Pesona Sang Primadona

Pesona Sang Primadona
PSP 53: Ayu Melahirkan


__ADS_3

[She said "yes."] tulis akun sosial media Aditya disertai dengan gambar berupa jemari Dona yang digenggam Aditya dengan menampilkan cincin berlian di jari manisnya.


Gilang yang melihat postingan itu terkejut sekaligus merasa sakit hati. Hari dimana ia masih berduka karena kehilangan Opa nya, wanita yang dicintainya malah bertunangan dengan pria lain. Gilang yang tengah berbaring di dalam kamarnya sontak melempar ponselnya dengan keras ke arah tembok.


Hancur. Ponsel milik Gilang hancur, layarnya mengalami keretakan yang sangat parah hingga membuat ponsel itu mati total. Gilang berteriak kencang di dalam kamarnya. Seorang pelayan wanita yang kebetulan lewat di depan kamarnya langsung masuk ke dalam kamar Gilang yang memang pintunya terbuka.


Belum sempat pelayan itu bertanya, Gilang sudah lebih dulu meneriakinya.


"Keluaar." Bentak Gilang seraya melempar bantal ke arah pelayan itu.


Dengan cepat pelayan itu keluar dari kamar Gilang. Setelahnya, mulai terdengar suara barang yang dibenturkan ke tembok dan pecah berkeping-keping. Pelayan wanita itu langsung memberi tahu Nyonya Besar nya, tentang apa yang tengah dilakukan Gilang. Mendengar laporan itu, kedua orang tua Gilang langsung bergegas menuju kamar Gilang.


Keduanya tampak syok dengan apa uang mereka lihat. Pecahan kaca berserakan dimana-mana. Barang-barang berupa buku, bantal, selimut dan ponsel berserakan di lantai.


Mama Gilang berusaha memasuki kamar Gilang dengan langkah hati-hati.


"Gilang sayang...."


"Keluaar..." Ucap Gilang dengan nada dingin.


"Lang, kamu kenapa sayang? Cerita sama Mama."


"Keluar...." Titah Gilang lagi.


"Sayang. Mama tahu kalau kamu sangat kehilangan Opa, tapi....."


"Aku bilang keluaaaarr..." Kali ini suara Gilang terdengar begitu sangat keras.


"Lang....."


"Ini semua karena Mama. Gara-gara Mama semuanya jadi kacau. Sekarang, keluaaaaar....." Gilang menatap Mamanya penuh emosi.


Sang Mama pun memilih keluar sementara Papa Gilang hanya bisa berdiri di pintu. Ia sangat mengetahui karakter Gilang jika sedang marah, sangat sulit untuk dikendalikan.


"Pa...."


"Biarkan saja. Tinggalkan dia dulu. Tidak ada gunanya untuk menenangkannya saat ini." Papa Gilang berjalan turun meninggalkan lantai atas dimana kamar Gilang berada.


***********


Dua hari berikutnya, Dona mendapat kabar bahwa Ayu dibawa ke rumah sakit karena mengalami kontraksi. Dona belum bisa langsung ke rumah sakit karena tengah berada di dalam kelas.


Sementara Ayu sudah masuk rumah sakit sejak semalam. Setelah di USG, bayi dalam kandungan Ayu posisinya sungsang. Rencana operasi akan dimulai pukul 7 pagi, ternyata dimajukan jam 6 pagi, hingga jam 5 pagi sudah mulai preparation.


Ayu dibawa ke ruang operasi, Dokter menjelaskan beberapa hal kepada Ayu.


"Iya, baik Dokter. Saya mengerti." Jawab Ayu dengan dada yang berdebar kencang.


Billy yang selalu berada disampingnya tak kalah gugup. Wanita yang dicintainya akan bertaruh nyawa untuk melahirkan keturunan mereka.


Sesampainya di ruang operasi tubuh Ayu mulai dipasangkan alat-alat, lalu seorang dokter spesialis anastesi mengajak ngobrol.


"Ini anak pertama ya?" Tanyanya pada Ayu.


"Iya, dokter. Saya agak takut. Bukan agak, sebenarnya sangat takut." Jawab Ayu.


