Pesona Sang Primadona

Pesona Sang Primadona
PSP 46: Dihina


__ADS_3

Gedung HR Group berdiri dengan kokoh. Gedung yang mulai dipenuhi karyawan yang kembali ke ruangan masing-masing karena jam makan siang sudah usai. Para karyawan mulai kembali disibukkan dengan pekerjaan mereka yang sempat terhenti untuk mengisi perut.


Di dalam ruangan CEO, Gilang tengah duduk menghadap komputer dengan sesekali menyesap kopi hitam. Seseorang yang merupakan sekretaris Gilang masuk ke dalam ruangan untuk melapor.


"Permisi Pak..."


"Ada kabar apa?" Tanya Gilang tanpa melihat ke arah pria bernama Riko itu


Riko mengeluarkan sesuatu dari dalam jaketnya. Ia mengeluarkan amplop berwarna coklat dan menyerahkannya pada Gilang. Gilang lalu membuka amplop itu, matanya sontak terbelalak mendapati isi amplop ternyata gambar sang kekasih dengan pria lain tengah berpelukan.


"Aditya....." Gigi Gilang bergemerutuk, raut wajahnya tampak begitu kesal.


'Gak bisa dibiarin. Aku harus bertindak.'


"Pak...."


"Apa lagi?" Teriak Gilang pada Riko.


"Malam ini, Tuan dan Nyonya akan kembali."


"Aaahh, bagaimana aku bisa lupa." Gilang menyandar di kursinya. "Kalau begitu, kau siapkan tempat untukku malam ini makan malam dengan mereka."


"Baik." Jawab Riko singkat, lalu keluar dari ruangan Gilang.


Gilang kembali menyandar dan mulai memutar kursinya sambil menatap langit-langit ruangannya. Wajah Dona yang tengah tersenyum, tiba-tiba muncul dalam ingatannya. Gilang ikut tersenyum, kenangan demi kenangan yang ia lewati bersama Dona mulai terbayang.


"Gak. Gak bisa kayak gini terus."


Gilang sontak bangun dari duduknya kemudian keluar dari ruangannya. Saat berjalan melewati beberapa orang karyawan, semua karyawan itu menyapanya dan menunduk.


********************


Malam harinya.....


Gilang sejak sore hari sudah menjemput Dona di rumahnya. Tak lupa ia meminta izin pada Pak Edi dan Bu Nir untuk mengajak Dona makan malam. Setelah mendapat izin, Gilang langsung membawa Dona menuju sebuah salon.


"Katanya mau makan malam. Kenapa harus ke salon dulu?" Tanya Dona saat Gilang menggandengnya masuk ke dalam sebuah salon bernuansa pink itu.


"Makan malamnya spesial. Jadi kamu harus tampil dengan sangat cantik." Balas Gilang.


Setelah kurang lebih 2 jam di salon, Dona akhirnya sudah siap. Ia keluar dari ruang ganti dengan mengenakan dress berwarna peach. Rambutnya ditata sedemikian rupa, dengan make up flawless membuat Dona tampak sangat cantik dan anggun. Gilang bahkan terpesona akan pesona yang dipancarkan Dona.


"Sebenarnya makan malam apa sih ini? Kenapa harus pakai dress yang mewah begini?" Tanya Dona lagi.


"Kau tampak cantik." Gilang malah menjawab dengan jawaban yang tak sesuai dengan pertanyaan yang diajukan Dona. "Ayo jalan." Ajak Gilang dengan menggandeng tangan Dona.


Gilang dan Dona duduk di bangku belakang. Sepanjang perjalanan, tangan Gilang terus saja menggenggam erat tangan Dona. Sambil sesekali ia menciumi tangan Dona.


"Kamu kenapa?" Dona berusaha menarik tangannya.


"Biarkan aku menggenggam tanganmu. Agar aku yakin bahwa kau ini hanya milikku. Tidak boleh ada orang lain yang mendekatimu atau bahkan menyentuhmu sedikitpun." Gilang lalu mendekap Dona dan mencium pucuk kepalanya. "Aku tak ingin ada orang lain yang sedekat ini denganmu. Aku akan menghapus jejak yang ditinggalkan orang lain." Gilang berkali-kali menciumi kepala Dona.


'Apa dia sedang mengejekku?' pikir Dona. 'Atau jangan-jangan dia memang mengetahui semua yang terjadi antara aku dan Aditya tadi?'


"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Gilang.


"Gak ada." Balas Dona singkat.


