
"Aditya!" Seru Dona terkejut.
Aditya yang tiba-tiba muncul dibelakangnya membuat Dona refleks memutuskan panggilannya dengan Ayu.
"Lah, kok main dimatiin gitu aja." Gerutu Ayu. "Huh dasar, mentang-mentang lagi sama Adit." Lanjutnya.
Dona hanya bisa menunduk saat Aditya yang duduk dihadapannya terus saja menatapnya. Dona bahkan rasanya tidak bisa bebas bergerak karena pandangan Aditya yang begitu tajam.
"Udah dong, gak usah lihat aku begitu banget." Protes Dona.
"Aku suka lihat kamu yang salah tingkah." Balas Aditya.
"Aku gak salting."
"Terus?"
"Gak ada." Dona berusaha membalas tatapan Aditya meski sebenarnya ia masih malu.
Aditya tertawa. Ia lalu memegang tangan Dona yang memang sedang berada diatas meja. Aditya menatap Dona dalam-dalam.
"Don, kali ini please. Biarin aku jaga kamu. Aku ingin menikahi mu, karena aku sangat mencintai kamu."
Dona menarik tangannya.
"Dit, aku ngerasa gak pantas buat kamu. Kamu masih bisa dapat yang jauh lebih baik dan lebih layak untuk kamu cintai."
"Don, sudah berulang kali aku katakan, kalau aku gak perduli dengan apa yang sudah terjadi sama kamu. Aku mencintai kamu, bukan selaput dara kamu." Aditya mulai terlihat kesal.
Sudah sering kali ia katakan pada Dona bahwa ia tak pernah mempermasalahkan kesucian Dona. Namun, Dona tetap merasa tidak percaya diri.
"Tapi Dit, setiap wanita baik itu pasti menjaga kesuciannya, dan hal itu sudah jadi prioritas utama buat cewek Dit. Jika setiap cewek mengerti makna yang tepat dari sebuah kesucian dirinya. Maka tidak akan ada yang meremehkan makna kesucian itu sendiri. Jadi, buat aku itu sangat penting." Ucap Dona sungguh-sungguh.
"Terus, kamu maunya gimana? Apa kamu mau berlarut-larut dalam penyesalan dan tidak bisa bangkit dari rasa bersalah akibat kehilangan kesucian yang memang sebenarnya bukan salah kamu? Aku pikir kamu calon psikiater yang handal. Nyatanya sikap kamu ini, menandakan kamu perlu menguasai skill move on." Cecar Aditya.
"Dit, kamu itu pria baik. Aku hanya merasa gak pantas buat kamu." Lagi-lagi Dona mengatakan hal yang sama pada Aditya.
Aditya menghela nafas panjang, ia menggeser kursinya agar lebih dekat dengan Dona.
"Don, yang perlu kamu ingat adalah, kehilangan kesucian bukan berarti kamu tidak berhak mendapat dan memilih pria terbaik. Di luaran sana, masih banyak pria lainnya yang aku yakin tidak mempermasalahkan masalah kesucian dari pasangannya. Apalagi dalam kasus kamu ini, kamu gak sengaja. Dan adanya pria yang tidak mempermasalahkan keperawanan bukan artinya kamu tidak menjaga sikap, ketaatan dan tidak punya aturan dalam berinteraksi. Tetap jadi Dona yang seperti biasa, jangan minder, dan jangan sampai kejadian buruk yang menimpa kamu malah membuat kamu depresi. Bagaimana mau jadi psikiater handal, jika kamu tidak bisa berdamai dengan masalah kamu sendiri."
"Aku sudah berusaha berdamai Dit. Tapi tetap saja aku memikirkan bagaimana perasaan kamu jika nantinya akan ada orang yang menggunjing kamu karena menikah dengan aku."
"Maksud kamu, Gilang?" Tanya Aditya. "Kamu takut Gilang akan menggunjing aku?"
Dona terdiam. Sebenarnya ia memang memikirkan hal itu. Mengingat bahwa Gilang adalah orang yang tak kenal menyerah sebelum apa yang diinginkan didapatkan, meski dengan cara yang salah sekalipun. Dona takut jika nantinya ia menikah dengan Aditya, Gilang akan terus mengganggu dan mengejek Aditya karena menikahi wanita yang sudah pernah tidur dengannya.
Aditya memegang pucuk kepala Dona dan mengelusnya dengan lembut.
