Pesona Sang Primadona

Pesona Sang Primadona
PSP 55: Bertemu Aditya


__ADS_3

Meski enggan, Dona akhirnya terpaksa pulang diantar oleh sopir Gilang. Dengan kondisinya yang masih pusing dan kesakitan, Dona tak mungkin pulang dengan ojol. Ia pun mengalah dengan pulang diantar sopir Gilang.


Dona tiba di rumah. Tanpa mengucap apapun pada orang tuanya, Dona nyelonong masuk begitu saja. Dengan mata yang sembab dan tubuhnya yang masib nyeri, Dona masuk ke dalam kamar dan langsung membaringkan tubuhnya di kasur.


Air matanya kembali mengalir mengingat apa yang baru saja terjadi pada dirinya. Dona berharap semuanya hanya mimpi, namun sekuat apapun ia memejamkan mata semuanya tetap saja sebuah kenyataan pahit yang harus ia terima.


Dona bangun dan beralih menuju lemari, mengambil pakaian ganti dan memasukkan semua pakaian yang ia kenakan tadi ke dalam kantong kresek warna hitam. Dona berniat untuk membuang pakaian itu. Ia tak ingin melihat apalagi sampai kembali mengenakan pakaian yang dianggapnya menjijikkan itu.


Sementara itu, di toko depan rumah, kedua orang tua Dona merasa ada yang berbeda pada Dona.


"Pak, kira-kira anak kita kenapa ya? Kok pulang-pulang wajahnya malah kusut begitu? Gak pakai salam lagi."


"Gak tau juga Bu. Mungkin lagi putus cinta."


"Aduuhh bisa gagal Ibu punya mantu ganteng kalau mereka putus."


"Sudah sana, mending Ibu lihatin dia. Siapa tau dia lagi gak enak badan saja." Titah Pak Edi.


Bu Nir lalu beranjak masuk ke dalam rumah dan mengetuk pintu kamar Dona.


"Don....!" Panggil Bu Nir.


Dona terdiam, ia tengah duduk melamun di depan cermin. Tatapan matanya kosong.


"Don. Kamu gak apa-apa nak?" Tanya Bu Nir lagi.


Lagi-lagi Dona tak menjawab, karena khawatir Bu Nir lalu mencoba membuka pintu kamar Dona yang ternyata memang tidak di kunci.


Bu Nir mendapati Dona yang tengah duduk menatap pantulan dirinya sendiri di depan cermin. Bu Nir langsung menepuk pundak puterinya itu.


"Donaa....."


Sontak saja Dona tersadar dari lamunannya dan menatap sang Ibu. Seketika Dona terisak dan langsung memeluk Bu Nir.


"Loh, kok malah nangis? Kamu kenapa Don?"


Dona tak menjawab dan terus saja menangis dengan memeluk pinggang Bu Nir semakin erat. Dengan perlahan, Bu Nir mengelus kepala puterinya itu.


"Ada apa Nak? Ayo coba cerita sama Ibu."


Dona menggeleng pelan tapi tangisnya belum juga reda.


"Siapa tau Ibu bisa membantu kamu menyelesaikan masalahmu Nak. Ayo coba ceritakan."


Perlahan, tangis Dona mulai reda. Bu Nir memapah tubuhnya agar bangun dan duduk berdampingan di sisi tempat tidur Dona.


"Kalian bertengkar?" Tanya Bu Nir.


Dona menggeleng.


"Putus?"


Dona menggeleng lagi.


"Terus kenapa? Masa gak ada apa-apa bisa nangis begini."


"Menurut Ibu, kira-kira kalau Dona....."


"Lah kenapa diam? Kok gak dilanjutin."


"Gak ada apa-apa kok Bu." Dona berusaha membuat bibirnya agar tersenyum.


"Gak apa-apa gimana coba, orang kamu nangis gitu."


"Beneran Bu, gak ada apa-apa. Dona cuma sedih aja karena digosipkan jadi cewek yang suka gonta ganti pacar."


"Kamu sedih cuma gara-gara itu?" Dona mengangguk. "Ya ampun Dona! Untuk apa sedih karena hal sepele seperti itu. Ibu kira kamu putus sama Adit. Hampir saja Ibu gagal punya mantu ganteng."


Mendengar nama Aditya disebut, raut wajah Dona berubah muram.


"Kalau ada orang yang gosipin kamu begitu, itu tandanya mereka sirik sama kamu. Mereka iri karena gak bisa punya pacar ganteng seperti Gilang dan Aditya. Itu aja kok di sedihin. Kamu gak tahu aja gimana Ibu dulu."


"Emangnya Ibu gimana dulu saat masih muda?" Tanya Dona.