Mobil Gilang berhenti di depan restoran mewah. Restoran yang dibangun dengan konsep terbaru ala Eropa dengan sentuhan modern. Saat masuk, Dona begitu terkesan, karena restorannya begitu berkelas dengan paduan industrial di beberapa sudutnya. Interior dari restorannya sangat kental dengan suasana Eropa, dengan furniture kayu yang disusun secara cantik, lampu gantung chandilier mini yang bergantung di setiap meja. Hingga suasananya yang sedikit temaram membuat makan malam di restauran ini seperti layaknya makan malam di Perancis. Tak cuma interiornya yang memukau, bagian outdoor-nya akan mengingatkan pada nuansa kafe ala Eropa.


"Indah banget...." Ucap Dona.


Gilang tersenyum dan menggandeng tangan Dona menuju meja yang sudah di booking nya. Saat tiba, Dona terkejut karena mendapati sepasang pria dan wanita paruh baya namun terlihat begitu berkelas dan sangat elegan.


"Malam Mah, Pah." Sapa Gilang.


Dona langsung menatap Gilang yang memeluk satu persatu orang yang ada dihadapannya.


'Apa mereka orang tuanya Gilang? Ah, bagaimana ini?'


Dona mulai gugup, Gilang benar-benar memberikan kejutan yang tak pernah disangka-disangka Dona. Wanita yang dipanggil Mama oleh Gilang menatap Dona dengan tajam. Ia mulai melihat tubuh Dona dari unung kaki hingga ujung kepalanya. Begitu juga dengan pria disampingnya, yang tak lain adalah Papa Gilang.


"Oh ya. Mah, Pah, kenalin ini Dona. Pacar aku." Gilang memegang pundak Dona dan mengajaknya berjalan mendekat ke arah kedua orang tuanya.

__ADS_1


Dengan sopan Dona menyalami kedua orang tua Gilang. Namun, satu hal yang ditangkap Dona dari raut wajah kedua orang tua Gilang. Mereka terlihat tidak menyukai dirinya. Dona pun menghela nafas panjang.


'Aku hanya perlu bersikap sopan dan apa adanya saja.'


Gilang dan Dona duduk berdampingan, berhadapan dengan kedua orang tuanya. Tak butuh waktu lama, para pelayan datang dengan menyajikan makanan khas Jepang yang difusion dengan makanan Korea.


Setelah itu, seorang wanita berpakaian chef datang dan menyapa mereka secara khusus.


"Selamat malam Tuan-Tuan, dan Nyonya. Saya Chef Akira. Selamat menikmati hidangan yang disajikan." Ucap Chef Akira ramah setelah itu langsung undur diri.


Mereka lalu mulai menikmati makanan yang disajikan. Sesekali Mama Gilang melirik ke arah Dona dengan tatapan yang dinilai Dona merendahkan.


"Oh ya Dona. Apa kamu tahu, kreativitas dari Chef Akira sendiri lah dalam mengolah setiap menu di restauran ini membuat restoran ini memiliki banyak penggemar walaupun memiliki harga yang.... sangat mahal." Ucap Mama Gilang sambil melihat kearah Dona.


"Mmmm kalau boleh saya bilang, steak ayam yang dijual di rumah makan pinggiran juga tak kalah enak dengan yang steak ini." Balas Dona.


"Cih!" Seru Mama Gilang.


"Apa pekerjaan kamu?" Kali ini Papa Gilang yang bertanya.


"Saya masih kuliah Om. Jurusan psikologi."


"Psikologi? Memangnya kamu mau merawat orang depresi atau orang yang sudah gila?" Balas Mama Gilang.


"Mah!" Seru Gilang.


"Kenapa? Kenyataannya psikiater kan pekerjaannya memang membantu orang yang sedang depresi." Mama Gilang lagi-lagi memandang Dona rendah. "Oh ya, orang tua kamu, apa pekerjaannya?"


"Anu.... Itu. Orang tuanya Dona pebisnis Mah. Mereka...."


Dona mencubit paha Gilang membuat Gilang meringis.


"Bisnis apa?"


"Ekspor tekstil Mah."


Lagi-lagi Dona mencubit paha Gilang, kali ini lebih keras.


"Aaauuwww...."


"Eng-gak apa-apa Pa."


Dona melotot ke arah Gilang. Ia tak suka karena Gilang harus berbohong pada orang tuanya.


"Orang tua kamu...."


