
Kabar tentang hubungan Dona dan Aditya yang sudah berpacaran menjadi topik pembicaraan di kampus. Terutama karena masalah yang pernah di hadapi Dona membuat namanya semakin dikenal di kampus. Seakan tak ada habisnya, belum juga usai gosip tentang dirinya yang dilabrak oleh Mama Gilang di kampus, kali ini para mahasiswa sudah punya berita terbaru tentangnya.
Sejak memasuki kampus pagi tadi, banyak pasang mata sudah melihat ke arah Dona. Dona yang masa bodoh memilih berjalan santai masuk ke dalam kelas. Hari ini ia mendapat 3 mata kuliah yang membuatnya akan lebih lama berada di kampus.
Tepat tengah hari, sebelum masuk kelas lagi, Dona keluar kelas menuju kantin untuk makan siang. Secara kebetulan ia bertemu dengan Aditya yang juga baru keluar kelas.
"Masih ada mata kuliah?" Tanya Aditya.
"Iya, hari ini full." Jawab Dona.
Keduanya jalan berdampingan menuju kantin. Aditya meminta Dona untuk mengambil posisi duduk, sementara ia sendiri akan mengambil makanan. Baru saja duduk, mood Dona langsung berubah karena kedatangan Geng Beauty.
"Mau apa lagi kalian?" Tanya Dona tanpa basa-basi.
Tanpa permisi, Ratu duduk dihadapan Dona.
"Gue heran sama cowok-cowok sekarang. Apa sih yang mereka lihat dari lo? Terus lo juga bener-bener gak tahu malu ya. Baru juga putus dari Gilang, lo langsung gebet Aditya. Murahan banget lo jadi cewek." Ucap Ratu.
"Cantik gak, seksi gak, malah lo itu dari kelurga miskin kan." Sambung Devi.
"Atau jangan-jangan lo rela digerayangi cowok-cowok itu, makanya mereka kepincut sama lo. Secara nih ya, mana ada cowok yang nolak dikasih ikan. Sekalipun itu ikan asin kayak lo." Tambah Siska.
Brakk!!!!
Dona menggebrak meja karena emosi.
"Sebenarnya kalian itu punya masalah apa sih sama aku? Apa urusan kalian ikut campur dengan kehidupan aku? Mau aku pacaran sama Gilang ke, Adit ke. Apa urusannya sama kalian. Terus... Terus... Tadi kamu anya apa yang mereka lihat dari aku. Ya udah jelas aja aku cantik, kalian semua kalah saling. Kalau kalian ngerasa lebih cantik dari aku, kenapa gak ada satupun cowok yang kalian taksir menyukai kalian. So, intinya kalian sama sekali bukan apa-apa dibanding aku. Kalian bertiga itu cuma debu di kaki aku." Balas Dona berani.
"Sialan lo ya. Berani sama kita." Teriak Siska.
"Kenapa harus takut, emang kalian siapa harus ditakutin."
"Ada apa ini?" Tanya Aditya yang sudah berbalik membawa makanan.
Tanpa bicara apapun, Geng Beauty memilih pergi meninggalkan Dona dan Aditya.
"Mereka kenapa?" Tanya Aditya lagi pada Dona.
"Biasa, marah-marah karena cowok yang mereka taksir malah jadinya sama aku terus." Jawab Dona santai.
"Kamu gak diapa-apain?"
Dona menggeleng. Keduanya lalu makan siang dengan salad buah dan roti. Aditya sesekali menyuapi Dona dan tersenyum ke arahnya. Mahasiswa lain yang melihat keduanya menganggap bahwa keduanya memang cocok sebagai sepasang kekasih.
"Noh liat, semua mata tertuju pada kita." Ucap Dona
"Ya biarin aja. Apalagi sekarang mereka pasti sudah tau kabar tentang status kita yang pura-pura itu."
Dona tersenyum lalu menyuapi Aditya.
"Serius kamu mau nyuapin aku didepan banyak orang?"
"Biar status pacarannya lebih nyata." Balas Dona cekikikan.
