Pesona Sang Primadona

Pesona Sang Primadona
PSP 73: Melahirkan


__ADS_3

Kehidupan Dona dan Aditya semakin bahagia setelah kehamilan Dona. Semua anggota keluarga tak henti-hentinya bersyukur akan kehamilan Dona. Aditya sendiri semakin berubah menjadi suami yang sangat siaga. Saat memeriksakan kandungan Dona ke Dokter, ternyata usianya baru menginjak 6 minggu.


Di awal-awal kehamilan itu, tentulah sangat berat bagi Dona yang pertama kali merasakan kehamilan, apalagi ia sering merasa mual-mual dan muntah hebat hingga tak mau makan. Namun Aditya selalu berusaha untuk membuat Dona bisa makan.


"Sayang, kalau kamu nya gak makan, nanti baby yang ada disini kelaparan." Ucap Aditya seraya mengelus perut Dona. "Makan ya, dikit aja." Bujuk Aditya.


"Aku mual Dit, gak suka."


"Terus gimana dong sayang. Masa iya kamu gak makan-makan."


Dona terdiam.


Aditya kembali berusaha membuat sang isteri agar mau makan walau hanya sedikit. Hal itu terus terjadi hingga bulan ketiga kandungan Dona.


Di bulan keempat kehamilan Dona, tiba-tiba Dona mengalami pendarahan. Dona pun langsung panik dan memberitahu Aditya. Setelah itu keduanya langsung pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan Dona.


"Gimana keadaan isteri saya Dok?" Tanya Aditya.


"Kandungan Bu Dona tidak apa-apa, hanya saja Bu Dona harus istirahat total dan tidak boleh mengerjakan pekerjaan rumah tangga apapun." Jawab Dokter yang membuat Dona dan Aditya merasa lega.


Sejak saat itu Aditya tak lagi membolehkan Dona untuk bekerja, bahkan untuk memasak saja semuanya diserahkan Aditya pada seorang pembantu. Sesekali keduanya mengundang kedua orang tua Dona untuk menginap di rumah mereka, atau mereka berdua yang akan berkunjung ke rumah orang tua Dona.


Dona merasa sangat beruntung karena memiliki suami yang selalu siap menjaga dan membantunya saat ia membutuhkan bantuannya.


************


Tak terasa kehamilan Dona menginjak usia 9 bulan, tentu saja saat-saat menegangkan buat Dona menunggu kelahiran sang calon bayi.


Tibalah hari di mana Dona siap melahirkan bayinya ke dunia. Diawali dengan ketika ia bangun tidur. Dona panik karena cairan terus mengalir, langsung saja ia berteriak memanggil Aditya.


"Sayaaaang...." Teriak Dona.


Aditya yang masih berbaring ditempat tidur, sontak bangun dan berlarian menuju arah suara Dona yang berada di kamar mandi.


"Ada apa sayang?" Tanya Aditya yang langsung kaget mendapati Dona yang memegangi perutnya.


"Sepertinya aku akan melahirkan." Ucap Dona.


Aditya langsung panik, ia berteriak memanggil pelayan yang ada di rumah setelah menggendong tubuh Dona keluar dari kamar mandi. Kakek Aditya yang juga berada di rumah mengatakan bahwa Dona harus segera dilarikan ke rumah sakit. Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Aditya tak lupa menelepon kedua orang tua Dona.


Setibanya di rumah sakit Dona langsung medis, karena air ketubanku hampir habis padahal ia baru saja pembukaan satu. Dokter lalu memberikan diinduksi agar mempercepat proses kelahiran bayi Dona. Namun setelah 5 jam berlalu Dona gagal di pembukaan empat yang artinya tidak maju ke tahap pembukaan berikutnya.

__ADS_1


Dokter menyarankan agar Dona segera dioperasi caesar, Dona menjadi panik luar biasa karena tidak bisa membayangkan semuanya.


"Sayang, aku takut." Isak Dona.


"Jangan takut sayang, aku akan selalu ada disamping kamu." Balas Aditya menciumi kening Dona.


Bu Nir hanya bisa menahan air matanya berusaha menguatkan sang puteri. Ia tahu betul bahwa Dona sejak kecil sangat tidak menyukai rumah sakit. Jangankan dioperasi melihat jarum suntik pun Dona ketakutan.


Dona sendiri merasa heran, kenapa ia bisa setakut itu. Padahal di kehidupannya yang terdahulu, ia sudah sangat terbiasa dengan hal-hal yang berbau rumah sakit.


