Pesona Sang Primadona

Pesona Sang Primadona
PSP 44: Penjelasan Gilang


__ADS_3

Cuaca mulai panas, teriknya matahari hari ini berbanding terbalik dengan yang terjadi semalam. Di dalam kelas, Aditya melamun kan kejadian pagi tadi dimana ia melihat Dona dengan rambut acak-acakan dan mengenakan pakaian terbuka. Senyum dibibir Aditya mengembang. Ia benar-benar tak bis melupakan hal konyol yang dilakukan Dona. Di lain sisi, ia merasa lega karena rumor tentang Dona sudah terselesaikan dengan begitu cepat.


Di luar gedung kampus, tepatnya di pelataran parkir, Gilang masih setia menunggu Dona keluar kelas. Ia sudah bertekad untuk menunggu Dona demi membicarakan apa yang sebenarnya telah ia lakukan sehingga membuat Dona mendiaminya.


Cukup lama Gilang menunggu, hingga akhirnya ia melihat sosok Dona tengah berjalan bersama dengan Aditya. Keduanya tampak tertawa, sesekali Dona menepuk pundak Aditya.


"Udah ah, gak usah dibahas. Malu tahu..." Ucap Dona.


"Ternyata penampilan kamu bisa urak-urakan juga ya... Hahaha...."


Dona langsung mencubit pinggang Aditya.


"Hahaha ampun-ampun." Aditya meringis. "Tapi jujur, kamu tetap cantik kok."


Pipi Dona langsung memerah, dan mendorong tubuh Aditya. Aditya tertawa lalu mencolek dagu Dona.


"Kamu gak ada mata kuliah lagi?" Tanya Dona saat keduanya tiba di motor miliknya.


"Ada, sepuluh menit lagi masuk."


"Terus kenapa ikut kesini?"


"Mau pastiin kamu aman dan selamat sampai parkiran." Balas Aditya.


"Khemmm.... Lo gak perlu lakuin itu. Karena itu udah tugas gue sebagai cowoknya Dona." Ucap Gilang secara tiba-tiba berdiri di hadapan keduanya.


Aditya tersenyum dan mendekati Gilang.


"Ini juga udah tugas gue sebagai sahabatnya Dona. Lagian, lo juga gak bisa selalu ada disisi dia seperti apa yang gue lakukan. Jadi wajar gue yang jagain dia."


Gilang melangkah maju mendekati Aditya dengan wajah yang terlihat marah. Menyadari hal itu, Dona langsung menarik Aditya mundur. Ia menatap Gilang kesal.


"Gak usah buat masalah disini. Lebih baik kamu pergi aja." Titah Dona pada Gilang.


Gilang langsung menarik tangan Dona.


"Kita perlu bicara."


"Lepasin gak. Sakit." Rintih Dona.


"Aku bakal lepasin kalau kamu mau ikut aku dan bicara sama aku."


Dona tak menjawab, dan terus saja berontak agar Gilang melepaskan tangannya. Entah kenapa, setiap kali melihat wajah Gilang, Dona menjadi benci karena mengingat Opa Herbowo. Tangan Dona mulai memerah karena Gilang memeganginya dengan sangat kuat.


"Lang lepasin." Rintih Dona.


Tiba-tiba, Aditya mendorong tubuh Gilang hingga membuatnya tersungkur. Dua orang yang berada di dalam mobil Gilang langsung keluar mendekati Gilang dan membantunya berdiri.


"Ini yang lo bilang mau jagain Dona. Sementara yang lo lakukan malah nyakitin dia." Bentak Aditya.


Dua orang pengawal Gilang langsung mendorong Aditya.


"Ini bukan urusan lo. Lo gak usah ikut campur. Gue cuma mau ngajak cewek gue bicara. Lo gak ada hak sama sekali buat campurin urusan gue sama dia." Kali ini giliran Gilang yang membentak.


Keributan yang dibuat keduanya mengundang orang-orang untuk menjadikan mereka tontonan. Sontak Dona langsung menghalang Aditya yang hendak maju mendekati Aditya.

__ADS_1


"Udah ya, gak usah ribut gini. Malu dilihatin orang." Ucap Dona.


Aditya menatap sekeliling. Ternyata sudah ada banyak pasang mata yang menatap mereka.


"Kalau kamu gak mau aku buat keributan, sekarang juga ikut aku. Kita bicarakan semuanya baik-baik." Ucap Gilang dengan nada mengancam pada Dona.


"Lo ngancem?" Aditya marah dan hendak melangkah namun dengan sigap Dona menahannya.


"Udah gak apa-apa. Jangan kayak gini." Dona menatap mata Aditya dalam-dalam. Amarah dimata Aditya langsung surut begitu saja. "Oke, aku akan ikut kamu. Please suruh orang mu untuk pergi dari sini." Titah Dona pada Gilang.