"Makasih sayang." Goda Aditya dengan mengerlingkan matanya.
Dona terbahak dan menepuk pundak Aditya.
"Demi apapun, kamu itu gak cocok jadi cowok genit."
"Terus cocoknya gimana?"
"Ya, jadi diri kamu sendiri aja. Stay cool, humble, periang dan sabar hadepin aku."
"Oohh gitu."
"Hemmm..."
Selesai makan siang, Dona harus kembali ke dalam kelas. Sementara Aditya harus pergi ke suatu tempat. Ia tak memberitahukan kepada Dona kemana ia akan pergi.
"Sms aja entar kalau udah selesai, biar aku jemput." Ucap Aditya.
"Gak usah jemput kali Dit. Aku kan udah bawa motor sendiri."
"Gak, pokoknya aku mau jemput kamu. Oh ya, mulai besok gak usah bawa motor lagi. Aku yang bakal jemput kamu."
"Tapi....."
"Udah gak ada tapi-tapi. Masuk aja sana."
Aditya mendorong tubuh Dona agar masuk ke dalam kelas. Setelah itu ia pun pergi.
Aditya tiba di sebuah kedai kopi yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya. Saat memasuki kedai itu, aroma kopi menguar. Sudah banyak orang yang tengah duduk-duduk sekedar menikmati kopi dan cemilan kecil lainnya. Aditya berjalan menuju meja nomor 5, dimana seseorang sudah menunggunya.
"Hai." Sapa pria yang mengenakan jas berwarna navy itu.
"Hai Lang." Balas Aditya. "Sorry telat."
"Gak apa-apa." Balas Gilang.
Gilang memesan dua cup kopi hitam. Dan memulai obrolan mereka.
__ADS_1
"Lo beneran pacaran sama Dona?"
Aditya menyesap kopi yang masih mengeluarkan uap panas itu.
"Jujur aja, itu cuma sandiwara."
"Kenapa lo mau jujur sama gue? Sedangkan gue tahu sendiri kalau lo itu juga cinta sama Dona. Kalau gue jadi lo, gue gak bakal ngasih tahu saingan gue kalau status pacaran itu cuma boongan."
"Ya karena ini diri gue, bukan lo. Gue bakal ngelakuin apa aja yang bisa buat Dona bahagia. Gue gak mau maksain perasaannya dia. Gue tahu, dia masih sayang sama lo, dan dilain sisi dia juga sayang sama gue. Tapi, hubungan kalian susah buat dilanjutin. Lo sendiri pasti tahu, kalau nyokap lo udah sering kali nyusahin dia." Ucapan Aditya membuat Gilang terdiam. "Dan perlu lo tahu, dia gak mau punya hubungan yang gak direstui sama pihak keluarga. Untuk itu dia mau lupain lo. Tapi karena lo gak mau lepasin dia, dan nyokap lo juga selalu nekan dia. Dia ngelakuin ini."
Gilang duduk dengan menopang dagunya.
"Lang, gue pernah ngalah relain dia buat lo. Gue gak pernah gangguin hubungan lo dengan dia. Gue gak pernah jelek-jelekin lo depan dia. Justru gue yang nyuruh dia buat ngomong baik-baik sama lo. Cari jalan keluar dari masalah kalian. Tapi akhirnya gue capek lihat dia sedih mulu. Dona cewek yang gue kenal kuat, akhirnya bisa nangis juga karena hubungan yang dia jalanin sama lo. Dan kali ini, gue mau minta sama lo, relain dia. Lepasin dia dulu, biarkan dia milih jalannya sendiri. Kalau kalian berjodoh, sejauh apapun kalian berpisah. Pasti akan balik lagi. Tapi, gue sendiri gak mau munafik sama lo. Gue akan perjuangin cinta gue tanpa memaksakan kehendak gue sama dia. Dan gue yakin, dia bakal bisa cinta sama gue dan lupain lo."
"Gue gak bisa Dit. Lo tahu sendiri gue cinta sama dia."
"Cinta lo egois. Kalau lo beneran cinta sama dia, lo bakal rela lepasin dia demi kebahagiaannya sendiri meski itu bukan bareng sama lo."