'Apa lagi-lagi perasaan ini datang dari pemilik tubuh yang asli?' tanya Dona dalam hati.


Dona menghela napas panjang, ia hanya bisa berserah diri kepada Tuhan. Yang terpenting ia dan bayinya bisa selamat.


Saat tiba di meja operasi Dona semakin merasa sangat ketakutan karena ia hanya dibius setengah badan saja yang artinya ia bisa melihat proses operasi berlangsung. Saat operasi berlangsung Dona hanya bisa terkulai lemas dan hampir saja putus asa. Takut nyawanya tidak bisa diselamatkan.


Aditya yang setia menemani Dona terus membisikkan doa ditelinga Dona dan menyemangatinya.


"Aku mencintaimu sayang, kuatlah. Bertahanlah demi anak kita." Ucap Aditya.


Setelah beberapa saat, semua rasa takut itu sirna ketika Dona mendengar suara tangisan bayinya. Dona dan Aditya merasa lega dan bahagia sekali. Namun, Dona tidak bisa melihat langsung bayinya karena perawat langsung membawa bayinya untuk segera diberi perawatan khusus.


Akhirnya perjuangan Dona berbuah manis. Operasi berjalan lancar, dan Dona dibawa keluar ruangan operasi disambut tangis haru orangtuanya. Tak lama kemudian perawat membawa bayi Dona. Semua keluarga yang hadir menyambut bayi laki-laki Dona itu dengan senyum bahagia.


Bu Nir dan Pak Edi bergantian menggendong bayi laki-laki yang belum diberi nama itu.


"Pak, gak nyangka ya Pak. Kita sudah punya cucu. Ibu sudah jadi nenek-nenek Pak."


"Emang dari dulu Ibu sudah kayak nenek-nenek kan." Ledek Pak Edi.


Kakek Aditya tertawa, ia sangat bahagia bisa melihat cucunya akhirnya memiliki keturunan.


"Terima kasih atas semua perjuanganmu sayang." Aditya mencium kening Dona.


Dalam hati, Dona tak henti-hentinya mengucapkan syukur kepada Tuhan, yang telah menyelamatkan dirinya dan bayinya. Dona merasa sedih, karena tidak bisa langsung menyusui bayinya karena ia masih kesulitan untuk bergerak dan belum bisa bangun dari tempat tidur.


Setelah 12 jam berlalu Dona masih saja kesulitan untuk menyusui karena ia masih kesakitan akibat dari operasi dan belum bisa menggerakkan badannya. Tetapi Dona tidak pantang menyerah, ia terus berusaha bergerak sedikit demi sedikit dan menyusui bayinya meskipun harus selalu dibantu Aditya atau ibunya.


Dona merasa begitu bahagia saat pertama kali menyusui bayinya yang tampan, tak bosan ia terus memandangi wajah bayinya seolah tak percaya bahwa ia telah lahir.


*************

__ADS_1


Setelah dua hari dirawat, Dona diperbolehkan pulang. Dari situlah perjalanan Dona menjadi seorang ibu dimulai. Setelah kondisinya pulih, Dona bisa merawat bayinya tentu saja dengan masih dibantu keluarganya karena kondisi Dona masih sangat lemah.


Menjadi Ibu baru tentu sangatlah sulit, merasa stres dan tertekan sering kali menghampiri Dona. Ia sering menangis sendirian dan emosinya sering tidak stabil. Tetapi beruntung Aditya dan keluarganya selalu ada. Perlahan semua rasa itu menghilang dan mulai terbiasa dengan rutinitasnya sebagai seorang ibu. Apalagi Dona selalu ditemani malaikat kecilnya yang selalu membuat harinya terasa berwarna.


Bayi kecil Dona diberi nama Dilan Surya Aditya. Kehadiran Baby Dilan menjadi pelita bagi keluarga kecil Dona. Sejak menjadi seorang Ibu, Dona lantas berhenti total dari pekerjaannya sebagai psikiater. Ia lebih memilih fokus menjadi seorang ibu rumah tangga karena baginya keluarga yang paling utama. Usaha butik pun di tutup Dona sementara waktu mengingat bayinya yang masih kecil.


Dona yang memang adalah seorang sarjana psikologi lulusan universitas ternama, membuat banyak orang di lingkungan rumah orang tuanya mencibirnya, memandangnya sebelah mata karena ia tidak lagi bekerja.


