
Dona berhenti sesaat di tepi jalan, berusaha menjernihkan pikirannya sesaat dengan memejamkan mata, entah kenapa rasa perih singgah di ulu hatinya. Dengan dada yang sesak, Dona kembali melanjutkan perjalanannya ke rumah Ayu.
Selama perjalanan, bayangan wajah Gilang yang mencoba menahannya untuk tidak pergi tadi membuat hati Dona tak karuan.
Motor Dona akhirnya berhenti tepat di depan rumah yang ditempati Ayu bersama dengan Billy sejak beberapa bulan yang lalu. Dona menghela nafas panjang, meletakkan tangan di dada, mencoba menguatkan diri untuk tidak menangis. Penghinaan yang diterimanya tadi benar-benar membuatnya terluka. Ia berusaha sekuat mungkin untuk tidak terlihat sedih dihadapan Ayu. Ia tak ingin Ayu mengetahui apa yang baru saja dialaminya.
Dona berjalan masuk ke dalam rumah Ayu setelah pintu dibuka oleh seorang ART rumah Ayu. Dona langsung berjalan menuju ruang keluarga dimana Ayu tengah duduk santai menonton televisi. Ayu tampak semakin gendut, ia tengah mengunyah apel sambil fokus menatap layar televisi hingga tak menyadari kedatangan Dona.
"Kheemmm.... Serius banget." Ucap Dona yang membuat Ayu terkejut.
"Ya ampuuun Don. Kenapa gak bilang-bilang mau kesini." Ayu berusaha berdiri, namun Dona dengan cepat melangkah ke arahnya.
"Gak usah berdiri, duduk aja." Titah Dona. Ia lalu menyodorkan barang yang dibawanya.
"Apa ini?" Tanya Ayu.
"Bingkisan buat ibu hamil."
Ayu tersenyum dan membuka barang bawaan Dona. Selain pakaian yang dibeli Dona di mall tadi, Dona juga membawakan Ayu cemilan ringan berupa kue kering dan buah-buahan.
"Banyak banget Don. Makasih ya, kamu tahu aja apa yang aku suka."
Dona tersenyum, namun lagi-lagi pikirannya teralihkan karena mengingat kejadian yang baru saja menimpanya.
"Kamu kenapa?" Tanya Ayu.
Dona langsung mendongak, berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh. Ia lalu tersenyum menatap Ayu.
"Aku baik-baik aja." Balasnya. "Oh ya, gimana kabar si debay ini?" Dona mengelus perut Ayu yang besar itu.
"Don, aku tahu kamu. Kita temenan itu bukan sebulan dua bulan. Kamu kenapa? Lagi ada masalah?" Tanya Ayu lagi.
"Udah deh, gak usah bahas masalah aku. Aku kesini bukan untuk berbagi masalah sama kamu. Aku mau nengokin kamu dan nanyain kabar kamu." Ucap Dona.
"Aku baik. Tapi kamu tuh kelihatan lagi gak baik."
Dona menghela nafas panjang. Ia sadar, dirinya memang tak bisa menyembunyikan apapun dari Ayu. Ayu memang paling mengerti dirinya. Tapi, bagaimanapun, Dona tak ingin membuat Ayu kepikiran. Jadi, Dona memutuskan untuk tidak mengatakan apapun.
"Yu, beneran deh aku gak apa-apa. Aku baik-baik aja. Cuma lagi kecapean aja, tugas kuliah numpuk. Nah sekarang aku juga gak bisa lama-lama karena harus pergi untuk ngerjain tugas aku. Aku kesini cuma mampir aja."
Ayu memandang Dona dengan raut wajah tak percaya.
"Udah ya. Kain kali aku balik lagi kesini. Sekarang aku harus pergi dulu." Dona memegang tangan Ayu lalu cipika-cipika. Setelah itu ia berjalan keluar dari rumah Ayu.
'Aku tahu kamu lagi menyembunyikan sesuatu dari aku Don.'
Ayu hanya bisa menatap punggung sahabatnya itu yang berjalan keluar dari rumahnya. Ia sendiri tak mungkin bisa memaksa Dona untuk menceritakan masalahnya. Kali ini, Ayu hanya bisa berharap bahwa Dona bisa segera menyelesaikan masalah yang dihadapinya.
Kali ini Dona berusaha mati-matian mencoba kuat di depan Ayu. Kali ini, dia sengaja memilih menyendiri dulu sampai tenang dan dengan terpaksa berbohong pada Ayu kalau mau mengerjakan tugas kuliahnya. Padahal Dona hanya ingin keluar dari rumah Ayu agar Ayu tak lagi mencecarnya.
