
Selama dua hari, Dona tak kunjung memberikan jawaban pada Gilang. Hal itu membuat Gilang marah dan terus mengancam Dona untuk mengatakan semuanya pada Gilang. Dona pun kembali meminta waktu dan akhirnya setuju untuk menikah, dengan syarat ia sendiri yang akan memberitahu Aditya.
Hari ini, Dona mengajak Aditya bertemu di taman. Namun, bukannya bertemu dengan Aditya, Dona malah lebih dulu bertemu dengan Gilang.
"Ngapain kamu disini?" Tanya Dona.
"Aku mau nemenin kamu ketemu Aditya."
"Aku udah bilang sama kamu kalau aku bakal bicara sama dia berdua."
"Tapi kamu itu calon isteri aku. Dan Aditya itu mantan pacar kamu. Bagaimana kalau dia berniat jahat dan...."
"Aditya bukan orang seperti itu."
"Ah, aku tidak mau pergi." Gilang malah duduk di bangku panjang, sementara Dona menjadi gugup jika Aditya datang dan melihatnya bersama Gilang.
"Ku mohon pergilah. Aku sudah setuju untuk menikah denganmu."
"Me-menikah!" Ucap seseorang secara tiba-tiba dari balik tubuh Dona.
Dona sontak berbalik dan menatap sosok Aditya yang berdiri di belakangnya. Aditya terlihat membawa buket bunga dan dua batang coklat panjang dan berukuran besar.
"Apa maksud kamu bilang mau nikah sama dia?" Tanya Aditya pada Dona.
"Itu....."
"Kami sudah dengar sendiri kalau Dona akan menikah denganku." Sambung Gilang.
"Apa-apaan kamu Don. Kamu mau mempermainkan aku? Hah!"
Dona belum pernah melihat amarah dari mata Aditya sebelumnya. Kali ini untuk pertama kalinya ia melihat sorot mata Aditya yang penuh amarah. Wajah Aditya memerah. Ia merasa dimainkan perasaannya oleh Dona.
"Untuk apa kau menerima cintaku dan bahkan lamaran dariku tapi pada akhirnya kau juga kembali kepada mantanmu itu." Aditya menunjuk Gilang.
Dona tak tahu harus berkata apa, ia justru menangis. Aditya yang menyadari dirinya telah meluapkan emosi pada Dona langsung melunak saat melihat Dona menangis. Ia mendekati Dona dan memegang tangan Dona.
"Maafkan aku, aku gak bermaksud untuk membentak kamu."
Dona hanya bisa sesenggukan, Aditya hendak memeluknya namun tiba-tiba Gilang mendorong tubuhnya.
"Jangan sentuh calon istri gue." Ucap Gilang.
Aditya yang marah lantas membalas dengan mendorong Gilang.
"Gue yakin semua ini dalangnya lo. Lo kan yang maksa Dona buat putusin gue? Apa yang udah lo lakuin sama Dona?"
"Gue gak ngelakuin apapun."
"Pembohong." Aditya hendak memberi pukulan terhadap Gilang namun Dona berteriak kencang.
"Adityaaaaa." Teriak Dona yang membuat Aditya berhenti dan tak jadi memukuli Gilang.
Aditya menatap Dona, mata Dona memerah dan memandangnya penuh cinta.
"Cium aku." Ucap Dona.
Tanpa pikir panjang, Aditya langsung mencium Dona. Keduanya berciuman penuh kasih sayang dihadapan Gilang. Dona tak lagi memikirkan jika ada orang lain yang melihat aksi mereka. Dona sengaja melakukannya demi membuat Aditya jadi lebih tenang, dan menjadikan ciuman ini sebagai perpisahan.
'Apa-apaan ini!' Gilang ingin mengumpat tapi malah tak melakukan apapun, dan malah membiarkan semuanya terjadi.
Kening Dona dan Aditya beradu, keduanya mengatur nafas mereka. Aditya hendak mencium Dona lagi, namun Dona memiringkan wajahnya hingga membuat Aditya hanya mencium pipinya.
'Biarlah ini menjadi ciuman terakhir ku untukmu.'
"Dit, kamu sayangkan sama aku?" Tanya Dona.
"Tentu saja."
"Maka lepaskan aku."
"Apa maksud kamu?" Lagi-lagi Aditya berteriak.
"Aku harus menikah dengan Gilang."
"Kenapa? Apa alasannya?"
