Pesona Sang Primadona

Pesona Sang Primadona
PSP 14: Bullying


__ADS_3

Kepopuleran Dona semakin meningkat dimata siswa lain. Apalagi ia berhasil memikat hati keempat siswa populer di sekolahnya. Hal itu membuat Ratu dan gengnya menjadi semakin marah. Mereka berusaha untuk membully Dona dengan melakukan suatu siasat yang bisa membuat Dona tak lagi di sukai keempat siswa populer itu.


Bullying tentu saja akan jadi pengalaman yang begitu kelam bagi seseorang. Bullying dapat menimbulkan dampak yang berbahaya dan jangka panjang bagi korbannya. Selain efek fisik dari bullying, si korban juga dapat mengalami masalah kesehatan mental dan emosional, termasuk depresi dan kecemasan, yang dapat menyebabkan penyalahgunaan narkoba dan penurunan prestasi di sekolah.


Namun, hal seperti itu tidak terjadi pada Dona. Dona benar-benar menjadi pribadi yang begitu kuat. Ia tak mudah goyah hanya karena dibully oleh Ratu dan gengnya.


Suatu hari ketika sedang dalam pelajaran olahraga sekolah, Dona ingin ganti baju ke toilet.


"Aku ke toilet bentar ya." Ucap Dona pada Ayu yang memang sudah berganti pakaian.


"Oke." Balas Ayu.


Ketika pintu toilet ditutup, Dona begitu kaget karena ada tulisan yang kurang pantas di belakang pintu tersebut tertuju untuk dirinya. Dona hanya bisa menghela nafas panjang dan tak mau ambil pusing ia memilih untuk melanjutkan mengganti pakaiannya.


"Kamu kenapa?" Tanya Ayu saat Dona kembali ke dalam kelas setelah berganti pakaian.


Tak bisa dipungkiri, meski Dona tak kau ambil pusing dengan tulisan-tulisan yang ditujukan padanya itu. Tapi, tetap saja Dona menjadi kepikiran dan menerka-nerka siapa orang yang telah melakukan hal itu.


"Tadi, di belakang pintu toilet ada banyak tulisan yang ditujukan ke aku gede-gede banget." Jawab Dona. "Dona sok cakep, sombong dan kata lainnya yang nggak enak."


"Apa karena kamu lagi dikejar empat cowok populer di sekolah?" Ayu tampak berpikir.


"Mungkin aja," ucap Dona.


"Terus kamu gak mau cari tahu gitu siapa pelakunya?" Ayu terlihat mengepalkan tangannya. "Setidaknya pelakunya bisa kita nasehatin."


"Untuk apa? Lebih baik diam aja. Karena semakin orang-orang seperti itu dilawan, malah mereka semakin senang." Dona tersenyum ke arah Ayu. "Ada satu kalimat dari ibu yang selalu kuinget. Selagi mereka nggak sentuh aku, aku diam aja, biar Tuhan yang balas semua perlakuan itu." Ujar Dona.


"Ya udah deh, kalau kamu bilang gitu." Balas Ayu.


Keduanya lalu ke lapangan dan mulai melakukan aktifitas olahraga bersama teman yang lainnya. Hari ini mereka melakukan praktik bermain basket. Bagi Dona yang memang tak terlaku suka permainan itu, dirinya menjadi agak kaku saat mendribel bola basket. Billy yang memang satu kelas dengannya mendekat dan mencoba mengajari Dona bagaimana bermain basket yang benar.


Pandangan siswi lain seolah membenci Dona. Ayu yang menyadari hal itu segera memberi tahu Dona setelah Dona selesai mempraktikkan bermain basket.


"Sudahlah, ngapain dipikirin sih." Ucap Dona.


"Tapi Don, mereka tuh lihat kamu kayak musuh."


"Biarin aja. Pokoknya selama aku gak denger mereka mengatakan hal-hal yang aneh, atau sampai melakukan kekerasan gak ada masalah."


Ayu menghela nafas panjang. Ia hanya bisa berharap, semoga sahabatnya ini tidak menjadi korban bullying. Ketika jam olahraga selesai, Dona dan Ayu kembali ke kelas setelah berganti pakaian. Dona menatap kesemua teman sekelasnya. Mata mereka begitu menyeramkan seperti Lucifer. Bukannya takut, Dona malah membalas tatapan mereka lebih tajam.


Dona dan Ayu duduk di bangku mereka. Dalam hati Dona bertanya pada dirinya sendiri.