"Tidak peduli apapun masa lalu kamu, jodoh sejati adalah akibat dari sikap baik yang kamu lakukan selama ini." Ucap Aditya.
"Apa aku ini sudah layak dikatakan sebagai orang baik?" Tanya Dona.
"Tentu saja baik. Sekarang aku mau tanya sama kamu. Setelah kejadian itu, kamu memilih akan jadi wanita yang seperti apa?"
Dona bingung, ia tak tahu harus menjawab apa. Sejak kejadian yang dianggap Dona menjijikkan itu, Dona memang benar-benar tak punya lagi angan-angan akan menatap masa depannya."
"Coba perhatikan lagi, apakah kamu masih merasa jijik dengan dirimu karena kejadian itu? Atau kamu sudah bisa menerima dan bangkit memulai lembaran baru yang bisa jadi penuh harapan dan kebahagiaan yang luar biasa?" Tanya Aditya lagi. "Jika kamu sendiri masih belum nyaman, masih merasa jijik dan bahkan menghindari membahas masalah itu, maka mendapatkan jodoh sejati adalah hal yang luar biasa sulit buat kamu. Aku harap kamu gak kebanyakan nonton drama korea yang ceritanya selalu ada pria tampan yang ujung-ujungnya jatuh cinta pada wanita rapuh nan insecure. Please Don, ini dunia nyata! Banguuun!! Aku merindukan Dona-ku yang dulu. Dona yang selalu bersemangat, dan ceria. Lupakan semuanya, pegang tanganku dan kita lewati hari-hari esok bersama."
Air mata Dona mengucur deras, ia merangkul Aditya dan terisak dalam pelukannya. Para pengunjung yang melihat mereka berdua, sontak riuh. Mengira bahwa si pria tengah melamar kekasihnya dan diterima. Aditya mengusap air mata Dona lalu mencium keningnya. Cincin yang pernah dikembalikan Dona waktu itu kembali disematkan Aditya pada jari manis Dona.
"Jangan pernah lepaskan lagi." Titah Aditya.
Dona mengangguk dan kembali memeluk Aditya. Para pengunjung bersorak melihat keduanya yang saling berpelukan meluapkan cinta mereka.
__ADS_1
"Malam ini, aku akan mengantarmu pulang. Aku akan menjelaskan semuanya pada Pak Edi."
Dona lagi-lagi mengangguk. Ia begitu bersyukur karena bisa dicintai oleh Aditya. Sosok pria yang tak perduli dengan statusnya yang sudah tak suci lagi.
'Aku mencintai kamu, bukan selaput dara mu.'
Kata-kata Aditya terus terngiang ditelinga Dona dan menjadi penguat bagi dirinya untuk terus semangat dan move on dari kejadian pahit yang ia alami.
Pukul 7 malam, Aditya mengantar Dona pulang. Motor yang dibawa Dona tadi pagi, sudah diantar lebih dulu oleh karyawan yang bekerja di cafe. Sebelumnya Pak Edi dan Bu Nir bertanya pada pria yang mengantar motor Dona tentang keberadaan Dona.
"Kamu siapa ya? Dona nya mana?" Tanya Pak Edi yang terlihat khawatir.
Ia berpikir bahwa Dona sudah mengalami kecelakaan atau yang lebih buruknya pergi dari rumah, hingga orang lain yang mengantarkan motor Dona ke rumah.
"Saya Beni, Pak. Salah satu karyawan di cafe nya Pak Aditya."
"Aditya?" Ucap Bu Nir.
"Benar Bu. Tadi saya diperintahkan Pak Aditya untuk mengantarkan motor ini lebih dulu kemari. Nanti Pak Aditya sendiri yang akan mengantar Nona Dona pulang."
Pak Edi dan Bu Nir hanya bisa saling pandang.
Dona dan Aditya berjalan beriringan, sambil berpegangan tangan. Keduanya masuk ke ruang tamu dimana Pak Edi dan Bu Nir memang sudah menunggu keduanya. Baik Pak Edi dan Bu Nir, keduanya sama-sama terkejut melihat Aditya datang dengan bergandengan bersama Dona.
"Ada apalagi ini?" Tanya Pak Edi tanpa basa basi.
"Saya akan jelaskan Pak." Jawab Aditya dengan duduk berdampingan dengan Dona.
