
Kondisi Dona sudah semakin membaik. Hingga sore itu juga Dona bisa keluar dari rumah sakit. Dona tak ingin bermalam di rumah sakit lagi. Ia benar-benar tak menyukai bangunan yang namanya rumah sakit, dan berharap tak akan pernah dirawat lagi.
Tiba di rumah, Pak Edi dan Bu Nir langsung memperlakukan Dona bak Tuan Puteri. Dona tak boleh turun dari tempat tidur, bahkan untuk makan, Bu Nir akan mengantar makanan ke kamar dan menyuapi Dona.
"Ayolah Pak, Bu. Aku udah baik-baik aja. Gak perlu seperti ini." Ucap Dona.
"Kamu kan baru pulih, jadi gak boleh capek dulu." Balas Bu Nir sambil terus menyuapi Dona makan malam.
"Kamu diam dan terima saja perlakuan Bapak sama Ibu. Ini semua kami lakukan karena kami tak ingin kamu sakit lagi Nak." Sambung Pak Edi.
Dona hanya bisa mengangguk dan tersenyum. Dirinya sama sekali tak pernah membayangkan akan mendapat begitu banyak kasih sayang dari yang namanya orang tua. Teringat di kehidupannya yang terdahulu, walau Dona sakit sekalipun, kedua orang tuanya menyerahkan tugas untuk menjaga Dona pada seorang pembantu mereka. Dona menghela napas panjang saat ingatan tentang kehidupannya yang terdahulu terbayang. Saat ini ia tak henti-hentinya bersyukur karena dapat terlahir kembali dan hidup dengan keluarga yang amat sangat baik.
Pukul 9 malam, Dona mulai mencoba memejamkan matanya. Berharap saat bangun esok pagi, dirinya bisa lebih bugar.
Bbrraaakkk…!!! Suara terdengar dari arah barat yang tampak tidak asing lagi yaitu suara kendaraan yang bertabrakan, hingga menyebabkan salah satu korban ada yang tak sadarkan diri.
“Dek, bangun Dek.” kata si penabrak.
"Iya udah kamu yang nabrak, tolong tanggung jawab!!” kata orang disekitar tempat kejadian perkara, lalu Dona dilarikan ke rumah sakit terdekat dan orang yang menabraknya bertanggung jawab menelepon keluarganya.
Dona membuka mata dengan bingung.
“Aku ada dimana ini?” Dona melihat sebuah tempat yang belum pernah ia singgahi. Sebuah tempat yang hampir menyerupai surga seperti yang orang katakan, dimana pohon yang rindang, air sungai yang begitu jernih, awan yang begitu cerah sampai Dona seakan akan ikut terbawa suasana yang begitu indah.
Tiba tiba terdengar suara nyanyian seorang pria.
“Siapa itu?” pikir Dona, sambil mencari sumber suara tersebut.
Hingga akhirnya Dona menemukan apa yang membuatnya penasaran. Ternyata benar dugaannya ada seorang pria yang berpakaian rapi dan serba putih yang sedang memainkan piano sambil bernyanyi tapi dia tidak menampakan wajahnya.
"Siapa kamu?” tanya Dona dengan nada santai, lalu pria tersebut membalikan badannya.
'Gilang!' ucap Dona dalam hati.
"Aku Gilang, kalau kamu?”
__ADS_1
"A-aku Dona." Balas Dona. 'Apa dia lupa padaku?'
"Kenapa kamu bisa disini?” tanya Gilang.
"Aku tidak tau kok tiba tiba disini. Kamu beneran lupa sama aku, atau hanya pura-pura? Terus ini dimana?" Cecar Dona.
"Ini kali pertama loh kita ketemu. Ini tempat pribadi aku. Apa kamu jodoh yang selama ini dikatakan Oma padaku?"
"Maksud kamu?" Tanya Dona bingung.
"Oma pernah bilang. Suatu hari nanti, akan datang seorang wanita yang akan hidup sebagai pendamping hidupku selamanya. Kau kah orang itu?"
"A-aku tidak tahu. Aku tiba-tiba berada disini. Jadi....." Ucapan Dona terhenti saat Gilang merangkul tubuh Dona kedalam pelukannya.
"Sudah pasti kaulah orangnya." Gilang memegang wajah Dona dan mengarahkannya ke wajahnya.
Posisi keduanya berhadapan dan hampir saja bibir keduanya bersentuhan. Saat tiba-tiba....
“Donaaa.... Donaaa... Bangun nak. Matahari sudah meninggi." Ucap Bu Nir menepuk-nepuk pipi Dona.