'Kenapa mereka semua menatapku seperti itu? Apa salahku?'


Jam pelajaran bahasa inggris dimulai. Dona mulai menunjukkan kebolehannya dengan menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh sang guru. Semua jawaban yang diberikan Dona selalu benar, membuatnya di puji oleh sang guru.


"Kamu hebat Dona." Puji Pak Sony sang guru bahasa inggris.

__ADS_1


Saat pelajaran selesai dan guru keluar dari ruang kelas, Dona masih tetap belajar bersama Ayu mengulang pembahasan pelajaran yang tadi.


Seorang teman kelasnya berkata "Sok pinter banget sih!!! Bodoh ya bodoh aja. Bego!!!"


Dona dan Ayu kaget atas perkataan seorang siswi yang dikenal sebagai juara kelas itu. Tak terkecuali Billy, dirinya langsung memelototi siswi bernama Mita itu.


"Heh Mita. Apa maksud lo ngatain Dona begitu hah?" Teriak Billy.


"Lo gak usah ikut campur deh Bill. Lo gak tau aja kalau si Dona itu udah pakai pelet sampai lo dan cowok populer lainnya ngejar-ngejar dia. Coba lo semua pikir baik-baik, siapa Dona ini sebenarnya. Dulu dia cuma siswi cupu, gak berprestasi, jelek, kuper, miskin, dan idiot. Sekarang bisa-bisanya tiba-tiba berubah, apalagi alasannya kalau gak pakai pelet? Atau jangan-jangan orang tuanya melakukan pesugihan. Jadi babi ngepet." Balas Mita sambil menunjuk ke arah Dona.


"Eh lo itu..."


Dona berdiri, membuat Billy tak melanjutkan ucapannya. Dona berjalan mendekat ke arah Mita dan menatapnya dengan tajam. Mita balik menatap Dona dengan sedikit mendongak karena Dona postur badannya memang lebih tinggi dari Mita.


"Tarik semua ucapan kamu barusan..." Ucap Dona dengan mata yang menunjukan amarah yang memuncak.


"Kalau gue gak mau, lo mau ngapain? Emang bener kan lo sama keluarga lo jadi babi ngepet."


"Mitaaaa...."


Tiba-tiba dari arah pintu kelas berdiri Pak Sony yang kembali ke dalam kelas karena ponselnya yang ketinggalan di dalam laci. Raut wajah Mita berubah ciut, sementara Dona amarahnya masih begitu berkobar. Ayu mendekati Dona dan menariknya mundur dari hadapan Mita. Pak Sony masuk dan berdiri di hadapan Mita.


"Sekarang juga kamu ikut saya ke ruang BK. Dona kamu juga. Ayu dan Billy juga berikan keterangan di ruang BK." Titah Pak Sony lalu keluar kelas setelah mengambil ponselnya.


Di ruang BK, Mita dimarahi habis-habisan oleh guru BK. Mita biasanya dikenal sebagai siswi yang berprestasi dan juga baik. Namun, entah kenapa dia bisa melakukan hal ini pada Dona. Setelah memberikan keterangan tentang apa yang terjadi, Ayu dan Billy diminta keluar ruang BK. Sementara Dona dan Mita masih duduk berdampingan. Mita diminta untuk meminta maaf pada Dona dan tak lagi melakukan hal yang sama. Tanpa diduga, Mita menyebutkan nama Ratu dan gengnya yang memberikan informasi padanya dan memanas-manasi dirinya bahwa Dona akan merebut posisinya menjadi juara kelas.


Dona menghela nafas, 'lagi-lagi Ratu,' pikir Dona.


Di kantin sekolah saat jam istirahat...


Dona menjadi agak senang karena mengira, Ratu dan gengnya tidak akan lagi melakukan hal yang buruk padanya atau orang lain. Tapi, ternyata mereka malah menjadi semakin marah. Mereka mendekati meja Dona yang tengah duduk bersama Ayu dan Lola.


"Norak lo. Sok cantik dasar B* bi!!!" Teriak Siska yang berdiri bersama Ratu dan anggota geng lainnya dengan tatapan yang sinis memandang Dona.


Dona yang tak tahan langsung menyiram wajah Siska dengan jus jeruk yang ada dihadapannya.


Byuurrr!!!


"Sialan. Lo berani sama gue?" Teriak Siska.


Baru saja Siska hendak melayangkan tangannya ke arah Dona, Gilang memegangi pergelangan tangan Siska dan mendorongnya.


"Harus berapa kali gue bilang sama lo semua. Jangan pernah ganggu Dona." Ucap Gilang.


