
Pagi hari pun tiba, setelah semalam Dona berada di rumah Aditya cukup lama. Setelah makan malam, Dona memutuskan mengobrol panjang dengan Kakek Aditya.
Seperti biasa, pagi ini indah. Langit masih kelabu. Udara sekitar terasa dingin menyentuh kulit. Burung-burung terdengar riang bernyanyi. Kicauannya menemani aktifitas manusia di pagi ini.
Terlihat beberapa orang berlari kecil untuk berolahraga. Disana juga terlihat lalu lalang sedikit sepeda motor. Mereka sepertinya orang kerja kantoran yang bekerja di kota atau orang warungan yang pergi ke pasar untuk berbelanja. Di sisi lain, masih ada orang yang terlelap tidur di kasurnya, menikmati mimpi indahnya. Entah jam berapa mereka akan bangun.
Dona turun ke lantai bawah untuk sarapan. Di dapur, Bu Nir tengah mempersiapkan menu sarapan. Ternyata Bu Nir membuat menu sarapan favorit Pak Edi, yaitu bubur ayam dan minumnya teh tawar hangat. Dona dan Pak Edi duduk berhadapan dan mulai menikmati sarapan mereka.
"Emmm, begitu nikmat rasanya di pagi yang dingin ini..." Ucap Dona.
"Bahagia bener anak Bapak." Celetuk Pak Edi.
"Maklum Pak, semalam kan habis makan malam sama calon suami dan keluarga besarnya." Goda Bu Nir.
Dona hanya tersenyum dan melanjutkan sarapannya. Sejak semalam, sebenarnya ia masih kepikiran tentang fakta yang diberikan Ayu padanya. Apakah ia akan memberitahukan orang tuanya atau tidak.
"Oh ya, tumben pagi sekali sudah rapi." Ucap Bu Nir. "Ada kuliah pagi-pagi ya?"
"Sebenarnya kuliah aku hari ini dimulai nanti jam 8 pagi. Tapi sejak semalam, aku sudah berencana untuk berangkat ke kampus pagi-pagi sekali setelah matahari terbit."
Setelah menikmati sabu alias sarapan bubur, Dona kembali ke kamar untuk bersiap-siap ke kampus. Tas sudah diisi dengan buku tulis dan laptop. Kamar sudah sedikit dirapikan. Ia lalu berpamitan dengan kedua orangtuanya.
Dona ke kampus dengan menggunakan sepeda motor. Hari ini, dia tak dijemput oleh Aditya karena Aditya memang akan masuk siangan.
Dona menyusuri jalanan menuju kampusnya. Pepohonan hijau dan rindang menemani perjalanannya. Di sisi kanan, ada sebaris pepohonan dan rerumputan sepanjang jalur jalan raya yang bersebelahan dengan jalur bis khusus. Di sebelah sisi kiri, terlihat banyak sekali pepohonan dan semak belukar, bahkan banyak pohon yang masih tinggi dan diameter lingkarannya lebar, yang menampilkan kesan hutan.
Dona terus mengendarai sepeda motornya. Matahari bersinar dengan hangat. Ia suka sekali beraktivitas di pagi hari. Udaranya masih segar, belum terpolusi dengan banyak kendaraan bermotor. Pemandangan hutan hijaunya menyegarkan mata dan hati. Mood Dona pun menjadi baik. Dona pun bisa siap menghadapi perkuliahan nanti. Masih banyak waktu yang tersedia, yang bisa dimanfaatkan untuk mempelajari atau sekedar mengulang materi kuliah tertentu.
"Harapanku, IP semester ini bisa membaik dan dapat predikat cumi laut alias cum laude." Ucap Dona menyemangati dirinya sendiri.
Jalanan mulai menurun. Jalur menurun ini sampai beberapa ratus meter ke depan. Tanpa digas pun sepeda motor Dona mengalami pertambahan percepatan. Inilah jalur yang paling menyenangkan bagi Dona. Sepeda motornya melaju dengan kencang sekali.
Tiba-tiba Dona dikagetkan dengan seekor anak kucing di tikungan jalur jalanan.
'Gawaat!'
Posisinya tidak begitu jauh dari Dona. Anak kucing kecil dan lugu tersebut tidak tahu kalau dia dalam bahaya. Langsung saja Dona membanting stang sepeda ke arah kanan kucing. Dona pun bisa bernafas lega karena kucing itu selamat, tidak jadi terlindas. Tapi sepeda motornya menembus separator jalanan dan berbelok ke arah kiri jalan, Dona terjatuh tepat di rerumputan pinggir jalan.
