Pesona Sang Primadona

Pesona Sang Primadona
PSP 34: Kisah di Sekolah


__ADS_3

Hubungan Dona dan Gilang kembali membaik setelah Gilang meminta maaf atas tindakan yang ia lakukan karena memaksakan kehendaknya terhadap Dona. Aditya dan Gilang pun sudah akur, meski Aditya menerima hubungan Dona dan Gilang. Tapi, dia tetap menjadi dirinya yang selalu ada untuk Dona kapanpun. Cinta Aditya belum bisa pudar untuk Dona.


Hari ini jadwal kelas dua belas IPS yang mendapat les tambahan sepulang sekolah. Dona dan Ayu memutuskan untuk tidak pulang ke rumah dulu, dan memilih untuk makan siang di kantin sekolah. Begitu juga dengan pasangan keduanya, Gilang dan Billy. Mereka berempat duduk di kantin sambil menikmati makan siang mereka.


"Bentar lagi kita ujian, terus habis itu lulus. Kuliah, nikah, punya anak... Wah semuanya berjalan dengan cepat ya." Ucap Ayu.


"Cepet banget mikir mau nikah tanpa kerja dulu." Celetuk Dona.


"Iya kan umpamanya Don..." Balas Ayu.


"Kalau kamu emang mau nikah, kita nikah aja habis lulus." Ucap Billy yang sontak membuat Ayu tersedak.


Dona dan Gilang tertawa, sementara Billy sibuk memberikan air kepada sang kekasih dan mengusap-usap punggungnya pelan.


"Kalau gue nih Bil, kayaknya habis lulus sekolah ini gak bakal lanjut lagi. Toh kalau gue mau kerja langsung aja masuk ke perusahaan Opa." Ucap Gilang.


"Lo mah enak horang kaya. Nah gue.... Kaya sih, tapi banyakan elo...." Balas Billy.


"Hahaha, lagian gue kan pewaris tunggal dari keluarga Herbowo. Jadi buat apa sekolah tinggi-tinggi...."


Deg!


Dona sontak melihat ke arah Gilang setelah mendengar nama Herbowo disebut. Dirinya kembali teringat dengan pria seusia Papa nya pada kehidupannya yang terdahulu, yang hendak dinikahkan dengannya. Bulu kuduk Dona terasa merinding jika mengingat pria itu. Bagaimana tidak? Sebab secara tidak langsung, karena pria bernama Herbowo itulah dirinya sampai meninggal dunia hingga bereinkarnasi menjadi Dona yang saat ini.


"Kenapa sayang? Gak enak badan?" Tanya Gilang yang menyadari perubahan raut wajah Dona.


"Mmmm gak apa-apa kok." Jawab Dona kemudian kembali melanjutkan makan siangnya.


Pikiran Dona kembali terfokus pada sosok Herbowo, pria paruh baya yang berperawakan tinggi dan tegap, dengan rambut hitamnya yang disisir rapi ke belakang. Saat pertama bertemu dengan Dona, sorot mata pria itu seolah seperti singa yang ingin menerkam mangsanya.


Pandangan Dona beralih pada Gilang yang duduk disampingnya. Dia memperhatikan setiap inci wajah Gilang berusaha menemukan sesuatu. Gilang yang tengah fokus makan langsung menoleh menatap Dona yang juga langsung menoleh melihat ke arah lain.


"Sayang, aku tahu aku ini cowok ganteng. Aku kan sudah jadi milik kamu, jadi kamu gak usah mandang aku terus seperti itu di depan orang. Kamu bisa lihat aku sepuasnya saat kita berdua aja." Goda Gilang.


"Iihh ngomong apa sih!" Dona terlihat kesal namun dengan pipi nya yang memerah.


Selesai dengan urusan makan siang, keempatnya memutuskan untuk kembali ke kelas mereka yang masih sepi. Kebanyakan siswa lainnya memilih pulang ke rumah dulu untuk berganti pakaian atau makan siang di rumah. Karena waktu les belum mulai dan kelas-kelas masih sepi, keempatnya duduk di dalam kelas berpasangan.


Gilang mengajak Dona duduk di bangku pojokan kelas, sementara Ayu dan Billy duduk di depan dan tampak bermesraan tak memperdulikan Dona dan Gilang yang duduk dibelakang bisa menyaksikan keduanya bercumbu.


"Kita pindah kelas aja yuk, ke kelas aku aja. Gak enak liatin mereka pacaran." Ajak Gilang yang langsung disetujui oleh Dona.

__ADS_1


Keduanya lalu berjalan keluar kelas melewati Ayu dan Billy yang tampak cuek dan sibuk dengan urusan mereka masing-masing.


"Cih... Dunia sudah serasa milik berdua." Cibir Dona.


"Sirik aja." Balas Billy yang kembali menciumi Ayu.