"Aku bukan wanita yang baik buat kamu Dit. Aku udah rusak." Isak Dona.
__ADS_1
"Jika rusak yang kamu maksud adalah seperti kisah yang kamu ceritakan waktu itu, aku akan menerima kamu apa adanya. Aku tidak akan mempermasalahkan hal itu."
"Tidak sesimpel itu Dit."
"Lalu apa?" Teriak Adit dengan menggoyangkan tubuh Dona.
"Aku hamil." Teriak Dona.
Aditya sontak melepaskan pegangannya pada pundak Dona. Ia terlihat begitu terkejut dengan apa yang dikatakan Dona. Aditya benar-benar tak mempercayai apa yang didengarnya.
"Kamu bohong kan?" Ucap Aditya.
"Aku pengen banget semua ini adalah kebohongan. Tapi sayangnya semua ini adalah nyata Dit. Semuanya kenyataan yang aku sendiri gak mau seperti ini." Dona mulai terisak.
Aditya terdiam, ia tak menyangka semuanya jadi seperti ini. Ia menatap Dona yang terisak, sementara Gilang mendekati Dona dan berusaha memegang pundaknya namun Dona menepis tangan Gilang.
"Kurang ajar." Teriak Aditya seraya mendekati Gilang dan mulai menghajarnya. "Apa yang udah lo lakuin sama Dona ha...? Kenapa dia bisa sampai hamil? Bajingan lo!"
Plak! Buk! Buk!
Aditya terus menghajar Gilang tanpa ampun. Gilang tak diberi kesempatan untuk membalas. Dona berusaha melerai Aditya untuk berhenti memukuli Gilang. Ia hanya bisa berteriak, takut untuk mendekat melihat Aditya yang begitu beringas. Namun, melihat wajah Gilang yang mulai berdarah membuat Dona terpaksa mendekati Aditya yang masih mengamuk.
Dona berusaha memegang pundak Aditya namun tanpa sengaja siku Aditya mengenai wajah Dona yang membuatnya tersungkur.
Aditya menghentikan aksinya dan mematung melihat siku Dona yang berdarah karena tergores mengenai paving blok. Sementara Gilang dengan wajah yang babak belur dengan cepat berlari mendekati Dona, dan membantunya intuk berdiri.
Aditya menatap Dona sendu. Raut wajahnya menyiratkan rasa bersalah. Tapi, tak ada yang bisa ia lakukan selain berdiri mematung memandangi gadis yang sangat dicintainya tengah dibantu berdiri oleh calon suaminya.
"Jadi, inilah alasan kamu berubah selama satu bulan ini. Inilah alasan kamu yang selalu menghindar dari aku." Air mata Aditya menetes. "Aku pikir kita bisa merajut mimpi yang telah kita angan-angankan bersama. Aku pikir kamu bisa percaya dengan cinta yang aku beri. Aku pikir kamu percaya padaku. Nyatanya kau tidak bisa jujur sepenuhnya padaku. Kau menyimpan masalahmu seorang diri tanpa melibatkan aku. Andai sejak awal kau menceritakan semuanya padaku. Akan ku pastikan hari itu juga aku akan menikahi mu. Aku tidak akan perduli jika kamu hamil. Tapi sekarang apa? Tidak ada yang bisa aku lakukan. Aku tidak akan mungkin memaksamu untuk menikah denganku lagi. Sementara kau sendiri sudah setuju untuk menikah dengan ayah dari anak yang kau kandung."
Hati Dona begitu terluka melihat air mata Aditya yang tumpah.
Aditya mengusap air matanya dan berusaha terlihat tegar.
"Baik. Aku mengalah. Aku menyerah."
Aditya melangkah mendekati Dona dan Gilang.
"Selamat untuk kalian berdua." Aditya menepuk bahu Gilang. "Jaga dia baik-baik."
"Maafin aku Dit." Isak Dona.
**********************
Dona dan Gilang akhirnya sepakat untuk menikah satu minggu lagi. Dengan wajah yang babak belur, Gilang memberanikan diri untuk datang ke rumah Dona dan melamar Dona seorang diri dihadapan kedua orang tuanya.
"Loh, ini maksudnya apa Dona?" Tanya Pak Edi. "Bukannya kamu sudah dilamar Adit. Kenapa sekarang Gilang tiba-tiba datang melamar kamu? Dan kamu malah sudah setuju untuk menikah minggu depan."