"Dona, kamu mau mempermainkan Bapak dan Ibu lagi?" Bentak Pak Edi. "Pertama kali, kamu bilang akan menikah dengan Aditya, lalu 2 hari yang lalu Gilang datang dan mengatakan kalian akan menikah karena kamu hamil. Sekarang kenapa malah datang dengan Aditya lagi? Sebenarnya kamu itu kenapa Nak?"
"Begini Pak."
Aditya mulai menjelaskan bagaimana semuanya terjadi, dan dia berjanji akan mengungkap semuanya dan berjanji akan menjerumuskan Gilang ke dalam penjara
"Jika Bapak dan Ibu setuju, saya akan menyelidiki semuanya sampai tuntas dan akan menempuh jalur hukum supaya Gilang dapat di penjara untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya." Ucap Aditya berapi-api.
"Kalau Ibu lebih baik tidak usah diperpanjang." Ucap Bu Nir.
"Loh, Ibu ini kenapa? Bukannya membela anak sendiri. Malah minta untuk tidak dilanjutkan kasusnya."
"Masalahnya Gilang itu orang berduit Pak. Dia bisa menyewa pengacara mahal dan menuntut balik kita. Dan lagi pula, kasus ini sudah pasti akan mempermalukan Dona jika sampai diketahui media Pak. Dona akan dikenal sebagai gadis yang diperkaos." Ucap Bu Nir.
Pak Edi mangut-mangut. Dengan keberanian penuh Aditya kembali meminta izin untuk menikahi Dona. Baik Bu Nir dan Pak Edi, keduanya sama-sama memancarkan raut bahagia di wajah mereka.
"Pak, Bu. Sekali lagi saya ingin meminta izin pada Bapak dan Ibu untuk menjadikan Dona sebagai isteri saya. Dab saya berjanji untuk selalu membuatnya bahagia. Saya tidak akan meninggalkannya sendirian, apalagi kala ia mendapat duka."
"Bapak dengan senang hati menerima lamaran kamu. Jika kamu memang serius, segeralah bawa anggota keluarga kamu datang kemari dan melamar Dona secara resmi."
"Tentu saja Pak." Jawab Aditya.
Setelah itu, Aditya pun pamit. Meninggalkan Dona dan kedua orang tuanya yang masih duduk di ruang tamu.
"Segeralah menikah. Agar kalian terhindar dari orang-orang yang ingin merusak hubungan kalian." Ucap Pak Edi lalu keluar rumah menuju toko miliknya.
Bu Nir mengelus pucuk kepala puterinya. Dona lalu merebahkan kepalanya di bahu Bu Nir.
"Ibu senang kamu akhirnya bisa kembali pada Aditya. Aditya itu lelaki yang baik. Buktinya dia mau menerima kamu, mengingat kondisi yang telah menimpa kamu."
"Adit memang baik Bu, baik banget malah. Aku sudah menceritakan semua yang terjadi padanya dan dia dengan begitu mudah mengatakan menerima aku apa adanya."
"Don, perlu kamu ingat, jangan sekali-kali menceritakan masa lalu kamu sembarangan pada hubungan yang tidak tepat. Tapi, kamu hanya boleh menceritakan hal ini hanya pada pria yang sudah sampai tingkat menuju komitmen denganmu. Dan kamu sudah tepat dengan menceritakan semua ya pada Aditya." Ucap Bu Nir. Adit menerima kamu apa adanya, itu berarti kabar baik. Kamu bertemu dengan pria yang tidak menilai kamu hanya berdasarkan masa lalu. Andaikan Aditya tidak menerima? Itupun kabar baik karena kamu tidak perlu menikahi pria yang salah, yang tidak bisa melihat perbaikan dari seseorang. Bayangkan kalau kalian jadi menikah dan ternyata Aditya sering mengungkit-ungkit masa lalu."
Dona memeluk sang Ibu, pelukan yang diberikan sang Ibu menjadi penguat bagi dirinya.
__ADS_1
'Terima kasih Bu.'
************
Di kediaman Ayu....
Ayu yang mendapatkan kabar dari Dona bahwa hubungannya dengan Aditya kembali membaik merasa begitu senang. Ia memutuskan untuk memberitahu sang suami yang baru saja pulang kerja dan kini berada di teras samping rumah.