"Ibu tenang saja. Ibu tidak akan merasakan apa-apa, yang penting rileks tenangkan pikiran dan jangan lupa berdoa." Pesan sang dokter. "Tolong, miringkan tubuh Ibu." titah Dokter karena akan melakukan suntik bius.


Ayu menarik nafas dalam, dan tubuhnya sedikit terkejut karena rasa suntikan.


"Eh, kirain bakalan sakit ya, ternyata sama sekali gak sakit, beneran kayak di gigit semut Yang." Ucap Ayu pada Billy yang setia berdiri disampingnya dengan mengenakan pakaian serba hijau lengkap dengan masker yang menutup hidung dan mulutnya.


"Good job Dokter." Billy mengacungi jempol ke arah Dokter.


Tak lama setelah itu Ayu mulai merasa teler seperti orang yang 5engah mabuk tapi masih sadar.


"Nanti setelah baby keluar, akan dilakukan proses IMD ya Bu." Bisik Dokter ditelinga Ayu.


"Iya." Jawab Ayu sekenanya.


Proses operasi pun di mulai. Ayu mengintip dari kaca lampu operasi walaupun tidak jelas.


"Sayang, gak kerasa ya aku di belek, hehehe." Ayu seperti tengah melantur.


"Namanya juga dibius sayang." Balas Billy yang terus saja memegangi kepalanya.


15 menit kemudian.....


"Oek oekkk...." terdengar suara bayi Ayu.


Ayu dan Billy menjadi begitu terharu. Tak hentinya Billy menciumi kening Ayu.


"Makasih sayang." Ucap Billy terus menerus.


Setelah itu Ayu pun di pindah ke ruang transit. Setelah keluar ruang operasi, badan Ayu bergetar kedinginan.


"Sayang dingin." Ucap Ayu gemetar.


"Dokter, kenapa isteri saya...."


"Itu normal Bu. Memang normal karena setelah beberapa menit nanti akan hilang." Ucap Dokter memotong ucapan Billy.


Billy akhirnya bisa bernafas lega setelah Ayu akhirnya bisa dibawa ke ruang rawat inap.


Sore harinya, setelah perkuliahan usai, Dona dan Aditya pergi ke rumah sakit bersama. Tiba di rumah sakit, keduanya langsung menuju ruangan dimana Ayu dirawat.


Dona mendapati Ayu tengah dalam posisi duduk bersandar di atas tempat tidur rumah sakit dengan bayi di dalam gendongannya. Mata Dona berkaca-kaca melihat pemandangan yang dihadapannya. Ayu, sahabat yang selalu ada untuknya, hari ini sudah resmi menjadi seorang Ibu.


Ayu tersenyum menatap Dona yang berdiri mematung.


"Ayo sini, mau gendong gak?" Ucap Ayu.


Dona mendekat.


"A-aku takut."

__ADS_1


"Kenapa harus takut sayang? Suatu hari nanti kamu juga akan gendong anak kita juga." Ucap Aditya yang berdiri di belakang Dona.


"Haaiiihh ya udah tunangan." Goda Ayu.


Dona tersenyum lalu duduk di samping Ayu.


"Boy or girl?"


"Boy. Mudahan gak nakal kayak papanya."


"Tapi ganteng dong, mirip papanya." Celetuk Billy yang baru saja masuk ke dalam ruangan Ayu.


"Iyain aja deh." Ucap Dona.


Aditya menyalami Billy dan mengucapkan selamat atas kelahiran putera pertamanya. Sementara Dona dan Ayu mulai mengobrol tentang bagaimana proses kelahiran bayi yang diberi nama Kenzo itu.


"Ternyata gak semenakutkan yang dibilang Don. Walaupun sebenarnya tuh aku pengen lahiran normal. Tapi ya mau gimana lagi, keadaannya gak memungkinkan."


"Sakit gak?" Tanya Dona penasaran.


"Kalau saat di operasinya sih gak ada sakit-sakitnya. Cuma sakitnya itu saat kontraksi sama sekarang ini. Bagian perut bekas di operasi ini yang ngilu, nyeri. Aahh pokoknya mantap lah rasanya."


"Lebih mantap mana sama makan rendang?"