Dona pun terbangun dari tidurnya dan menyadari semua hal yang terjadi padanya tadi hanyalah mimpi. Dona lalu bergegas mengambil handuk dan menuju ke kamar mandi. Setelah itu sarapan bersama kedua orang tuanya.
"Hari ini istirahat dulu, besok baru pergi sekolah." Balas Pak Edi.
"Tapi Pak, aku udah gak apa-apa kok. Aku udah baik-baik aja."
"Sudah-sudah. Habiskan sarapan mu Nak. Dengerin aja apa kata Ibu sama Bapak." Ucap Bu Nir yang membuat Dona terdiam.
Pukul 10 pagi, sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah Dona. Kedua orang tua Dona tengah sibuk melayani pembeli di toko kelontong mereka. Sementara Dona sedang duduk di teras rumah. Dona melihat sosok Gilang turun dari dalam mobil sporty berwarna kuning.
'Gilang!'
Gilang berjalan ke arah rumah Dona dengan masih mengenakan seragam sekolah. Ditangan Gilang terdapat buket bunga mawar merah yang lumayan besar dan juga sebuah bingkisan.
"Hai..." Sapa Gilang.
__ADS_1
Dona malah menyambut sapaan Gilang dengan wajah yang cemberut.
"Aku datang bukannya disambut dengan senyuman, kok malah cemberut begitu." Gilang lalu duduk disamping Dona. "Nih buat kamu." Lanjut Gilang seraya menyodorkan buket bunga dan bingkisan yang dibawanya.
"Kenapa datang di jam sekolah? Kamu bolos?" Dona tampak marah.
Gilang malah mengacak rambut Dona dengan tersenyum.
"Kau lebih penting dari apapun, apalagi itu cuma sekolah."
"Husshh tidak boleh begitu." Tiba-tiba Pak Edi muncul dari belakang toko. "Cinta memang bisa membuat buta. Tapi ingat, sekolah harus tetap jalan."
Gilang menggaruk kepalanya yang tak gatal lalu bersalaman dengan Pak Edi.
"Kenapa datang jam segini?" Tanya Pak Edi lagi.
"Saya rindu anak Pak Edi." Jawab Gilang.
Pak Edi tertawa, lalu meninggalkan Dona dan Gilang berbicara berdua di teras rumah. Keduanya lalu mengobrol panjang tentang kehidupan Gilang yang dicap sebagai badboy dan juga playboy.
"Kenapa sebenarnya kamu sampai dijuluki badboy? Sementara selama aku kenal kamu, kamu itu orang yang baik-baik aja."
"Mungkin karena aku selalu bermasalah di sekolah. Aku sering berkelahi, bolos sekolah dan bahkan pernah kedapatan merokok."
"Kalau aku boleh tau, kira-kira kenapa kamu bisa melakukan semua itu? Apa karena kamu berteman dengan orang yang salah atau...."
"Aku hanya kesepian." Ucap Gilang. "Aku berontak dan selalu berulah di sekolah hanya karena ingin kedua orang tua aku lebih perduli terhadapku. Tapi nyatanya, selama aku melakukan pelanggaran, tak pernah salah satu dari mereka akan datang ke sekolah untuk menyelesaikan semuanya. Mereka selalu saja meminta seseorang untuk menggantikan tugas mereka." Ujar Gilang dengan mata yang menerawang ke arah jalan depan rumah Dona. "Aku sudah nakal seperti ini, sejak aku mulai masuk sekolah dasar. Tapi anehnya guru-guru selalu membiarkan aku naik kelas. Padahal nilai ku buruk dan tidak pernah mengerjakan tugas sekolah. Aku yakin semua itu karena pengaruh dari kedua orang tuaku. Aahh kenapa aku malah curhat masalah pribadiku. Maaf."
Dona tersenyum dan mengusap punggung Gilang lembut.
"Tidak apa-apa. Aku senang kau bisa berbagi masalahmu denganku. Itu artinya kau mempercayaiku dan menganggap ku sebagai sahabatmu."
"Aku juga tidak mengerti, kenapa aku malah tenang-tenang saja menceritakan semuanya padamu. Mungkin karena aku menyukaimu." Balas Gilang.
Satu hal yang ditangkap Dona dari sosok Gilang. Kehidupan masa terdahulu Dona sama persis dengan yang dialami Gilang. Keduanya sama-sama kekurangan kasih sayang dari kedua orang tua mereka.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah ya... 🥰