Baru saja melangkah, Ayu mendadak berhenti saat mendengar sang suami tengah bicara via telepon dan mendengar sang suami menyebut nama Dona.
"Kan gue sudah bilang sama lo, Dona bisa dipastikan akan menikah sama lo."
Billy terdengar tertawa, lawan bicaranya tak lain adalah Gilang. Sesekali ia terdengar tertawa.
"Tokcer kan apa yang gue saranin buat lo?" Ucap Billy.
"Tentu saja, bisa dipastikan Dona bakal ngira dirinya hamil selama 3 bulan. Apalagi, lo bisa bawa dia ke Dokter yang udah kerja sama buat bantuin lo."
Billy terdengar tertawa. Sementara Ayu yang mendengar pembicaraan Billy dan Gilang akhirnya mengetahui bahwa pada kenyataannya suaminya lah yang bekerjasama dengan Gilang untuk menjebak Dona. Ayu benar-benar tak percaya dengan apa yang ia dengar. Ia kecewa sekaligus marah dengan apa yang dilakukan sang suami.
Suami yang sangat dicintainya dengan begitu tega melakukan hal itu pada sahabat terbaiknya.
Ayu memutuskan untuk berbalik menuju kamarnya dan menangis dihadapan baby Kenzo yang tertidur.
"Padahal selama ini, Dona lah yang selalu mendukung hubungan kita Bill. Dona bahkan menjadi kambing hitam saat berita soal kehamilanku menyeruak. Dona selalu pasang badan untuk membantuku. Dan sekarang kau malah terlibat dalam tindakan jahat yang dilakukan pada Dona?"
Ayu mengusap air matanya. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk membantu Dona dengan mengorek informasi dari sang suami dengan cara apapun.
Sementara itu, di dalam kamar Dona....
Ia tengah berbaring sambil terus menatap jemarinya yang kembali tersemat cincin berlian yang diberikan Aditya sebagai tanda cintanya. Seumur hidup, Dona tak pernah menyangka bahwa dirinya akan mendapat cinta yang begitu besar dari seorang pria.
Di kehidupannya yang terdahulu, sampai usia 25 tahun, ia bahkan tak mengenal sosok lelaki manapun yang bisa membuatnya jatuh cinta atau bahkan lelaki yang mencintainya dengan tulus. Di kehidupannya yang saat ini, Tuhan seolah memberikannya kesempatan untuk merasakan semua cinta. Mulai dari cinta yang diberikan kedua orang tuanya, oleh Aditya, hingga oleh Ayu sahabatnya.
'Terima kasih Tuhan atas semua cinta ini.'
***********
Aditya mulai menyewa seorang detektif handal untuk menyelidiki apa yang telah terjadi pada Dona di hotel milik Gilang.
"Aku tidak perduli, bagaimanapun caranya. Kau harus bisa mendapatkan bukti rekaman CCTV yang ada di hotel itu." Ucap Aditya.
"Tentu saja Pak. Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkannya. Anda tidak perlu memberikan saya bayarannya jika tugas ini tidak berhasil." Balas Detektif.
"Bagus." Imbuh Aditya.
Tekad Aditya sudah bulat untuk menyelidiki semuanya dan bila perlu jika bukti yang didapat sudah kuat, ia akan membuat perhitungan dengan Gilang.
'Kau harus mendapat ganjaran dari apa yang telah kau lakukan.'
Setelah detektif pergi, Aditya kembali ke kamarnya dan berbaring. Ia memandangi layar ponselnya yang menampilkan wajah Dona yang tengah tersenyum manis.
'Tuhan, lindungi dia sepanjang waktu. Aku sangat mencintainya, dan aku tak ingin dia kembali terluka.'
Aditya lalu mengetikkan pesan yang akan dia kirimkan pada Dona.
[Sayang, aku sangat mencintaimu. Aku tidak tahu apakah kau akan setuju atau tidak. Libur semester nanti aku ingin menikahi mu. Agar aku bisa selalu bersamamu, melindungi mu, menjagamu setiap waktu. Selamat malam sayang, mimpikan aku dalam tidurmu.]
Pesan terkirim.
Dona yang menerima pesan itu tersenyum, ia pun membalasnya.
[Aku serahkan semuanya padamu, kapanpun kau mau. Terima kasih ya untuk cinta mu ini, aku beruntung karena dicintai olehmu. Aku juga mencintaimu.]
__ADS_1
Bersambung.......