
Dona mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung kampus. Kemarin ia hanya berdiam diri di rumah sembari membantu kedua orangtuanya menjaga toko. Hari ini ia mendapat mata kuliah pagi.
Setelah beberapa jam, akhirnya Dona keluar kelas. Di depan kelas, sosok Aditya tengah berdiri menunggu dirinya.
"Kok ke kampus? Bukannya kamu gak ada jam hari ini?" Tanya Dona.
"Pengen ketemu kamu." Balas Aditya santai. "Makan yuk, di cafe ada menu baru. Kamu udah gak ada jam kan?"
Dona mengangguk, "okelah, ayo."
Keduanya berjalan menyusuri lorong kampus. Tepat di pelataran parkir, seseorang berdiri dengan memeluk sebuah boneka berukuran sangat besar dengan bentuk beruang. Dona dan Aditya tampak heran.
"Ada acara apa ya?" Tanya Dona.
"Gak tahu juga."
Keduanya kembali berjalan tanpa menghiraukan orang yang sebenarnya tengah menunggu Dona. Saat Dona berjalan melewati orang yang wajahnya tertutupi boneka itu, beberapa orang berpakaian nyentrik berlari dan menghalangi langkah Dona kemudian mulai berjoget di depannya. Dona melirik Aditya yang hanya bisa mengangkat bahunya seolah mengatakan pada Dona, bahwa dirinya juga tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi.
Dona menarik tangan Aditya agar menghindar dari kumpulan orang yang tengah menari itu. Namun, orang-orang tersebut mengikuti Dona sampai ke motornya. Dona yang kesal karena dibuntuti, berbalik dan menatap mereka semua dengan tajam.
"Apa mau kalian?" Pekik Dona.
Orang-orang itu hanya membungkukkan badan mereka berkali-kali, seolah tengah meminta maaf pada Dona. Dona kembali merasa aneh, lalu mulai naik ke atas motornya. Dengan cepat seseorang mencabut kunci motor Dona. Aditya yang juga sudah hendak menghidupi motornya turun kembali dan mendekati pria yang menarik kunci motor Dona.
"Hei kau....."
Seseorang yang sejak tadi berdiri dengan memegang boneka besar mendekat ke arah Dona. Kemudian ia memberikan boneka besar itu pada Dona lalu tampaklah wajah Gilang yang sudah berkeringat. Dona dan Aditya saling menatap, Dona tak bisa menahan tawanya kemudian terbahak. Sementara Aditya hanya diam.
"Kenapa malah ketawa sih?" Aditya menyenggol lengan Dona.
"Gak apa-apa, lucu aja. Semalam aku sempat nemenin Ibu nonton sinetron. Terus ada adegan lamaran yang persis kayak gini. Si cowok megang boneka gede' banget. Terus ada orang nari-nari juga. Gak tahunya sekarang aku lihat langsung adegan itu." Dona kembali tertawa. "Lang, kamu nyontek adegan ini di sinetron semalam ya?" Tanya Dona.
"I-ini ide dari sekretaris aku." Jawab Gilang. "Eeemmm.... Don, kamu udah mau maafin aku kan?" Tanya Gilang.
"Lang, ngapain kamu sampai kayak gini segala? Gak malu?" Tanya Dona balik.
"Ini semua aku lakukan supaya kamu mau maafin aku. Kamu udah maafin aku kan?"
"Kamu gak ada salah apa-apa, untuk apa minta maaf."
"Terus kenapa kamu masih cuek?"
"Karena orang tua kamu." Jawab Dona santai. "Udah ya, aku sama Aditya mau makan siang dulu. Kamu mau ikut?" Ajak Dona.
Aditya hanya bisa manyun, berharap bahwa hanya dirinya dan Dona saja yang makan berdua.
"Aku mau. Tapi...."
"Gak bisa? Ya udah, kalau gitu kita berdua duluan ya." Ucap Dona menarik Aditya pergi.
"Bentar dulu Don, ini artinya hubungan kita udah membaik kan?"
"Hubungan akan selalu baik. Tapi, untuk sementara waktu, aku mau kita bersahabat saja."
"Kenapa begitu?"
Aditya yang merasa menjadi patung sejak tadi akhirnya ikut berbicara.
"Lang, lebih baik lo urus orang tua lo dulu aja ya sebelum lo mau punya hubungan serius sama Dona. Udah, itu aja saran dari gue."
"Bye Lang." Ucap Dona tersenyum.
"Don...." Panggil Gilang.
"Apa lagi?"
"Gimana dengan bonekanya?"
"Kamu mau ngasih aku?" Dona menunjuk wajahnya sendiri.