Bruukk…!!!
Untungnya Dona tidak sampai terluka, hanya motornya yang mengalami lecet sedikit. Ia melihat kiri kanan, jalanan yang sepi kembali membuatnya bernafas lega. Dona bersyukur tak ada orang yang melihatnya jatuh dengan posisi seperti itu.
'Akan sangat memalukan jika dilihat orang lain.'
Dona akhirnya tiba di kampus. Dona berjalan menuju gedung aula pertemuan, tempat kuliah berlangsung. Pagi itu suasana kampus masih sunyi, hanya ada dedaunan sisa senja kemarin yang di sapu oleh petugas kebersihan. Parkiran masih sepi, embun masih tidur di atas dedaunan. Dona memutuskan naik ke lift karena takut lift akan penuh ketika mahasiswa yang lain berdatangan. Suasana sunyi masih menyelimuti Dona ketika lift sampai ke lantai 4. Ternyata hanya ada petugas kebersihan lainnya dan Dona di lantai tersebut.
Cahaya dari balik jembatan lantai 4 memanggil Dona untuk menghampirinya. Sontak, Dona terkejut dengan pemandangan kota di pagi hari yang terlihat dari lantai 4 ini. Kabut tipis dan sinar keemasan yang menyinari kota itu membuat suasana keromantisan khas kota itu tampak secara jelas dan hal ini baru pertama kali dilihat oleh Dona hingga membuatnya ingin agar selalu datang tepat waktu pada kuliah pagi.
"Aku harus sering datang pagi-pagi ke kampus." Ucap Dona tersenyum.
Sejak semalam, perasaan Dona memang membaik sejak menghabiskan waktu dengan memasak bersama Aditya.
Kampus Dona ini cukup indah, ia juga dapat menikmati suasana lingkungan kampus yang hijau meskipun tidak seluas kampus yang pernah ia rasakan di kehidupannya yang sebelumnya. Tapi bagi Dona ini sudah cukup untuk mengurangi pemanasan global dan bisa menjadi kampus yang kondusif untuk belajar.
Sebagian mahasiswa dapat mengikuti olahraga di lapangan utama kampusnya, dan biasanya ada yang berlatih Tapak Suci di sebuah lahan pojok area kampus, dan yang lainnya ada yang sekedar duduk-duduk sambil berbincang di bawah pohon rindang, dan ada juga yang sedang beribadah di masjid kampus yang terletak di dekat pintu utama kampus. Dan ada juga banyak ruangan workshop untuk memenuhi perlengkapan atau penunjang saat proses pembelajaran berlangsung.
Dona terus berjalan dibelai angin yang berbisik lembut menyuarakan alam yang terasa begitu ramahnya. Ia menyusuri jalan koridor menuju ruang aula dan sejenak ia melihat kebawah dari koridor lantai empat.
Sungguh indah dan nyaman melihat pemandangan yang hijau dan melihat mahasiswa lain yang mulai berdatangan dan bercengkrama di beberapa tempat yang memang telah disediakan oleh kampus untuk mahasiswa bersantai.
Dari koridor itu pun Dona dapat melihat ada beberapa pasang sejoli yang sedang duduk di bawah pohon rindang dan tempat bersantai yang disediakan kampus.
"Lucu sekali melihat mereka pacaran pagi-pagi." Ucap Dona tersenyum.
Dona melanjutkan perjalanannya ke ruang aula. Ia terus melangkahkan kakinya tanpa henti sehingga ia sudah berada di dalam ruang aula.
***********
Setelah perkuliahan selesai, Dona diajak salah seorang teman kelasnya untuk pergi ke kantin kampus. Rasa lapar pada saat kuliah memang salah satu bagian yang selalu hadir. Dona pun mengiayakan ajakan gadis bernama Fara itu.
Keduanya berjalan mulai menikmati makan siang mereka, sambil sesekali mengobrol.
"Eh Don, aku denger kamu katanya mau nikah ya sama pewaris HR Group itu? Terus gimana hubungan kamu sama Adit?" Tanya Fara.
"Denger gosip dari mana?" Dona balik bertanya.
"Ya aku denger dari anak-anak lain sih." Balas Fara. "Kamu tahu sendiri kan! Sejak awal kamu masuk kampus ini, kamu tuh udah jadi pusat perhatian. Apapun yang kamu lakukan akan menjadi gosip panas di kampus ini. Ibaratnya, kamu tuh Primadona nya kampus."