Sepeda motor yang dikendarai Dona berjalan keluar dari pekarangan rumah Ayu, awalnya Dona tak tahu arah dan tujuannya hingga terpikirkan begitu saja agar ia pergi ke pantai untuk menenangkan diri. Ia mengirimi Aditya pesan singkat untuk bisa menyusulnya bertemu di pantai. Satu-satunya orang yang bisa menjadi tempatnya mencurahkan segala kekesalannya hanyalah Aditya.
Setengah jam perjalanan, Dona akhirnya tiba di pantai. Ia menghembuskan napas panjang perlahan. Kemudian berjalan ke arah tepi pantai. Dona memandang lurus ke depan menatap deburan ombak. Setelah menempuh perjalanan lumayan panjang, akhirnya ia sampai juga di pantai pinggiran kota. Dona mulai berjalan menyusuri bibir pantai sambil tersenyum miris, entah ide gila apa yang tersemat di pikirannya tadi, sudah sore seperti ini malah memilih pergi ke pantai.
Angin sepoi-sepoi menggerakkan rambut Dona yang sudah mulai memanjang dan diikat tinggi. Perlahan, matanya terpejam dengan tangan yang ia rentangkan sembari menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskan nya perlahan. Dona melakukan berkali-kali sampai hatinya benar-benar tenang.
"Bagus nggak, Don? Rencananya, ini mau aku desain buat rumah kita nanti. Aku tahu kamu paling suka yang bernuansa klasik modern."
"Kira-kira kamu mau honeymoon dimana? Coba kamu searching lokasi yang bagus dan romantis."
"Don, pokoknya kalau kita nikah nanti. Aku bakal adain pesta yang besar, biar semua orang tau bagaimana cantiknya isteri dari CEO HR Group"
"Don..."
"Don..."
"Don..."
"Arrrrgggggh!" Dona berteriak sekeras mungkin, ketika mengingat semua ucapan-ucapan yang dikatakan Gilang yang kandas tanpa bekas.
Napasnya tersengal setelah itu. Dada bergemuruh hebat karena sesak kembali memenuhinya. Perlahan tubuhnya duduk ke pasir, memegang dada yang sakitnya kembali terasa. Sakitnya bukan karena berpisah dengan Gilang, tapi penghinaan yang dilakukan orang tua Gilang padanya dan Gilang sebagai lelaki yang mengaku cinta malah diam saja. Bahkan terkesan menyalahkannya atas sikap yang ditunjukkannya melawan mama Gilang.
'Kenapa jadi sesakit ini?'
__ADS_1
Tak memedulikan kondisi sekitar, Dona menjatuhkan tubuh di atas pasir dengan kepala menatap langit sore yang tak lagi seterang tadi. Sesuatu yang hangat ia rasakan mengalir dari ujung mata.
'Tuhan ... tolong genggam hatiku, agar tak lagi mengharap selain pada-Mu. Ampuni aku karena sudah bersikap kasar pada orang tua.'
Dona merasakan penyesalan di hatinya atas sikap yang ditunjukkannya tadi. Tapi mau bagaimana lagi? Nasi sudah menjadi bubur, semuanya sudah terjadi dan tak bisa diputar kembali.
"Sudah teriaknya?" Suara bariton itu terdengar di telinga Dona, lelaki itu langsung mengambil posisi duduk disamping tubuh Dona yang berbaring.
Mata Dona yang tadinya terpejam, refleks terbuka saat mendengar suara itu. Tampak Aditya duduk dengan membawa sesuatu di tangan.
"Buat jaga-jaga kalau kamu haus nanti," ucapnya sambil ikut berbaring di pasir disamping Dona dan meletakkan botol minuman rasa cokelat disisi kirinya.
Dona hanya terdiam ia berbaring di tepi pantai sangat lama dan terus menatap langit, sampai akhirnya ia merasakan tetes hujan mendarat di pipinya. Meski enggan, Dona terpaksa bangun, karena Aditya terus menariknya. Dona pun bangun lalu menatap sekitar yang sudah sangat sepi.
"Udah mau malam, hujan juga. Ayo kita pulang aja."
Dona pun berjalan gontai mengambil sepatu dan ponsel lalu berjalan disamping Aditya meninggalkan pantai. Dona terlihat begitu berantakan.
"Don, hidup ini layaknya jalan raya. Kita akan bertemu banyak persimpangan, yang terkadang membuat laju kendaraan kita berhenti sejenak, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan lagi agar sampai ke tujuan," ucap Aditya.
Dona tetap terdiam, ia bahkan belum mengatakan apapun masalahnya pada Aditya. Tapi, pria itu sudah memberikannya motivasi yang memang tengah dibutuhkannya.