"Maaf Om, Tante." Dona menyela ucapan Mama Gilang. "Orang tua saya hanya mempunyai toko kelontong yang menjual sembako di depan rumah. Mereka bukan pebisnis besar seperti yang dikatakan Gilang."


Gilang mengusap dahinya dan menatap Dona.


"Don...."


"Lang please. Aku gak mau kamu berbohong sama orang tua kamu tentang latar belakang keluarga aku." Ucap Dona.


Papa dan Mama Gilang saling menatap lalu beralih menatap Gilang dengan tatapan amarah. Keduanya berhenti makan dan meminum air mereka. Begitu juga dengan Gilang dan Dona.


"Lang, Mama gak nyangka kamu menolak perjodohan kamu dengan Audy demi wanita yang tidak setara dengan kamu ini."


"Mah please...."


"Gilang, Mama kamu benar. Papa pikir kamu menolak perjodohan itu karena kamu sudah menyukai wanita yang jauh lebih baik dari Audy atau setidaknya berasal dari keluarga terpandang seperti kita. Nyatanya selera kamu..... Hmmmm tidak pantas sama sekali menyandang status sebagai menantu keluarga Herbowo."


Dona masih diam, ia masih berusaha menahan amarahnya.


"Mah, Pah. Aku cinta sama Dona. Aku gak pernah mandang dia karena statusnya. Aku menyukai pribadinya, apa itu salah?"


"Tentu saja salah." Balas sang Mama. "Apa kamu tidak memikirkan apa yang akan dikatakan kolega Mama dan Papa karena mendapat menantu dari keluarga biasa. Pokoknya Mama mau kamu putusin dia, karena Mama tidak akan pernah setuju untuk punya menantu seperti dia."


"Mah...."


"Cukup!" Teriak Dona seraya menggebrak meja. "Om, Tante. Terima kasih atas makan malamnya. Saya permisi." Dona berbalik dan hendak melangkah pergi, namun Gilang menghalanginya. "Lepasin Lang." Dona menatap Gilang penuh amarah.


"Gak." Balas Gilang. "Mama dan Papa dengerin aku. Aku gak akan pernah putus dari Dona. Aku hanya akan menikahi Dona."

__ADS_1


"Gilaaang." Teriak sang Papa. "Kamu sudah gila ya?"


"Iya. Aku memang sudah gila. Aku mencintai Dona."


"Apa yang kamu lihat dari wanita itu?" Teriak sang Mama. "Lihat saja, meski mengenakan pakaian dan perhiasan mewah. Tapi dia tetap saja terlihat seperti wanita rendahan. Tak ada pantas-pantasnya bersanding denganmu." Kali ini pandangan Mama Gilang beralih pada Dona. "Eehh kamu, sebenarnya apa yang sudah kamu lakukan pada anak saya sampai dia tergila-gila sama kamu. Apa yang kamu inginkan? Kamu pasti hanya menginginkan uang. Orang tuamu pasti mengajarkanmu untuk menggoda pria kaya kan?"


Wajah Dona mulai memerah, ia tak bisa lagi menahan amarahnya. Dona menghempaskan tangan Gilang dan mulai menunjuk Mama Gilang dengan jari telunjuknya.


"Denger ya Tante yang kaya. Saya tidak pernah sekalipun menggoda anak anda. Dia sendiri yang tergila-gila pada saya sejak masih SMA. Jangan pernah bawa-bawa nama orang tua saya. Silahkan anda menghina saya, tapi tidak dengan orang tua saya." Dona mulai membuka satu persatu perhiasan yang ia kenakan lalu menghempaskan nya di dada Gilang. "Aku kembalikan semuanya. Dengerin apa yang dikatakan orang tua kamu. Mulai hari ini kita putus." Dona lalu berjalan meninggalkan Gilang.


"Donaaa...."


Saat hendak berlari mengejar Dona, tangan Gilang ditarik sang Mama. Sementara Dona sudah berjalan cepat keluar dari restoran. Ia berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh karena akan menjadi perhatian orang-orang nantinya. Dona sempat mengambil ponsel dari dalam tasnya dan menghubungi Aditya agar bisa menjemputnya.


Dona berjalan keluar dari pelataran parkir restoran menyusuri trotoar yang masih ramai dilalui oleh orang-orang yang berlalu lalang karena memang malam ini adalah malam minggu. Dona duduk di sebuah halte menunggu kedatangan Aditya. Setelah sepuluh menit menunggu Aditya tiba di halte dan segera turun dari motornya dan mendekap Dona yang memang tengah menangis.


"Ada apa?" Tanya Aditya.


