Pesona Sang Primadona

Pesona Sang Primadona
PSP 72: Jadi Papa


__ADS_3

Entah bagaimana caranya, Aditya benar-benar bisa menutupi identitas Dona sebagai korban penculikan dan percobaan pemerkosaan yang dilakukan oleh Gilang. Media hanya memberitakan tentang Gilang yang ditangkap oleh polisi atas kasus tersebut tanpa mengetahui siapa korban sebenarnya.


Akibat dari penangkapan Gilang, saham perusahaannya jadi anjlok. Orang tua Gilang tak dapat melakukan apapun karena pihak Aditya tak bersedia memberi maaf untuk meringankan hukuman bagi Gilang. Mama Gilang bahkan yang sejak awal tidak menyukai Dona, bahkan melalui kuasa hukum Gilang berusaha untuk bertemu dengan Dona. Tapi, Aditya sama sekali tak mengindahkan permintaan wanita itu.


Aditya bahkan mengancam orang tua Gilang. Jika nama Dona sampai diketahui media, maka jangan harap Gilang akan bisa segera keluar dari penjara.


Sejak kejadian itu, Dona jadi sedikit pendiam. Ia jadi kurang percaya pada orang lain. Aditya sebagai suaminya, selalu berusaha melakukan yang terbaik pada Dona dan berusaha membuat Dona melupakan semua kejadian itu.


Perlahan tapi pasti, setelah satu bulan kejadian itu, Dona pun bisa kembali ceria. Ia melupakan momen dimana ia akan memberitahu Aditya bahwa dirinya tengah hamil.


Impian seorang wanita bisa begitu sederhana. Menikah dan menjadi ibu yang seutuhnya. Meski memang ada tanggung jawab dan peran baru di dalamnya, semua itu akan mendatangkan kebahagiaan tersendiri yang penuh berkah.


Dan bagi Dona, 2 tahun lebih setelah menikah ia dikejutkan dengan kabar gembira. Mimpinya akhirnya jadi kenyataan, saat Dona terbangun pukul 05.00 pagi ia langsung ke kamar mandi dengan membawa alat tes uji kehamilan yang ia beli. Tak disangka hasilnya dua garis merah yang artinya positif hamil. Namun, kabar bahagia itu belum sempat ia katakan kepada sang suami hingga hari ini. Dona mulai merencanakan sebuah rencana untuk memberitahu suaminya dengan cara yang berbeda.


Di mulai dari pagi ini, saat menata meja makan untuk sarapan pagi. Dona menambahkan alat-alat makan serba mini. Aditya yang datang ke ruang makan seorang diri hanya bisa heran menatap meja makan yang diatasnya tersaji makanan dengan peralatan makan yang serba mini.


"Kamu lagi suka yang mini-mini ya sayang?" Tanya Aditya memeluk pinggang Dona yang menyiapkan sarapan untuknya.


Dona hanya tersenyum.


"Ayo sarapan." Ucap Dona.


Aditya belum menyadari hal apa yang sebenarnya ingin disampaikan sang istri padanya. Aditya malah terlihat sangat menikmati sarapannya, karena untuk pertama kali setelah satu bulan Dona mulai bisa terlihat ceria dan bisa menyiapkan sarapan untuknya seperti dulu.


Setelah sarapan, keduanya memilih untuk duduk di ruang keluarga. Menikmati waktu weekend sekedar menonton televisi. Biasanya Dona akan minta untuk diajak jalan-jalan. Tapi satu bulan belakangan, karena kejadian yang menimpanya, Dona lebih suka berada di dalam rumah.


Aditya mulai melihat Dona dengan tatapan aneh karena ia tengah memakan biskuit untuk bayi.


"Ini, bukannya makanan bayi sayang." Ucap Aditya.


"Iya." Jawab Dona. "Terus kenapa?" Tanyanya cuek.


"Gak kenapa-kenapa sayang. Cuma heran aja."

__ADS_1


Dona tampak cuek dan terus saja mengunyah biskuit bayi itu tanpa menghiraukan tatapan Aditya. Padahal Dona melakukan semuanya demi memberikan clue kepada Aditya bahwa dirinya tengah hamil. Namun, Aditya belum juga memahaminya.