"Kamu itu kenapa Nak? Jangan membuat Ibu sama Bapak malu begini. Semua keluarga dan para tetangga sudah tahu kamu sama Aditya, kenapa malah jadi begini?" Sambung Bu Nir.
"Ini semua salah saya Pak." Ucap Gilang.
"Bapak sebenarnya tidak masalah Dona mau menikah dengan siapapun. Tapi, anehnya kenapa jadi plin plan seperti sekarang. Ada apa sebenarnya?" Tanya Pak Edi lagi.
"Aku hamil Pak." Jawab Dona singkat.
Jawaban Dona sontak membuat Pak Edi dan Bu Nir syok. Keduanya sontak memegangi dada. Mereka tak pernah menyangka bahwa puteri yang selama ini mereka banggakan bisa seperti ini.
"Maafin Dona." Ucapnya lagi dengan menunduk.
Tangis Bu Nir pecah, ia terisak. Pak Edi yang duduk disampingnya mencoba menenangkan sang isteri dengan mengelus punggungnya. Padahal dalam hati Pak Edi sendiri, ia merasa begitu terpukul. Terlebih ia sangat kecewa atas apa yang terjadi pada Dona.
"Bapak tidak tahu harus bicara apalagi. Bapak cuma tidak menyangka bahwa puteri yang Bapak banggakan nyatanya bisa menyakiti orang tuanya sendiri. Semua keputusan Bapak serahkan pada kalian berdua. Kalian mau menikah, silahkan."
Dona ikut terisak, Gilang mengusap punggung Dona.
"Tapi Pak, orang tuanya Gilang tidak menyukai anak kita Pak. Bagaimana bisa mereka menikah tanpa restu dari orang tua Gilang Pak." Isak Bu Nir.
"Bu, itu semua sudah jadi keputusan yang dibuat oleh Dona. Dengan dia tidak bisa menjaga marwahnya hingga sampai mengandung anak Gilang meski ia tahu orang tua Gilang tidak pernah menyukainya, itu sudah konsekuensi yang diterima oleh Dona sendiri. Jadi biarlah Dona yang memikirkan semuanya. Bapak angkat tangan, Bapak serahkan sama kalian berdua saja." Pak Edi lalu meninggalkan ruang tamu dan memilih masuk ke dalam kamarnya.
Bu Nir semakin terisak, ditambah lagi Dona mendekatinya dan memeluknya.
"Maafin Dona Bu, Dona gak pernah menginginkan semua ini terjadi." Isak Dona yang terdengar begitu pilu.
"Lihat Dona. Lihat apa yang sudah kamu lakukan." Bu Nir terisak. "Bapak kamu tidak pernah semarah itu sebelumnya. Bapak kamu kecewa atas apa yang sudah kamu lakukan. Kamu sudah merusak kepercayaan kami Nak." Bu Nir semakin terisak, tapi ia malah semakin erat merangkul Dona.
"Dona minta maaf Bu."
__ADS_1
Gilang hanya terdiam, ada sedikit rasa bersalah di hatinya melihat Dona dan orang tuanya bersedih. Tapi sedikitpun ia tak menyesali apa yang ia lakukan, karena tujuan utama yang ingin ia capai hanya untuk mendapatkan Dona kembali dan menjadi isterinya. Tak perduli bagaimanapun caranya.
"Gilang, Ibu hanya minta kamu jaga Dona baik-baik. Itu saja." Setelah mengucapkan hal itu, Bu Nir menyusul sang suami masuk ke dalam kamar.
Dona masih terisak, ia merasa begitu kecewa pada dirinya sendiri. Sudah tiga orang yang paling ia sayangi terluka karena dirinya, Pak Edi, Bu Nir, dan Aditya. Gilang menggeser tempat duduknya untuk lebih dekat pada Dona.
"Lihat apa yang sudah kamu perbuat. Aku sudah mengecewakan kedua orang tua aku. Ini semua salah kamu." Isak Dona.
"Iya, ini semua memang salah aku. Maka izinkan aku untuk menebus semua kesalahan yang pernah aku perbuat padamu."
Dona terus saja terisak, sementara di dalam kamar Pak Edi bersandar di tempat tidur ditemani Bu Nir yang juga duduk disampingnya seraya memijit lengannya. Pak Edi sangat kecewa dengan apa yang terjadi. Bu Nir yang duduk disampingnya terus saja menangis.
"Sudahlah Bu, jangan ditangisi apa yang sudah terjadi. Toh dengan menangis semuanya tidak bisa kembali seperti semula."