Bu Nir bahkan sering berteriak kepada para tetangga yang kedapatan bergosip tentang Dona.


"Heh, apa urusan kalian anak saya bekerja atau tidak? Kalau dia mau santai-santai di rumah mengurus anak, apa hubungannya dengan kalian. Tanpa bekerja saja, menantu saya sudah bisa menghidupi isterinya lebih dari yang kalian kira." Teriak Bu Nir.


Pak Edi hanya berusaha menenangkan sang isteri.


"Bu, untuk apa pedulikan omongan orang lain. Mereka tidak tahu bagaimana kehidupan Dona, dan kita tahu semuanya. Jadi Ibu jangan terpancing emosi begitu."


"Gimana gak marah Pak. Anak kita dikata-katain, percuma sekolah tinggi-tinggi kalau ujung-ujungnya ngurus rumah tangga. Suaminya gak mampu, inilah, itulah. Mereka gak tahu kalau menantu kita itu kaya raya."


"Bu, biarkan saja. Sudahlah, jangan emosi begitu."


Para tetangga rumah Bu Nir memang tidak mengetahui bahwa Aditya adalah orang yang berada. Karena memang sejak pertama kali berkenalan dengan Dona, Aditya tidak tampak seperti seseorang yang terlahir dari keluarga kaya. Ia memilih untuk tampil sederhana. Bahkan pernikahan Dona dan Aditya pun tidak begitu mewah.


Sampai menjadi suami Dona, Aditya tak pernah mengubah apapun yang ada pada dirinya. Ia selalu berpenampilan sederhana, hingga hal itu membuat para tetangga Bu Nir bergosip tentang dirinya.


Dona sendiri tak pernah ambil pusing tentang omongan tetangga rumah orang tuanya. Ia selalu mengatakan pada Bu Nir, jangan terlalu memusingkan apa yang dikatakan oleh orang lain.


"Bu, aku sangat bangga dan bahagia menjadi seorang ibu yang merawat anakku sendiri sejak dia lahir. Karena saat-saat itu tak akan pernah tergantikan oleh apapun juga. Masa-masa pertumbuhan anakku yang tentu saja aku tak mau terlewatkan meskipun hanya sedetik saja. Untuk itulah aku gak mau bekerja lagi. Apa Ibu keberatan dengan hal itu?" Tanya Dona saat berkunjung bersama Baby Dilan dan juga Aditya.


"Tentu saja tidak nak. Ibu hanya jengkel saja dengan omongan mereka." Balas Bu Nir.


"Bu, biar saya kasih gambaran." Ucap Aditya. "Sekarang misalkan saja Dona bekerja dan meninggalkan Dilan bersama seorang pengasuh di rumah. Saya yakin akan ada orang lain yang berkata bahwa Dona sebagai seorang Ibu begitu tega meninggalkan anaknya yang masih bayi. Dan ujung-ujungnya pasti saya juga yang kena. Akan ada orang yang mengatakan bahwa saya tidak bisa menafkahi anak dan isteri saya sehingga isteri saya harus sampai bekerja demi membantu perekonomian keluarga." Ujar Aditya. "Intinya, Ibu jangan terlalu memusingkan apa yang dikatakan orang lain. Karena apapun yang kita lakukan akan selalu terlihat salah dimata orang yang mempunyai sifat iri hati kepada kita." Lanjut Aditya.


"Nah, tuh Ibu dengar apa yang dikatakan Adit. Sudahlah, jangan terlalu baper dengan perkataan tetangga. Toh mereka gak tahu bagaimana hidup kita." Sambung Pak Edi.


Bu Nir hanya bisa tersenyum seraya mengelus pipi cucu kesayangan yang ada dalam pangkuannya itu.


Kini, hari-hari Dona selalu dihiasi oleh tangisan manja dan senyuman dari bibir mungil Dilan. Sekarang ia merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia dan menjadi wanita yang seutuhnya yaitu menjadi seorang istri sekaligus menjadi ibu tepat setelah tiga tahun ia menikah.


'Dilan adalah kado terindah yang diberikan Tuhan, untukku. Akan ku jaga amanah ini hingga dia besar nanti.'


Dona hanya berharap, ia bisa menjalani hidupnya dengan bahagia bersama keluarga kecilnya tanpa ada lagi gangguan dari pihak manapun.

__ADS_1


Bersambung.....


NB: "Satu bab lagi tamat ya....." 😁


__ADS_2