"Kalian semua masih saja berlagak jagoan. Kalian gak mikir bisa dikeluarkan dari sekolah karena sikap arogan kalian?" Kali ini giliran Aditya yang berbicara.


"Sudah, bawa aja ke ruang BK. Biar diskorsing." Ucap Raka.


"Maaf semuanya. Siska hanya emosi." Ratu berbicara sambil mengatupkan tangannya lalu menarik Siska menjauh dari kantin.

__ADS_1


Aditya, Billy, Gilang dan Raka secara bersamaan mendekat ke arah Dona dan menanyakan apakah Dona baik-baik saja.


"Aku baik. Kalian gak usah khawatir, aku bisa jaga diriku sendiri." Ucap Dona.


"Kamu bilang aja ke aku dan yang lainnya kalau si Ratu itu masih mengganggumu." Balas Billy.


*********


Waktu untuk pulang sekolah tiba, Dona menolak tawaran keempat pria itu untuk mengantarnya pulang dan memilih pulang bersama Ayu. Keduanya berhenti di sebuah minimarket untuk membeli es krim. Tak disangka ternyata Ratu dan gengnya membuntuti mereka. Saat keduanya kembali melajukan motor, tiba-tiba sebuah mobil menghalangi mereka tepat di jalanan yang sepi.


"Siapa ya Don? Jangan-jangan penculik." Ucap Ayu panik.


"Sudah tenang saja." Balas Dona.


Ratu dan gengnya turun dari dalam mobil dan langsung menarik Dona turun dari atas motor. Dona sebisa mungkin bersikap santai, sementara Ayu sudah begitu panik.


"Sini ikut kita!" Kata mereka sambil menarik tangan Dona.


Saat itu Dona sudah merasakan panasnya tangan Siska yang menariknya. Sementara Ayu ditarik oleh Tasya mengikuti Dona.


"Lo jauhin Billy, Gilang dan yang lainnya! Kalo gak gue habek lu!"


"Maksud kalian apaan?" Tanya Dona santai.


Tas Dona di lempar jauh-jauh oleh mereka.


"Kalau lo bisa menang lawan kita-kita. Lo boleh tetep dekat sama mereka ngerti?"


"Hei, hentikan. Kalian gak boleh kayak gitu." Teriak Ayu yang tangannya dicengkeram Tasya.


"Lo diam aja. Kalau gak, lo juga bisa dihajar sama mereka." Ancam Tasya.


Wajah Dona dipukul oleh Siska. Dona tak bisa melawan karena kedua tangannya dipegangi oleh Ratu dan Devi. Ayu berusaha berteriak, namun dengan cepat Tasya membungkam mulutnya dan menampar Ayu.


"Diam." Ucap Tasya.


Saat Siska hendak menampar Dona untuk kedua kalinya, Dona dengan cepat menendang perut Siska yang membuatnya tersungkur. Dengan sekali hentak, Dona bisa melepaskan pegangan Ratu dan Devi pada tangannya. Ketiganya hendak mengeroyok Dona, namun Dona dengan hebatnya mampu melawan ketiganya hingga tak bisa melawan lagi. Kini giliran Tasya, dengan sekali tamparan, Dona bisa membuat Tasya tersungkur.


"Kalian sudah salah pilih lawan. Jika kalian gak ingin cowok-cowok idola kalian itu mengejar aku, silahkan bicara pada mereka. Jangan malah mau membully ku apalagi sampai melibatkan sahabatku. Jika kalian tidak terima kekalahan kalian hari ini, silahkan lapor ke guru atau polisi sekalian. Kita lihat saja siapa yang benar dan siapa yang salah. Kalau kalian masih berani menggangguku dan sahabatku, aku tidak akan segan-segan." Ucap Dona lalu mengajak Ayu pergi.


"Kamu gak apa-apa?" Tanya Dona pada Ayu.


Ayu menggeleng, justru yang ia khawatirkan adalah kondisi Dona. Namun, jika mengingat bagaimana Dona membalas perbuatan Ratu dan gengnya. Ayu menjadi yakin bahwa Dona baik-baik saja.


Dari arah yang tak terlalu jauh, Gilang dengan mogenya tersenyum dan bergumam.


"Benar-benar gadis yang menarik dan begitu hebat. Aku tak akan membiarkanmu jatuh ke tangan orang lain."


Bersambung....

__ADS_1


Terimakasih semuanya, jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah juga ya.... 🥰


__ADS_2