Pesona Sang Primadona

Pesona Sang Primadona
PSP 70: Diculik


__ADS_3

Agenda honeymoon pun usai....


Baik Dona maupun Aditya, keduanya benar-benar menikmati waktu romantis mereka berduaan selama satu minggu. Kali ini, keduanya kembali disibukkan dengan jadwal kuliah yang semakin padat, dibarengi dengan bisnis Aditya yang semakin berkembang.


Semuanya berjalan lancar, baik untuk pendidikan dan karir keduanya. Tak ada masalah apapun yang menghambat mereka.


Dona bahkan tak lagi mendengar kabar tentang Gilang, yang padahal saat awal pernikahannya, Gilang masih terus menghubungi Dona via pesan singkat ataupun lewat media sosial.


Hingga akhirnya dua tahun berlalu....


Dona dan Aditya lulus kuliah dengan masing-masing mendapatkan predikat cumlaude.


Setelah lulus, Dona memulai kariernya sebagai seorang psikiater dan Aditya berprofesi sebagai Dokter Gigi dan juga terus melanjutkan bisnis cafe miliknya. Selain itu Dona nyatanya mengembangkan sayapnya dengan menjadi seorang desainer.


Dona sendiri tidak tahu sejak kapan ia mulai mendapatkan keahlian untuk mendesain gaun atau pakaian lainnya. Aditya yang mengetahui bakat terpendam sang isteri tak menyia-nyiakannya. Ia pun menyarankan kepada Dona untuk membuka butik sendiri yang sekaligus bisa dijadikan sebagai tempat ia menerima seseorang yang ingin berkonsultasi dengannya sebagai seorang psikiater.


"Apa kau yakin rencana itu akan berhasil?" Tanya Dona sambil merapikan rambutnya di depan cermin. "Bukankah terlalu aneh, jika membuat butik yang juga dijadikan sebagai tempat pertemuan dengan klien yang membutuhkan jasaku sebagai psikiater?"


"Sayang, apa salahnya mencoba. Kau bisa menyatukan tempatnya. Maksudku, ruangan sebelah kiri bisa kau jadikan butik. Dan bangunan yang sebelahnya bisa kau jadikan tempat praktik. Kau bisa membuat pintu samping yang bisa menghubungkan kedua bangunan itu. Bukankah itu lebih efisien dari pada kau harus punya butik dan kantor di tempat yang berbeda?"


"Ada benarnya juga sih. Tapi gimana kalau aku contohin di kamu aja. Kamu kan jadi Dokter gigi nih. Masuk akal gak kira-kira tempat praktek kamu, di ruangan sebelahnya kamu jadikan sebagai cafe buat makan?" Tanya Dona.


"Ide bagus juga. Aku bisa menyajikan menu makanan sehat yang intinya tidak merusak gigi." Jawab Aditya. "Wah ternyata konsep seperti itu keren juga."


Keduanya tertawa dan mulai membahas tentang rencana mereka kedepannya.


"Bagaimana dengan anak?" Tanya Aditya.


"Aku mencintaimu." Ucap Dona mencium pipi Aditya.


"Aku tahu." Balas Aditya. "Dan, aku juga pasti akan selalu mencintaimu. Tapi jawab pertanyaan ku tentang...."


"Anak." Dona menyela ucapan Aditya. "Kita hanya bisa berusaha kan. Sisanya biar Tuhan yang menentukan. Tenang saja sayang, aku sudah tidak memakai obat kontrasepsi lagi."

__ADS_1


Aditya tersenyum dan mencium kening Dona.


*****************


Pagi ini setelah sarapan, keduanya berjalan terpisah, Dona harus lebih dulu berangkat ke butik yang sudah resmi ia buka, karena sudah ada customer yang menunggunya. Sementara Aditya berangkat menuju tempat praktiknya dengan jalur yang berbeda.


Dona mulai terbiasa menyetir seorang diri. Saat ulang tahun pernikahan yang pertama mereka, Aditya menghadiahi Dona sebuah mobil yang bisa ia gunakan untuk bekerja.


Hari ini Dona merasa sangat bahagia. Pagi tadi ia mengetahui bahwa dirinya tengah hamil. Namun, ia belum memberitahukan hal itu pada Aditya karena berencana ingin memberikan surprise kepada suaminya itu.


Saat mobil melaju di tol, entah kenapa Dona merasa bahwa seseorang tengah mengikutinya. Ia melihat sebuah mobil berwarna merah sejak tadi ia dari rumahnya hingga hampir tiba di depan butik selalu mengikutinya.