Gilang terdiam.
"Lang, kalau aja lo bisa atasin masalah sama nyokap lo. Gue pastikan gue gak akan perjuangin cinta gue ke dia. Tapi, yang gue lihat dari nyokap lo. Sampai kapanpun, dia gak bakalan mau restuin hubungan kalian."
Keduanya terdiam dan sibuk dalam pikiran masing-masing. Apa yang dikatakan Aditya memang sepenuhnya benar. Sampai kapanpun Gilang tidak akan pernah bisa membuat sang Mama menerima hubungannya dengan Dona. Bagi orang tua Gilang, status itu harga mati.
Gilang menghela nafas panjang. Hatinya begitu sakit memikirkan bahwa ia harus merelakan Dona.
"Gue belum bisa ngasih keputusan. Berat buat gue." Ucap Gilang.
"Terserah lo aja deh." Aditya pasrah. "Gue paham apa yang lo rasain. Pertama kali gue tahu lo sama dia pacaran juga, rasanya berat banget buat gue. Tapi mau gimana lagi, gue gak mungkin bisa maksain dia buat berbalik untuk suka sama gue dan ninggalin lo. Alih-alih menjauh, gue malah memilih tetap jadi sahabat dia supaya gue bisa selalu ada buat mastiin dia bahagia."
"Sesayang itunya lo sama Dona."
"Iya, gue akuin."
Ponsel Aditya berdering, menampilkan sebuah pesan singkat dari Dona.
[Gak usah jemput, aku langsung pulang. Jangan nangis ya, entar malam main aja ke rumah kalau kamu kangen.]
Aditya tersenyum membaca pesan yang dikirimkan Dona. Sementara Gilang terlihat penasaran.
"Dari Dona?" Tanya Gilang.
"Hemmmm." Balas Aditya tanpa menatap Gilang, ia fokus membalas pesan Dona.
******************
Satu bulan berlalu, Dona tak lagi diganggu oleh Mama Gilang. Sementara Gilang sendiri bak ditelan bumi, ia tak lagi menampakkan batang hidungnya dihadapan Dona. Di lain sisi, Dona awalnya merasa sedikit merindukan pria itu. Tapi, karena kehadiran Aditya yang selalu membuatnya nyaman, menjadikan kerinduannya akan sosok Gilang pada akhirnya sirna begitu saja.
Secara mengejutkan kabar tentang kematian Opa Herbowo mencuat ke publik. Aditya dan Dona yang tengah duduk di cafe begitu kaget membaca berita yang beredar. Ternyata Opa Herbowo meninggal di luar negeri saat menjalani perawatan intensif akibat penyakit gula darah yang dideritanya.
"Kamu mau melayat ke pemakaman gak?" Tanya Aditya pada Dona yang masih fokus pada layar ponselnya.
Dona menghela nafas panjang, ia sebenarnya ingin menjauh. Tapi, bagaimanapun ia dan Aditya yang bersahabat dengan Gilang setidaknya harus datang memberi support pada Gilang. Dona tahu persis, bahwa Opa Herbowo adalah orang yang sangat penting bagi Gilang.
"Oke, kita pergi ke pemakamannya nanti."
Sore hari itu juga, jenazah Opa Herbowo di makamkan di pemakaman mewah setelah disemayamkan di rumah duka. Para keluarga dan kolega ikut menghantarkan Opa Herbowo ke tempat peristirahatannya yang terakhir.
Dari jauh, Dona dan Aditya berdiri berdampingan dengan sama-sama mengenakan pakaian serba hitam dan kacamata hitam. Tangan keduanya saling bertautan. Dona seolah tak ingin melepaskan genggamannya. Ia menggenggam tangan Aditya dengan sangat erat.
Tampak sangat jelas raut wajah Gilang penuh kesedihan. Meski mengenakan kacamata hitam, dirinya tak bisa menutupi bahwa ia begitu sangat sedih karena kehilangan sosok Opa Herbowo.
"Gak bisa terbayangkan gimana sedihnya Gilang." Ucap Dona.
