
Dona tiba di rumah pukul 8 malam. Kedua orang tuanya terlihat sudah menunggunya di teras rumah. Saat Dona turun dari dalam taksi Pak Edi dan Bu Nir langsung mendekat ke arah Dona.
"Kamu kemana saja nak? Ibu sama Bapak dari tadi keliling nyariin kamu?" Ucap Bu Nir dengan suara yang terdengar parau.
"Nak, kamu kan sudah bilang sama Bapak, kalau kamu gak akan pulang telat. Tadi Bapak sama Ibu balik ke taman itu keliling nyariin kamu. Kamu itu sudah bikin Bapak sama Ibu khawatir." Sambung Pak Edi.
Dona langsung memeluk Pak Edi dan Bu Nir dengan tangan yang masih membawa beberapa tas belanjaan. Dona merasa terharu karena memang baru kali ini dirinya merasakan sosok kedua orang tua yang menghawatirkan dirinya yang pulang malam. Di kehidupannya yang lalu, kedua orang tua Dona tak pernah sama sekali memperhatikannya. Jangankan dikhawatirkan karena pulang malam, Dona tak pulang-pulang selama berhari-hari pun, kedua orang tuanya santai-santai saja.
"Pak, Bu, maaf ya kalau sudah buat kalian cemas. Maaf banget." Ucap Dona.
Bu Nir mengusap matanya yang berair. Lalu menatap Dona dengan lekat.
"Sekarang jelaskan sama Ibu dan Bapak. Kamu kemana saja, terus apa semua yang kamu bawa ini?" Tanya Bu Nir.
Pak Edi mengelus kepala Dona dengan lembut.
"Sudah Bu, lebih baik sekarang masuk dulu. Kasihan Dona pasti kecapean. Dia juga pasti belum makan." Ucap Pak Edi.
Ketiganya lalu masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tengah. Bu Nir menyiapkan makanan untuk Dona dan tak lama ia kembali lagi ke dapur dengan sepiring nasi goreng lengkap dengan toping udang dan ayam suir.
Selesai makan, Dona mengajak Pak Edi dan Bu Nir untuk duduk di ruang tengah. Dona mulai membahas tentang kemana ia pergi dan menunjukkan barang-barang belanjaannya.
"Pak, Bu. Maaf karena Dona terlambat pulang. Tadi Dona pergi membeli semua ini." Ucap Dona seraya mengeluarkan satu persatu barang-barang yang dibelinya dari dalam tas.
Pak Edi dan Bu Nir terbelalak melihat begitu banyak pakaian dan juga satu set perhiasan yang dibelikan Dona untuk Bu Nir.
"Nak, kamu bisa beli semua ini? Uangnya dari mana?" Tanya Bu Nir.
"Mmmm itu...."
Dona mencoba memikirkan alasan yang masuk akal sehingga kedua orang tuanya itu bisa percaya kepadanya.
"Dari mana nak. Apalagi ini, ini barang yang lumayan mahal." Sambung Pak Edi yang mengangkat ponsel baru milik Dona yang terletak diatas meja.
__ADS_1
"Selama ini Dona nabung dari uang jajan yang Bapak sama Ibu kasih." Ucap Dona berbohong. "Dona sudah nabung dari kelas 1 SD. Dan bisa terkumpul sebanyak ini." Lanjut Dona sambil mengeluarkan beberapa gepok uang yang membuat mata Pak Edi dan Bu Nir membulat sempurna.
Pak Edi dan Bu Nir saling pandang dan kembali melihat ke arah Dona dengan raut wajah yang tak percaya.
"Kalaupun benar kamu bisa nabung dua puluh ribu sehari dalam waktu 11 tahun, tidak mungkin uangnya terkumpul sebanyak ini nak. Belum lagi ditambah dengan jumlah harga barang yang kamu beli ini. Lebih baik kamu jujur sama Bapak. Dari mana kamu dapat uang sebanyak ini?" Ucap Pak Edi tak percaya.
"Bisa. Tinggal Bapak hitung saja, kalau setiap hari Bapak sama Ibu ngasih aku uang jajan dua puluh ribu lalu aku tabung selama 11 tahun, uangnya kurang lebih nyampai delapan puluh juta. Itu belum dengan uang jajan tambahan yang kadang Bapak atau Ibu kasih."
Dona berharap ucapannya bisa dipercaya Bu Nir dan Pak Edi. Kedua orang tuanya itu tampak berpikir.