__ADS_1
"Udah kayak artis aja jadi pusat perhatian." Ucap Dona santai.
"Beneran Don. Aku aja masih ingat saat kamu digosipkan hamil. Beeeuuhh kampus heboh, dikiranya kamu hamil sama Aditya. Gak tahunya malah Ayu yang hamil dan udah nikah sama Billy. Eeehh kamu ternyata pacarannya sama pewaris HR Group. Setelah itu kabar paling heboh lagi, kamu jadian sama Adit hingga buat kampus heboh. Banyak yang bilang kamu tuh suka gonta ganti pacar. Apalagi sekarang terdengar kabar kamu mau nikah sama pewaris HR Group itu. Nah, sebenarnya kamu itu pacarannya sama yang mana sih?" Ucap Fara panjang lebar.
Dona menghela nafas panjang. Ia tak pernah menyangka bahwa apa yang ia lakukan nyatanya selalu jadi bahan pembicaraan bagi mahasiswa lainnya di kampus.
'Bagaimana jika mereka tahu apa yang sudah terjadi padaku dengan Gilang?'
"Don.... Kamu baik-baik aja?" Tanya Fara yang melihat Dona terdiam.
Dona lalu tersenyum.
"Aku baik-baik aja. Untuk pertanyaan yang tadi, semua itu hanya rumor saja antara aku dan Gilang. Aku dan dia sudah lam putus. Untuk sekarang aku hanya berhubungan dengan Aditya saja."
"Aku tuh paling seneng lihat kalian berdua. Kalian tuh pasangan yang sangat serasi." Ucap Fara.
Dona dan Fara kembali ke kelas mereka setelah selesai makan siang. Saat berjalan, keduanya melihat Aditya yang kebetulan baru masuk kelas. Dari jauh Aditya memberikan cium jauh pada Dona yang kebetulan ada seorang mahasiswi yang hampir lewat dihadapan Dona. Dengan cepat tangan Dona seolah tengah menangkap cium jauh yang diberikan Aditya tepat didepan wajah mahasiswi yang hendak melintas didepannya.
"Lo kenapa sih?" Ucap mahasiswi itu karena kaget saat tangan Dona terlihat menggenggam sesuatu dihadapan wajahnya.
Dona hanya tersenyum, sementara Fara sendiri tak bisa menahan tawanya. Mahasiswi itu memilih melanjutkan jalannya dan Dona segera membuka kepalan tangannya dan seolah menaruh cium jauh yang ditangkapnya dari Aditya ke bibirnya.
Aditya tersenyum dan melambai lalu masuk ke dalam kelas. Dona dan Fara pun kembali berjalan ke arah kelas mereka. Saat kelas akan dimulai, ponsel Dona bergetar. Ada sebuah pesan masuk. Dona membaca pesan yang ternyata dari Gilang itu.
[Sayang, kamu punya waktu gak? Aku mau ketemu malam nanti, membahas masalah pernikahan kita. Kita harus segera menikah, karena bagaimanapun perutmu akan segera membesar.]
"Cih...!" Ucap Dona lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Dona tak habis pikir bahwa Gilang masih punya malu untuk mengirimkan pesan seperti itu.
'Bukankah seharusnya dia sudah tahu kalau aku sudah mengetahui semuanya. Pasti Billy sudah memberitahunya kan?' Dona bertanya dalam hati.
Setelah duduk selama beberapa jam di dalam kelas, perkuliahan pun usai. Aditya menghampiri Dona dan mengajaknya bermain di taman kampus. Mereka berhenti di satu sudut taman dan duduk manis di tempat yang telah disediakan. Dona memandangi sekeliling taman dan ia baru menyadari bahwa taman kampus di sore hari juga sangat indah dan tidak kalah dengan pagi hari, meski taman kampus mereka terbilang sempit, namun terasa hidup karena banyak pohon hijau dan ada beberapa tanaman bunga juga.
Sejenak Dona memandangi juga makhluk hidup yang ada di taman. Ia memandangi beberapa belalang yang beterbangan di antara dedaunan yang rimbun dan kadang hinggap di kayu lapuk karena termakan usia. Dari kejauhan juga ia melihat ada segerombolan semut yang sedang bekerja sama mencari makanan.
"Kompak sekali mereka bekerja, tidak seperti mahasiswa di kelasku yang sudah luntur dan tidak peduli lagi dengan kekompakan." Ucap Dona pada Aditya sambil menunjuk ke arah semut.