"Hidupmu adalah jalanmu, kamu sendiri yang bisa tentukan kapan mau berhenti dan kapan mau melanjutkan perjalanan. Yang jelas, tak ada luka yang tak sembuh, tak ada luka yang tak ada obatnya, dan setiap luka memiliki takdirnya. Semua hanya masalah waktu dan seberapa keras ikhtiar kita, sisanya serahkan pada Tuhan, biarkan Tuhan yang selesaikan." Lanjut Aditya.
Dona lalu mendekat ke arah Aditya saat keduanya tiba di parkiran.
"Kamu tahu apa yang tengah aku alami?" Tanya Dona menatap Aditya tajam.
"Bagaimana aku bisa tahu kalau kamu sendiri gak cerita bodoh." Aditya mengacak rambut Dona. "Kamu pikir, aku punya kemampuan untuk membaca pikiran apa?"
Dona tersenyum seraya menepuk lengan Aditya.
"Nah, gitu dong senyum. Jangan manyun-manyun lagi. Sekarang kita pulang ya. Takut hujannya gede."
Dona mengangguk, sembari menerima helm yang diberikan Aditya.
"Bentar dulu. Motor kamu dimana?" Tanya Dona yang baru menyadari bahwa hanya ada motornya saja di parkiran itu.
Dona lalu mulai naik ke motor dan perlahan kendaraan roda dua itu melaju pelan menembus rintikan hujan.
"Kamu aja yang pake mantel, aku udah biasa hujan-hujanan," tolak Dona saat Aditya itu menawarinya saat berteduh karena hujan yang semakin deras.
"Mantel ini kan punya kamu, kenapa malah aku yang pake?"
"Pokonya kamu aja deh yang pake. Aku lagi pengen ujan-ujanan." Balas Naura.
"Ya udah, kalau gitu kita hujan-hujanan bareng aja." Aditya kembali meletakkan mantel hujan itu ke dalam jok motor Dona.
Akhirnya, keduanya kembali melanjutkan perjalanan, menerjang hujan. Kurang lebih satu jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah. Dingin menusuk kulit Dona karena pakaian yang ia kenakan basah kuyup.
"Udah sana masuk, langsung bersihin diri ganti baju. Jangan lupa minum susu atau teh hangat. Aku pulang ya." Ucap Aditya.
"Lah, motor kamu mana?" Tanya Dona.
"Noh." Tunjuk Aditya pada sebuah mobil yang ternyata sejak tadi membuntuti keduanya.
"Ya udah, aku masuk ya." Ucap Dona dibalas anggukan Aditya.
"Don yang sabar, ya. Aku memang gak tahu masalah kamu apa, karena kamu sendiri memang gak mau cerita dari tadi. Tapi melihat dari pengalaman kakek aku dulu saat kehilangan Papa dan Mama, kalau lagi sedih kakek selalu berdoa menyebut nama Tuhan. Seperti yang dikatakan kakek, titipkan hati kita pada Tuhan Don, jika ikhlas nanti rasa sedih akan diganti dengan bahagia. Karena memang, kita ini sebagai manusia hanya bisa berencana dan Tuhan lah yang tentukan akhirnya." ucap Aditya panjang lebar.
Dona tersenyum mendengar ucapan lelaki itu. "Iya deh, nanti aku coba Dit. Oh ya, salam buat kakek, ya. Terima kasih untuk sarannya." balas Dona.
"Iya. Kamu yang kuat ya Don." ucap Aditya.
Kemudian Aditya berpamitan. Setelahnya, Dona masuk dan rumah dalam kondisi sepi. Hujan di luar sana membuat orang tua Dona tidur cepat.
Dona segera ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian. Setelah selesai, Dona beranjak ke dapur. Belum makan sedari siang ternyata membuat perutnya perih, tangannya bergerak mengambil mi instan cup hendak memasaknya.
"Dari tadi?" suara Bu Nir tiba-tiba muncul di ambang pintu dapur dan mengagetkan Dona.
"Ya ampun, Ibu bikin kaget aja. Kirain udah tidur Bu." balas Dona sambil menuang air ke dalam teko.
"Belum." balas Bu Nir. "Itu Ibu udah buatin sup ayam."
__ADS_1
"Makasih bu, tapi makannya besok pagi aja. Masih bisa diangetin kan?" Tanya Dona dibalas anggukan Bu Nir. "Sekarang, aku lagi pengen makan mie ini aja."
Air mulai mendidih, Dona lalu menuangkan air panas ke dalam cup mie nya.
"Kamu ada masalah lagi sama Gilang?" tanya Bu Nir yang duduk di meja makan.
