
Hari berikutnya, Dona dan Aditya tampak akrab karena pergi ke sekolah bersama. Suatu kebetulan ternyata arah rumah Aditya satu arah dengan Dona pergi ke sekolah. Tiba di sekolah, semua mata tertuju pada keduanya yang berjalan berdampingan.
"Oh ya, waktu kamu dipanggil ke ruang BK masalah konseling saat terlambat datang sekolah itu, sebenarnya bahas masalah apa? Kelihatannya serius, soalnya yang aku tahu kalau konseling masalah terlambat datang sekolah gak gitu-gitu amat." Ucap Aditya.
"Mmmm itu karena guru BK minta aku buat masuk tahun depan aja. Masalahnya aku kan baru masuk sekolah lagi setelah 3 bulan koma. Nah, 1 bulan lagi kita UAS. Guru BK gak yakin aku bisa mengejar ketertinggalan aku."
"Terus?" Aditya menatap Dona dengan serius.
"Ya aku yakinin aja kalau aku bisa ngejar ketertinggalan aku. Lagian, masa iya sih aku harus vakum dulu. Terus ngulang kelas 2 tahun depan. Gak seru ah."
"Benar juga. Oh ya, kalau kamu kesulitan belajar. Aku bisa bantu."
"Mending juga belajar sama aku Don. Secara aku paling jenius di sekolah ini." Tiba-tiba dari arah belakang Raka datang dan mendorong Aditya agar bergeser dari samping Dona.
"Eh, meski lo genius. Tapi lo kan anak IPA, sedangkan Dona IPS." Protes Aditya.
"Terus apa bedanya sama lo. Bukannya lo juga anak IPA?"
"Sudah-sudah, lebih baik Dona belajar sama aku aja. Selain sama-sama anak IPS, kami juga satu kelas." Kali ini giliran Billy yang bergabung dengan Dona dan yang lainnya.
Dari arah kelas sebelas IPS satu, sosok Gilang nampak berlarian menghampiri Dona dan tiga cowok populer lainnya. Gilang mendekati Dona dan langsung menyodorkan sebatang coklat lengkap dengan pita berwarna merah pada Dona.
"Hahaha si badboy datang dan bawa cokelat. Jaman sekarang udah gak asyik ngasih cokelat ke cewek." Cibir Billy.
"Diem lo." Gilang berdecak kesal. "Dona hari ini pulang bareng aku ya."
Dona terdiam dan hanya menatap Gilang yang masih menyodorkan coklat pada Dona.
"Tadi aku lihat kamu boncengan bareng si ketua OSIS. Entar sore giliran aku dong yang anter kamu pulang." Bola mata Gilang tampang berbinar, seolah memelas berharap jawaban 'iya' dari Dona.
"Waah gak bisa gitu dong. Aku juga mau nganter kamu Don." Billy berusaha meraih tangan Dona, namun di tepis Raka.
"Aku juga mau." Ucap Raka.
Lagi dan lagi, keempat pria itu gaduh karena berebut perhatian Dona. Dona yang malas meladeni keempatnya memilih berjalan ke kelas meninggalkan mereka berempat yang masih berdebat.
Dona tiba di dalam kelas dan langsung duduk dengan Ayu. Keduanya membahas tentang presentasi makalah yang akan mereka bahas didepan kelas nantinya. Keduanya membahas tentang hubungan sosial dalam masyarakat.
__ADS_1
Jam pelajaran pertama dimulai. Guru sosiologi yang merupakan wanita berusia 28 tahun masuk ke dalam kelas dengan anggun, Ema Anggraini namanya.
"Selamat pagi semuanya..." Sapa Bu Ema.
"Selamat pagi Bu...."
"Hari ini, kita akan melanjutkan kembali pembahasan minggu lalu dengan mendengarkan presentasi kelompok berikutnya. Untuk itu, kelompok yang akan melakukan persentasi silahkan maju kedepan dan memulai." Titah Bu Ema.
Kelompok Dona dan kawan-kawan kebagian nomor 2. Jadi mereka masih menunggu kelompok pertama selesai melakukan persentasi. Cukup 20 menit bagi kelompok pertama, kini tibalah giliran Dona dan kawan-kawannya. Dona memposisikan duduk paling tengah, diapit oleh 2 temannya masing-masing di kiri dan kanannya.
"Segala puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberi anugerah kesehatan pada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan lancar dan kami dapat mempresentasikannya dihadapan teman-teman semua. Serta tak lupa pula kami ucapkan terimakasih pada Bu Ema selaku Guru yang membimbing dan mengarahkan kami dalam penulisan makalah yang berjudul Hubungan Sosial ini. Semoga dapat bermanfaat bagi kita semua. Selanjutnya saya selaku moderator menyerahkan kepada Sabrina Dona Amelia untuk memaparkan isi makalah kami. Untuk waktu dan tempat saya persilahkan kepada Dona." Ucap Ayu membuka persentasi mereka.
Dona mengucapkan salam dan mulai memaparkan isi makalah dari kelompoknya.
"Bentuk-bentuk hubungan sosial yang terjadi dalam kehidupan sosial suatu masyarakat begitu beragam, berikut ini akan saya kemukakan beberapa bentuk hubungan sosial dalam kehidupan suatu masyarakat diantara lain, hubungan antar pribadi, kelompok sosial, paguyuban dan patembayan, hubungan kelembagaan atau lembaga sosial." Dona menjelaskan dengan sangat baik tanpa melihat teks, membuat Bu Ema selaku guru mata pelajaran tersenyum.
