, namun tak bisa juga dipungkiri bahwa ia merasa nyaman bersama Aditya. Bahkan ia sendiri terkadang merasa cemburu kala melihat Aditya dekat dengan perempuan lain.


Seperti halnya hari ini. Aditya tampak tengah duduk berdampingan dengan seorang wanita di kantin kampus. Keduanya tampak seperti tengah membahas sesuatu yang penting. Dona yang baru saja keluar kelas mencari Aditya di kelasnya dan tak mendapati keberadaanya. Dona berusaha menghubungi Aditya namun ponselnya tak bisa dihubungi.


"Dimana sih tuh anak." Ucap Dona sambil terus berjalan melewati lorong kampus.


"Hai, sorry ganggu. Kalian lihat Aditya gak?" Tanya Dona.


"Kalau gak salah tadi aku lihat dia lagi di kantin sama Gladys deh."


"Oh gitu. Oke, makasih ya." Dona lalu berjalan pergi.


'Gladys? Siapa ya?' pikir Dona.


Dona tiba di kantin, ia melihat sosok Aditya tengah tertawa bersama seorang perempuan yang terlihat tengah memegang ponsel milik Aditya. Dari jauh, Dona sudah mengetahui bahwa ponsel yang dipegang perempuan itu adalah milik Aditya karena case ponsel yang berwarna biru metalik itu adalah pemberian dari Dona.


Entah mengapa, Dona merasakan sakit di dadanya. Dona ingin pergi dan tak mendekati Aditya. Namun, isi hatinya berbeda dengan apa yang dilakukan tubuhnya. Dona justru berjalan mendekat ke arah tempat duduk Aditya. Ia berdiri tepat di depan meja Aditya dengan tatapan yang seolah terlihat seperti seorang gadis yang mendapati kekasihnya tengah berselingkuh dengan wanita lain.


Aditya menatap Dona, seketika tawanya terhenti. Wanita yang disampingnya pun berhenti tertawa dan menatap Dona.


"Don....."


"Oh, jadi ini alasannya hp kamu gak aktif aku telponin dari tadi. Dari tadi aku muter-muter nyariin kamu, gak tahunya kamu lagi pacaran." Dona merasa air matanya hendak keluar, ia segera mendongakkan kepalanya berusaha menahan air matanya. "Selamat ya Dit." Ucap Dona lalu pergi meninggalkan Aditya.


Dona berlarian menuju parkiran dan duduk diatas motornya. Air mata yang berusaha ditahannya sejak tadi jatuh begitu saja. Dengan cepat ia mengenakan helm nya dan menutupi wajahnya lalu menjalankan motornya keluar dari kampus berharap tak ada seorangpun yang melihatnya tengah menangis. Dari kejauhan Aditya terus berteriak memanggil namanya. Dona yang tak mendengar terus saja mengegas motornya menjauh dari kampus.


"Mata, kenapa kamu malah nangis sih." Ucap Dona. "Hai! Kenapa kamu juga harus ngerasa sakit. Aditya itu bukan pacar kamu, dia itu cuma sahabat gak lebih. Pacar kamu itu adalah Gilang. Ngapain kamu malah sedih lihat Aditya sama cewek lain." Dona terus saja mengomel sepanjang jalan dengan air matanya yang masih saja mengalir deras.


Dona dikagetkan oleh sosok Aditya yang menghentikannya dengan menyalip Dona dan menghadang laju motor Dona. Hampir saja motor keduanya bersentuhan jika Dona tidak segera mengerem mendadak.


"Apa-apaan sih kamu?" Teriak Dona kesal.


Aditya turun dari atas motornya lalu mendekati Dona.


"Kamu yang apa-apaan main pergi begitu saja." Aditya ikut berteriak dan berusaha membuka kaca helm penutup wajah Dona.


Dona menahan tangan Aditya agar tak membukanya. Ia tak mau Aditya melihat dirinya yang tengah menangis. Namun, Aditya akhirnya berhasil membuka kaca helm Dona. Aditya termenung, ia melihat mata dan hidung Dona memerah seperti baru saja menangis. Bahkan di mata Dona masih tersisa air mata yang masih menggenang.


"Ayo ikutin aku." Pinta Aditya dengan menaiki motornya lagi. "Awas aja kalau kamu gak ikut. Aku sumpahin kamu gak bakal nikah seumur hidup." Lanjut Aditya seraya menyalakan mesin motornya.

__ADS_1


Keduanya tiba di sebuah taman yang tidak begitu jauh dari tempat mereka berhenti tadi. Dona duduk di sebuah bangku taman, sementara Aditya tengah pergi membeli minuman di sebuah mini market yang letaknya persis berhadapan dengan taman itu. Tak lama Aditya kembali dengan membawa dua botol minuman, sebatang coklat berukuran besar dan satu pack kecil tissue.