Tangan Dona yang tengah mengaduk mie, terhenti sejenak saat mendengar ucapan Ibu nya. Posisi Dona yang membelakangi Bu Nir, sontak ia berputar dan duduk disamping Ibu nya dan mulai memakan mie. Namun Dona tetap berusaha setenang mungkin menanggapi. "Gak Bu," ucapnya singkat, seraya meneruskan makan.
"Nak, dia–"
"Aku mau langsung tidur habis makan Bu," potong Dona tanpa melihat ke arah Bu Nir.
"Gilang di luar, Nak."
Refleks tangan Dona berhenti memegang sumpit.
"Setidaknya beri Nak Gilang kesempatan ngejelasin, biar salah paham di antara kalian selesai." Lanjut Bu Nir.
Dona berdiri dan memandang Bu Nir lekat.
"Buat apa Bu? Kecuali kalau dia pecahkan kaca di sana, lalu bisa menatanya lagi sama seperti semula tanpa menyisakan sedikit pun retak. Dan ... anggap saja itu hatiku," ucap Dona dengan dada yang bergemuruh menunjuk cermin yang menempel di dinding.
Dona bergegas masuk ke kamar sambil membawa makan malamnya, lalu bersandar sejenak di balik pintu dan mengembuskan napas panjang. Putus cinta memang tak sakit, karena yang sakit itu ketika sudah putus tapi masih cinta.
Bu Nir keluar rumah, terdengar pintu dibuka dan ditutup beberapa saat setelahnya. Tak berapa lama kemudian, Bu Nir mengetuk pintu kamar Dona.
"Don, ada titipan buat kamu. Ibu cantolin di pintu, ya," ucap Bu Bir dari luar.
"Buat ibu aja." Teriak Dona.
Bu Nir hanya menggelengkan kepalanya, lalu terdengar berjalan pergi meninggalkan kamar Dona.
Dona yang sedang menyantap makan malamnya, tak begitu memedulikan dan memilih melanjutkan menonton film di laptop. Setelah selesai makan, Dona keluar kamar dan seketika matanya tertuju pada bingkisan yang tergantung di gagang pintu, dan Dona masih tak memperdulikannya.
Setelah selesai mencuci tangan dan hendak masuk ke kamar, Dona baru mengambil bingkisan itu dan melihat isinya.
'Jaga kesehatan, Don. Tadi kamu hujan-hujanan lama banget.'
Sebuah tulisan di kertas kecil. Tak hanya minuman, tetapi juga ada makanan serba cokelat.
Dona memandang lama kertas kecil itu, dari siapa lagi kalau bukan Gilang.
Setelah meletakkan bingkisan itu di meja, Dona menjatuhkan tubuhnya di ranjang, lalu memandang langit-langit kamar. Seakan sudah jadi kebiasaan kalau lagi banyak pikiran, Dona hanya diam dan akan memandang pada satu titik tempat sampai bosan. Dan kali ini, lagi-lagi ada bayangan Gilang di sana. Walau samar tapi mampu membuat perasaan Dona tak karuan.
Dona menghembuskan napas panjang dengan perlahan, berbarengan dengan mata yang perlahan terpejam.
'Jika di alam nyata aku masih enggan bertemu denganmu, semoga di alam mimpi kita akan bertemu dengan keadaan baik-baik saja tanpa ada gangguan dari mama kamu.'
***************************
Pagi.....
"Don, kemarin–"
"Ibu kalau mau bahas Gilang, aku lagi nggak mau denger," potong Dona saat Bu Santi hendak mengatakan sesuatu.
Naura yang baru saja selesai mandi duduk di meja makan dan langsung memakan nasi goreng yang dibuatkan Bu Nir.
"Bukan itu. Makanya dengerin Ibu dulu, hari ini kamu gak ada jam kuliah kan?" Tanya Bu Nir.
"Gak ada Bu, jadi aku mau rebahan aja di rumah."
"Kamu sakit?" tanya Bu Nir lagi.
"Gak Bu, aku baik-baik aja."
Tak ingin ditanya lagi, Dona segera berlalu masuk ke kamar. Dona ingin mengirim pesan pada Aditya bahwa ia hari ini tak masuk lagi karena tak ada mara kuliah.
Saat akan mengambil ponsel di meja, pandangan Dona tertuju pada bingkisan dari Gilang semalam yang masih tergeletak, dan sama sekali belum ia minum. Tanpa pikir panjang, Dona langsung memasukkannya ke laci meja.
'Aku akan berusaha membuang semua hal yang mengingatkan tentangmu.'
Bersambung.....
__ADS_1