"Bisa jadi sih Pak. Toh dari kecil, Dona selalu Bapak kasih uang jajan dua puluh ribu, dengan maksud bisa dia tabung. Belum lagi kalau Bapak gajian dulu, Bapak sering ngasih Dona bonus uang merah. Sejak kecil Dona juga selalu bawa bekal yang ibu sediakan. Bisa jadi dia memang selalu menabung setiap uang jajan yang Bapak kasih." Ucap Bu Nir.
"Tapi, kalau dihitung-hitung total semua uang ini seratus juta lebih loh. Ini saja masih seratus juta, apa mungkin dengan menabung 11 tahun hanya dengan uang dua puluh ribu bisa dapat uang ratusan juta?" Pak Edi terlihat benar-benar masih ragu pada Dona.
"Jadi Bapak pikir Dona bohongin Bapak sama Ibu? Memangnya Bapak pikir Dona melakukan apa kira-kira? Uangnya bisa sampai ratusan juta karena Dona juga pakai bisnis jualan online." Ucap Dona semakin berbohong. "Ya sudah kalau Bapak gak percaya...."
Belum selesai Dona bicara, Pak Edi sudah merangkulnya. Dona memang sedikit berakting dengan menampilkan wajah sedihnya dan berusaha menangis.
Setelah berbicara panjang lebar, kedua orangtuanya pun sepakat untuk membuka sebuah toko sembako di depan rumah mereka dengan uang yang diberikan Dona sebagai ladang pencarian mereka.
*****************
Pagi hari....
Berangkat sekolah, Dona tak lagi diantar Pak Edi. Dia tak ingin merepotkan Pak Edi hari ini yang akan mulai sibuk mempersiapkan toko kelontong didepan rumah mereka. Dona pun memilih berangkat sekolah dengan menggunakan ojol. Namun, kali ini sangat sulit untuk Dona mendapatkan ojol hingga akhirnya ia terlambat ke sekolah dan tak bisa upacara.
Tiba di sekolah, beberapa siswa lainnya juga terlambat datang sekolah dan mereka dihukum dengan berdiri menghadap tiang bendera dengan hormat saat upacara telah selesai. Sang ketua OSIS, Aditya memarahi mereka satu persatu sambil menanyakan alasan kenapa mereka sampai terlambat.
"Apa alasan kamu bisa terlambat datang ke sekolah, padahal kamu sudah tahu kalau hari ini ada upacara bendera? Hah!" Bentak Aditya.
"Maaf kak, saya telat bangun..."
"Maaf kak, saya telat karena lama keringkan seragam yang baru saya cuci..."
__ADS_1
Dan masih banyak alasan yang lainnya. Saat tiba giliran Dona, Aditya terpaku. Ia terdiam beberapa saat kemudian menanyakan Dona dengan nada lembut, berbeda dengan siswa-siswa yang terlambat lainnya.
"Ka-kamu, kenapa bisa datang terlambat?" Tanya Aditya dengan nada bicara yang terdengar halus.
"Maaf, tadi aku gak dapat ojek." Balas Dona santai.
"Memangnya rumah kamu dimana? Kenapa sampai begitu terlambat datang sekolah?"
"Jalan merdeka nomor 2, disana ojek memang jarang ada. Giliran coba lewat ojol, gak dapat juga." Jawab Dona.
"Oh, baiklah kalau begitu ingat lain kali jangan diulangi." Balas Aditya.
Siswa lain yang berjumlah 10 orang, mulai berbisik-bisik melihat perubahan Aditya. Mereka semua diberikan hukuman membersihkan semua toilet yang ada disekolah. Sementara Dona diberikan hukuman menyapu di ruang perpustakaan.
Masuk perpustakaan Dona kembali bertemu dengan siswa populer sekolah lainnya, yaitu Raka yang dijuluki si genius yang sebelumnya pernah bertemu dengannya di bukit.
"Hey Dona..." Sapa Raka.
Dona yang tengah menyapu, menoleh ke arah suara Raka.
"Siapa ya?" Tanya Dona.
"Ya ampun, cepat banget kamu lupa sama aku. Kemarin kita ketemu di bukit itu." Ujar Raka.
"Oh..." Balas Dona singkat.
"Kamu....."
Triingg.....!
Belum sempat Raka berbicara panjang lebar, suara bel yang berbunyi membuat Dona segera berlalu dan masuk ke dalam kelas meninggalkan Raka yang masih berdiri mematung.
"Gadis yang menarik..." Gumam Raka.
__ADS_1