"Nih buat kamu." Aditya menyodorkan semuanya pada Dona.


Dona hanya bisa diam, ia menerima botol minuman yang disodorkan Aditya dan meminumnya dengan pandangan yang lurus kedepan.


"Sekarang jelasin sama aku, kenapa tadi kamu lari gitu aja?" Tanya Aditya setelah Dona selesai meminum airnya.


"Aku gak tahu." Balas Dona singkat.


"Gak tahu gimana nya coba? Terus tadi, ngapain kamu nangis?"


"Gak tahu." Balas Dona lagi.


Aditya menghela nafas panjang.


"Don, aku sama Gladys gak ada hubungan apa-apa. Tadi kami hanya membahas tugas yang diberikan dosen. Masalah ponsel aku yang gak aktif mungkin karena emang jaringan di kantin lagi jelek. Lagian aku....."


"Ngapain kamu jelasin itu semua ke aku." Potong Dona.


"Karena aku pikir...."


"Aku gak peduli ya, kamu mau deket kek, pacaran kek, atau nikah sekalipun sama si Gladys itu. Aku cuma gak suka karena aku harus capek-capek keliling nyariin kamu dan gak tahunya kamu lagi ketawa-ketiwi sama cewek idaman kamu itu."


Aditya memandang wajah Dona dari samping. Dona sejak awal memang berbicara tanpa menatap Aditya. Aditya pun tersenyum.


"Apa kamu cemburu?"


Dona sontak menatap Aditya tajam.


"Siapa yang cemburu? Terserah kamu mau dekat sama siapapun, aku gak perduli. Yang jelas aku cuma gak suka kalau...."


"Ooh gitu. Ya udah, kalau gitu aku terima aja cintanya Gladys. Lagi pula sudah berulang kali dia bilang suka sama. Hanya saja aku...."


"Ya udah terima aja. Sana pergi... Ngapain kamu masih disini. Pergi ke Gladys mu itu." Teriak Dona mendorong tubuh Aditya.


Aditya pun bangun dari duduknya dan berjalan perlahan. Baru beberapa langkah Aditya berjalan, air mata Dona kembali mengucur deras.


"Air mata sialan." Umpat Dona.


Dari arah belakang, Aditya langsung memeluk Dona. Dona yang kaget hanya bisa mematung.


"Lain di mulut, lain di hati." Ejek Aditya.


Dona kembali menangis, Aditya lalu duduk disampingnya dan mendekap Dona di dadanya. Dona terisak, ia sesekali memukul dada Aditya.


"Maafin aku. Aku orangnya egois. Padahal aku udah pacaran sama Gilang dan kita berdua cuma sahabatan. Tapi gak tahu kenapa aku gak rela lihat kamu bareng orang lain. Aku benar-benar egois Dit. Maaf." Isak Dona.


Aditya tersenyum lalu mencium pucuk kepala Dona. Dona yang merasakan kepalanya dicium sontak membeku.


"Don, aku sayang sama kamu. Sejak awal sudah aku katakan, aku cuma cinta sama kamu. Meski aku tahu hati kamu sudah dimiliki oleh Gilang, tapi aku gak pernah mau mundur untuk perjuangin cinta aku. Aku tidak pernah menjelek-jelekkan Gilang dimata kamu hanya untuk mendapatkan hati kamu. Aku hanya bisa memberikan perhatian dan cinta aku melalui status persahabatan kita."


"Aku tahu." Balas Dona. "Tapi Dit, aku bingung dengan perasaan aku sendiri. Jujur, aku sayang sama kamu. Tapi, aku juga cinta sama Gilang. Aku....."


"Don, dengan menjadi sahabat kamu gini aja aku udah bahagia. Apalagi sekarang aku mendengar kata sayang dari kamu itu udah semakin membuat aku seperti melayang di udara Don."


Dona mencubit perut Aditya.


"Aawww... Aku serius." Aditya meringis. "Meski begitu, kamu gak usah ngerasa gak enak sama aku. Kita tetap sahabatan dan kamu bisa tetap jadi status pacaran dengan Gilang. Biarlah waktu yang menjawab pada akhirnya nanti kamu akan memilih berlabuh pada siapa." Ucap Aditya.


"Tapi Dit, ini gak adil buat kamu."


"Semuanya adil dalam perang dan cinta beb." Aditya mencubit hidung Dona.


"Apaan sih!"


Aditya kembali memeluk Dona dengan erat. Ia hanya ingin menunjukkan pada Dona, meski hanya berstatus sebagai seorang sahabat ia akan menunjukkan betapa ia mencintai Dona setulus hati tanpa harus memaksakan perasaan Dona.


'Dit, sumpah demi Tuhan. Kamu itu cowok paling keren yang pernah aku kenal.'


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2