Gilang mengangguk.
"Kalau gitu kirim ke rumah aja. Asyik juga kalau tidur bisa peluk boneka segede itu. Udah ya Lang, daah."
Dona dan Aditya lalu meninggalkan Gilang yang masih berdiri di parkiran. Setelah itu, seseorang berpakaian serba hitam datang mendekati Gilang.
"Mari Tuan, sudah waktunya pergi. Sebentar lagi acara akan dimulai."
Gilang menghela nafas panjang lalu berjalan ke arah dimana mobilnya terparkir.
__ADS_1
'Setidaknya Dona sudah mau bicara denganku. Setelah ini aku harus berusaha untuk buat Mama dan Papa setuju. Aku masih bisa melihat cinta dimata Dona untukku.'
*******
Dona dan Aditya tiba di cafe, keduanya lalu masuk dan mulai makan. Ternyata menu baru yang dikatakan Aditya sudah disiapkan oleh para karyawannya diatas meja.
"Wah, jadi ini menu barunya." Ucap Dona memandang satu set hot pot diatas meja dengan berbagai jenis daging, dan sayur-sayuran yang akan dimasak sendiri.
"Iya. Gimana kamu suka? Udah ala-ala korea kan?"
"Hmmmm...." Dona mulai lahap menyantap menu yang disediakan.
Keduanya makan dengan lahap, setelah itu lalu mengobrol masalah mata kuliah masing-masing.
Selesai dengan urusan makanan, keduanya lalu pergi mengunjungi rumah Aditya. Aditya memang ingin memperkenalkan sang kakek dengan wanita yang dicintainya.
Tiga puluh menit perjalanan, keduanya tiba di rumah Aditya. Aditya langsung menggandeng tangan Dona masuk ke dalam rumah. Masuk ke dalam rumah, Dona dibuat takjub dengan tampilan mewah yang elegan kediaman Aditya. Rumah itu bernuansa klasik modern yang menggabungkan antara unsur klasik yang identik dengan kesan elegan dengan unsur modern yang simpel.
Sentuhan ala bangunan-bangunan di Eropa masih tampak di desain modern klasik namun hadir dengan tampilan yang lebih minimalis.
"Kenapa?" Tanya Aditya yang melihat Dona terperangah. "Takjub? Kalau kamu jadi isteri aku nanti, tiap hari kamu bakal lihat semuanya."
"Idiiih, apaan sih." Dona memukul punggul Aditya yang tertawa.
Keduanya kemudian berjalan semakin masuk ke dalam rumah.
Warna tembok rumah Aditya berbeda dengan rumah klasik lainnya. Bila desain klasik pada umumnya didominasi warna-warna yang berani misalnya merah dan emas, pada desain rumah klasik modern milik Aditya, warna-warna yang digunakan justru lebih lembut. Hingga membuat desainnya tampil simpel dan menyelaraskan perpaduan antara unsur klasik dan modern.
'Bersih banget.'
Dona menyentuh tembok dengan perpaduan warna putih dan abu-abu itu. Mata Dona melihat sekeliling ruangan bahkan ia sampai mendongak untuk melihat lampu yang tergantung. Dekorasi rumah Aditya, benar-benar membuat Dona kagum. Begitu berbeda dengan rumah Gilang yang terlalu banyak menggunakan barang-barang modern.
Dekorasi yang dipasang di rumah Aditya berupa, chandelier, lukisan, cermin, dan pernik pajangan lainnya. Semuanya tertata begitu rapi dan dengan elemen dekoratif yang secukupnya saja, membuat ruangan tidak tampak penuh.
Aditya menarik tangan Dona menuju ruang keluarga, dimana sang kakek ternyata sedang membaca buku.
"Kek...." Sapa Aditya.
"Sudah pulang kamu Dit." Balas sang kakek tanpa menatap Aditya.
"Iya. Ini, aku bawa temen buat aku kenalin sama kakek."
"Pacarnya Adit kan?" Tanya kakek Aditya saat Dona menyalaminya sopan.
Dona menggeleng dan tersenyum.
"Wah, saya pikir pacarnya Adit." Balasnya tersenyum. "Dit minta Tuti hantarkan minuman dan buah ke samping rumah ya." Titah sang kakek lalu mengajak Dona untuk mengikutinya ke samping rumah.
Kakek Aditya begitu ramah, ia seolah sudah mengenal Dona begitu lama. Dona merasa seperti seorang cucu karena diperlakukan begitu baik oleh kakek Aditya. Keduanya mengobrol ringan seputar perkuliahan Dona, sebelum Aditya kembali dengan pakaian yang sudah berganti.