Aditya tersenyum, dan mengusap pucuk kepala Dona.
"Iya, iya." Balas Dona.
Tanpa mereka sadari hari sudah semakin sore, dan sebentar lagi beranjak malam. Keduanya belum juga bangkit dari tempat duduk mereka sedari tadi, masih asyik menikmati pemandangan taman kampus dan bercengkrama. Dona jika sudah berbincang dengan Aditya memang selalu lupa waktu seperti hari ini.
Saat Dona mengajak Aditya untuk pulang, Aditya menahannya dan berkata, "jangan pulang dulu, kamu harus lihat suasana kampus kalau malam".
"Apa gak seram?" Tanya Dona.
"Gak sama sekali. Toh kalaupun kamu takut, aku kan ada buat jaga kamu."
"Iyain aja deh." Balas Dona.
Aditya lalu mengajak Dona naik ke balkon kampus. Dimana disana keduanya dapat melihat sang surya dari balik kampus. Dona langsung dimanjakan dengan sang surya yang tenggelam dari balik kampus. Jingga langit itu mulai menutupi kota dan pemandangan itu mampu membawa jiwa Dona terhanyut bersamanya.
Hari pun semakin gelap dan terlihat satpam mulai menyalakan lampu-lampu di sekitar kampus. Dona tak mengira pemandangan kampusnya pada malam hari akan seindah ini. Dona takjub sekali.
"Indah dan menyegarkan mata sekali suasana kampus kita selama ini". Ucap Dona pada Aditya saat keduanya berjalan keluar gedung kampus.
"Nah, apa aku bilang. Kamu harus lihat, dan gak seram seperti yang kamu bayangkan. Iya kan?"
"Hem." Balas Dona.
Jalanan yang di hiasi dengan lampu penerangan yang berjejer bagaikan penerima tamu menyapa para pengguna jalan. Cahaya lampu yang indah menyatu dengan bangunan kampus.
"Oh ya, kamu ada acara apa malam ini?" Tanya Dona pada Aditya.
"Gak ada sih sayang. Paling mau ke cafe aja. Kenapa? Mau ajak aku nonton ya?" Aditya mencubit hidung Dona.
"Iihh bukan itu."
"Terus?"
Dona mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya dan memperlihatkan pesan yang dikirimkan Gilang pada Aditya. Aditya terlihat geram saat membaca pesan itu.
"Balas pesannya dan katakan kau akan datang."
"Kok gitu? Gak mau ah."
__ADS_1
Aditya memegang kedua pipi Dona.
"Aku akan nemenin kamu sayang. Kita selesaikan ini bersama." Ucap Aditya dengan pandangan matanya beradu dengan Dona.
Dona pun mengikuti perkataan Aditya dan setuju untuk menemui Gilang walaupun sebenarnya ia enggan untuk bertemu dengan pria itu. Sekedar membayangkan wajahnya saja sudah membuat Dona merasa sangat muak.
Aditya lalu menghubungi salah seorang karyawannya. Memintanya datang ke kampus untuk mengambil motor Dona dan mengantarnya pulang ke rumah Dona. Sementara Dona menghubungi orang tuanya mengatakan bahwa ia akan pulang terlambat karena ada urusan yang harus ia selesaikan bersama Aditya.
"Apa aku gak harus pulang buat ganti baju dulu?" Tanya Dona.
"Oh, jadi kamu mau tampil cantik dan wangi didepan mantan kamu?" Ucap Aditya dengan wajah yang dibuat cemburu.
"Iiihh Adit, bukan gitu maksud aku." Dona memukul lengan Aditya. "Badan aku lengket karena keringat. Lagian aku kan pakai baju ini dari tadi pagi. Masa iya aku gak mandi-mandi."
Aditya tertawa.
"Iya udah, kalau gitu kita ke cafe aja dulu. Nanti mampir di butik sebelah cafe cari baju baru. Gak perlu pulang ke rumah, nanti mandi aja di kamar mandi ruangan aku. Peralatan mandinya lengkap kok." Ucap Aditya.
*****************
Setelah sama-sama membersihkan diri dan berganti pakaian. Dona dan Aditya berangkat menuju restoran yang alamatnya sudah dikirimkan Gilang pada Dona. Keduanya tampil serasi dengan sama-sama mengenakan kemeja putih dan celana hitam. Seolah ingin menunjukkan pada Gilang bahwa mereka berdua adalah pasangan yang sedang kasmaran dan saling jatuh cinta.