"Rendang harga mati." Balas Ayu yang kemudian membuat keduanya tertawa.


"Sayang, ayo cobain gedong Kenzo." Aditya mendekat dan memegang pundak Dona.


Dona tampak ragu.


"Masih takut?" Dona refleks mengangguk. "Ya udah, sini aku lihatin caranya."


Saat Aditya hendak menggendong bayi Ayu yang baru lahir, Billy dengan cepat mendekat dan berusaha menghalanginya.


"Dit jangan main-main, itu anak gue. Lo beneran bisa gendong bayi?" Billy ragu dengan membiarkan Aditya menggendong anaknya.


"Gue udah biasa gendong bayi. Gue punya banyak keponakan. Udah siniin Yu, percaya aja." Aditya dengan telaten menggendong bayi Ayu.


Dona hanya bisa melongo sekaligus terpesona. Ia hanya tak menyangka bahwa Aditya bisa begitu telaten menggendong bayi yang baru lahir.


"Noh sayang lihat. Adit aja yang belum punya anak udah bisa gendong bayi. Nah kamu sendiri malah gak bisa."


"Bukan gak bisa sayang. Belum bisa aja."


"Sama aja." Balas Ayu.


Aditya terus menggendong Kenzo sambil menimangnya dan melangkah sedikit. Ia lalu mendekati Dona dan meminta Dona untuk bergantian dengannya.


"Tapi...."


"Udah ya, kanu harus berani sayang. Gini..." Aditya menyerahkan bayi Ayu pada Dona dan perlahan mengatur posisi tangan Dona agar berada pada posisi yang benar saat menggendong Kenzo.


Dengan ekstra keberanian, Dona akhirnya berhasil menggendong Kenzo meski masih terlihat kaku.


"Nah, kalau gini kan udah cocok lahirin anak aku." Aditya mengusap kepala Dona.


Saat tengah asyik menimang Kenzo ditemani Aditya, Dona dikejutkan dengan kedatangan Gilang. Gilang menatap tajam ke arah Dona dan Aditya yang tampak seperti pasangan yang baru saja menikah.


"Don, kamu sama Adit tuh benar-benar pasangan yang serasi." Ucap Ayu tanpa menyadari kehadiran Gilang.


Billy menepuk lengan sang isteri karena melihat kedatangan Gilang. Menyadari kehadiran Gilang, Ayu langsung menutup mulutnya. Sementara Dona merasa canggung, ia lalu berjalan ke arah Ayu dan menaruh tubuh kecil kenzo ke dalam box bayi yang berada disamping Ayu.


Gilang berjalan mendekati Billy dan menyalaminya. Memberikan ucapan selamat sembari memberikan bingkisan yang dibawa sendiri olehnya.


"Selamat Ayu, aku turut bahagia untuk kalian." Ucap Gilang.


"Makasih Lang." Balas Ayu.


"Kalian berdua kapan nikah? Gue dengan kalian sudah bertunangan." Ucap Gilang pada Dona dan Aditya.


Dona memilih diam dan kembali duduk disamping tempat tidur Ayu. Sementara Aditya menyusul dan berdiri dibelakangnya.


"Gue sih sekarang juga oke. Tapi masalahnya, gue gak mau maksain kehendak gue sama Dona. Kapan pun Dona mau, gue ikutin." Ucap Aditya sambil mengusap kepala Dona lembut. "Iya kan sayang?"


"Hmmmm...." jawab Dona seraya mengangguk.


Raut wajah Gilang berubah, ia terlihat menahan amarahnya. Suasana jadi hening dan menjadi canggung. Billy lalu mengajak Gilang untuk mengobrol di tempat lain.


"Sayang, aku keluar bentar ya sama Gilang, mau ngerokok." Ucap Billy pada Ayu. "Dit lo mau ikut, atau diem disini aja? Tanya Billy.


"Udah jelas dia bakal milih diam disini. Secara dia kan gak ngerokok." Balas Gilang lalu berjalan keluar.


Dona hanya menghela nafas panjang, dan Aditya memilih duduk di sofa yang tersedia.


Di taman rumah sakit, Gilang dan Billy duduk di sebuah bangku panjang. Billy hendak menyalakan rokok yang diambil dari saku celananya. Dengan cepat Gilang merebut korek api yang hendak dinyalakan Billy.


