
Sekolah kembali di mulai. Dona dan yang lainnya mulai disibukkan dengan tugas-tugas yang menumpuk. Mereka masih bisa menyempatkan untuk berkumpul sesekali saat ada waktu luang. Hubungan Dona dan keempat pria itu semakin akrab. Bahkan mereka sudah menjadi teman yang sangat baik.
Hari-hari berlalu hingga akhirnya Dona naik ke kelas dua belas dengan prestasinya yang terus meningkat. Seiring berjalannya waktu, nyatanya Ayu sudah jadian dengan Billy. Kini, keduanya tak lagi menutupi kedekatan mereka di sekolah. Banyak gadis yang mengidolakan Billy patah hati, termasuk juga Siska anggota geng Beauty.
Siska selalu berusaha membully Ayu, namun karena Billy yang terus menempel dengan Ayu, membuat Siska tak dapat melakukan apapun. Berbeda dengan Dona, hubungannya dengan Gilang memang semakin dekat. Begitu juga dengan Aditya dan Raka. Ketiga pria itu masih terus mengejar Dona. Meski dalam hati Dona sebenarnya ia menyukai Gilang, tapi tetap saja Dona belum mau terbuka.
Secara kebetulan saat naik ke kelas dua belas, Dona satu kelas dengan Gilang dan berpisah dengan Ayu yang justru masih satu kelas dengan Billy. Kedekatan antara Dona dan Gilang pun semakin terjalin intens. Keduanya kerap berada dalam kelompok yang sama. Raka yang mengerti kedekatan antara Dona dan Gilang memilih mundur secara perlahan. Ia sadar bahwa Dona sepertinya telah menyukai Gilang. Sementara Aditya masih berupaya untuk mendapatkan perhatian Dona meski sebenarnya ia sendiri tahu bahwa Dona sudah begitu dekat dengan Gilang.
"Lo beneran udah mau nyerah buat deketin Dona?" Tanya Aditya pada Raka saat jam istirahat.
"Gue lihat Dona udah nyaman sama Gilang. So, gue lebih milih tetap jadi sahabat dia aja. Lo sendiri gimana?" Raka balik bertanya.
"Jujur aja, gue sendiri udah lihat gimana dekatnya Dona sama Gilang. Tapi, entah kenapa hati gue nolak buat nyerah. Gue masih mau berjuang. Gue belum percaya sepenuhnya sama Gilang, secara lo tahu sendiri kan gimana seringnya dia permainin hati cewek-cewek."
"Lo bener juga sih. Tapi yang gue lihat dia itu tulus sama Dona. Dona nya juga happy. Ya gimana pun itu, gue juga gak mungkin ngelarang lo buat tetap deketin Dona."
Aditya mengangguk dan hanya berharap keputusan yang diambilnya unyuk tetap mencintai Dona adalah benar. Aditya hanya menginginkan untuk selalu berada disamping Dona, baik saat Dona tengah bahagia apalagi terluka.
********
Hari demi hari berlalu, waktu benar-benar terasa begitu cepat. Dona dan yang lainnya mulai disibukkan oleh jadwal les tambahan sepulang sekolah. Sebentar lagi mereka semua akan mrnghadapi Ujian Akhir yang akan menentukan langkah mereka selanjutnya. Bagi Raka yang memang sudah terkenal karena kegeniusannya, dia tak terlalu direpotkan dengan persiapan ujian. Yang membuat Raka ketar-ketir adalah rencana nya yang akan mengikuti tes untuk masuk universitas kenamaan di luar negeri.
Hari ini, Gilang mengantar Dona pulang sekolah. Berbeda dari biasanya, kali ini Gilang menggunakan motor gede kesayangannya. Dona yang tengah berjalan bersama Aditya dicegat oleh Gilang.
"Ayo pulang bareng aku." Gilang menarik tangan Dona.
"Tapi....." Dona melirik Aditya yang memang sudah lebih dulu mengajaknya pulang duluan.
Aditya tersenyum dan mengangguk seraya menepuk punggung Gilang.
"Ingat antar dia sampai rumah, jangan keluyuran." Ucap Aditya pada Gilang. "Aku lupa kalau udah janjian sama Raka mau belajar bareng, entar jam 2 lanjut les soalnya." Ujar Aditya pada Dona.
"Beneran?" Tanya Dona ragu dibalas anggukan Aditya.
"Udah sana pulang. Toh hari ini kalian gak ada jadwal les kan?"
Dona tersenyum lalu berjalan mengikuti langkah Gilang dengan raut wajah yang begitu bahagia.
__ADS_1
'Don, entah kenapa aku belum rela buat lepas kamu. Tapi, melihat kamu tersenyum bahagia dengan orang lain....'
"Lo baik-baik aja?" Raka secara tiba-tiba muncul dari belakang dan menepuk bahu Aditya yang berdiri mematung menatap punggung Dona yang masih berjalan menuju parkiran bersama Gilang.
"Gue baik."
"Sakit emang. Gue juga rasain kok. Tapi ya mau gimana. Ah udahlah, gak usah mikir cinta-cintaan dulu. Sekarang fokus sama ujian. Ayo ikut gue ke kantin, gak perlu pulang dulu. Toh bentar lagi mau mulai les nya." Ucap Raka.