"Pak, kenapa anak kita bisa seperti itu Pak."
"Entahlah. Bapak juga tidak mengerti. Selama ini, Bapak lihat Dona baik-baik saja dengan Aditya. Bapak tidak pernah menyangka...."
Keduanya terdiam, dan sibuk dalam pikiran masing-masing. Satu hal yang sangat dikhawatirkan Bu Nir adalah masalah orang tua Gilang yang tak menyetujui hubungan mereka. Bahkan hubungan Dona dan Gilang berakhir pun karena orang tua Gilang.
Pukul 9 malam, Gilang tiba di kediamannya dan langsung duduk di ruang keluarga bersama dengan orang tuanya yang tengah karaoke bersama.
"Habis dari mana? Tumben pulang awal, biasanya juga pulang jam 11 malam." Tanya sang Mama.
Gilang memperbaiki posisi duduknya, memandang ke arah sang Papa yang tengah fokus bernyanyi sementara Mama nya duduk di sampingnya sambil meminum wine.
"Mah, Pah, aku mau menikahi Dona minggu depan."
Nyanyian Papa Gilang sontak berhenti, dengan bersamaan ia dan sang isteri menatap Gilang tajam.
"Maksud kamu?" Tanya sang Mama.
"Dona sedang hamil anakku. Jadi aku harus menikahinya."
"Apa?" Teriak sang Mama. "Jangan pikir dengan gadis miskin itu pura-pura hamil...."
"Dia memang hamil, karena aku sendiri yang menghamilinya."
"Kamu sudah gila ya. Bukannya gadis itu sudah bertunangan dengan teman kamu itu? Kenapa sekarang malah mau nikah sama kamu?"
"Sudah aku bilang Mah. Aku yang menghamilinya, aku yang memaksanya. Aku yang menjebaknya dan membawanya ke hotel lalu menidurinya."
Plak!!!
"Kamu sudah gila!" Seru Papa Gilang seraya menamparnya.
"Iya, aku memang gila karena mencintainya. Jadi Papa dan Mama hanya bisa menerima pernikahanku saja."
"Jangan harap, Papa dan Mama menyetujui pernikahan kamu." Teriak Papa Gilang.
"Aku tidak meminta persetujuan kalian. Aku hanya ingin memberitahu kalian, itu saja. Dan untuk pernikahanku, aku bisa mengurusnya sendiri. Dan satu hal lagi, setelah menikah aku tidak akan tinggal disini. Aku akan membeli rumah baru dan tinggal disana dengan istriku."
Papa Gilang tertawa dengan maksud ingin meremehkan Gilang.
"Kau pikir kau bisa melakukannya tanpa persetujuan Papa?"
"Tentu saja. Aku punya semuanya. Ingat, aku ini pewaris tunggal HR Group. Papa itu hanya menantu Opa, sementara Opa sudah memberikan semuanya padaku."
"Gilaaang." Teriak sang Mama.
"Kenapa? Ucapan ku benar kan?" Gilang berdiri. "Jadi jangan pernah bermimpi untuk menghalangiku, karena kebutuhan kalian berdua itu bergantung padaku." Gilang melangkah pergi ke lantai atas.
"Dasar anak kurang ajar." Teriak Papa Gilang.
*************
Di dalam kamar, Aditya menatap layar laptop miliknya. Terpampang jelas kolase gambar-gambar Dona yang dibuat sebagai video. Mulai dari Dona masih SMA hingga masa kuliah.
Aditya tersenyum kala layar laptopnya menampilkan gambar Dona yang tengah mengunyah susi dengan mulutnya yang belepotan. Meski bibirnya tersenyum, mata Aditya malah berair. Ia berusaha agar air matanya tak menetes.
"Aku mencintai kamu. Aku ingin menikahi mu, aku tidak perduli jika kau hamil." Ucap Aditya. "Aku memang sudah gila. Tapi, aku tak punya kuasa untuk melakukan semuanya. Kau sendiri yang sudah memutuskan untuk menikah dengan Gilang, aku tidak mau memaksamu untuk menikah denganku sedangkan hatimu pasti menginginkan anak yang kau kandung itu tumbuh dengan kasih sayang Papa kandungnya."
Aditya menghela nafas panjang. Ia hanya tak menyangka, semua mimpinya berhenti saat ini juga.
'Apa aku bisa melupakannya?'
Bersambung.....
__ADS_1