"Lo gila ya? Ini rumah sakit, mana boleh ngerokok disini. Disini tuh kawasan dilarang merokok."


"Ya elah Lang, lo juga dulu ngerokok di sekolah. Padahal udah jelas-jelas peraturannya gak boleh rokok."


"Beda Bambang. Saran gue mulai sekarang kurangin deh merokok. Lo udah punya anak bayi, gak baik buat anak lo."


Billy tertawa dan menepuk pundak Gilang.


"Lo gak ada berubah-berubahnya ya. Gue kira setelah jadi CEO bahasa lo bisa sedikit formal. Lah ini masih aja pake bahasa anak muda."


"Lo sendiri udah jadi bapak-bapak masih aja kayak brandal SMA."


"Sialan lo."


Keduanya terbahak bersama, kemudian terdiam sesaat.


"Bill, gimana ya caranya biar Dona bisa balik lagi sama gue?"


"Gak tahu gue Lang. Beneran dah, masalah lo sama Dina cuma karena restu dari orang tua lo doang. Coba lo bisa yakinin orang tua lo buat ngerestuin hubungan kalian kan beres."

__ADS_1


"Nah justru itu makanya gue nanya sama lo. Gimana caranya lo yakinin orang tua lio buat setujuin hubungan lo sama Ayu yang bisa dibilang status keluarganya gak sama dengan keluarga lo. Atau memang orang tua lo gak mandang status?"


"Sebenarnya nyokap sih yang keras banget sama hal begituan. Jujur aja awal dia tahu gue pacaran sama Ayu dia marah besar. Tapi karena Ayu hamil, mau gimana lagi nyokap mau gak mau setuju dong. Tapi kenyataannya sampai sekarang nyokap masih kelihatan belum bisa nerima. Makanya gue ajak Ayu buat tinggal di rumah yang beda sama orang tua gue. Dan sekarang orang tua gue lagi di luar negeri. Jadi mereka gak ada dihari cucu mereka lahir. Nyesek gak tuh? Tapi gimanapun gue tetap bahagia karena bisa nikah dan punya anak sama cewek yang emang gue cinta dan sayang."


Gilang kembali terdiam.


"Gimana kalau lo hamilin Dona juga. Gue yakin deh setelah itu orang tua lo pasti setuju."


"Lo gila atau gimana sih? Mikir dong kalau ngomong. Hubungan gue sama Dona udah kandas, gimana caranya gue bisa buat dia hamil. Lagian orang tua gue juga gak bisa diancam pake begituan. Kalaupun seandainya nih ya, Dona emang hamil. Mereka tetap gak akan setuju sampai kapanpun. Malah bakal nyuruh Dona buat gugurin tuh kandungan."


"Terus lo maunya gimana?" Tanya Billy seraya menggaruk kepalanya. "Lo bilang gimanapun caranya orang tua lo gak bakalan setuju. Terus gimana caranya mau balik sama Dona?'


"Intinya sekarang itu fokus gue gimana caranya biar Dona jadi milik gue. Urusan restu mah gue gak perduli lagi. Gue bakal tetap nikahin Dona dengan atau tanpa restu dari orang tua gue. Udah itu aja, titik."


"Kalau gitu lo harus...." Billy berbisik di telinga Gilang.


"Gila. Gimana caranya coba, secara si Aditya 24 jam jagain dia. Terus nih ya, kalaupun gue tidurin dia gak ada jaminan dia bakal mau balik lagi sama gue. Bisa aja si Adit tetap nerima dia walau udah gue pake."


"Makanya buat dia hamil."


"Gimana caranya bisa hamil kalau mainnya cuma sekali. Emang ada jaminan kalau dia bisa hamil padahal mainnya cuma sekali."


Bily terlihat tengah berpikir.


"Ah, gue tahu." Billy menjentikkan jari-jarinya. "Kasih dia obat buat pencegah kehamilan."


"Maksud lo apaan sih? Tadi suruh gue hamilin dia, sekarang malah nyuruh kasih obat..."


"Dengerin gue dulu."