"Jaman dulu itu saat Ibu masih tinggal di kampung, cowok itu pada rame-rame datang ngapel ke rumah. Ibu kayak di keroyok."


"Hah! Serius Bu?"


"Lah iya, dulu biasanya tiap malam minggu ada 3 sampai 4 orang cowok yang apelin Ibu. Itu semua bukan pacar ya, masih pendekatan aja. Tapi gak ada satupun yang bisa buat Ibu kecantol. Walaupun tiap hari harus dibonceng sama cowok yang beda-beda. Persis kayak kamu waktu itu."


"Terus, Ibu kenal sama Bapak dimana?"


"Oh, kalau Bapak mu itu, dulu ketemu sama Ibu karena dia kerja sebagai mandor pembangunan infrastruktur desa Ibu. Kita ketemu pertama kali waktu Bapak mu istirahat di warung kopi di rumah nenekmu."


"Oh..."


"Kok malah jadi omongin itu sih. Sudah jam berapa ini?" Bu Nir melihat ke arah jam dinding. "Aduuhh sudah waktunya masak. Ibu ke dapur dulu ya."


Bu Nir langsung berjalan keluar begitu saja dari kamar Dona. Dona menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur dan mengambil ponselnya. Ia menatap wallpaper ponselnya yang menampilkan wajahnya dan Aditya yang berpose lucu. Dona tersenyum pedih, ia lalu menatap jari manisnya dimana cincin berlian pemberian Aditya tersemat disana.


Dona kembali menangis, kali ini ia sesenggukan. Ia berbalik dan menutup kepalanya dengan bantal lalu berteriak. Berharap tak ada siapapun yang dapat mendengar suara teriakannya.


"Maafin aku Dit." Kata itu terus saja ia ucapkan berulang kali.


Lelah menangis, Dona akhirnya tertidur hingga tak menyadari hari sudah gelap.


Dona terbangun saat mendengar suara getaran dari ponselnya. Kamarnya mulai gelap, Dona lalu melirik ponselnya yang menampilkan nama Aditya yang tengah memanggil. Ia tak menghiraukan panggilan dari Aditya dan beranjak bangun lalu menghidupkan lampu kamarnya lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh wajahnya.


Setelah itu Dona keluar dari dalam kamar dan mendapati Pak Edi yang tengah duduk di ruang makan.


"Akhirnya kamu bangun juga." Ucap Bu Nir yang tengah membawa makanan dari dapur.


"Kenapa Ibu gak bangunin aku?" Tanya Dona.


"Tadi Ibu lihat kamu tidurnya pulas. Ibu jadi gak tega bangunin kamu."

__ADS_1


"Ayo duduk, makan dulu. Kamu kan tidak makan dari siang tadi." Ucap Pak Edi.


Dona duduk disamping Pak Edi, dan mulai menyendok nasi ke dalam piringnya. Pak Edi melirik ke arah piring Dona dimana porsi makannya jauh lebih sedikit dari biasanya.


"Kamu gak enak badan?" Tanya Pak Edi lagi seraya memegang dahi Dona.


"Aku baik kok Pak."


"Terus kenapa makannya sedikit?"


"Iya, tumben." Sahut Bu Nir.


"Lagi diet." Jawab Dona santai.


"Ada-ada saja. Badan kamu itu sudah kurus, kenapa malah diet?" Ucap Pak Edi.


"Apanya yang kurus Pak? Gak lihat ini pipi Dona sudah seperti bakpao. Berat badan Dona juga sudah lebih 50 kilo."


"Badan kamu itu sudah bagus. Kalau terlalu kurus, pria itu gak suka. Itu lihat, Ibu mu saja waktu pertama kali ketemu Bapak badannya itu gak kurus dan gak terlalu gemuk. Lah sekarang, sudah menyentuh angka 70 kilo."


"Ini semua juga karena Bapak yang mengembangkan cinta di tubuh Ibu."


Pak Edi menahan tawa, Dona juga terlihat ingin tersenyum. Tapi, karena luka di hatinya, senyum di bibir Dona mendadak sirna.


Pukul 8 malam, Dona memilih duduk di depan rumah dan membakar pakaian yang ia kenakan pagi tadi. Pakaian yang dianggapnya menjijikkan. Ia duduk seorang diri, sementara kedua orang tuanya sibuk di toko. Melihat asap yang mengepul, Bu Nir berjalan cepat ke arah Dona.


"Ya ampun Don, Ibu kira rumah kita kebakaran. Kamu lagi bakar apa sih sampai baunya menyengat begitu? Mana asapnya juga hitam."


"Bakar baju...." Jawab Dona singkat.