Billy tampak melamun, fokusnya bukan pada materi yang disampaikan Dona. Melainkan pada wajah Dona yang memang tampak cantik dengan potongan poni yang menutupi keningnya.
"Hubungan kelas dalam kelas sosial. Kelas sosial timbul karena adanya perbedaan dalam penghormatan dan status sosial yang dimiliki seseorang. Misalnya, seorang anggota masyarakat dipandang terhormat karena memiliki status sosial yang tinggi, begitu juga sebaliknya. Berikutnya, hubungan gender. Hubungan gender adalah hubungan sosial antara laki-laki dan perempuan yang bersifat saling membantu atau sebaliknya. Hubungan gender berbeda dari waktu ke waktu, dan berbeda antara masyarakat satu dengan lainnya."
"Terima kasih. Aku mau bertanya pada Dona." Ucap Billy serius, semua orang melihat kearahnya. "Sabrina Dona Amelia, maukah kau jadi kekasihku?"
Bu Ema membelalakkan mata dan menutup mulut dengan tangan menahan tawa. Sementara siswa yang lain menyoraki Billy.
"Huuuuuuu....." Teriak siswa lain sambil tertawa.
Bu Ema menggeleng dan mendekati Billy lalu menjewer telinganya. Sementara Dona hanya bisa menggeleng dengan muka masam namun juga menahan tawa.
Kelompok Dona pun selesai, dan Bu Ema meminta Dona membuat kesimpulan.
"Manusia menjalani kehidupan di dunia ini tidaklah bisa hanya mengandalkan dirinya sendiri dalam artian butuh bantuan dan pertolongan orang lain, maka dari itu manusia disebut makhluk sosial. Oleh karena itu kehidupan bermasyarakat hendaklah menjadi sebuah pendorong atau sumber kekuatan untuk mencapai cita-cita kehidupan yang harmonis, baik itu kehidupan di desa maupun di perkotaan. Tentunya itulah harapan kita bersama, tetapi fenomena apa yang kita saksikan sekarang ini, jauh sekali dari harapan dan tujuan pembangunan Nasional negara ini, kesenjangan sosial, yang kaya makin kaya dan yang miskin tambah melarat, mutu pendidikan yang masih rendah, orang mudah sekali membunuh saudaranya, hanya karena hal sepele saja, dan masih banyak lagi fenomena kehidupan yang kita rasakan bersama, mungkin juga fenomena itu ada pada lingkungan dimana kita tinggal."
Bu Ema bertepuk tangan diikuti siswa lainnya.
**********
Jam istirahat tiba. Dona dan Ayu pergi ke kantin. Tak lama keempat pria populer datang menghampiri mereka. Mereka mulai berdebat masalah siapa yang berhak mengantar Dona pulang sekolah nanti.
__ADS_1
"Kalian tuh ya! Bisa gak sih sehari aja gak ribut dan ribet. Mau kalian sebenarnya apa?" Tanya Dona.
Sementara Ayu yang sudah terbiasa melihat keempat pria itu bergaduh karena Dona mulai terbiasa dengan kondisi itu. Bahkan ia merasa lebih senang karena dapat lebih dekat dengan mereka.
"Kita mau giliran anter jemput kamu dari rumah." Ucap Billy.
"Ya gak mungkin kan aku harus pulang bareng kalian berempat. Tubuh aku cuma satu, aku gak punya kembaran."
"Kita bisa giliran." Ucap Raka yang membuat ketiga cowok lainnya memandangnya. "Sesuai abjad aja. Tadi pagi Aditya udah jemput kamu. Entar pulangnya biar Billy yang anter kamu pulang. Besok pagi Gilang yang jemput ke sekolah, pulangnya giliran aku. Gimana?"
"Setuju." Jawab tiga yang lainnya.
"Apa kalian gak mikir gimana tanggapan orang sama aku? Bisa-bisa orang lain mikir aku itu mainan kalian." Wajah Dona tampak masam.
"Tenang aja. Gak akan ada yang berani bicara seperti itu tentang kamu. Apalagi semua cowok yang ngejar kamu ini punya posisi yang kuat di sekolah." Ujar Billy.
Dona menatap Ayu, mencoba meminta pendapat. Ayu hanya menaikkan pundaknya saja.
"Ya udahlah ikutin aja. Secara kalau gak diikutin, kamu tahu sendiri mereka bisa ribut lagi. Dan kamu sendiri yang bakal kena getahnya. Toh seperti yang Billy bilang tadi. Gak akan ada yang berani ngomong macem-macem. Apalagi mereka ini para cowok populer. Aditya si ketua OSIS, Billy si jago olahraga, Gilang si badboy, dan Raka si genius." Ujar Ayu.
"Nah, ini temen kamu pinter banget." Balas Billy mencubit pipi Ayu yang membuat gadis itu menjadi salah tingkah.
Semuanya pun setuju dengan ide Raka. Setelah masuk kelas Dona bertanya pada Ayu.
"Kamu gak apa-apa Billy bakal antar aku pulang nanti?" Tanya Dona.
Dona sangat mengetahui bahwa Ayu naksir pada Billy, hingga ia merasa tak enak hati pada Ayu.
"Aku baik-baik aja Don. Tenang aja. Kalau jodoh gak akan kemana. Toh aku juga tahu kalau kamu gak suka sama Billy, kamu sukanya sama Aditya. Tapi inget ya, ceritain ke Billy yang baik-baik tentang aku." Bisik Ayu cekikikan.
Dona tersenyum, dan berjanji akan menjadi mak comblang antara Ayu dan Billy.
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalkan like, komen, vote dan beri hadiah juga ya....
Terima kasih.... 🥰
__ADS_1