Dengan gerakan tangan, Gilang mengusir kedua orang pengawalnya. Dona lalu berbalik menatap Aditya dan memegang tangannya.


"Kamu masuk kelas gih. Aku pergi dulu ya." Ucap Dona.


Aditya tersenyum lalu mengusap kepala Dona lembut.


"Hati-hati. Jaga diri kamu." Pesan Aditya.


Gilang langsung menarik Dona untuk menjauh dari Aditya. Ia membawa Dona masuk ke dalam mobilnya dan memerintahkan salah seorang pengawalnya untuk mengendarai motor Dona. Sementara satu orang lagi menjadi sopir.


Mobil Gilang berjalan keluar dari parkiran kampus. Sepanjang perjalanan Dona hanya diam. Matanya pun tak pernah menatap atau menengok ke arah Gilang. Ia terus saja menatap ke arah luar jendela. Cukup lama mobil melaju melintasi jalanan, namun belum juga ada tanda-tanda mobil itu mau berhenti.


"Kita mau kemana?" Tanya Dona akhirnya tanpa melihat wajah Gilang.


Gilang tersenyum dan menyentuh dagu Dona, berusaha membuat wajah Dona agar melihatnya. Dengan kasar Dona menepis tangan Gilang. Gilang kembali tersenyum.


"Tunggu saja. Sebentar lagi kita sampai." Jawab Gilang.


Benar saja, lima menit kemudian mobil Gilang masuk ke dalam area parkir sebuah mall. Dona keluar dari dalam mobil tanpa menunggu Gilang membukakannya pintu. Ternyata Gilang membawa Dona ke sebuah mall dimana pertama kali keduanya bertemu.


"Mau ngapain kita kesini?" Tanya Dona kesal.


Gilang mengajak Dona masuk ke dalam sebuah cafe yang ada di dalam mall. Cafe dengan nuansa romantis. Keduanya duduk berhadapan dengan makanan yang sudah penuh diatas meja.


"Makan dulu. Setelah itu kita bicara." Titah Gilang.


Tanpa membalas ucapan Gilang, Dona lantas tanpa malu langsung makan begitu saja. Gilang yang mengetahui bahwa sang kekasih doyan makan terlihat tersenyum saat Dona makan dengan lahap.


Saat makanan tandas, menyisakan piring-piring kosong dan gelas minuman yang tersisa setengah, Gilang pun memulai bicaranya.


"Don, jujur aku sama sekali gak tahu kesalahan apa yang aku perbuat sama kamu sampai kamu cuekin aku sejak malam aku ngajak kamu ke rumah untuk hadir di acara ulang tahun Opa."


Mendengar Gilang mengucap kata 'Opa' wajah Dona langsung berubah masam.


"Aku menebak-nebak sendiri apa yang sebenarnya sudah aku lakukan. Tapi nihil, dan yang ada aku mendapati sebuah jawaban yang menurut aku sendiri tidak masuk akal." Gilang menghela nafas panjang. "Apa kamu bersikap dingin padaku karena ada hubungannya dengan Opa?"


Pertanyaan Gilang membuat Dona terkejut dan langsung menatap Gilang. Pandangan keduanya bertemu sesaat, Dona langsung mengalihkan pandangannya.


"Don, please jelasin sama aku. Apa kamu kenal Opa? Atau ada kesalahan yang telah dilakukan Opa padamu?"


Dona menutup matanya dan menghela nafas panjang. Ia kembali mengingat peristiwa yang terjadi di kehidupannya yang terdahulu. Ia benar-benar tak bisa menerima kenyataan bahwa Gilang, pria yang dicintainya adalah cucu dari pria yang di kehidupannya yang terdahulu adalah penyebab kematiannya.


"Lang, aku mau putus."


Gilang membelalakkan matanya, ia sontak menggenggam erat tangan Dona.

__ADS_1


"Gak. Aku gak mau. Kenapa malah jadi gini? Aku cuma mau kamu jelasin apa yang sebenarnya terjadi."


Dona terdiam.


"Jelasin dulu apa salahku?" Teriak Gilang tak bisa menahan amarahnya.


"Ini semua karena Opa kamu." Teriak Dona.


Semua orang yang berada dalam cafe menatap keduanya. Dona lantas menunduk malu karena tak bisa menahan emosinya hingga berteriak. Sementara Gilang, tatapannya terus mengarah pada Dona yang menunduk.


"Aku butuh penjelasan."


Dona menghela nafas dan berusaha tenang. Ia kemudian mulai menjelaskan pada Gilang sama persis seperti apa yang diceritakannya pada Aditya.