'Mungkin hanya kebetulan saja.' pikir Dona.


Awalnya Dona memang masih bisa berpikir biasa saja. Namun makin lama mobil itu tampak seperti memang tengah mengikutinya. Terbukti saat Dona memelankan laju kendaraannya, mobil itu juga memelankan lajunya. Saat Dona mengebut, mobil itu juga mengebut.


Keluar dari jalan tol, Dona akhirnya mencoba untuk berhenti dipinggir jalan yang ramai. Namun ternyata mobil itu berjalan melewatinya begitu saja.


"Pffyuuhh, sesaat aku berpikir bahwa mereka tengah mengikuti ku. Ternyata aku cuma paranoid saja." Ucap Dona kemudian kembali melajukan mobilnya.


Namun, saat melewati jalanan yang agak sepi, mobil merah tadi, tiba-tiba mencegatnya. Dona yang marah sontak keluar untuk menegur pemilik mobil.


Dua orang pria berpakaian serba hitam keluar dari dalam mobil.


"Hei, gak bisa nyetir ya?" Teriak Dona marah-marah dengan tubuh yang mundur ke belakang.


Dona takut kedua pria dihadapannya adalah orang jahat. Dan benar saja, kejadiannya sangat begitu cepat. Seorang pria lantas menyeret Dona masuk ke dalam mobi merah. Sementara pria lainnya masuk ke dalam mobil Dona. Sesaat kemudian, mobil langsung melesat membelah jalan kota ke arah selatan.


"Hei, apa-apaan ini?" Teriak Dona.


Dona akhirnya menyadari bahwa dirinya telah diculik. Ia kemudian berteriak-teriak sambil memukul-mukul kaca mobil, untuk minta tolong. Tapi siapa yang bisa mendengar ketika kaca tertutup rapat. Apalagi ketika mobil sudah masuk jalan tol, suara teriakan dan usaha Dona memukul-mukul kaca mobil hampir tiada guna. Bahkan ketika sopir menghentikan mobil dan seorang pria membekap mulut dan mengikat tangannya. Mata Dona juga ditutup dengan kain hitam. Dona hanya hanya bisa menyerahkan hidupnya pada kebaikan Tuhan semata.


Setelah beberapa lama berkendara, mobil itu akhirnya berhenti. Ternyata mobil itu membawa Dona ke sebuah rumah kosong yang sekarang sudah tidak terurus dan terletak berbatasan dengan kota.

__ADS_1


Dua orang pria menyeret tubuh Dona masuk ke dalam rumah itu dengan tergesa-gesa.


Pria itu lalu mendorong tubuh Dona ke sebuah kamar yang anehnya seperti sudah dipersiapkan sebagus mungkin. Di dalam kamar itu terdapat tempat tidur empuk dan meja yang diatasnya ada minuman dan makanan.


Dona diminta duduk diatas tempat tidur. Lalu dua pria itu keluar dari dalam kamar dan pintu kembali terdengar tertutup.


'Bagaimana ini? Aku harus apa?' pikir Dona.


Tanpa diketahui Dona, ternyata di dalam kamar itu sudah duduk seorang pria yang mengenakan jas hitam. Pria itu melangkah mendekati Dona dan mengelus wajah Dona perlahan dan membuka lakban yang menutup mulut Dona.


"Siapa kau?" Teriak Dona. "Lepaskan aku." Teriaknya lagi.


Pria itu kemudian melepaskan penutup mata Dona. Dona sontak kaget dan membelalakkan matanya saat melihat sosok pria yang berdiri dihadapannya dengan angkuh.


"Gi-Gilang...." Dona terbata-bata.


Sudah sangat lama sekali ia tak mendengar kabar Gilang apalagi sampai bertemu dengannya. Kali ini Dona melihat wajah Gilang yang tampak jauh berbeda dari yang terakhir kali diingat Dona. Gilang banyak berubah, dagunya penuh dengan ditumbuhi bulu-bulu halus. Ia terlihat lebih dewasa namun sorot matanya tampak kejam.


Ia menyeringai ke arah Dona dan memegang dagu Dona.


"Lepaskan aku." Ucap Dona.


"Tidak akan."


"Kau mau apa?" Teriak Dona lagi.


"Mau mengambil apa yang memang seharusnya menjadi milikku."


"Apa maksud kamu?"


"Aku mau merebut kamu kembali dari suami kamu itu."


"Kau sudah gilaaa..." Teriak Dona.

__ADS_1


"Iya benar. Aku memang sudah gila. Aku tergila-gila karena kamu."


Bersambung.....


__ADS_2