"Aku tahu. Karena aku juga pernah kehilangan orang terpenting dalam hidup aku. Dan kali ini, aku gak akan biarin orang yang sangat aku cintai pergi dari sisiku." Aditya spontan mencium punggung tangan Dona.
'Apa dia baru saja nembak aku?' pikir Dona. 'Masa nembak di kuburan.'
Satu persatu para pelayat meninggalkan pemakaman. Menyisakan sosok Gilang yang masih memeluk pigura sang Opa ditemani kedua orang tuanya. Disamping Gilang juga berdiri seorang wanita cantik berambut panjang dengan setia mengelus punggung Gilang.
Dona dan Aditya berjalan mendekat. Tak ada lagi perasaan cemburu yang dirasakan Dona saat melihat Gilang dekat dengan wanita lain. Dona sendiri tidak mengerti sejak kapan perasaannya untuk Gilang benar-benar sirna. Semakin dekat dengan pusara Opa Herbowo, semakin kuat Dona menggenggam tangan Aditya.
Gilang terpana menatap kedatangan Dona dan Aditya yang terlihat begitu mesra.
'Apa mereka benar-benar sudah sedekat itu? Atau hanya ingin membuat orang tua ku percaya akan hubungan mereka?'
Dalam keadaan yang tengah berduka, Gilang masih sempat memikirkan hal itu. Karena ia tak bisa membohongi perasaannya sendiri, bahwa ia merasa sakit hati melihat Dona dan Aditya bergandengan.
"Selamat sore Om, Tante." Sapa Aditya. "Kami berdua turut berduka cita atas kepergian Opa Herbowo."
Mama Gilang membuka kacamata hitam yang dikenakannya.
"Kalian berdua benar-benar berhubungan?" Tanya ya tanpa basa-basi.
"Tentu saja Tante. Saya bahkan berniat untuk menikahinya dalam waktu dekat." Jawab Aditya.
"Apa!" Seru Gilang kaget.
Dona sendiri sedikit terkejut dengan ucapan Aditya. Ia pikir kebohongan yang diucapkan Aditya sudah kelewatan.
"Selamat kalau begitu. Titipkan salam saya untuk Opa kamu." Ucap Papa Gilang yang ikut berkomentar.
__ADS_1
Aditya mengangguk.
"Oh ya Gilang, kalau begitu kamu juga harus segera menikah. Bukankah wasiat Opa sebelum meninggal adalah kamu harus segera menikah dengan wanita yang pantas untuk kamu cintai dan pantas bersanding dengan keluarga kita." Ucap Mama Gilang seolah mengejek Dona. "Mama juga sudah tidak sabar melihat kau dan Audy bersatu."
Gilang hanya diam, ia malah fokus menatap ke arah Dona yang sejak tadi berusaha tersenyum.
"Kami permisi Om, Tante." Ucap Aditya. "Lang, yang kuat ya. Gue sama Dona cabut dulu." Lanjutnya kemudian melihat ke arah Dona.
Aditya merapikan rambut Dona yang sedikit berantakan karena angin.
"Ayo sayang." Aditya pun mengajak Dona melangkah pergi.
"Mereka pasangan yang serasi ya Tante. Cowoknya ganteng dan ceweknya juga lumayan cantik." Ucap Audy.
"Tidak secocok kalian berdua. Lagipula gadis itu miskin. Sementara yang laki-laki merupakan cucu dari Dokter paling termasyur dan pemilik rumah sakit paling besar dan mewah di kota ini." Balas Mama Gilang.
"Oh gitu."
"Sudah-sudah, ayo kita pulang." Ajak Papa Gilang.
Sementara Gilang sendiri masih sibuk menata hatinya. Ia baru saja berduka karena kehilangan Opa nya, dan kali ini ia harus kehilangan wanita yang dicintai.
Satu bulan terakhir, Gilang tak pernah bisa menemui Dona karena harus menemani Opa Herbowo menjalani perawatan. Dan di satu bulan itulah kesempatan dirinya untuk mempertahankan hati Dona untuk tetap mencintainya pupus di tengah jalan. Kali ini Dona terlihat begitu bahagia bersama Aditya.