"Duh, asyik bener ngobrolnya. Sampai cucu sendiri dilupakan." Goda Aditya.
"Kakek bosan ngobrol sama kamu, suka tidak nyambung. Lebih seru mengobrol dengan gadis cantik ini."
"Iyain aja dah." Balas Aditya tertawa.
Pandangan Dona beralih pada desain samping rumah Aditya yang juga dilengkapi oleh unsur alam terutama kayu dan batu. Terdapat sebuah kolam air mancur dengan batu-batuan marmer dan gazebo kayu dengan warna coklat mengkilat. Serat-serat alami yang ditampilkan batu marmer dan kayu memberikan kesan mewah tapi tetap tidak berlebihan. Kehadiran unsur alam di rumah Aditya, benar-benar membuat tampilannya lebih hangat.
"Dari tadi aku lihat kamu bener-bener memperhatikan setiap sudut rumah ini ya?" Ucap Aditya.
"Hehehe iya. Aku suka banget dengan desainnya." Balas Dona.
"Kamu suka?" Tanya kakek Aditya yang dibalas anggukan kepala Dona. "Kalau begitu kalian berdua menikah saja."
"Khuk...." Aditya terbatuk.
"Kenapa? Apa ucapan kakek salah? Kan wajar kalau kakek mau kalian menikah. Kalian berdua itu terlihat cocok. Lagi pula, kakek sudah tua. Sudah waktunya melihat keturunan kakek satu-satunya untuk menikah."
Dona hanya bisa tersenyum. Ketiganya lalu mengobrol santai hingga sore hari.
Hari ini, Dona mendapat pengalaman dan perlakuan berbeda dari keluarga Aditya. Jika waktu itu, ia mendapat perlakuan yang buruk dari orang tua Gilang, kali ini perlakuan yang jauh berbeda yang ia dapatkan dari kakek Aditya. Pria tua itu benar-benar sangat ramah.
****************
Satu semester pun berlalu. Hubungan Dona dan Gilang berjalan di tempat. Tak ada lagi status pacaran, hanya saja Gilang terus menunjukkan kesungguhannya untuk tetap mengejar cinta Dona. Disisi lain hubungan Dona dan Aditya juga masih seperti biasanya. Keduanya tetap bersahabat baik, meski benih-benih cinta itu mulai tumbuh di hati Dona.
Hari ini, Dona berencana mengunjungi Ayu yang tengah hamil besar. Aditya tidak bisa ikut karena sibuk dengan perkuliahannya. Kali ini Dona ditemani Gilang yang memang sudah meminta untuk ikut bersama Dona.
"Kamu gak kerja?" Tanya Dona saat bertemu di mall dengan Gilang.
__ADS_1
Dona memang tengah memilih hadiah untuk bayi yang ada di dalam kandungan Ayu, berupa beberapa keperluan bayi.
"Gak ada pekerjaan yang penting hari ini. Jadi aku bisa santai."
"Hmmmm...." Balas Dona.
Ia kemudian mulai memilih beberapa pakaian bayi dan juga pakaian ibu hamil untuk Ayu yang memang tengah hamil 8 bulan.
"Ayu udah mau lahiran?" Tanya Gilang yang mengekor di belakang Dona.
"Sebulan lagi sih katanya."
Dona mengambil sebuah pakaian berukuran besar berwarna biru dan menaruh didepan badannya.
"Kira-kira kalau aku pakai yang beginian lucu gak ya?" Ucap Dona cekikikan.
Gilang tersenyum dan mengusap kepala Dona.
"Kamu tetap lucu dan pasti akan terlihat cantik. Apalagi kalau kamu sampai jadi isteri aku dan hamil anak kita."
Dona terbahak, namun detik berikutnya ia dibuat kaget karena seseorang menarik rambutnya dari belakang. Kemudian menamparnya dengan keras.
"Kamu memang keras kepala ya?" Teriak wanita yang tak lain adalah Mama Gilang. "Saya sudah memperingatkan kamu untuk menjauhi anak saya. Dan sekarang kamu malah hamil."
"Mah..." Teriak Gilang. "Mama malu-maluin tahu gak."
"Kamu yang malu-maluin. Ke mall dengan wanita ini dan memilih pakaian hamil. Kamu yakin wanita ini hamil anak kamu? Mama yakin yang dikandungnya itu anak pria lain dan minta kamu tanggung jawab supaya dia bisa jadi isteri orang kaya."
"Mama salah paham."