"Tidak mungkin." Ucap Gilang


"Apanya yang tidak mungkin? Kenyataan ya memang seperti itu." Ucap Dona dengan suara yang meninggi.


"Kamu udah salah paham Don. Semuanya tidak seperti itu."


"Salah paham gimana nya? Emangnya tahu apa kamu tentang kejadian yang menimpa Tante ku?" Dona tampak emosi.


Gilang kembali memegang tangan Dona.


"Don, malam itu aku langsung bertanya pada Opa." Ucap Gilang. "Apa kamu ingat? Malam itu Opa pernah bilang dia kenal dengan gadis bernama Dona di masa lalunya?" Dona tak menjawab apapun, ia hanya menatap Gilang tajam. "Opa bilang, dia kenal dengan seorang gadis yang bernama Dona karena Papa dari gadis itu...." Gilang menghentikan ucapannya, terlihat tengah berpikir. "Maaf, dengan kasar aku haru bilang bahwa Papa dari gadis bernama Dona itu menjual puterinya pada Opa agar bisa melunasi hutang-hutang mereka. Opa sama sekali tak pernah berniat untuk menikahi gadis itu, tapi Opa hanya ingin menyelamatkannya karena jika bukan Opa yang mau membayar maka gadis itu akan di jual pada orang lain. Opa pun mengatakan kalau Opa akan menikahinya, padahal Opa hanya ingin menyelamatkannya."


Dona terdiam, ia menggeleng kuat. Ia benar-benar tak mempercayai apa yang dikatakan Gilang. Gilang mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya, ia memperlihatkan sebuah foto yang menunjukkan wajah Opa Herbowo di masa muda dengan seorang wanita disampingnya.


"Ini cinta pertama dan terakhir Opa. Dia Oma Laras. Oma Laras meninggal saat melahirkan Mama aku, sebelum meninggal Oma bilang untuk selalu menjaga Mama. Dan saat melihat gadis yang namanya Dona, atau Tante kamu itu. Opa merasa seperti melihat Mama karena memang seumuran dengan Mama. Opa ingin melindunginya dengan dalih ingin menikahinya dan menyelamatkan perusahaan Papa Mama dari Tante kamu itu. Tapi, satu hal yang perlu kamu tahu, Opa bilang bahwa Papa dan Mama tante kamu itu bukan orang tua kandungnya. Tante kamu itu adalah anak adopsi."


Deg!!!!


Dona berusaha menahan air matanya. Ucapan Gilang begitu tak bisa dipercaya Dona.


"Opa merasa bersalah karena tante kamu di temukan meninggal. Setelah itu, tidak lama Papa dan Mama nya juga meninggal. Tapi, bukan karena kecelakaan seperti yang diberitakan. Melainkan karena dibunuh oleh mafia tempat mereka berhutang." Jelas Gilang.


Dona tak lagi dapat menahan air matanya. Ia menangis dengan menutup mulutnya, berusaha agar tak mengeluarkan suara. Meski begitu ia tak dapat menahan dirinya untuk sesenggukan. Gilang memindahkan kursinya agar duduk disamping Dona. Dengan lembut Gilang memeluk dan mengelus kepala Dona.


"Ka... Kamu gak bohong kan Lang? Opa kamu gak bohong kan?" Isak Dona.


"Aku gak mungkin bohong sama kamu. Kalau kamu gak percaya, kamu bicara langsung aja dengan Opa. Aku yakin Opa punya banyak bukti. Karena bagaimanapun Opa dengan Pak Wijaya orang tua dari tante kamu itu adalah sahabat." Jawab Gilang.


'Kenyataan apa ini Tuhan?' isak Dona dalam hati.


Gilang mengajak Dona pergi ke toilet untuk membasuh wajahnya agar bisa lebih segar. Dona masuk ke dalam toilet, sementara Gilang menunggu di luar. Tepat saat Dona keluar toilet, Gilang menarik Dona ke dalam pelukannya lalu mendorong Dona ke tembok dan menciumnya.


"Maaf. Aku hanya ingin mengulang kenangan saat pertama kita bertemu." Bisik Gilang di telinga Dona.


"Jangan ulangi lagi. Bagaimana jika ada orang yang melihat." Dona memukul dada Gilang.


"Kalau begitu, artinya kau mau aku cium di tempat yang private?"


"Dasar ...." Dona mendorong tubuh Gilang dan berjalan menjauh.


Gilang tertawa dan menyusul langkah Dona.

__ADS_1


'Entah aku bisa percaya atau tidak? Tapi, aku harus mencari tahu semuanya. Meski itu aku harus bertemu dengan Opa Herbowo.' ucap Dona dalam hati.


Bersambung....


__ADS_2