"Loh baju apa?"


"Baju yang udah sobek Bu."


"Kok dibakar? Kan bisa dijahit."


"Banyak noda bekas olinya Buuuu. Gak bisa ilang." Dona terlihat kesal.


Pandangan matanya terus memandang ke arah api yang membesar. Bu Nir merasa ada yang ditutupi oleh Dona, dan memilih kembali ke dalam toko dan membiarkan Dona sendiri.


Tanpa disadari, Aditya sudah berdiri tepat di depan api yang terus dipandangi Dona sejak tadi.


"Sayang...." Ucap Aditya.


Dona langsung tersadar dan melihat ke arah Aditya. Aditya berdiri dengan tersenyum ke arahnya dan ditangannya terdapat sebuah kantong makanan.


"A-Adit?"


"Kenapa? Kok kaget gitu?" Tanya Aditya yang langsung duduk disampingnya.


Dona terdiam dan menunduk. Ia merasa begitu malu sekedar untuk menatap Aditya.


"Hei, kamu kenapa sih?" Tanya Aditya lagi dengan menyenggol pundak Dona dengan pundaknya.


"Mmmm, aku gak apa-apa." Balas Dona berusaha bersikap tenang.


"Nih, aku bawain cemilan kesukaan kamu. Ada martabak coklat keju dan boba full cream. Tadi aku sudah kasih satu kotak buat Ibu sama Bapak. Nah yang ini buat kita berdua pacaran." Goda Aditya.


Dona tak menggubris, pandangannya terus mengarah pada api yang sudah mulai mengecil.


"Sayang....." Aditya mengibaskan tangannya ke wajah Dona. "Kamu kenapa sih?" Tanya Aditya lagi.


"Ha!" Dona melihat ke arah Aditya, tatapan keduanya bertemu. Dona sontak memandang ke arah lain.


Aditya dengan cepat memegang dagu Dona dan mengarahkan wajah Dona untuk bertatapan dengannya.


"Kamu habis nangis?"


"Eng-gak"


"Nggak gimana. Nih mata kamu sembab."


Dona menepis tangan Aditya dengan pelan. Ia lalu merapikan rambutnya.


"Aku gak apa-apa. Tadi habis nonton film sedih aja."


"Kamu tuh ya." Aditya mengacak rambut Dona.


"Iiihh, Adit."


"Kenapa?"


Dona tak menjawab dan hanya merapikan rambutnya.


"Nih cepat makan, mumpung masih anget." Aditya membuka kotak martabak dan menyodorkannya ke arah Dona.


"Aku lagi gak mood."


"Kok gitu sih? Biasanya kamu gak pernah nolak loh. Lagi sedih aja, kalau aku kasih kamu ini, kamu pasti doyan banget."


"Pengen diet aja."


Aditya terbahak lalu mencubit pipi Dona.


"Sayang, ngapain sih pakai acara diet segala. Aku tuh suka kamu apa adanya."


"Hmmm...."


Aditya lalu mengambil sepotong martabak dan berusaha menyuapi Dona.


"Ayo buka mulutnya. Aaaaaa...."


Dona menggeleng.


"Kalau gak aku cium nih."

__ADS_1


Dona tetap menggeleng dan membuat Aditya refleks mencium pipinya. Dona yang terkejut langsung memelototi Aditya. Tanpa disangka oleh Dona, Aditya malah mengecup bibirnya dengan cepat.


"Aaadiiitt...." Dona memukuli pundak Aditya.


Aditya tertawa dan kembali ingin menyuapi Dona.


"Makanya, ayo dimakan."


"Gak." Lagi-lagi Dona menggeleng dengan melipat tangan didada.


"Oohh jadi kamu emang sengaja mancing aku buat cium kamu. Kamu suka ya aku cium?"


"Siniin." Dona menarik tangan Aditya yang langsung menyuapinya.


"Nah gitu dong. Tapi aku lebih suka kamu nolak sih, biar aku bisa cium kamu terus."


"Apaan sih." Ucap Dona dengan mulut yang masih mengunyah.


Keduanya lanjut memakan martabak dan sesekali menyeruput minuman boba yang dibawa Aditya. Sesaat Dona melupakan masalahnya karena kehadiran Aditya yang terus membuatnya tertawa.


Hujan tiba-tiba turun, membuat Dona dan Aditya berpindah ke dalam rumah karena hujannya yang turun disertai angin.


Bu Nir dan Pak Edi yang sudah sangat mempercayai Aditya tak mempermasalahkan keduanya yang hanya duduk berduaan di ruang tamu, sementara mereka masih menjaga toko.