Billy mulai menjelaskan rencananya, dan Gilang tampak mendengar dengan serius. Sementara di dalam ruangan Ayu, Dona dan Aditya akhirnya pamit untuk pulang karena sudah semakin sore. Dona berjanji untuk kembali lagi esok hari.


Dona dan Aditya keluar dari dalam ruangan Ayu dengan bergandengan tangan. Aditya sesekali menggigit tangan Dona karena gemas.


"Kamu itu mau jadi vampir ya. Dikit-dikit gigit terus, bisa habis nih tangan aku kamu gigitin terus."


"Habis aku gemas sama kamu." Balas Aditya kembali menggigit tangan Dona hingga membuatnya meringis. "Oh ya sayang, kamu mau punya anak berapa?"


Dona tertawa mendengar pertanyaan yang dilontarkan Aditya.


"Kok ketawa? Aku serius nih."


"Berapa aja, asal sama kamu."


"Haaiihh udah pintar gombal ya kamu."


Dona kembali tertawa, hingga tawanya seketika berhenti saat menatap sosok Gilang yang tengah mengobrol dengan Aditya di taman.


"Kenapa?" Tanya Aditya.


"Kamu gak terlalu dekat ya sama Billy?"


Aditya melihat kearah dimana mata Dona memandang.


"Oh, jadi kamu lagi lihatin mantan kamu toh."


Dona langsung menggigit tangan Aditya.


"Aaauuww sakit."


"Nah gitu juga aku kalau kamu gigit-gigit."


"Iyaa maaf. Mmmm tentang Billy, aku emang kurang dekat sama dia. Gak tahu kenapa ngerasa kurang nyambung aja. Dia lebih dekat sama Gilang dan aku lebih ngerasa klop sama...."


"Raka." Sambung Dona.


"Nah itu tahu."


"Mungkin karena kamu sama Raka emang anak baik-baik, gak macem-macem, pintar juga. Sementara Billy sama Gilang emang sama-sama dikenal badboy kan waktu sekolah."


"Hhheemmm bisa jadi. Udah ah, yuk pulang." Aditya menarik tangan Dona agar berjalan lebih cepat menuju parkiran.


Mobil keduanya pun melaju meninggalkan rumah sakit. Sementara di taman rumah sakit, Billy dan Gilang masih sibuk mengobrol, membahas tentang rencana Gilang untuk kembali mendapatkan Dona.


"Oke yang itu udah beres. Sekarang gimana caranya gue bisa berduaan sama Dona terus ngelakuin hal itu."


"Untuk itu tenang aja, gue yang atur."


"Tapi, gue gak mau seolah-olah gue itu maksain dia. Gue mau dia itu seperti terjebak dan nyerahin diri dia ke gue. Gue mau dia juga nikmatin apa yang gue lakuin."


"Tenang, ada obat bius."


"Maksud lo apa? Bukannya kalau akai obat bius orang bakal gak sadarkan diri."


"Ya emang gitu, tapi saat matanya udah melek dia tuh kayak orang mabok. Bicaranya ngelantur sana sini. Nah saat itu lo lakuin, gue jamin dia bakal nikmatin dah tu. Eehh pas seratus persen sadar kaget dong malah tiduran sama lo."


"Lo bisa tahu beginian dari mana?"


"Sama Ayu."


"Hah! Serius?"


"Iya serius lah. Ayu tuh cewek yang susah buat gue gituin. Cewek yang lain mah nyerah gitu aja. Nah Ayu ini susah banget. Gue tahu dia cinta sama gue, tapi untuk berhubungan badan dia ogah. Nah gue kasih dah tuh bius, ya gak tahunya dia ketagihan. Hahaha...."


"Sialan lo. Kasihan anak orang."


"Ya gak apa-apa kan pacar sendiri. Lagian juga udah jadi isteri."


"Terserah lo dah. Pokonya lo atur aja kira-kira kapan waktu yang tepat. Setelah itu gue eksekusi."


"Siap."


Gilang tersenyum penuh kemenangan. Bayangan akan wajah Dona yang akan kembali menjadi miliknya membuatnya begitu bahagia.


'Maaf Don jika harus pakai cara seperti ini. Tapi semuanya adil dalam cinta dan perang.'

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2