"Salah paham gimana, hah? Mama lihat dengan mata kepala Mama sendiri kalau kalian sedang milih baju ibu hamil. Itu tandanya apa?" Teriaknya. "Dan kamu wanita kampungan, jangan harap ya anak saya akan menikah dengan kamu meski kamu hamil sekalipun. Jujur saja, kamu mau uang berapa?"
Mama Gilang membuka tasnya lalu mengambil sejumlah uang dan melemparkannya ke wajah Dona.
"Mamah...." Teriak Gilang.
Dona benar-benar merasa terhina, banyak pasang mata yang melihat ke arahnya. Dona tak bisa lagi menahan emosinya. Ia memungut uang yang berserakan di lantai.
"Lihat. Lihat wanita itu." Ucap Mama Gilang. "Buka mata kamu selebar-lebarnya. Lihat dia sedang memungut uang yang Mama berikan. Sekarang juga kamu ikut Mama." Tangan Gilang ditarik sang Mama, namun Gilang memberontak.
"Aku bukan anak kecil lagi Ma. Kali ini Mama benar-benar kelewatan."
"Pulang." Teriak Mama Gilang.
Dona berdiri dan dengan berani menarik rambut Mama Gilang membuat wanita berpenampilan modis itu meringis.
"Kurang ajar. Kamu berani ya sama saya." Teriaknya.
"Saya tidak akan kurang ajar jika anda memperlakukan saya dengan baik. Tapi, kali ini tidak." Ucap Dona dengan wajah penuh amarah. "Dengar baik-baik ya nyonya yang terhormat. Saya tidak akan pernah mau menjadi menantu anda. Dan ini, saya kembalikan uang anda." Dona membalas perlakuan Mama Gilang dengan melempar lembaran uang itu di wajah Mama Gilang.
"Don...." Gilang benar-benar tak percaya dengan apa yang dilakukan Dona pada Mamanya.
"Kenapa? Kamu gak terima aku perlakukan mama kamu seperti itu?" Tanya Dona. "Kalau gitu jangan lagi ngejar-ngejar aku. Aku gak akan pernah lagi mau dekat sama kamu. Urus Mama kamu baik-baik." Dona lalu berjalan menuju kasir dan membayar barang yang ia pilih untuk Ayu.
Mama Gilang hendak mengikuti Dona, namun ditahan Gilang. Gilang lalu menarik tangan sang Mama untuk pergi. Hatinya begitu sakit melihat wanita yang dicintai diperlakukan seperti itu oleh sang Mama. Namun, disisi lain ia juga kecewa karena Dona juga bisa berlaku kasar pada Mama nya.
Setelah membayar belanjaannya, Dona keluar dari dalam mall menuju motornya. Ternyata Gilang sudah menunggunya disana. Dona enggan untuk berbicara, ia bersikap cuek pada Gilang.
"Don...."
"Apalagi?" Tanya Dona tanpa basa-basi.
"Don, jujur aku kecewa sama sikap kamu."
"Hah kecewa? Kamu kecewa sama aku?" Dona tertawa. "Bagus kalau kamu kecewa. Jadi kamu gak perlu lagi untuk berusaha buat memperbaiki hubungan kita. Aku gak mau lagi."
"Don bukan begitu. Aku cuma kecewa aja...."
"Udah ya Lang. Kita kan memang udah gak ada hubungan apa-apa lagi. Jadi, gak ada yang perlu dibicarakan lagi."
"Don, please. Aku masih mau memperjuangkan semuanya."
Dona menggeleng dan tak menghiraukan Gilang. Ia kemudian menghidupkan motornya lalu meninggalkan Gilang. Gilang terlihat menendang udara, ia berteriak sekencang-kencangnya. Cintanya pada Dona tak bisa memudar, tapi hubungan itu benar-benar sulit untuk diwujudkan.
Sementara Dona yang tengah mengendarai motornya, merasakan sesak di dadanya. Ia tak bisa membohongi hatinya yang memang masih memiliki perasaan terhadap Gilang. Namun, hubungannya itu benar-benar bermasalah. Dan dimulai dari hari ini, Dona membulatkan tekadnya untuk melupakan Gilang dan menghapus cinta yang ada di dalam hatinya untuk Gilang.
"Ini yang terbaik Don. Jangan pernah lihat kebelakang lagi." Ucap Dona menyemangati dirinya sendiri.
Pada kenyataannya, Dona menyadari jika terus memperjuangkan hubungannya dengan Gilang, ia sendirilah yang akan terluka. Jalan yang akan dilaluinya pasti akan begitu terjal, mengingat apa yang terjadi hari ini. Dona yakin, sampai kapanpun Gilang tidak akan pernah mendapatkan restu dari kedua orang tuanya.
__ADS_1
Bersambung.....