"Sayang, kau mau tinggal dimana saat kita menikah nanti?" Tanya Aditya.


"Ha! Me-menikah?"


"Iya nikah. Kenapa? Kok kamu kaget gitu."


Dona terdiam, bayangan dirinya akan menikah dengan Aditya seketika buyar saat mengingat apa yang telah terjadi pada dirinya pagi tadi. Dona menghela nafas panjang.


"Kamu kenapa sih?" Tanya Aditya lagi.


"Dit. Aku boleh nanya sesuatu gak?"


"Tentu sayang. Apa aja, kamu boleh kok." Aditya mengusap kepala Dona, membuat Dona tersenyum.


"Tadi, aku sempat baca berita viral di sosmed."


"Hmmmmm?"


"Ada seorang cewek yang udah mau nikah sama pacarnya. Dan malang gak bisa di tolak, sehari sebelum pernikahannya cewek itu diperkaos oleh mantan pacarnya yang sakit hati karena dia masih cinta dan pengen balik lagi sama si cewek itu. Karena ceweknya nolak, terus terjadilah hal memilukan itu." Ujar Dona yang sebenarnya membuat-buat cerita itu.


"Terus?"


"Calon suaminya gak mau lagi sama dia dan membatalkan pernikahan mereka yang sudah di depan mata."


"What?" Aditya terlihat terkejut. "Kamu serius?"


Dona mengangguk.


"Gimana menurut kamu?" Tanya Dona.


Aditya terdiam, seperti tengah memikirkan jawaban yang akan dikatakannya.


"Kalau kamu berada di posisi cowok itu, apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Dona lagi.


"Aku gak tahu, yang jelas pastinya aku bakal kecewa sama keadaan."


Raut wajah Dona sontak berubah. Ia merasa bahwa Aditya tidak akan pernah menerimanya jika ia mengakui apa yang terjadi.


"Tapi, aku gak akan gitu aja ninggalin si cewek. Bagaimanapun, itu juga bukan salah dia. Dia juga gak mungkin mau semuanya terjadi. Dan aku bakal tetap ada di dekat cewek itu."


Bola mata Dona berbinar.


"Jadi kamu gak permasalahin si cewek yang kehilangan mahkotanya dan gak bisa dipersembahin ke kamu?"


"Gak."


"Kalau seandainya itu terjadi sama aku, apa kamu benar-benar gak masalah kalau aku udah gak perawan? Bukankah gak perawan itu sama artinya dengan cewek yang udah rusak?" Tanya Dona blak-blakan.


"Jangan sekali-kali kamu bilang kalau kamu cewek rusak. Kamu bukan barang. Kenapa kamu berpikiran seandainya itu terjadi sama kamu, terus aku bakal permasalahin dan bakal batalin pernikahan kita? Pikiran aku nggak sependek itu. Tujuan aku ingin nikahin kamu karena ingin hidup bareng kamu, punya anak sama kamu, ibadah seumur hidup sama kamu. Bukan buat dapetin keperawanan kamu," jawabnya.


Dona terdiam, air matanya malah jatuh.


"Kok kamu nangis?"


"Gak apa-apa. Aku cuma kebayang aja, gimana rasanya jadi cewek itu yang ditinggalin gitu aja padahal pernikahannya udah didepan mata."


Aditya memegang kedua pipi Dona dan mengusap air matanya dengan lembut.


"Sayang, aku gak perduli mau kamu perawan atau tidak. Intinya aku sayang sama kamu bukan karena hal itu. Tapi, jangan karena aku ngomong kayak gini kamu malah sembarangan main sama cowok lain dalam masih berhubungan sama aku."


Dona memukul dada Aditya dengan keras.


"Apaan sih kamu."


Aditya tertawa dan tatapan keduanya bertemu.


"Aku mencintai kamu." Ucap Aditya lalu memiringkan kepalanya dan perlahan wajahnya mendekat ke wajah Dona dan bibir keduanya perlahan menyatu.


Untuk pertama kalinya Dona bisa berciuman dengan lepas dan penuh cinta. Keduanya lalu melepas ciuman mereka saat terdengar langkah kaki. Pipi Dona merona dan Aditya sendiri terlihat salah tingkah.


"Maaf." Ucap Aditya.


"Untuk?"


"Aku cium kamu tanpa izin. Padahal kamu udah bilang kalau aku boleh cium kamu kalau kamu yang minta."


Dona tersenyum, saat hendak menjawab Bu Nir berdiri di pintu masuk.


"Iih calon mantu Ibu makin ganteng aja." Ucap Bu Nir.


Aditya mengangguk dan tersenyum, Bu Nir pun ikut duduk sambil mengobrol dengan mereka.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2