"Bawa aku pergi dari sini dulu." Isak Dona.


Aditya menggandeng Dona lalu mengajaknya naik ke atas motor setelah itu lalu pergi dari depan halte dan membawa Dona menuju cafe miliknya. Cafe Aditya memang letaknya tidak terlalu jauh dari lokasi restoran tempat Dona dan Gilang makan malam.


"Sekarang jelasin apa yang terjadi." Ucap Aditya setelah memberikan Dona air putih. "Kamu dari mana dengan pakaian seperti ini?"


Dona menghela nafas panjang.


"Aku lapar." Balas Dona santai.


Aditya menggeleng lalu mengusap kepala Dona sampai membuatnya rambutnya berantakan. Aditya lalu berjalan ke arah dapur dan menyiapkan makanan kesukaan Dona. Tak perlu menunggu waktu lama, Aditya kembali dengan membawa beberapa menu berupa dua buah rice bowl, udang tepung, dan ayam bakar dan dua gelas minuman.


"Banyak banget." Ucap Dona saat Aditya menata makanan diatas meja.


"Aku juga belum makan." Balasnya. "Tadi waktu kamu nelpon itu aku baru aja mau makan, ya gak jadi karena harus jemput kamu dulu." Lanjut Aditya lalu duduk disamping Dona.


Aditya menggeser tempat duduknya agar berdampingan dengan Dona. Keduanya pun mulai makan dengan lahap, terutama Dona. Saat makan malam bersama Gilang tadi, ia belum sempat makan banyak karena ada drama tadi. Saat mengingat kejadian itu, wajah Dona langsung berubah. Ia makan dengan sangat cepat hingga membuatnya hampir tersedak. Dengan sigap Aditya memberikannya minum dan menepuk punggungnya lembut.


"Pelan-pelan aja kenapa sih. Kalau kamu takut aku habisin, tenang aja. Entar aku ambilin yang lain."


Dona meneguk air dengan cepat lalu tersenyum ke arah Aditya.


"Hehehe sorry. Habis aku laper banget." Balas Dona kemudian kembali mengunyah.


"Kalau gitu, sekarang jelasin apa yang sebenarnya terjadi sama kamu?"


Dona terus saja mengunyah hingga makanan di meja tak tersisa, bahkan tidak ada yang disisakan Dona untuk Aditya hanya rice bowl yang ada dihadapannya saja.


"Tadi aku diajak dinner sama Gilang. Eehh gak taunya malah ada orang tuanya." Raut wajah Dona begitu kesal saat menceritakan semuanya pada Aditya.


"Terus?"


"Ya orang tuanya hina aku."


"Maksud kamu?" Tanya Aditya.


Dona mulai menceritakan semua hal yang dikatakan orang tua Gilang padanya. Bahkan Dona kembali terlihat menahan air matanya agar tidak jatuh. Aditya yang mendengar cerita Dona ikut sakit hati. Apalagi saat melihat mata wanita yang dicintainya itu berair.


"Dari pada ribet, aku putusin aja Gilang didepan orang tuanya." Ucap Dona.


"Apa!" Seru Aditya kaget. "Maksudnya kamu putus gitu dari Gilang?"


Dona mengangguk lalu mulai mencicipi dessert yang baru saja diantar oleh pelayan cafe Aditya berupa stroberi cheese cake.


Aditya menatap Dona penuh cinta. Ia tak tahu harus bersikap bagaimana. Sejujurnya ada rasa bahagia yang dirasakannya karena Dona akhirnya putus dengan Gilang, yang artinya dirinya memiliki kesempatan untuk menjadi orang yang dicintai Dona. Tapi disisi lain, ia juga sedih karena melihat Dona harus putus dengan cara seperti itu.


'Don, jujur. Aku gak tahu harus ngomong apa. Aku sedih lihat kamu sedih, tapi aku juga bahagia karena kamu putus dengan Gilang. Itu artinya aku punya kesempatan untuk menjadikan kamu milik aku seutuhnya....'


"Dit.... Halo.... Adityaaa...." Dona mengibaskan tangannya di depan wajah Aditya.


"Eh... Iya, kenapa?"


"Aku boleh habisin punya kamu juga gak?" Tanya Dona menunjuk dessert yang ada dihadapan Aditya.


"Ambil aja. Apa sih yang gak buat kamu. Kamu minta hati, aku akan kasih kamu jantung aku. Semua milikku untukmu...."

__ADS_1


"Gombal."


Bersambung....


__ADS_2