Siang harinya, Dona menyibukkan diri di dapur dengan memasak dan membuat camilan. Ia membuat cokelat, dengan bentuk baju bayi, dot dan segala keperluan bayi lainnya. Dona berharap, suaminya bisa merasakan kalau isi pesan yang ingin Dona sampaikan jauh lebih manis daripada cokelatnya sendiri.


"Waaahh kayaknya enak nih." Ucap Aditya mulai mencomot satu coklat dengan bentuk baju bayi.


Setelah selesai, Dona mengajak Aditya untuk duduk di taman samping rumah dekat kolam renang. Disana Dona sudah menyiapkan suasana ala piknik, dengan menggelar tikar. Terdapat keranjang piknik dengan aneka buah dan cemilan yang tersedia.


"Ceritanya piknik ya sayang?" Tanya Aditya lagi yang hanya dijawab anggukan kepala oleh Dona.


Saat Aditya mulai menikmati cemilan yang tersedia, Dona memberikan Aditya sebuah kotak kado berwarna hitam dengan pita emas.


"Buat aku?"


"Hem." Balas Dona.


"Aku kan gak ulang tahun sayang."


"Aku ngasih kado kan gak harus saat kamu ulang tahun aja." Balas Dona.


"Terus lihat. Masih ada lagi." Titah Dona.


Aditya mendapat sebuah tes kehamilan yang bertanda positif. Sontak saja Aditya langsung menatap Dona dengan mata berkaca-kaca.


Dona hanya bisa tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Ini serius?" Tanya Aditya tak percaya.


"Serius. Aku sudah coba memberitahumu sejak tadi pagi. Tapi kau belum mengerti juga." Jawab Dona.


Aditya pun mengingat apa saja yang sudah dilakukan Dona sejak pagi tadi. Mulai dengan sarapan menggunakan alat-alat makan yang kecil, membuat cemilan coklat dengan bentuk aneka peralatan bayi dan memakan biskuit bayi.


"Apa kau tidak membaca tulisan yang ada di baju bayi itu?" Tanya Dona.

__ADS_1


Aditya menggeleng, lalu kembali melihat bahu bayi berwarna abu-abu itu.


'You are going to be a Daddy.'


Sontak saja, Aditya langsung mendekati Dona dan memeluknya erat. Aditya tak dapat berkata apa-apa, yang ada hanya air mata haru yang mengalir ke pipinya. Untuk pertama kalinya Dona melihat sosok Aditya yang dikenalnya menangis.


"Terima kasih sayang. Aku sangat bahagia."


Aditya terus memeluk Dona lalu mencium keningnya lembut.


"Akan seperti apakah dan bagaimanakah nanti diriku sebagai seorang Papa?" Ucap Aditya.


"Any man can be a father, but it takes the special someone to be a dad. Pernah dengar quote itu?" Dona balik bertanya pada Aditya. "Kurang lebihnya berarti bahwa semua pria bisa menjadi ayah, namun tidak semua bisa menjadi ayah yang baik untuk anaknya. Dan aku sangat-sangat yakin bahwa kamu akan jadi seorang Papa yang luar biasa bagi anak kita."


"Sayang, kehadiran bayi di perutmu ini, menjadi sebuah kebanggaan sekaligus bahagiaku juga." Balas Aditya. "Sejak kapan kau mengetahui semua ini?"


"Sudah dari satu bulan yang lalu."


"Kenapa kau merahasiakannya?"


"Karena saat itu aku tidak sempat memberitahumu." Dona mendadak sendu.


Aditya pun minta maaf, dan menyadari bahwa Dona pasti kembali mengingat kejadian yang pernah menimpa dirinya.


Aditya lalu mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan apa yang diinginkan Dona. Apakah dia tidak mengidam seperti kebanyakan ibu hamil lainnya. Aditya juga mengingatkan Dona untuk memberitahu kedua orang tuanya dan juga sang kakek.


"Nanti malam kita pulang ke rumah. Sekalian ngasih kejutan sama Ibu dan Bapak di hari ulang tahun pernikahan mereka." Ucap Dona.


"Ah, kenapa aku sampai lupa tentang itu. Kalau begitu, kita harus mencari kado yang istimewa buat Bapak sama Ibu." Balas Aditya.


"Tentu." Dona merangkul leher Aditya lalu mencium bibirnya lembut.


"Aku mencintaimu." Ucap Aditya.

__ADS_1


"Aku juga." Balas Dona.


Bersambung.....


__ADS_2