Tiba di kelas Gilang, secara spontan Gilang langsung menarik Dona kedalam pelukannya dan menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan Dona yang menyandar pada tembok.


"Kamu apa-apaan sih? Gak takut ketahuan guru?" Ucap Dona gugup.


"Disini gak ada siapa-siapa. Cuma kita berdua aja. Kita udah dua minggu pacaran dan aku belum dapat ciuman kamu." Ucap Gilang.


"Memangnya kalau pacaran itu harus ciuman apa?" Dona berusaha mendorong tubuh Gilang.


Gilang semakin mendekap Dona dan memegang dagu Dona, saat dia hampir saja mencium bibir Dona, Dona dengan cepat mengelak membuat ciuman Gilang mendarat di pipinya.


"Kamu gak sayang ya sama aku?" Tanya Gilang.


"Sayang..."


"Terus kenapa begini. Kalau kamu sayang, seenggaknya buktikan."


"Sekali saja..."


Gilang menampilkan raut wajah memelas nya kepada Dona, membuat Dona terdiam. Karena tak mendapat respon apa-apa, Gilang kembali mencoba untuk mencium Dona. Wajah keduanya sudah begitu dekat, bahkan hidung Gilang yang mancung sudah bersentuhan dengan hidung Dona. Sedikit lagi saat bibir keduanya hampir bersentuhan, dengan cepat Dona mendorong Gilang hingga membuatnya tersungkur dan terjatuh mengenai bangku.


"Kamu kenapa sih?" Teriak Gilang pada Dona yang berjalan sejauh mungkin dari Gilang.


Gilang yang hendak mengejar Dona seketika berhenti saat suara seseorang memanggil namanya dari luar.


"Gilaaang..." Suara yang terdengar begitu familiar.


Sosok pria yang memanggil nama Gilang berdiri di pintu mengenakan seragam keguruan. Dona sudah duduk di bangku paling depan dengan membuka buku dan terlihat seperti tengah membacanya. Sementara Gilang tampak begitu kaget dengan kehadiran pria yang tak lain adalah seorang guru di sekolah mereka.


"Ngapain kalian berdua disini?" Ucap guru yang bernama Pak Indra itu.


"Eemmm belajar Pak." Jawab Gilang.


Dona melirik Pak Indra dan mengangguk seraya tersenyum. Pak Indra sendiri memang kurang mengenal Dona karena dirinya memang merupakan guru di kelas IPA. Sementara untuk Gilang sendiri, hampir semua guru di sekolah akan mengenal dirinya karena terkenal sebagai badboy.


"Ooh, kalau begitu, ayo bantu Bapak buat petik buah mangga dibelakang kelas kamu itu. Bapak tidak bisa manjat. Tolong ya, karena isteri Bapak sedang ngidam."

__ADS_1


"Ma-manjat pohon Pak?" Gilang tampak bingung. "Gimana ya Pak, saya gak bisa manjat Pak." Lanjut Gilang.


Dona dengan segera mengirim pesan pada Ayu agar keluar kelas takutnya keduanya akan ketahuan oleh Pak Indra.


"Wah, Bapak pikir kamu bisa."


"Beneran gak bisa Pak. Saya bisanya berantem Pak." Gelak Gilang.


"Pak, minta tolong temen saya aja. Kebetulan orangnya ada di luar." Celetuk Dona.


"Mana orangnya?" Tanya Pak Indra.


Dona dengan cepat keluar kelas dan mendapati Ayu beserta Billy yang tengah berjalan keluar kelas. Dona dengan cepat menjelaskan pada Billy tentang Pak Indra. Billy pun mendekati Pak Indra dan kemudian membantunya di belakang kelas Gilang.


"Kok kamu bisa tau kalau Pak Indra bakalan dateng?" Bisik Gilang pada Dona.


"Feeling aja." Balas Dona tersenyum.


"Ada apa sih?" Tanya Ayu penasaran.


"Gak ada apa-apa." Jawab Dona.


'Untung aja Pak Indra datang, kalau gak....'


Dona tersenyum dan mengajak Ayu masuk ke dalam kelas mereka karena jam les akan segera dimulai.


Bersambung.....


Hai semuanya..... 👋👋


Terima kasih ya, sudah mau baca cerita receh author ini...


Oh ya, maaf karena masih gak bisa update setiap hari. Seperti yg author bilang kemarin, author masih dalam keadaan sakit. Jadinya belum bisa banyak update, dan disini author minta doa kalian semua ya. Besok pagi author akan menjalani operasi ringan karena sakit yg author derita. Sekali lagi, mohon doanya ya semua...


Setelah semuanya selesai dan berjalan dengan lancar, author akan berusaha untuk update setiap hari lagi...


Terima kasih.... 🙏🙏


Salam sayang,


La-Rayya ❤️

__ADS_1


__ADS_2