Tiba di restoran, Gilang yang sudah lama menunggu kedatangan Dona dibuat kaget karena Aditya yang juga datang dengan menggandeng tangan Dona.
"Apa-apaan ini?" Tanya Gilang yang tampil keren dengan mengenakan kemeja hitam.
Aditya hanya tersenyum dan menarik kursi untuk Dona duduk.
"Ayo sayang, duduk dulu." Ucap Aditya yang semakin membuat Gilang panas.
Aditya duduk dan mendekatkan dirinya disamping tempat duduk Dona dan memegang tangan Dona lalu menciumnya dengan lembut berulang kali. Gilang yang sudah tak tahan melihat pemandangan didepannya sontak menggebrak meja dengan keras.
'Brakkk....'
"Apa maksud kalian berdua haa...?" Tanya Gilang emosi.
"Kenapa? Ada yang salahkah? Wajar kan aku mencumbu mesra tunangan ku." Jawab Aditya.
"Tunangan mu? Dia itu calon isteri ku." Teriak Gilang yang membuat seisi ruangan melihat kearahnya.
Dona yang melihat semua orang memandang ke arah mereka mulai merasa risih.
"Lang, aku gak akan pernah menikah sama kamu." Ucap Dona akhirnya.
"Kenapa bisa begitu? Bukankah kamu sudah setuju menikah denganku? Kamu juga sudah tahu kalau kamu tengah...."
"Hamil!" Seru Aditya menyela ucapan Gilang dengan senyum mengejek. "Aku tidak tahu orang macam apa sebenarnya kau ini." Lanjut Aditya. "Aku yakin, kau sendiri pasti sudah tahu bahwa orang suruhan ku sudah mendapat bukti CCTV yang bisa memberatkan mu."
"Jadi orang itu suruhan mu?" Teriak Gilang.
"Kalau iya, kenapa?" Tanya Aditya balik. "Kau sendiri juga pasti sudah tahu kalau Billy sudah mengatakan semuanya? Atau Billy memang belum menceritakannya padamu? Ah sudahlah. Tidak ada gunanya menjelaskan semuanya panjang lebar denganmu. Disini aku hanya mau mengatakan, kubur mimpimu dalam-dalam untuk menikahi Dona. Karena dia hanya akan menikah denganku. Dan satu hal lagi, kami bisa saja menyeret mu untuk dipenjara atas apa yang kau perbuat pada Dona. Tapi, karena Dona memang wanita yang sangaaaat baik dan mengerti akan apa yang dia lakukan jadi dia tidak akan melaporkanmu. Tapi ingat, jika kau bertindak yang salah, jangan pikir aku akan tinggal diam. Aku tidak perduli siapa kau, aku pastikan akan bisa menjebloskan mu ke penjara dengan bukti yang aku punya." Ucap Aditya panjang lebar.
Gilang terdiam, ia tak tahu harus menjawab apa.
"Jangan pernah lagi muncul dihadapan ku." Ucap Dona lalu berdiri dengan menarik tangan Aditya hendak mengajaknya pergi.
"Hei Aditya." Panggil Gilang saat Dona dan Aditya hendak pergi.
Aditya berbalik, sementara Dona memilih diam.
"Apa kau tidak merasa aneh karena akan menikahi wanita yang sudah aku pakai?"
Ucapan Gilang membuat Dona terluka, ia tanpa sadar menggenggam tangan Aditya dengan erat.
Byuuurrr.....!!!
Wajah Gilang basah dengan jus jeruk yang disiramkan Aditya ke wajahnya. Aditya hendak melangkah untuk menghajar Gilang, tapi Dona menarik tangan Aditya dengan keras dan menggeleng.
Dona berbalik dan menatap Gilang lalu kembali mengambil gelas berisi jus dan menyiramkannya ke kepala Gilang.
"Jika kau keberatan, silahkan laporkan aku ke polisi." Ucap Dona. "Aku pikir selama ini kau orang yang baik. Kau tahu, aku menyesal karena pernah jatuh cinta pada lelaki seperti kamu. Kamu brengsek." Lanjut Dona. "Jangan pernah berharap untuk bisa bertemu apalagi bicara denganku lagi. Aku jijik."
Dona lalu menarik tangan Aditya pergi dari dalam restoran. Sementara Gilang berteriak dan menjatuhkan semua benda yang ada diatas meja didepannya dan berteriak. Semua orang memandangnya dan hanya berbisik-bisik.
"Sialaaaan." Teriaknya.
Bersambung....
__ADS_1