'Apa aku memang harus merelakannya.'
Sementara di dalam mobil, Dona duduk terdiam disamping Aditya yang tengah memasang sabuk pengamannya.
"Kenapa diam aja dari tadi?" Tanya Aditya. "Apa kamu masih memikirkan Gilang?"
"Bukan itu." Pekik Dona.
"Terus?"
"Kamu apa-apaan bilang kalau kita mau nikah." Dona protes.
"Ya karena aku memang mau nikah sama kamu."
"Apa?"
Aditya menatap Dona dengan lekat lalu memegang tangannya. Dengan tangan sebelah ia mengambil sesuatu dari dalam kantong celananya. Sebuah kotak beludru merah yang berisi sebuah cincin berlian bertengger.
"Aku tahu ini terlalu cepat. Tapi aku rasa kamu sudah sangat mengenal aku. Dan satu bulan terakhir ini aku lihat benih-benih cinta juga sudah sangat terpancar dari mata kamu."
"Apaan sih." Dona tampak malu-malu.
"Menikahlah denganku Don. Aku takut perasaan kamu berubah lagi, selagi kamu masih mencintai aku. Aku mau melamar kamu dan mengajak kamu menikah."
"Kamu tuh ya. Jangan bercanda gini deh." Dona menoyor kepala Aditya.
"Kenapa? Aku serius Don. Aku takut kamu plin-plan."
"Tapi Dit, ini terlalu cepat. Aku emang sayang..."
"Cinta gak?" Tanya Aditya.
"Iya cinta, dikit." Dona tertawa. "Tapi gak sekarang juga Dit. Secara kita masih kuliah dan...."
"Say yes please!" Rengek Aditya. "Kita gak harus nikah sekarang juga, yang penting udah ada komitmen. Dengan kamu terima lamaran ini, tandanya kamu udah fix jadi milik aku."
Dona terdiam, ia terlihat ragu.
'Apa ini tidak terlalu cepat? Tapi,....'
"Don...."
Dona mengangguk, hingga membuat Aditya langsung memeluknya. Aditya begitu bahagia, ia lalu menyematkan cincin di jemari Dona lalu memegang pipi wanita yang dicintainya itu. Aditya lalu mencium kening Dona, keduanya bertatapan sangat dekat, bahkan hidung keduanya bersentuhan.
Saat Aditya hendak mencium bibir Dona, dengan cepat Dona menutup bibirnya dengan telapak tangannya.
"Kenapa?" Wajah Aditya tampak kecewa.
"Kamu tuh ya, gak ada romantis-romantisnya. Masa melamar cewek di kuburan. Terus mau ciuman pertama kali juga di kuburan."
Aditya refleks melihat keluar jendela. Dan nyatanya mereka berdua memang masih berada di depan pemakaman. Aditya menggaruk kepalanya yang tak gatal kemudian tertawa kecil.
"Maaf. Kalau gitu, dimana aku bisa mendapat ciuman pertamaku?" Aditya mengerlingkan matanya.
"Udah aku bilangin, kamu itu gak cocok jadi cowok genit."
Aditya terbahak, detik berikutnya ia menutup mulutnya karena melihat Gilang dan keluarganya lewat di depan mobilnya.
"Upss, gak baik tertawa di pemakaman. Ampuni aku Tuhan." Ucap Aditya lalu menyalakan mobilnya. "Aku akan menagih ciuman pertamaku itu nanti." Lanjut Aditya.
"Kau boleh mencium ku, jika aku yang minta." Ucap Dona santai.
"Gak adil."
"Biarin."
Dona tertawa dan mengacak rambut Aditya. Ia lalu melihat ke arah jari manisnya. Cincin berlian yang melingkar di jari manisnya menjadi bukti bahwa ia sudah menyerahkan hatinya pada Aditya, dan ia sudah memiliki komitmen pada Aditya. Jadi, tak akan ada lagi Gilang dalam hatinya.
__ADS_1
Bersambung....