"Oke." Balas Aditya.
Gilang mengendarai motornya dengan pelan. Dia seolah sengaja untuk berlama-lama di jalan, agar tidak terlalu cepat sampai rumah Dona. Tak seperti biasanya, Gilang yang selalu banyak bicara mendadak jadi pendiam sepanjang jalan.
"Kamu kenapa? Dari tadi diam mulu?" Tanya Dona.
"Aku pengen ngomong sesuatu." Jawab Gilang.
"Ngomong aja."
"Don, kita kan udah kenal lumayan lama. Hari ini tepat 1 tahun, 6 bulan dan 2 hari kita sudah saling mengenal. Artinya kita sudah saling mengenal selama 548 hari, 13.166 jam, 789.960 menit, dan 47.397.600 detik dan masih berjalan...."
"Don, aku serius. Aku rasa hari ini adalah waktunya aku bicara sama kamu." Gilang terdengar serius.
Jantung Dona tiba-tiba berdegup dengan kencang.
'Apa jangan-jangan dia mau nembak?' pikir Dona.
"Aku udah pengen ngomong sejak lama. Tapi karena teman-teman yang lain juga memiliki perasaan yang sama dengan aku terhadap kamu, jadi aku membiarkan kamu mengenal kami satu persatu. Dan aku pikir, kamu sudah mengenal kami semua secara baik. Jadi hari ini, aku akan beraniin diri aku buat bilang sama kamu, kalau aku suka sama kamu." Gilang menjeda ucapannya lalu terdengar menarik nafas dalam-dalam. "Bukan cuma suka, aku juga sayang dan cinta sama kamu. Kamu.... Mau gak jadi pacar aku....?"
Dona terdiam, ia tak tahu harus menjawab apa. Sebenarnya, jauh-jauh hari Dona sudah menyiapkan diri jika sampai Gilang akan menyatakan perasaan padanya. Namun, hari ini semuanya begitu mendadak bagi Dona. Gilang yang biasanya melakukan hal-hal yang diluar dugaan Dona, kali ini menyatakan perasaan pada Dona secara tiba-tiba dan diatas sepeda motor.
Dalam pikiran Dona, Gilang akan menyatakan perasaan padanya seperti yang biasa dilakukan Gilang yakni dengan kejutan-kejutan tak terduga. Dona membayangkan Gilang akan mempersiapkan semuanya dengan sempurna bak dalam drama. Semuanya buyar hari ini kala Gilang menyatakan semuanya secara tiba-tiba.
"Gimana Don? Kok kamu diam aja?" Gilang mulai gusar.
"Gimana ya Lang...." Dona tampak ragu-ragu.
Meski di hati Dona, dirinya memang memiliki rasa suka pada Gilang. Namun, menurut cerita yang sering dituturkan Ayu, membuat Dona sedikit ragu dan selama ini ia memang nyaman berteman dengan Gilang, tapi takut untuk memulai hubungan kekasih.
__ADS_1
"Kamu ragu sama aku?" Tanya Gilang lagi.
Dona tetap diam, ia masih berpikir. Sejak kehidupannya yang terdahulu, Dona memang tak pernah merasakan yang namanya jatuh cinta. Hatinya benar-benar tertutup untuk sosok pria karena takut untuk memiliki hubungan yang berlanjut ke jenjang serius. Dona di kehidupannya yang terdahulu takut pada pernikahan. Ia takut nantinya akan berlaku buruk pada anaknya, persis seperti yang dilakukan kedua orang tuanya.
"Don, please.... Kasih aku kesempatan buat ngebuktiin kalau aku beneran tulus sayang sama kamu."
"Apa kita gak bisa bersahabat aja?" Tanya Dona.
"Aku mau kita lebih dari itu. Aku mau kamu itu jadi milik aku. Aku gak akan larang kamu untuk tetap sahabatan sama Aditya dan yang lainnya. Tapi, aku ingin hati kamu untuk aku."
Dona lagi-lagi terdiam.
"Please Don...."
Dona menutup matanya perlahan dan menghembuskan nafasnya dengan perlahan, berusaha berpikir jernih. Ia ingin mendengar kata hatinya. Jika memikirkan perkataan Ayu, Dona tentu akan memilih Aditya. Tapi, kali ini Dona ingin mengikuti hatinya.
"Please jawab Don, bentar lagi kita nyampe rumah kamu."
Di jok belakang Dona tersenyum, membayangkan wajah Gilang yang memelas.
"Baik. Kita coba...." Balas Dona akhirnya.
"Ma-ma-maksudnya kamu nerima aku gitu?" Tanya Gilang memastikan.
"Ya kamu mau nya gimana?" Tanya Dona balik.
"Ya terima dong..." Jawab Gilang girang.
"Ya udah, diterima." Balad Dona yang membuat Gilang berteriak dan melepas stang motor yang dipegangnya.
Dona yang kaget langsung memeluk Gilang karena takut oleng.
"Woii.... Jangan sembarangan lepas dong. Bahaya...." Teriak Dona.
"Hehehehe iya, iya... Maaf. Habis, aku happy banget. Makasih ya." Ucap Gilang meraih tangan Dona yang masih memeluk pinggangnya lalu menciumnya dengan lembut.
Bersambung....
__ADS_1